Pelita Tak Pernah Padam Di Pulau Garam

Oleh: Arisandi Hidayatullah | Tanggal : September 22, 2020



Waktu boleh berlalu, musim boleh berganti. Tapi kesetiaan pada profesi takkan pernah berhenti. Sejak jaman bujang hingga beranak pinak, Bapak Achmad Subaidi dan Bapak H. Abd Rakhem melakoninya sampai tunak.

Rumah itu dibalut nuansa warna krem muda. Di halamannya ada bonsai yang meliuk ke langit begitu aduhai. Di bagian agak kesudut, ada rimbun pohon jambu yang berdiri anggun.

Angin pagi di bulan Agustus sepoi berhembus. Mentari tengah sepenggalan naik. Kilau emasnya menyentuh daun pintu yang terbuat dari kayu jati pilihan saat kami bercengkrama menggamit potongan kenangan di Pulau Karamian. Bagiku Karamian tanah kelahiran. Bagi keduanya Karamian tanah pengabdian.


Penghujung tahun 1999 tengah hari menyengat di Pulau Karamian. Siang terasa lebih kerontang, meski angin yang dikirim dari samudera menghempaskan daun-daun nyiur yang menjulang. Desa Alas Jaya mengirimkan pesan lengang. Awan bertali, langit pun membiru. Seekor kakak tua putih hinggap di pohon Mangga yang tengah berbunga. Aku terus melangkah di atas jalan beraspal tanah menuju rumah. Sekolah Dasar Negeri (SDN) Karamian IV Alas Jaya hilang dari pandangan begitu aku bergegas di sebuah tikungan. Darisinilah ceritanya bermula. Ada dua pelita yang hingga kini terus menyala; Pak Achmad Subaidi, akrab disapa Pak Subaidi dan Pak H. Abdul Rakhem, yang biasa disapa Pak Rakhem. Dua diantara banyaknya guru terbaikku–kelak juga jadi guru hidupku–semasa aku masih mengenakan seragam putih merah.

Masa itu, Karamian bukanlah konsep daerah yang patut disebut wilayah kekinian. Jauh malahan. Bukan saja berjarak ratusan kilometer secara geografis dari ‘induk’nya, Pulau Madura yang tersohor dengan sebutan Pulau Garam itu. Namun juga berjarak dengan sebuah kemajuan. Begitu matahari pulang ke peraduan, gulita segera mengayun setiap inci di Karamian. Penghuninya pun larut memagut kelam. Jika pun ada cahayanya, itu bersumber dari lampu teplok diisi minyak tanah, kadang obor buatan yang digunakan sebagai senter. Obor itu pula yang setia menjadi penerang jalan setiap langkahan kakiku, menerobos pekatnya kelam menuju rumah sementara Pak Subaidi untuk belajar, sebagai pelajaran tambahan dan mengulang pelajaran di luar sekolah. Jarak antara rumahku dan Pak Subaidi terpisah beberapa lantak.

Antara 2004 hinggga 2007, masa dimana aku sudah melepas seragam putih merah, berganti seragam putih biru. Aku tercatat sebagai siswa di SMP Negeri 1 Masalembu. Aku pun meninggalkan pulau yang berada penjuru Utara Pulau Masalembu itu buat sementara waktu. Di kemudian hari, aku menyadari kalau bukan karena kedua pelita tersebut juga pelita lainnya di Karamian–yang membuat nilaiku bertengger di urutan yang cukup baik, karena motivasi mereka pula semangat belajarku meningkat–dan kemudian namaku bisa nongkrong di SMP favorit itu.

Apalagi di tahun-tahun itu, Karamian, khususnya Alas Jaya hanya sebuah desa yang warganya menggantungkan hidup dari pertanian, perikanan dan peternakan. Karamian bukanlah kawasan maju dengan segala daya dukungnya. Meski ada yang menggunakan mesin diesel, itu hanya guna memenuhi kebutuhan sendiri, khususnya jika malam menjulurkan kelam. Dengan segenap catatan itu, barulah aku baru menyadari saat tanah kelahiran ini termasuk daerah 3T: Tertinggal, Terdepan dan Terluar. Artinya, berbagai keterbatasan akses bisa saja menjungkalkan sebuah harapan yang dipahat sedemikian hebat.

Seperti diketahui, Karamian adalah sebuah pulau di Laut Jawa. Pulau ini berada di sebelah utara Kepulauan Masalembu. Secara administratif, Pulau Karamian (bersama pulau-pulau lainnya di Kepulauan Masalembu) termasuk wilayah Kecamatan Masalembu di wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Pulau Karamian merupakan pulau kedua paling utara di antara pulau-pulau yang termasuk wilayah provinsi di Jawa setelah Pulau Sebira di Kepulauan Seribu. Bahkan secara geografis, jarak Pulau Karamian lebih dekat ke Kalimantan daripada ke Pulau Madura, yang merupakan ibukota Kabupaten Sumenep.

Warga Karamian terdiri atas campuran beberapa etnis, termasuk Suku Bugis dan Suku Madura. Suku Madura sendiri merupakan minoritas. Karena menurut sejarahnya, Pulau Karamian ini pertama kali ditemukan oleh Suku Bugis, Sulawesi Selatan ketika melakukan pelayaran dari berbagai wilayah yang ada di Indonesia, nanti di belakangan datang Suku Madura karenanya masyarakat disana mayoritas Suku Bugis, dan wajar kalau Suku Madura minoritas walaupun Pulau Karamian terletak di wilayah Sumenep, Madura.

Menengok wajah pendidikan di Karimian belum bisa dibilang cemerlang. Walaupu pendidikan di pulau ini sudah ada 4 tingkatan, dari TK/RA, lalu SD/MI, MTs/SMP, hingga SMA/MA. Dalam penyediaan air bersih lumayan lancar dan jaringan komunikasinya juga demikian. Semua itu tersaji baru beberapa tahun belakangan. Prihal penerangan, listrik hanya bisa dinikmati hanya pada waktu malam hari, itu juga belum optimal. Akses jalan raya dan jembatan/dermaganya juga masih ada yang dalam tahap pembangunan alias belum tuntas. Pelayanan kesehatan, hanya Puskesmas saja, itu pun belum terlalu efektif. Mata pencarian warga mengandalkan hidup dari bertani, nelayan serta berdagang. Wajah Karamian ini semoga kian mendapatkan perhatian dari pemerintahan Kabupaten Sumenep, demi pembangunan dan perkembangannya ke depan.

Di bagian lain, sejatinya Karaimian menyisakan pesona. Objek wisatanya tak tertanggungkan daya pikatnya. Sebut saja Pulau Kambing, berjarak sekitar 2 kilometer dari Pulau Karamian, yang biasa disebut warganya Pulaue atai Pulau Mbe. Ada lokasi wisata Pasir Putih, tak terlalu jauh dari Pulau Mbe terletak di bagian barat daya. Selanjutnya ada Batu Hitam, terletak di bagian barat daya juga. Gunung Batu yang biasa disebut Bulu’ Batu dalam bahasa Bugis. Bulu’ Batu ini terletak di bagian Timur (Pakkangnge). Kemudian, Pantai Tanjung Pele’ yang terletak di Manorang (Utara). Tentu saja Pantai Ceria (Pancer) yang tak dapat ditinggalkan begitu saja.

Sementara, dunia pendidikan adalah cakrawala membuka dunia. Dan, menjadi tenaga pengajar di daerah terpencil bagi sebagian orang bukanlah pilihan yang menyenangkan. Apalagi bagi mereka terbiasa hidup di daerah yang fasilitasnya lengkap.

Seperti sebuah sisi mata uang, selalu saja ada sisi bertolak belakang bukan? Tak selamanya, tugas menjadi guru di daerah terpencil selalu dipenuhi hal-hal menyesakkan dada. Di sisi lain, juga tak jarang membuat senyum terkulum.

Adalah Permendikbud Nomor 34 Tahun 2012 tentang Kriteria Daerah Khusus dan Pemberian Tunjangan Khusus bagi Guru. Peraturan Menteri tersebut merupakan salah satu bentuk perhatian pemerintah bagi guru-guru yang mengabdikan diri di daerah khusus. Apa itu daerah khusus? Daerah khusus yang menjadi perhatian pemerintah dalam Peraturan Menteri tersebut antara lain: daerah yang terpencil (terbelakang), daerah dengan kondisi masyarakat adat yang terpencil, daerah yang berbatasan dengan negara tetangga, pulau-pulau kecil terluar, dan daerah yang tengah mengalami bencana alam, sosial, atau dalam keadaan darurat.

Ciri-ciri daerah yang termasuk wilayah terpencil, diantaranya: akses transportasi sulit dijangkau, ketersedian fasilitas umum sangat terbatas, dan sulit/tingginya bahan pangan, sandang, dan perumahan. Selain itu, beberapa lokasi daerah terpencil juga didiami oleh masyarakat adat yang kuat (resisten) terhadap pengaruh budaya luar. Guru-guru yang ditugaskan di daerah khusus tersebut mendapat perhatian khusus dari pemerintah.

Jika boleh memilih, barangkali orang kebanyakan akan memilih di daerah pusat dengan segenap kemudahan dan tunjangan ini itu bukan? Tapi, persoalannya tidak sesederhana itu kiranya. Barangkali yang memilih asyik saja mengajar jauh dari keramaian, daerah 3T tadi tepatnya, dengan pertimbangan; mendapat perhatian lebih dari pemerintah, misalnya tunjangan khusus daerah terpencil, beasiswa pendidikan dan kemudahan proses sertifikasi, umumnya lebih dipandang terhormat oleh masyarakat setempat, lebih luwes (tidak ketat) karena biasanya jarang di monitoring dan evaluasi (Monev) oleh atasan, mengingat lokasi yang sulit dijangkau, memperoleh pengalaman mengajar yang tak ternilai. Taruhlah itu sebagai pemantik yang bisa membuat semangat 45 kembali membara.

Sebaliknya, mengingat minim fasilitas dalam pemenuhan proses belajar mengajar, bahkan termasuk sarana pemenuhan kebutuhan hidup, proses belajar mengajar mengikuti pola kehidupan masyarakat setempat, sehingga otoritas guru terhadap kelas tidak penuh. Misalnya kebiasaan siswa yang datang ke sekolah jam 10 atau ramai hanya pada hari tertentu saja, lalu guru harus menyesuaikan diri terhadap kondisi sosial yang berbeda, apalagi jika adat setempat masih tertutup. Hal lain yang menjadi tantangan utama menjadi guru daerah terpencil adalah kondisi alam yang sulit dijangkau. Tak sedikit guru-guru harus berjalan kaki mendaki bukit, menuruni lembah untuk mencapai sekolah.

Bukan tak mungkin, pilihan yang ringan di atas menghampiri Pak Subaidi dan Pak Rakhem. Apalagi mengingat status keduanya masa itu perjaka tingting. Sumpah! Apa iya legowo saja dengan segala keterbatasan. Tapi, malah segala kendala itu dijadikan pelecut semangat di dalam diri duo bujangan itu dalam memberikan pengabdian segenap jiwa, sepenuh raga kepada tunas-tunas bangsa di Pulau Karamian.

Sosok keduanya terus saja berkelebat hebat. Pak Subaidi yang selalu menyemangati. Tak ubahnya motivator ulung, ia mentransfer segenap ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya. Ia tak pernah lelah menekankan, betapa pentingnya pendidikan bagi kehidupan. Sebagaimana tak pernah lelahnya ia setiap aku datang belajar, tak jarang mendapati ia tak pernah letih menimbah air di belakang rumah diisikan ke drum yang melebihi jumlah jemari tangan. Ia juga pribadi yang humble dan disiplin bukan main. Tak heran kemudian saya dengar informasi bahwa Pak Subaidi kerap menjadi utusan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Jawa Timur untuk mengisi kegiatan peningkatan kompetensi guru-guru dan pengawas. Semangat untuk belajar dan semangat untuk sekolah. Dua pesan dari Pak Subaidi kusemat kemanapun melangkahkan kaki di kemudian hari.

Adapun Pak Rakhem, sosok guru yang mengajar dengan telaten dan seperti menganut prinsip slow but sure. Enggan tergesa-gesa. Memperlakukan muridnya dengan penuh kelembutan. Ia sepertinya tak pernah atau tak bisa marah? Sampai disitu, membawaku pada satu benang simpul, dari Pak Rakhem aku mendapati ada sesuatu yang takkan pernah bisa diganti materi, apalagi dibeli. Sesuatu itu adalah: sikap, akhlak serta budi. Prihal ini kujunjung tinggi di kemudian hari, terutama dalam pada sikap pada sesama juga dalam berorganisasi.

Kalender Agustus 2020 di Pulau Garam adalah aroma cinta. Musim liburan. Aku datang dari tanah rantau, Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan kembali menapak tanah kelahiran, Pulau Kramian. Di samping itu, panggilan cinta orangtua kepada anaknya ini. Diharibaan keduanya aku merasa luluh. Apalagi mendapati Abah yang ada masalah pada lututnya dan organ lainnya. Mak kudapati tak pernah berubah. Selalu ada sinar cinta di matanya yang menerangi mata hati kami, anak-anaknya. Benarlah, kata orang bijak, kasih anak sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah.

Dan, di suatu pagi penghujung pekan. Seketika berkelebat di hatiku dua pelita tak pernah padam itu. Maka, menjelang matahari sepenggalan naik, aku mengunjungi rumah kedua guruku tercinta. Pak Subaidi, wali kelas ku masa di SD dulu. Guruku untuk mata pelajaran Matematika, IPS, Seni dan Budaya itu kini berumah di Pamekasan Kota. Ia bahagia sudah di tengah keluarga besarnya. Bahkan si sulung sekarang sudah kuliah Kesehatan di Kediri.

Adapun Pak Rakhem, berdomisili di Sumenep, tak jauh dari SPPBE, Perbatasan Sumenep-Pamekasan. Guru telaten itu kini juga berkelindan dalam selendang kebahagiaan di tengah keluarganya. Aku yang kini tengah berproses jadi pembelajar, penjelajah, pengabdi, apapun peran kebaikan kehidupan nantinya, berkat polesan kedua pelita itu.

Lebih satu jam kami menjemput kenangan Pulau Karimian. Nyatanya waktu berlari tanpa permisi buat silaturrahim yang sekian lama terjeda, kini terungkai lagi. Menjelang pamit, setengah berteriak ataukah menasehati, istri Pak Abd Rakhme bilang, nikah jangan nunggu usia tua. Konon, dirinya bersanding dua di pelaminan kala sang suami sudah kepala tiga. Hmm… cukup tuakah usia segitu untuk sebuah ikatan suci? [*]


Tags: , ,

Arisandi Hidayatullah

Bio:

The Wicked Leader is he who the People despise, The Good Leader is he who the People Revere, The Great Leader is he who the People say, " We did it Ourselves." _Lao Tsu_

Related Posts


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *