Hikmah Pagi: Semuanya Punya Kesempatan

Oleh: Administrator RPI | Tanggal : September 20, 2020



Setiap manusia pasti merasakan rasa ‘’was-was’’ atau ‘’harap-harap cemas’’ dalam setiap menjalani roda kehidupan yang terkadang susah dihilangkan. Terkadang melihat orang lain lebih sukses hati gelisah; melihat orang lain diberikan kelebihan; kita melihatnya biasa-biasa saja. Namun ketika melihat orang lain ahli ibadah dan hati-hati dalam setap perbuatan, kita melihatnya kaget bahkan mungkin dianggap aneh dan tidak seperti biasanya. Mungkin ini adalah sunnatullah yang terus akan berjalan dimuka bumi ini.

Terdapat sebuah cerita menarik, suatu ketika ada seorang yang fasik yang dijuluki “al-Khaalii’-” diberi nama demikian karena gemarnya beliau berbuat kefasikan dan dosa. Pada suatu hari, beliau melintas di majelis seorang Ahli Ibadah yang sangat terkenal, kemudian keduanya saling tidak enak dan malu. Al-Khali’ pun berujar dihadapan orang ramai: “Saya Khali’ orang yang Fasiq dan gemar berbuat dosa, sedangkan beliau dihadapan kami adalah seorang Ahli Ibadah yang sangat dikenal di sini”, harapan kami duduk di majelis beliau dan belajar kepada beliau, berharap Allah akan mendatangkan rahmatnya kepada kami dan mengampuni dosa-dosa kami, walau sedikit setidaknya kami ingin berubah.

Kemudian duduklah al-Khali’ disamping Ahli Ibadah tersebut, namun sang Ahli Ibadah berkata: “Mana mungkin seorang yang Fasiq dan gemar berbuat dosa duduk disamping saya, yang mana saya adalah Ahli Ibadah yang sangat dikenal luas”?! maka ia menolak duduk dan diskusi bersama, sampai ia akhirnya mengusir “al-Khali’-” dari Majelisnya.

Dengan perasaan hati yang gunda gulana al-Khali’ meninggalkan majelisnya, hatinya pun sangat sedih. Setelah al-Khali’ meninggalkan majelisnya. Sang Ahli Ibadah naik mimbar seraya berkata: “Berbicara tentang dirinya dengan rasa sombong, dan juga tentang ibadahnya kepada jama’ah yang hadir di majelisnya”.

Kemudian Allah mengutus seorang Nabi untuk memberitahu kepada Ahli Ibadah tersebut, utusan Allah itu menyampaikan: “Bahwa Allah mengampuni al-Khali’ karena ketulusannya ingin memperbaiki diri, sedangkan Allah menolak amalanmu karena kesombonganmu dan telah mengusirnya”.

“Ingatlah! Kedudukanmu dihati manusia, sebagaimana kedudukanmu disisi Allah. Dan kedudukanmu disisi Allah, sesuai kedudukan Allah dihatimu”. (Lihat: ‘Indama Yahlu al-Masa’, Hal. 294-295).

Terkadang banyak orang ingin bertaubat mereka tidak tau jalan, malu bertanya. Maka membuka kajian-kajian ringan atau membuka pintu bagi mereka, paling tidak merupakan bagian untuk menyelamatkannya. Memang itu berat dan butuh keistiqomaan, tapi kenikmatannya tiada tara ketika ada arus perubahan terhadap manusia untuk menjadi lebih baik.

Hal ini yang masih dipertahankan para kyai-kyai sepuh, kalau tidak buka kajian di musholla, pondok, surau-suray ya dirumahnya. Bukan melihat berapa banyak jama’ahnya, tapi lebih kepada apa yang ia ajarkan adalah wahyu Allah. Bukan dengan jalan pintas, akan tetapi melalui proses yang panjang.

Semoga Allah menjaga kita semuanya dalam kebaikan dan keistiqomaan Aamien Allahumma Aamien. Al-Faqir Ila Allah, ZA (Dr. KH. Zainul Arifin, M.Ed, M.A(Mudir PP. Darul Arifin Jambi)).


Tags: , , , ,

Administrator RPI

Bio:

Pengelola website dari rumah produktif indonesia.

Related Posts


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *