Dari Covid kepada Koit

Oleh: desmaha | Tanggal : September 26, 2020



Apa kabar Covid? Belakangan ini makin semarak. Ada beragam penyikapan juga yang tumbuh di kalangan masyarakat. Takut, hati-hati, atau malah biasa saja. Kehidupan terus berlanjut. Para pedagang tetap berjualan, pekerja masih memikul beban. Petani tetap menanam. Nelayan masih melayarkan perahu ke tengah lautan. Mereka yang sakit, semakin taat, dan terus berjuang untuk melanjutkan hidup. Para pengangguran, tetap berselisih dengan kenyataan. Golongan yang gembira, tentu yang berkecukupan. Kaum peramu gelisah adalah para pemikir. Sosok yang damai adalah yang pandai menata emosinya. Pada akhirnya manusia bosan memperbincangkan. Puncaknya, masyarakat mengabaikan.

Perjalanan wabah ini terbilang singkat, namun kinerjanya tak bisa disanggah. Populer disemua lini. Merambah hingga seluruh lempeng bumi. Manusia dirangkul kecemasan, seperti selimut tebal yang mendekap tatkala turun hujan. Tak terelakkan. Belum dapat dienyahkan. Hanya mencoba bertahan dengan ketangguhan badan. Berpuluh tahun kerangka berdiri, selama itu kita merasa aman. Nyaman menyambut oksigen melintasi pernapasan. Sekarang, harus merasa pengap dengan lapisan masker. Begitu berhati-hati mengusap wajah. Kita tak bisa lagi sembarang berjabat tangan dan berpeluk. Berbincang dekat berlapis khawatir. Bertemu dan bergerak terbatas. Terbelenggu dengan ruang sempit, yang itu-itu saja. Bagi sebagian orang, hal ini bukanlah masalah. Dapat dilalui dengan mencoba bertahan, dengan ragam persediaan. Bagaimana dengan yang tiada persiapan? Mereka harus melenggang, jadikan peluh di badan sebagai perisai dari virus-virus yang menyebar. Tak terlihat, tak terasa, tapi berdampak.

Namun, sudah nyata ketangguhan manusia dalam menghadapi para virus, yang tidak tampak. Akhirnya berlabuh pada kesimpulan, bahwa setiap manusia saat ini adalah pejuang, yang melawan virus dengan pertahanan versi masing-masing. Hasilnya tetap Tuhan yang menentukan. Para dokter dengan perlindungan berlapis pun, kena juga. Bahkan temui ajalnya dalam label pejuang kemanusiaan. Artis, pengusaha, pejabat, juga dapat jatah. Aduhai, perkara ini tak pilih-pilih rupanya. Tersebar, sesuai takdir Tuhan. Ada yang sembuh, ada yang berkawan hingga ajal menjemput. Maka kengerian ini semakin sempurna.

Covid, menggiring pikiran menuju hal yang mengerikan. Apa sebenarnya pesan dari Covid, yang hendak disampaikan Tuhan kepada kita? Sekedar perilaku hidup bersih sajakah? Atau kembali pada pertaubatan agung, karena para korban kian banyak berjatuhan. Benteng diri seperti apa yang harus kita bangun? Banyak hal yang membuat kita termenung. Tapi satu puncak pesan yang memunculkan kegelisahan ini, laksana raungan sirine ambulan yang mendebarkan. Pesan kematian, sejatinya selalu terpampang di setiap dinding mata kita memandang. Kematian yang menjadi bayangan bagi kehidupan. Kita dingatkan kembali dengan peristiwa sakral ini.

Istilah yang paling populer adalah kita sebagai Orang Dalam Pemantauan (ODP). Pantauan Tuhan selama ini seolah bergeser. Tapi, sederhana saja. itulah pesan sebenarnya, bahwa kematian selalu memberi pertanda. Tiada bisa ditunda. Apapun caranya. Waktu berpulang, sudah terjadwal. Hanya dirahasiakan, agar kita bisa bersiap. Dengan semaksimal mungkin persiapan. Jika persiapan telah sempurna, maka tak ada lagi yang perlu dicemaskan. Seperti penantian atas jumpa dengan kekasih, maka janji ini merupakan kerinduan yang maha. Ketika jumpa itu terjadi, kebahagiaanlah yang terjadi. Sedang rasa sakit berpisahnya raga dan nyawa, mungkin tak lagi dirasa, karena ada kebahagiaan puncak yang telah menyambut di depan sana. Jumpa dengan –Nya.

Terkadang kita abai pada pesan, dan lebih senang membahas bagaimana pesan itu disampaikan. Bagaimana kematian itu terjadi? Karena ini, itu, begini, demikian, dan seterusnya. Pesan cinta, misalnya. Kita abai pada pesan rasa cinta yang diungkapkan, kita lebih tertarik bagaimana cara penyampaian cinta itu. Dengan lagu, puisi, sikap, kerinduan, atau airmata. Maka Tuhan di tahun ini tengah menyajikan cara berbeda untuk menyampaikan cinta-Nya pada kita, lewat pesan bernama kematian, dengan cara memunculkan Covid. Menderaslah duka, bagi yang ditinggalkan. Tapi yakinlah bahwa itu tak akan lama. Sejenak waktu kemudian, airmata mereka yang kita tinggalkan, mengering. Beralih peristiwa, bergantilah duka dengan warna-warni yang menjadikan kita tiada. Tinggal persiapan kita sehebat apa, untuk menuju pertemuan yang telah digariskan oleh-Nya.

Bandarlampung, 25 September 2020


Tags:

Desmaha

Bio:

Related Posts


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *