Menulis sebagai Nafas Peradaban

  • Whatsapp

Tahun 2017 saya mengikuti seleksi Ekspedisi Nusantara Jaya 2017, dimana yang mendaftar itu ribuan peserta dari seluruh wilayah yang ada di Indonesia, sebagaimana dilansir dari laman resmi kementerian koordinator kemaritiman dan investasi bahwa 12.000 pendaftar perebutkan 2.000 tiket Ekspedisi Nusantara Jaya 2017. Ribuan pendaftar tersebut kemudian disaring dan diseleksi. Salah satu persyaratannya adalah mengirimkan esai yang telah ditentukan temanya.

Read More

Jika saya tidak menuliskan esai pada waktu itu, maka saya tidak akan pernah menginjakkan kaki di kepulauan Bangka Belitung, tidak akan sempat mengunjungi replika laskar pelangi, tidak akan pernah bertemu dengan Ibu Muslimah guru dari Andrea Hirata, tidak akan pernah mengunjungi danau Kaolin atau danau biru. Tidak hanya itu, saya juga tidak akan bertemu dengan orang-orang hebat yang tergabung dalam tim 3 ENJ 2017 Rute pelayaran Bangka Belitung serta segala pengalaman yang terdapat dalam kegiatan tersebut. Ini hanya salah satu contoh begitu pentingnya keterampilan menulis, karena di luar dari ini sangat banyak kegiatan-kegiatan yang pembiayaannya dibiayai seluruhnya oleh pihak penyelenggara baik dalam negeri maupun luar negeri yang mensyaratkan untuk mengirimkan tulisan. 

Selain menulis, yang tidak kalah pentingnya adalah membaca, keduanya tidak bisa dipisahkan. Menulis dan membaca menjadikan pelakunya bertumbuh ke arah yang berbeda dari sebelumnya. Namun, pertumbuhan yang baik dapat terjadi jika yang dikonsumsi merupakan buku-buku yang bergizi, begitu pun tulisan, tulisan yang ditulis bukan tulisan yang asal-asalan. Menulis adalah sebuah kunci pembuka untuk mendapatkan bermacam-macam anugerah, karena setiap tulisan memiliki kakinya masing-masing yang akan mengantarkan penulis maupun pembacanya ke tempat yang baru, dunia yang baru, pengalaman yang baru dan kebaruan lainnya.

Menulis adalah kerja keabadian, juga merupakan tradisi para ulama sebelumnya. Syair-syair dan syiar-syiar agama Islam pada zaman sebelumnya, ribuan tahun yang lalu dapat sampai kepada pembacanya hari ini karena tulisan. Menulis juga bisa menjadi terapi dari masalah psikologis yang dialami seseorang, dengan menuliskan masalah-masalah yang sedang dihadapi ada efek tersendiri yang dapat dirasakan dibandingkan memendam masalah dalam hati. Begitu pun dalam penyelesaian masalah, seseorang dapat jatuh kepada lubang yang sama jika ia lupa akan masalah yang dihadapi sebelumnya, maka untuk tetap mengingat hal itu, masalah tersebut harus ditulis. Masalah yang telah ditulis dan dirapikan dalam memori ingatan akan menghindarkan seseorang atau meminimalisirnya melakukan kesalahan yang sama.

Dalam dunia kampus, baik mahasiswa dan dosen, semuanya tidak bisa lepas dari tulis-menulis. Menulis makalah, tesis, disertasi dan artikel di jurnal adalah makanan sehari-hari dalam dunia akademik. Menulis merupakan kegiatan mengikat makna, tidak semua hal yang dibaca atau pun didengar dapat terserap 100% ke dalam otak, maka dengan menuliskannya, hal tersebut membantu seseorang agar dapat menyimpan hal-hal yang penting, jika suatu saat dia lupa.

Menulis dan membaca merupakan faktor kemajuan. Menulis dan membaca adalah hal yang tidak dapat dipisahkan. Perintah dalam al-Qur’an yang pertama adalah membaca. Seorang penulis harus kaya akan wawasan pengetahuan sehingga tulisan yang dihasilkannya memiliki mutu yang tinggi. Jika membaca adalah proses memasukkan kata-kata ke dalam diri, maka menulis adalah mengeluarkan isi pikiran. Jika membaca adalah memahami ide dari pikiran seseorang dalam tulisan, maka menulis adalah memahamkan kepada seseorang ide-ide yang ada dalam pikiran.

Semua orang bisa menjadi penulis, entah itu penulis dengan genre fiksi maupun non-fiksi, tinggal melakukan usaha yang terus-menerus atau konsisten. Karena menulis bukanlah sebuah bakat akan tetapi sebuah keterampilan yang didapatkan dari proses belajar dan lewat pengalaman. Baik fiksi maupun non-fiksi semuanya memiliki kelebihannya masing-masing.

Menulis juga adalah kegiatan mencatatkan sejarah, agar tidak hilang dari peradaban maka manusia meninggalkan nama dengan karya-karyanya. Dulu sampai sekarang masih ada yang mencatatkan momen-momen penting atau unik dalam kehidupannya lewat buku catatan harian (diary), dan saat ini manusia telah didukung dengan fasilitas teknologi. Misalnya, Facebook, menuliskan momen-momen penting, bahkan juga dapat disertai dengan gambar. Bahkan facebook juga mampu mengingatkan hal penting yang ditulis di tahun sebelumnya di tanggal dan bulan yang sama. Hanya saja, menulis juga memiliki sisi negatif, jika hal-hal yang ditulis adalah hal-hal yang mengundang masalah. Misalnya saja menuliskan berita-berita hoax atau provokatif, maka hal tersebut juga bisa berdampak besar. Dalam kasus pertikaian antar kelompok misalnya, hal itu bisa bermula dari berita hoax yang tersebar di media sosial. Maka menjadi penulis tidak cukup dengan mampu menuliskan hal apa saja. Akan tetapi menjadi penulis harus didukung dengan attitude (sikap) yang baik. Sikap jujur dalam tulisan, sikap menghargai aturan kepenulisan di berbagai media, sampai kepada sikap tidak meng-copypaste tulisan orang lain tanpa izin.

Khalil Nurul Islam,

Wakil Direktur Madrasah Arabiyah wa Hadharatiha RPI, Magister Ilmu Hadis UIN Alauddin Makassar dan Magister Manajemen Pendidikan Universitas Indonesia Timur, Ketua Departemen Jurnal dan Publikasi Ilmiah HMPI Sul-Sel 2020

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *