Siulan Pandemi; Kita Kehilangan Modal Sosial?

Oleh: sadli | Tanggal : September 9, 2020



Siulan Pandemi; Kita Kehilangan Modal Sosial?

Muhammad Sadli

(Anggota Divisi Kesehatan Masyarakat Rumah Produktif Indonesia)

Bersama-sama kita ketahui, pandemi memberi dampak pada berbagai sektor kehidupan. Covid-19 telah dinyatakan sebagai pandemi dunia oleh WHO. Di Indonesia perubahan status mengenai pandemi ini dimulai dari dinyatakan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebagai Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah Penyakit Akibat Virus Corona di Indonesia. Selanjutnya dikarenakan peningkatan kasus dan meluas antar wilayah, Pemerintah menerbitkan tentang Pembatasan Nasional Berskala Besar dan Keputusan Presiden yang menetapkan Status Kedaruratan Kesehatan Masyarakat, kemudian diperbaharui dengan Keputusan Presiden tentang Penetapan Bencana Non Alam Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid 19) Sebagai Bencana Nasional.

Di tengah-tengah pandemi ini, siulan-siulan semisal covid 19 adalah konspirasi, anggaran covid dikorupsi, covid sudah hilang sekarang musim main sepeda, siulan-siulan lain yang mungkin simpang siur terngiang di telinga kita. Di tengah-tengah siulan itu, ada siulan lain semisal jangan takut pada covid, keimanan kita adalah mutlak, covid tidak menyerang orang beriman. Orang-orang memperbincangkan keimanan sembari menebarkan pada covid. Di tengah-tengah itu bantuan sosial dari tingkat kelurahan hingga tingkat desa mengalir, bantuan covid. Ya, orang-orang mulai lentur kepercayaan pada adanya covid, tak lentur kepercayaan pada bantuan sosial karena covid. Orang-orang mengatakan orang beriman tak perlu takut covid, karena kematian, hanyalah dari Allah. Ini adalah hal yang mutlak. Tapi orang-orang juga luput bahwa Allah juga menjamin rezeki, sayangnya pandangan kematian datang dari Allah, tak dipandankan bahwa rezeki juga datang dari Allah. Orang-orang masih kecar-kecir keluar rumah mengais rezeki dengan dalih covid sudah hilang dan kematian dari Allah, apa mereka tak yakin bahwa rezeki juga datang dari Allah? Kalau demikian mengapa tak duduk di rumah saja, bukankah rezeki sama dengan kematian? Ini hanyalah perspektif dan logika ikhtiar.

Di tengah-tengah siulan itu, ada siulan lagi, haji dan umrah dibatasi karena pandemi, masjid sebelumnya dibatasi tapi mall dan sektor ekonomi lain boleh diakses, dan siulan-siulan aneh semisal disahkannya draft undang-undang tenaga kerja, bahkan hingga kepastian pemilu turut menjadi siulan itu. Elit memang pandai bersiul.

Di tengah-tengah itu juga, pandemi Covid-19 memiliki dampak yang sangat signifikan pada kehidupan keluarga di  Indonesia. Sekitar 3 juta orang kehilangan pekerjaan atau mata pencaharian mereka, anak-anak tidak lagi dapat mengakses program pemberian makanan bergizi untuk anak sekolah dan beberapa keluarga berjuang untuk membeli makanan yang biasa mereka konsumsi. Orang-orang harus menghabiskan lebih banyak waktu di rumah dan mungkin akan terjadi perubahan konsumsi makan menjadi kurang beragam, serta meningkatnya konsumsi makanan olahan dan  berkurangnya  konsumsi makanan bergizi, termasuk buah-buahan dan sayuran segar. Keadaan saat ini dapat memperburuk situasi yang sebelumnya telah dihadapi banyak keluarga dalam mengakses makanan berkualitas yang terjangkau. Sistem dan rantai pasokan pangan saat ini terganggu karena pembatasan sosial.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Indonesia, khususnya Kelompok Kerja Ketahanan Pangan dan Gizi, yang terdiri dari FAO,  IFAD, UNFPA, WFP, WHO dan UNICEF, mengkhawatirkan  dampak  pandemi Covid-19 pada status gizi dari mereka yang paling terdampak, terutama mereka yang dari keluarga miskin dan rentan. Pada awal krisis, diperkirakan 2 juta anak balita di Indonesia mengalami wasting (gizi kurang), 7 juta anak stunting (kerdil) dan 2 juta lainnya kelebihan berat badan2, sementara 2.6 juta ibu hamil menderita anemia. Situasi saat ini memperburuk kesulitan yang dihadapi banyak keluarga untuk mengakses pangan sehat yang terjangkau.  (United Nations Indonesia, 2020).

 Semua telah kehilangan rasa saling percaya. Modal sosial kita sebagai manusia telah luntur. Prof Chandra Fajri menempatkan modal sosial sebagai modal pembangunan yang mendasar karena diyakini sebagai salah satu komponen utama yang dapat menggerakkan kebersamaan, mobilitas ide, rasa saling percaya, dan saling menguntungkan untuk mencapai kemajuan bersama. Tidak dapat dimungkiri bahwa modal sosial yang ada dalam masyarakat merupakan aset karena telah menumbuhkan rasa saling percaya dalam bekerja sama. Francis Fukuyama mendefinisikan modal sosial sebagai rangkaian nilai-nilai atau norma-norma informal yang dimiliki bersama di antara anggota suatu kelompok yang memungkinkan terjalinnya kerja sama di antara mereka.

Di tengah-tengah itu, kita mulai merasa bahwa modal sosial ini luntur karena perilaku elit. Solidaritas masyarakat memang tinggi sebagaimana dituliskan Lili Romli namun muncul kecenderungan low trust masyarakat terhadap elite. Fukuyama mendefenisikan trust sebagai pengharapan yang muncul dalam sebuah komunitas yang berperilaku normal, jujur, dan kooperatif, berdasarkan norma-norma yang dimiliki bersama. Masyarakat yang high trust adalah masyarakat yang memiliki solidaritas sangat tinggi dan mau bekerja mengikuti aturan sehingga ikut memperkuat rasa kebersamaan. Sebaliknya, hal itu tidak terjadi pada masyarakat low trust. Padahal, menurut Fukuyama, “ketidakpercayaan yang tersebar luas dalam satu masyarakat akan membebani seluruh bentuk aktivitas ekonomi masyarakat itu.”

Dan di tengah-tengah ini, siulan-siulan akan semakin kencang bahkan elit-elit akan mengatakan dengan siulan yang nyaring covid sudah usai, atau covid ada, tapi politik juga ada. Pencegahan covid dikampanyekan, tapi kampanye politik juga jalan. Siulan elit juga bisa bertambah; jangan lupa pakai masker dengan logo partai politik, jangan lupa cuci tangan, tempat cuci tangan ini dibantu tokoh si X, tetap jaga jarak tapi kalau ini musim kampanye, abaikan PSBB bolehlah. Sementara di siulan lain, petugas-petugas medis masih terus bekerja keras. Dan di tengah-tengah siulan itu terdengar suara keras sekali, “Sekarang sudah bukan musim corona, sekarang sudah mau musim pemilu”. Kalau Pram mengatakan, “Aku ingin melihat negeri dongengan itu dalam kenyataan”, mungkin di tengah-tengah siulan yang menghilangkan modal sosial kita bersama, dapat kita berkata; “Aku ingin melihat kenyataan itu dalam negeri dongeng”. Siulan itu lambat laun makin terdengar pelan, pelan sekali, karena ternyata ia diharapkan menjadi dongeng.


Tags: , , , ,

Bio:

Related Posts


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *