Empati di Masa Pandemi

Oleh: Yanuardi Syukur | Tanggal : September 26, 2020



Ilustrasi (Sumber: google.com)

Douglas W. Hollan dan C. Jason Throop pernah mengedit buku bagus tentang empati berjudul “The Anthropology of Empathy: Experiencing the Lives of Others in Pacific Societies” (Berghahn Books, 2011). Bisa dikatakan bahwa buku yang berbasis pada riset di masyarakat Pasifik tersebut dapat menjadi rujukan bagaimana melihat empati dipraktikkan oleh masyarakat. Dalam konteks kekinian, topik empati sangat relevan untuk melihat dinamika yang terjadi di masyarakat.

Secara singkat, empati dapat diartikan sebagai sebuah perasaan seperti ‘a first person like’ (seperti orang pertama) yang memahami dan mengalami dalam perspektif orang lain. Dalam bahasa sederhana, adalah kita merasakan apa yang dirasakan orang lain. Bukan cuma “kutahu yang kumau” tapi melintas pada “kutahu dan kurasakan yang kau mau dan kau rasakan.”

Nilai Empati

Dalam buku tersebut, ada satu kombinasi yang ditemukan oleh mereka, yaitu adanya a strong cultural values berupa “love-compassion-concern-pity” (cinta-kasih sayang-kepedulian-kasihan) yang membangun emosi positif dan berdampak pada tindakan mencintai antar manusia, lebih khusus kepada mereka yang dianggap kerabat. (p.10)

Integrasi dari beberapa sifat eksistensial manusia itu menjadi dasar bagi lahirnya interaksi sosial manusia yang berpijak pada empati. Satu hal yang membuat kita sadar di sini adalah bahwa sebagai manusia kita memiliki eksistensi sebagai ‘makhluk empati’ yang menjadi ciri khas dalam kesadaran dan tindakan kita. Berbeda dengan makhluk lainnya, manusia memiliki empati yang membuatnya tumbuh-kembang dalam beragam interaksi dalam membangun peradaban mereka.

Empati itu tidak mungkin lahir kecuali adanya integrasi antara kognisi dan emosi. Apa yang dipahami di pikiran (kognitif) yang kemudian disinergikan dengan emosi pada akhirnya melahirkan tindakan empati. Contoh, banjir melanda suatu kampung, secara kognitif-emosi kita tahu bahwa peristiwa itu bisa berdampak buruk pada masyarakat setempat baik dari kesehatan, pendidikan, fasilitas, serta keselamatan nyawa. Kita tersentuh, dan kita pun membantu para korban tersebut secara langsung atau tidak langsung, terlihat atau tidak terlihat.

Empati sangat mungkin terwujud dengan adanya sensitivitas, hati terbuka, dan rasa saling percaya. Hati yang terbuka akan memudahkan terjalinnya interaksi walau berbeda budaya. Orang Indonesia misalnya sejak lama dikenal sebagai masyarakat terbuka–sebagai salah satu corak masyarakat pesisir–yang menerima berbagai unsur yang datang dari luar. Maka, ketika datang pelancong dari negeri yang jauh, mereka diterima baik eksistensi maupun ide namun dipraktikkan dalam berbagai ragam yang sangat kaya. Sinkretisme kemudian menjadi salah satu penanda dari ‘penerimaan Indonesia’ terhadap difusi kebudayaan tersebut.

Pancasila misalnya, kendati digali oleh Bung Karno dari kultur Indonesia, sesungguhnya ‘kultur’ tersebut merupakan hasil dari hibridisasi yang berlangsung sekian lama yang melahirkan apa yang disebut sebagai kultur Indonesia. Tapi, kultur itu juga sifatnya dinamis. Contoh, dulu Indonesia kaya dengan kerajaan besar seperti Sriwijaya dan Majapahit, kemudian kesultanan Islam hingga datangnya ekspedisi Eropa terutama pasca perjanjian Tordesillas, terjadilah berbagai pergeseran sosial-politik dan kultur.

Pergeseran itu–seiring berjalan waktu–kemudian melahirkan resistensi dari kalangan pergerakan. Lahir tokoh, buku, dan perlawanan. Gerak sejarah dunia kemudian menjatuhkan Jepang yang berambisi menjadi imperium di kawasan, dan Indonesia merdeka. Kesultanan yang ada juga bersetuju untuk berintegrasi dalam wadah baru bernama Indonesia itu. Kendati sampai sekarang ada saja ‘tarik-menarik’ antara kekuasan negara dengan kekuasaan tradisional tersebut, tapi sejauh ini relasinya berjalan dengan damai dalam wadah Indonesia.

Saling percaya–dari konteks ini–akhirnya membuat kita bersatu. Trust, orang bilang. Tanpa trust mustahil muncul rasa simpati. Contoh lain, kenapa orang Indonesia rajin berdonasi untuk Palestina? Penjelasan logisnya karena pikiran dan hati terbuka dari masyarakat Indonesia yang dibarengi dengan trust bahwa rakyat Palestina berada dalam kondisi terjajah. Perasaan tersebut sesungguhnya selain historis–sebagaimana dulu kita dijajah–juga mengandung nilai ideal yang terakumulasi dalam pembukaan UUD 1945 “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Empati di Masa Pandemi

Pandemi covid-19 sudah pasti berdampak luas dalam berbagai sektor, pemerintahan, pendidikan, sosial-budaya, ekonomi, dan juga psikologi. Orang jadi ketakutan ketika ada yang bersin atau batuk-batuk, karena salah satu sumber penularan covid-19 itu lewat droplet. Ketika menunggu salah satu toko dan ada orang yang flu, saya lihat orang-orang sekitar mulai ‘memasang kuda-kuda’, bersikap menjauh, dan ada kesan ingin keluar ruangan segera. Di sini, sikap empati–yang seharusnya ada secara eksistensial sebagai manusia–tiba-tiba terdegradasi karena ketakutan atas virus tersebut.

Relasi antara pemerintah dan masyarakat juga berdampak pada bagaimana masyarakat merespons orang sakit. Ketika seorang tokoh masyarakat yang sering dianggap tidak sensitif dalam ucapan dan kebijakannya terkena virus, saya lihat sebagian orang mengutuknya dalam bentuk sumpah-serapah hingga doa-doa buruk tidak hanya di alam fana tapi juga berharap hingga baka.

Respon tersebut lahir dari retaknya relasi harmonis antara state dengan society. Awalnya, state bilang, ‘virus tidak akan masuk ke Indonesia’, ‘yang pakai masker hanya yang sakit saja’, ‘virus bisa dilawan dengan minuman tradisional’, hingga ‘kita masih punya banyak tenaga kesehatan lagi’ yang dianggap sebagai tidak sensitif terhadap penderitaan rakyat–dalam hal ini jatuhnya korban masyarakat sipil dan tenaga kesehatan di garda terdepan melawan covid-19.

Empati jadi hilang, karena retaknya relasi itu. Ditambah lagi dengan kontradiksi yang kerap dimunculkan oleh petinggi negeri yang sebelumnya mengatakan ‘kita siap menghadapi covid-19’ tapi faktanya banyak yang jatuh berguguran, ‘kita telah beli obat’ tapi faktanya juga demikian, hingga pada mulai jatuhnya kredibilitas petinggi negara yang dianggap tidak cakap dan lalai sejak virus ini muncul di Wuhan pada Desember 2019.

Empati jenis apa yang kita butuhkan sekarang?

Sebagai makhluk manusia, kita semua–bahkan di kalangan oposisi kritis sekalipun–pasti memiliki empati kepada sesama, ya kepada penderita, para korban, keluarga korban, kepada pemerintah, bahkan pada negeri ini. Empati adalah sifat manusia manusia yang inheren, melekat pada diri manusia.

Temuan dari buku “The Anthropology of Empathy” di atas soal “cinta, kasih sayang, kepedulian dan kasihan” rasanya harus kembali diangkat dalam wacana publik kita. Artinya, apapun intensi yang ada pada diri manusia secara individu maupun komunal, mereka harus berpijak pada rasa cinta, bahwa tindakannya itu berintensi cinta kepada sesama, berdasar pada kasih sayang, kepedulian atas bencana global yang menyasar hampir semua negara dan adanya rasa kasihan.

Khusus tentang rasa kasihan, memang sifatnya tidak sederhana. Kompleksitas kasihan (pity complex) terlahir dari rasa kasihan terhadap kesulitan yang dipikirkan, dirasakan, dan dijalani orang lain yang melahirkan semangat untuk membantu yang berbasis pada cinta pada manusia, tanah, dan bangsa kita. Maka, suara-suara kritis terhadap kekuasaan sebaiknya tidak dilihat sebagai rasa benci, tapi sangat mungkin adalah ‘kompleksitas rasa kasihan’ terhadap kesulitan yang dialami penguasa sekaligus rakyat banyak. Pun sebaliknya, kebijakan penguasa juga jangan dianggap sebagai sebentuk rasa benci, tidak peduli, dan tidak perhatian kepada orang banyak.

Di titik ini, saya lihat ada gap antara state dan society. State terlalu sibuk dengan urusan kekuasaan tapi kurang bertemu, membuka hati, dan berdialog secara terbuka dengan society–khususnya pemimpin sipil. Di sisi lain, society tidak disulut oleh narasi perlawanan sehari-hari (everyday resistence) yang dihembuskan para tokoh berintensi kekuasaan secara tidak terbuka.

Maka, kita butuh empati yang mengintegrasikan rasa cinta, rasa sayang, peduli, perhatian, kasihan, yang dipadukan dengan semangat kekerabatan, bahwa kita semua adalah ‘kerabat Indonesia’ yang harus saling mencintai dan menjaga demi langgengnya eksistensi kita sebagai manusia dan bangsa.*

Depok, 25 Sept 2020


Tags: , ,

Yanuardi Syukur

Bio:

President of Rumah Produktif Indonesia

Related Posts


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *