Adaptasi Kebiasaan Baru, Antara Menjadi Manusia Adaptif Atau Punah

Oleh: Meilisa Widodo | Tanggal : September 22, 2020



Sejak pandemi melanda Indonesia di awal Maret yang lalu, belum juga ada tanda bahwa pandemi akan membaik dari negeri ini. Menurut data yang dihimpun dari situs covid19.go.id pada tanggal 21 September 2020, memasuki 7 bulan terjadinya wabah di Indonesia, jumlah kasus positif sudah di angka 248.852, sudah jauh melampaui dari negara asal pandemi ini berada, China yang hanya mencatatkan jumlah kasus sebanyak 85.291. Dalam laman yang dikutip dari situs www.worldometers.info diketahui pertumbuhan kasus di Indonesia menempati peringkat 2 tertinggi di seluruh dunia, yang mencatatkan penambahan kasus sebanyak 4.176 pada tanggal 21 September dibawah Rusia. Sebuah pencapaian yang tentu saja tidak menggembirakan.

Berbagai Kebijakan pun sudah dilakukan pemerintah guna menangani pandemi ini, dari Pembentukan Satuan Gugus Tugas Penanganan Covid 19, Pelaksanaan PSBB, Pembentukan Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19, Program Pemulihan Ekonomi Nasional dan masih banyak lagi kebijakan di berbagai bidang untuk menunjang percepatan penanganan Covid 19 di negeri ini.  Hal tersebut perlu kita apresiasi sebagai bentuk kesigapan pemerintah dalam menangani pandemi Covid 19, meski mungkin saat ini laju penambahan kasus terus bertambah. Namun, yang perlu kita sadari adalah bahwa tidak ada satu negara pun yang siap dengan pandemi ini, bahkan negara adikuasa seperti Amerika pun kewalahan dengan pandemi ini dan sudah resmi menyatakan resesi. Inggris belakangan memberlakukan “The Rule Of Six” guna bersiap menghadapi gelombang kedua.

Di awal Juni yang lalu pemerintah gencar menyampaikan Isu New Normal , sebuah jargon untuk memulai kembali produktivitas dan juga optimisme masyarakat dalam menghadapi pandemi setelah selama kurang lebih 3 bulan pasca diterapkan nya PSBB di sejumlah wilayah. Tak berselang lama, istilah “New Normal” ini bergeser menjadi Adaptasi Kebiasaan Baru untuk lebih mudah di narasikan. Secara resmi, Presiden Joko Widodo dalam pidato resminya di Istana Merdeka (15 Mei 2020) menyatakan bahwa : “Kehidupan kita sudah pasti berubah untuk mengatasi resiko wabah ini. Itu keniscayaan. Itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai New Normal atau tatanan kehidupan baru”. Melansir dari situs Kementerian Kesehatan, Adaptasi Kebiasaan Baru ini dimaksudkan agar kita bisa bekerja, belajar dan beraktivitas dengan produktif di era pandemi Covid-19.

Beberapa hal yang perlu kita mulai biasakan dan menjadi style / gaya hidup dalam kebiasaan baru ini antara lain adalah dengan disiplin menjaga jarak, menjauhi segala bentuk kerumunan, menggunakan masker, sering mencuci tangan, istirahat cukup dan olahraga serta penuhi asupan gizi melalui makanan bernutrisi.

Dalam konteks untuk bertahan hidup dengan adaptasi, mungkin kita bisa mengambil pelajaran dari hewan bernama “Kecoak”. Pasalnya, berdasarkan situs nationalgeographic.grid.id diketahui bahwa hewan mungil bersayap ini diketahui berhasil lolos dari kepunahan minor pada zaman karbon sekitar 350 juta tahun yang lalu. Zaman karbon mempunyai temperatur tinggi dan berubah drastis menjadi dingin dan kering. Perubahan iklim seperti itu telah menyebabkan kepunahan banyak flora dan fauna, namun kecoak dengan kemampuan adaptasinya mampu bertahan hidup hingga saat ini.   Meski bumi saat ini tidak lah mengalami kepunahan,namun pandemi saat ini pun dapat diibaratkan sebagai sebuah seleksi alam, mereka yang dapat bertahan yang akan menang, dan untuk dapat bertahan tentunya diperlukan sebuah strategi untuk memenangkan peperangan. Tidak semua orang dapat bertahan untuk tetap dirumah dengan beban kebutuhan yang terpenuhi. Kurir makanan, buruh pabrik, pedagang kaki lima dan masih banyak lagi profesi yang mengharuskannya untuk keluar dan mencari penghasilan. Hal tersebut tentunya harus disikapi dengan matang saat ingin benar-benar merasa aman beraktivitas. Adaptasi kebiasaan baru ini apabila dilaksanakan dengan disiplin yang tinggi dapat menjadi salah satu instrumen untuk dapat hidup  “berdampingan” dengan Covid 19. Kesehatan dan Ekonomi bukanlah hal yang harus dipilih, keduanya haruslah dapat diraih bersamaan dimana tanpa ketahanan ekonomi maka sulit rasanya untuk mendapatkan kesehatan yang paripurna, begitupun sebaliknya, sehingga, adaptasi kebiasaan baru memang menjadi langkah untuk tetap “survive” dalam pandemi saat ini. (rm)


Tags: , , ,

Meilisa Widodo

Bio:

Related Posts


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *