Literasi Ketahanan Personal

Oleh: Yanuardi Syukur | Tanggal : September 24, 2020



Hari tani nasional 2020

Di sela-sela FGD ‘budaya baca dan literasi masyarakat’ saya jadi terbetik suatu pertanyaan: apakah tingkat literasi seseorang memiliki dampak pada ketahanan personal terutama dalam menghadapi krisis kehidupan?

Pertanyaan itu kemudian mengingatkan saya bawa sebuah kejadian sadis yang terjadi di Jakarta. Ada sejoli yang kabarnya ‘tidak makan beberapa hari’ kemudian menjebak seorang laki-laki yang dikenal lewat aplikasi, kemudian jenazahnya dimutilasi, dan disinggahkan di sebuah apartemen sebelum rencananya akan dikuburkan di sebuah rumah kontrakan.

Seorang pelakunya adalah alumni kampus terkenal. Pribadi pelaku tersebut dikenal sebagai pintar, kritis, dan penurut. Kawannya di kampung berkata, ‘yang bersangkutan berubah ketika mulai kuliah’ sementara yang lain berkata ‘yang bersangkutan dikenal kritis, pintar, berprestasi, dan rajin.’ Di sini kita bisa anggap bahwa yang bersangkutan adalah seorang yang literate. Tapi pertanyaannya, kenapa sebagai pribadi literate ia bisa melakukan tindakan sadis tersebut? Apakah kecakapan tersebut tidak berdampak pada kemampuannya dalam mengelola emosi dan empati kepada orang lain?

Pentingnya Ketahanan Personal

Ketahanan personal adalah ketahanan seseorang dalam menjalani berbagai ritme kehidupan, terutama dalam kondisi krisis. Kondisi pandemi seperti sekarang memang ‘mengganggu’ banyak psikologi orang. Banyak orang berubah gara-gara pandemi.

Orang yang pintar jadi terlihat bodoh, dan orang yang sebelumnya cerdas jadi terlihat buntu. Nyaris tidak ada inspirasi yang keluar di masa krisis. Padahal, kecerdasan seharusnya dapat mengajak seseorang pada ketahanan personal dalam menghadapi situasi sesulit apapun.

Tapi saya jadi ingat juga, bahwa dulu ada perdebatan antara kubu IQ, EQ, SQ, hingga AQ: adversity quotient. Ada yang menggabungkan ESQ, seperti Ary Ginanjar Agustian, tapi ada juga yang memisahkannya dengan pandangan masing-masing punya keunggulan dan sangat dibutuhkan di zaman sekarang. Khusus tentang AQ, kecerdasan untuk bertahan hidup, saya rasa sangat penting di masa sekarang.

Kecerdasan untuk bertahan itu melibatkan banyak hal, baik itu pikiran, emosi, hingga bagaimana sikap seseorang dalam menghadapi situasi sesulit apapun. Kata orang, karakter pribadi akan terlihat manakala seseorang dihadapkan pada situasi sulit. Apakah dia pesimis, optimis, atau menjengkelkan hingga menyenangkan itu terlihat ketika menghadapi masalah sulit yang menguji secara radikal ketahanan personalnya.

Di masa pandemi ini saya lihat kita butuh sekali dengan kecerdasan ketahanan personal. Mungkin bisa kita pakai AQ tadi, tapi saya ingin mendefinisikannya sebagai ‘sebuah kecerdasan yang melihatkan unsur pengetahuan, pengalaman, dan sikap yang membuat seseorang bertahan sekuat-kuatnya dalam menghadapi krisis kehidupan.’ Sejenis sikap kuat, bak karang di tengah lautan yang walau diterpa ombak bertubi-tubi dia tetap tegak, tegar.

Ketahanan Personal Dibarengi dengan Ketahanan Komunal

Manusia sebagai makhluk pribadi tidak bisa dilepaskan posisinya sebagai makhluk sosial. Walau kita bilang ‘ini urusan saya’ tetaplah itu tidak seutuhnya ‘urusan saya’, karena ada masyarakat. Kecuali seseorang hidup di kutub utara dimana hanya dia, hewan, dan es-es, maka bisa dia mengatakan ‘ini urusan saya’.

Saat ini, di mana hidup kita terkait satu dengan lainnya, maka tidak bisa kita lepas dari kehidupan komunal, apakah itu lingkungan terdekat, pertemanan, alumni organisasi/sekolah, keluarga besar, atau teman media sosial. Semua itu bisa disebut komunal dalam arti luar. Untuk bisa punya ketahanan personal maka kita juga harus punya ketahanan komunal.

Maksudnya, semua komunitas harus menguatkan anggotanya agar bisa tahan menghadapi berbagai ‘serangan kehidupan’ yang selalu muncul, tapi kadang juga tenggelam. Kita harus siap menghadapi ritme kehidupan yang ada sulit ada mudah, ada susah ada senang, dan ada pandemi ada pasca-pandemi. Tabiat dunia yang kita tinggali ini memang sudah begitu, ada perputaran di dalamnya. Tidak statis dunia ini. Maka, pikiran kita haruslah adaptif dengan segenap perubahan ekologis yang terjadi seperti sekarang.

Dalam kondisi sulit di masa pandemi, seseorang harus menguatkan dirinya. Bisa lewat kedekatan dengan keluarga, teman, guru, atau secara spiritual dengan ibadah kepada Tuhan. Semua itu akan membantu kita agar kuat. Tugas kita adalah mencari apa saja yang dapat membuat kita kuat, pribadi kita tegar dan tetap optimis menjalani kehidupan, serta tidak berlaku zalim kepada diri dan orang lain.

Untuk itu, ketahanan personal sangat kita butuhkan tidak hanya karena kita telah berpengetahuan, tapi agar kita manfaatkan pengetahuan subjektif yang kita punya untuk pertahanan diri. Ingatlah bahwa ‘musuh kehidupan’ ini tidak hanya berasal dari luar tapi bisa jadi ada dalam diri kita sendiri, yaitu sikap egois, suka marah, suka mengeluh, tidak sabaran, tidak empati, sombong, mau menang sendiri, dan tidak mau tahu dengan urusan orang lain. Itu semua harus kita letakkan pada proporsinya, agar emosi kita lebih stabil, tenang, dan dapat bertahan dalam kondisi sesulit apapun.*

Depok, 24 Sept 2020


Tags: , , , ,

Yanuardi Syukur

Bio:

President of Rumah Produktif Indonesia

Related Posts


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *