Literasi Kisah Putri Selangka, Sejarah Batu Menangis, Kerajaan Rejang Lebong

Oleh: Sumarto | Tanggal : September 22, 2020



Batu Menangis

Bila di baca kembali karya Prof. Dr. Slamet Muljana, bahwa Kerajaan Sriwijaya memiliki keterkaitan atau hubungan sejarah dengan kerajaan kerajaan di daerah Pulau Jawa, seperti Kerajaan atau Dinasti Syailendra, wangsa Syailendra berkuasa tidak hanya di daerah pulau Jawa tapi hingga Sumatera, bila ditelusuri keadaan geografis, pada dahulu wilayah Indonesia berupa daratan yang amat luas, hingga terjadi banyak pergeseran lempeng bumi atau terjadi banyak bencana alam hingga menjadi Kepulauan_

Adanya banyak penemuan sejarah keberadaan Sriwijaya di Tanah Rejang, tidak hanya di daerah Palembang atau Jambi, tetapi di tanah Rejang juga ada beberapa menhir, yang di yakini dari Kerajaan Sriwijaya, di daerah Beliti Ulu, Desa Lawang Agung ketika itu awal mula Desa bernama daerah Kute Giri_

Daerah lainnya seperti Daerah Suban, dengan letak geografis dekat dengan sumber kehidupan seperti adanya sungai, air terjun, hutan pepohonan dan bambu, adalah suatu daerah adanya kerajaan berdiri, walaupun secara fisik tidak ditemukan, tetapi batu yang di perkirakan adanya di zaman megalitikum masih ditemukan di daerah Suban, tepatnya di objek wisata pemandian air panas Suban_

Tentang Kisah Putri Selangka dengan simbol Batu Menangis, adalah kisah keberadaan Kerajaan Sriwijaya yang ada di Tanah Rejang. Berkisah tentang Putri Selangka atau Putri Gemerincing Emas, dan keberadaan daerah Suban yang sesuai Informasi dari juru Kunci (Surya) di huni oleh orang orang sakti mandra guna, karena memiliki hubungan erat dengan kisah Baru Tri Sakti._

Putri Selangka di jodohkan dengan dengan seorang lelaki bernama Gambir Melayang, oleh Putri Selangka tidak setuju dengan perjodohan tersebut sehingga mengakibatkan keputusan dari Putri Selangka untuk pergi jauh, karena tidak ingin di jodohkan, hingga Putri Selangka bertemu dengan bebatuan di daerah Suban yang dekat dengan sungai dan air terjun, Putri Selangka bersedih, menangis di batu tersebut, terasa menderita hidup dan sengsara mengapa perjodohan itu bisa terjadi padahal tidak di dasarkan pada permintaan Putri Selangka itu sendiri, makna selangka adalah ketika Putri Gemerincing Emas melangkah pergi dari Kerajaan nya Menuju Suban dimana ada bebatuan tempat Putri Menangis_

Dari sumber informasi Juru Kunci (Surya) menyampaikan pada waktu dulu dari bawah batu tersebut sering muncul air yang diyakini oleh sebagian warga adalah tangisan dari Putri Selangka, ketika di malam hari, masih terdengar suara tangisan, menurut informasi yang kami terima, tetapi ini adalah suatu kisah yang menjadi pelajaran atau hikmah bagi kita_

Bahwa setiap tindakan harus memperhatikan beberapa hal, diantaranya; bila ingin memutuskan suatu perkara harus dilakukan dengan musyawarah, karena dengan musyawarah kita bisa memahami bagaimana pendapat dari orang lain, bersama sama mencapai suatu kesepakatan, hingga akhirnya menjadi suatu keputusan yang dilakukan bersama, kemudian tidak boleh memaksa kan kehendak kepada ada, lakukan terlebih dahulu pendekatan emosional, perasaan, logika dan ibadah kepada Tuhan yang Maha Esa, memohon petunjuk untuk pilihan yang terbaik, karena penyesalan pasti akan datang terlambat, harus disikapi dengan bijaksana, hikmah dari Kisah Putri Selangka, Sejarah Batu Menangis_

Bila kita datang ke Daerah Pemandian air panas Suban kita akan menemukan, Cagar Budaya Batu Menangis, tepat nya di jalan lintas Curup – Lubuklinggau, masuk ke dalam, tidak terlalu jauh dari jalan utama. Dalam Batu Menangis ada informasi dari teman teman yang pernah KKN di Desa Suban, teman teman dari Universitas Prof. DR. Hazairin, S.H Bengkulu, membuat papan informasi tentang sejarah baru menangis pada tahun 2014_

Mengutip tulisan Sanca (masyarakat Rejang) bercerita tentang Sejarah Batu Menangis memiliki kesamaan cerita, beliau menyampaikan ; Suban Air Panas berada di jalan lintas Curup-Lubuk Linggaudengan jarak tempuh sekitar6 Km dari Kota Curup (Ibu kotakabupaten Rejang Lebong) atau sekitar 90 Km dari Provinsi Bengkulu. Obyek wisata ini memiliki luas sekitar 30 Ha dandibuka untuk umum sejak tanggal 1 Nopember 1967.

Batu Menangis atau sekarang disebut “Putri Selangkah”, konon katanya dulu batu tersebut dijadikantempat merenung dan menangis sang putriyang bernama Gemercik Emas yang tidak mau dijodohkan dengan Putra GambirMelang yang merupakan putra Suku Rejang. “Kenapa dikatakan sekarang ia Putri Selangkah, karena dahulu setiap putri tersebut hendak pergi ke arah empat penjuru mata angin baruselangkah putri itu berjalan, kemudian langsung menghilangdan telah sampai di tempat tujuan,” kata Johan.

Ragam kisah ini menjadi catatan sejarah, tentang adanya Kerajaan Sriwijaya di Tanah Rejang._

Sumarto (IAIN Curup, Direktur RPI Press)


Tags: , , ,

Sumarto

Bio:

“Menulis tidak hanya menulis, tetapi menulis harus dengan pengetahuan, karena tulisan butuh pengakuan yaitu keilmuan menulis tentang apa yang ingin di tulis”. Direktur RPI Press

Related Posts


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *