Sebuah Percakapan

  • Whatsapp

” Ada apa ? Tiba-tiba menemuiku bak orang kesetanan “.

” Ayolah, aku ini teman lama dan aku baru saja tiba. Masa kau perlakukan aku sekasar ini sih “. Sara mengomel-ngomel sambil memainkan rambutnya. Perempuan ini masih cantik seperti saat pertama kali kami bertemu. ” Mau pesan apa ? “. Aku mulai melunak. Perasaan marah akan kejadian beberapa tahun yang lalu masih membekas dan terasa menyayat kadang – kadang.

Read More

” Apa saja yang kau rasa enak. Aku suka minum susu “. Dia tertawa menggodaku .

” Kau masih ingat pria yang ku ceritakan beberapa tahun yang lalu saat kita sedang makan di Zeedijk ? Makan apa ya itu ? “. ” Pecking soup di Hoi Tin restoran. Jadi kenapa dengan lelaki mu itu ? “.

” Kami berpisah ! Sinting dia ! Aku di pukuli tiap malam. Dia pecandu happy pill. Peminum berat. Benar – benar sinting “. Sara menunjukkan bekas luka sayatan di bahu, lengan dan bekas tempelan setrika di pahanya. Benar-benar gila. Gumanku dalam hati. ” Padahal sudah ku korbankan pria belanda yang kaya raya itu demi bersamanya. Setahun pertama sih dia begitu menggairahkan. Sangat suka memanjakanku di pertengahan tahun ke dua, aku mulai di siksa ” . Matanya menerawang. Terbesit rasa menyesal dari pandangannya. ” Kau yang mau kan, padahal sudah ku bilang jangan buang anak-anak dan suamimu. Kau yang main gila ! Sampai kau rubah akte mereka pakai namaku. Dasar perempuan sinting. Sekarang baru menyesal ?? “. Sara mengernyitkan dahi. Menyalakan rokok yang entah sudah ke berapa sejak saat dia datang.

” Jangan merokok di depanku. Aku sedang hamil “.

” Oya ? Bahagia? Anak siapa? Pria Inggris-mu itu? Aku pikir kalian akan berpisah setelah beberapa tahun. Mereka memang menawan ya, romantis dan gagah. Menarik sekali, apalagi dengan tubuh atletis. Menyenangkan “.

” Bukan urusanmu ini anak siapa. Aku pikir kau sudah berhenti dengan omongan vulgarmu setelah di hajar habis-habisan setiap hari. Ternyata kau masih liar dengan imajinasimu ! Setidaknya ada yang membuatmu tersadar ! “. Aku mulai mengomeli sara yang tak kunjung berubah dengan sifatnya. Terlalu ambisius dengan hal-hal tidak penting .

” Terkadang, aku rindu Belanda. Ingin sekali pulang kesana. Kau tidak ingat saat kita berjalan-jalan di Redlight ? Melihat perempuan-perempuan sana menjajakan diri di etalase kaca, orang-orang yang menyodori kita berbagai macam narkoba dan kita lari terbirit-birit takut kalau-kalau dirampok. Lalu menikmati makan siang di Restoran Cina kesukaan kita ? Betapa menyenangkannya masa lalu ya “.

” Tak usah di ingat lagi. Sudah berlalu. Ijin tinggalmu kan sudah di cabut. Mana bisa kembali kesana. Kecuali kau menikahi pria tua kaya raya lagi seperti mantan suami mu ! “. Aku menjawab ketus. Sarah tertawa terbahak-bahak. ” Nggak deh. Jijik “. ” Dasar sinting ! “.

” Lagi pula kalau tidak ada sedikit cinta mana mungkin kami bisa punya anak. Toh waktu itu aku buta akan cinta. Aku masih polos “.

” Omong kosong. Bikin anak cuma perlu sel telur dan sperma. Tidak harus selalu di bumbui cinta. Katamu kan begitu. Lagi pula itu juga bukan anaknya kan? Anak si laki-laki itu “. Sara tersenyum lebar. Lalu menyubitku pelan. ” Aku suka kamu. Paling paham betul isi pikiranku. Kalau tidak punya anak, kan aku tidak dapat harta. Perawanku kan ku berikan untuk dia. Begitu juga masa mudaku . Sah saja kan ? Kom op Ras ! Jangan jadi bodoh terus. Jangan memandang cinta dengan hitam putih terus. Dulu aku mencintai suamiku tapi lama-lama kan hilang juga. Tidak ada salahnya kan lagi pula kalau tidak mengencani pria kaya. Mau dapat uang dari mana ?. Aku menarik nafas panjang. ” Dasar perempuan sinting ! “. Aku mencerca sarah lagi, ” Kalau punya cinta kau tak akan main-main dengan cinta “.

” Kau juga sempatkan, mengencani pria beristri ? Itu kau sebut apa Ras? Cinta ? Bodoh sekali kan “.

” Cukup. Kami tidak berkencan. Kami tidak melanjutkan. Kami hanya berteman. Kita sudah dewasa berhentilah main-main. Kalau tak mau terikat ya sudah. Bisanya kau bilang jatuh cinta padahal di butakan nafsu ,akhirnya sekarang kau disiksa kan ? Bertahun-tahun aku menjadi ibu dari anak-anakmu. Saat mereka di bawa ke Belanda beberapa bulan lalu aku ikut sedih. Sementara kau ? Sedang asik berpeluh entah dengan pria mana lagi “.

” Kau ini bawelnya seperti pemuka agama saja. Padahal kita tidak punya agama hahaha “.

” Pemuka agama saja malas menasehati orang sepertimu. Buang waktu !”.

Kami pun tertawa. Lalu saling bercerita tentang kenangan saat di Belanda.

• Palingkanlah matamu daripadaku, sebab aku menjadi bingung karenanya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *