Nyayian Kecil Batu Karang

Oleh: desmaha | Tanggal : September 30, 2020




sebilah doa mengagetkan malaikat,
berkerumun di langit,
menengok benar-benar,
isak lirih siapa, mencipta sayatan?
dipandang lagi, lesat cahaya menghampiri,
renta wanita yang telah cabik telapak kakinya,
perlahan menyala jilatan api menghanguskan lututnya,
o, telah menjalar hingga kerongkongan,
lidah tua menjelma belati,
menyampaikan pinta kepada Tuhan,
langit berguncang,
sedahsyat itu ketika pemilik surga membawa luka.

“Tuhan, kutuklah durhaka ini jadi batu!”
lapisan airmatanya terkelupas,
neraka melebar pada buram pandangan,
lerai perlahan rindurindu pada bayi kecilnya,
yang dilepas merantau ke negeri entah,
duduk penantian di bawah nyiur,
mengintai setiap kapal singgah, bertanya wajah,

“Tuhan, kutuklah ia jadi batu!”
berjejalan sayap membentang,
mendekap lubang pada hati pemilik duka,
kilat bertali, genderang semesta bertabuh,

wahai, engkau!
ridho Tuhan telah tercerabut paksa.
pembawa surga dilukai,
ke palung mana kan berlari?
sedang bumi telah menyempit kini.
tenggelam, telah milik firaun,
tertimbun, adalah qorun,
kau, adalah batu!

“Tuhan, kutuklah ia menjadi batu!”
berlaku lidah sang bidadari,
bulir cintanya mengkristal menuju laut,
mencipta gelombang menggulung,
airmatanya hambur dibawa angin,
bertebar kencang meretakkan bongkah karang,

o, pemuda lancang, lupa masa kecil,
dibuangnya pembawa surga, dengan sekali pandang,
dipilihnya harta nan cantik sekelumit,
terpelating badan ke tepian,
karam, karam, karam!
pembatas pepasir dan lautan.

wahai,
muda nan lupa jalan pulang,
merangkak ia menuju wanita renta nan tengadahkan tangan,
sirna jarak dengan langit,
dikabulkan, tanpa tunda.

“Ibu…”

sujudnya tak lagi berguna.

Bandarlampung, 30 September 2020




Desmaha

Bio:

Related Posts


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *