Welcome to Trump’s America

Oleh: jeannefrancoise | Tanggal : November 4, 2020



Source from: google.com

Saya adalah fans Donald Trump. Semenjak umur saya 14 tahun, saya sudah membaca buku-buku Trump, The Art of the Deal dan How to Get Rich. Oleh sebab itu, saya merasa sebagai akademisi yang cukup beruntung bisa mengunjungi negara Paman Sam 2 (dua) kali selama negara Amerika Serikat masih di bawah pemerintahan Presiden Donald John Trump.

Artikel ini harus saya tuliskan sebab saya tidak tahu apakah nanti Trump akan menang Pilpres 2020 kembali. Jangan heran apabila saya menceritakan disini bahwa saya amat senang bisa mengunjungi bangunan-bangunan milik Trump seperti Trump Las Vegas, Trump Tower New York, dan Trump World International Tower&Hotel. Sekaligus artikel ini adalah oleh-oleh abadi dari Amerika, yang akan menggambarkan pemikiran-pemikiran khas bangsa Amerika yang mungkin hanya bisa dirasakan ketika kita kunjungan langsung kesana. So, welcome to Trump’s America.

Jadi, pada Desember 2019 tahun lalu saya ke daerah West Coast (University of California Los Angeles (UCLA) dan Las Vegas) dan pada Oktober 2020 kemarin saya baru saja pulang dari daerah East Coast (New York). Los Angeles dan New York adalah dua kota besar yang secara tidak langsung menjadi penghubung antara Amerika wilayah Barat dan Amerika wilayah Timur, sebab dalam sehari terdapat beberapa penerbangan LAX-NYC dan sebaliknya. Tidaklah mengherankan apabila banyak tokoh Amerika dan aktor Hollywood yang memiliki kediaman di dua kota besar itu.

Karena saya ke Los Angeles atas dasar undangan akademis untuk menjadi pembicara di konferensi internasional di UCLA, maka UCLA-lah yang pertama kali saya datangi. UCLA merupakan salah satu ivy league di Amerika. Bangunan kampusnya memang sederhana, di tiap bloknya diperuntukkan bagi prodi-prodi dengan rumpun ilmu tertentu, namun justru blok-blok yang ada tersebut memperlihatkan fokus daripada studi-studi di UCLA.

Ketika saya membuka website UCLA, terlihat banyak peminatan yang amat fokus dan terkonsentrasi, seperti misalnya prodi Sejarah Yahudi, prodi Arkeologi perang, dan prodi Kimia modern. Prodi-prodi seperti ini mungkin belum ada di Indonesia. Bahkan di Universitas Indonesia sekalipun. Oleh sebab itu, UCLA menjadi universitas yang amat diminati bagi mereka yang ingin menjadi akademisi terfokus atau profesor yang ahli di bidang tertentu.

Setelah selesai konferensi internasional, saya membiasakan diri sebagai “turis Los Angeles pada umumnya”. Artinya saya mulai menyusun daerah-daerah banal yang dikunjungi oleh para turis, mulai dari Beverly Hills, Rodeo Drive, Hollywood Studios, Warner Bros Studios, Pantai Venice, Pantai Malibu, dan pulang-pergi ke Las Vegas.

Satu situs yang mungkin bukan tujuan yang banal adalah Kapal Perang USS Roosevelt yang dipergunakan selama PD II. Saya menyempatkan diri kesitu karena penelitian disertasi saya tentang bangunan atau cagar budaya bernilai pertahanan atau Defense Heritage. Bagi saya, situs wilayah dimana kapal perang USS Roosevelt disandarkan setelah dipakai perang dan juga kapal perang itu sendiri adalah termasuk defense heritage bagi bangsa Amerika Serikat, sebab disitu memuat memori bangsa Amerika sebagai negara pemenang perang. Kapal perang itu adalah bagian dari saksi sejarah.

Harga tiket masuk ke kapal perangnya adalah 15 USD, namun pelayanannya amat baik, terdapat pula guide seorang veteran perang Marinir Amerika yang menjelaskan kapal tersebut dengan semangat. Saya masuk bersama seorang keluarga Amerika dengan anak-anak mereka, dan hati saya pun senang luar biasa seperti anak kecil masuk ke museum pertama kalinya pada saat liburan musim panas.

Di setiap situs-situs yang unik, biasanya saya selalu membuat Vlog, namun karena angin yang kencang di sekitar situs kapal perang, maka saya susah untuk membuat Vlog. Kenangan di Kapal perang ini saya masukkan di dalam Disertasi saya saja. Sekaligus tiketnya masih saya simpan.

Los Angeles memang memiliki ciri khas sebagai kota pantai penuh hiburan, apalagi hanya berjarak 5 jam dengan Las Vegas, sehingga para turis yang mengunjungi Los Angeles, biasanya menyempatkan diri pulang-pergi ke Las Vegas. Di Las Vegas saya kaget karena banyak orang-orang yang memegang kartu berisi foto cewek-cewek seksi. Ternyata mereka adalah gigolo dan memang Las Vegas terkenal akan judi dan prostitusinya. Saya sempat tanya ke driver yang mengantar saya bahwa prostitusi di Las Vegas itu sudah tersistem, jadi yang mendapat uang tidak hanya si pelacur, tetapi juga gigolo, pengantarnya atau drivernya, dan para petugas hotelnya. Jadi prostitusi itu bisnis.

Selama di Las Vegas, saya menyempatkan diri memfoto Trump Las Vegas dari arah Eiffel Las Vegas. Sebab bangunan Trump Las Vegas tidak berada di pusat Las Vegas. Kemudian saya masuk ke pusat perjudian dan melihat para turis bermain judi. Lalu saya berjalan kaki saja dari ujung banner tulisan Las Vegas, hingga ke Hard Rock. Karena antrian di banner amat panjang, saya akhirnya foto saja apa adanya, yang penting ada tulisan Las Vegas.

Kenangan di Las Vegas yang begitu “nakal” dan “berani” ini mungkin sekarang sepi pada masa Corona. Las Vegas yang sepi itu tidak dapat saya bayangkan. Saya beruntung sudah ke Las Vegas sebelum Pandemi Covid-19. Kenangan yang juga melekat tentang Los Angeles bagi saya adalah Beverly Hills dan Rodeo Drive.

Di dalam sejarahnya, Beverly Hills adalah pusat shooting perfilman. Bukan hanya karena disitu adalah kampungnya para sutradara, tetapi secara geografis wilayah Beverly Hills amat indah dan praktis untuk dijadikan lokasi shooting. Bentuk jalanan yang panjang terarah, tanda-tanda jalan yang terawat tanpa ada graffiti coretan, apartemen rendah two-stories yang asimetris, pohon-pohon kelapa, dan mobil-mobil made in America terbaru, membuat Beverly Hills seperti sebuah kota indah tersendiri yang modern, megah, dan jauh daripada persepsi miskin American Depression 1930.

Sementara itu, Rodeo Drive adalah titik klimaks kalau kita jalan kaki santai dari arah Beverly Hills. Terletak kurang lebih 3 km dari arah Hotel Beverly Hills yang iconic, plang jalan bertuliskan “Rodeo Drive” adalah hal yang paling memikat yang pernah mata saya lihat. Ibarat bercinta, di titik Rodeo Drive ini-lah para turis bisa mencintai negara Amerika dengan cara memanjakan diri, melalui belanja produk-produk high branded, melihat mobil-mobil termewah yang pernah parkir, berfoto di tangga yang terkenal sebelah marketplace Tiffany&Co, dan kalau sedang beruntung maka para turis akan berpapasan dengan beberapa aktor K-Pop dan Hollywood.

Sontak setelah berjalan dari ujung ke ujung, saya menyeberang dari ujung ke ujung lagi. Hanya untuk menikmati indahnya Rodeo Drive. Rodeo Drive bagai pacar terbaik yang pernah saya punya. Dalam kurang lebih 4 jam itu, saya seolah jadi Ratu dunia karena saya melihat barang-barang terbaik yang pernah dibuat oleh manusia. Walaupun saya tidak beli, hanya window shopping, hati saya sudah amat gembira.

Sore harinya, saya berjalan dari arah Pantai Venice ke Pantai Malibu, yang melewati Pantai Santa Monica Pier. Disitu ternyata Route 66 yang amat terkenal. Route 66 adalah pemberhentian iconic arah dari rute east coast ke west coast untuk menyusuri Amerika melalui jalan darat. Pantai St. Monica Pier sungguh indah dan banyak dijual suvenir bergambar beruang “California Republic” yang sesuai dengan interpretasi saya. Kalau California itu Republik, mungkin saya sudah apply jadi warga negara. Jadi, Terima kasih, Amerika.

Pada tahun 2008, Presiden Amerika Serikat Barack Obama pernah datang ke kampus saya di Auditorium Universitas Indonesia dan saya menyempatkan diri untuk hadir dan berusaha menyalami beliau. Sayangnya saya kalah baris karena baris depan sudah diisi penuh barisan duduk yang diperuntukkan bagi mereka adik-adik SMA. Namun tidak masalah. Ternyata secara mentalitas semenjak tahun 2008, saya ingin kunjungan langsung ke negara Paman Sam. 10 tahun kemudian hal itu akhirnya terwujud.

Tidak pernah terpikir oleh saya bahwa saya akan pertama kali menginjakkan kaki di Amerika di wilayah Los Angeles, justru saya pikir saya pertama kali akan ke Washington DC atau New York terlebih dahulu. Ternyata Los Angeles yang menjadi pintu pertama saya mendapatkan Visa 5 (lima) tahun dari negara Paman Sam. Hal ini benar-benar sangat saya syukuri, sebab saya akhirnya mengenal langsung Amerika dari sisi yang paling surgawi, alias Beverly Hills dan Rodeo Drive.

Berbeda dengan Los Angeles, kota New York adalah kota metropolis seperti Jakarta yang penuh dengan bangunan-bangunan lebar dan tinggi, dengan bendera-bendera Amerika Serikat yang dipasang agak turun ke bawah di tiap tengah-tengah gedung. Sangat khas Amerika.

Kota New York juga merupakan kota yang amat besar dan luas, kadang kalau kita salah naik Metro, maka bisa keluarnya jauh sekali dan membutuhkan waktu 1 jam untuk kembali ke titik asal. Beruntung saya bersama teman-teman Diaspora Indonesia selama di kota New York, sehingga saya tidak pernah tersasar.

Selama di kota New York, saya selalu tertidur di pagi hari dan bangun agak siang, sehingga rata-rata saya baru jalan di atas pukul 15 sore waktu New York. Mungkin karena jetlag, namum mungkin juga karena hati saya lebih cocok di Los Angeles yang penuh hiburan dan pantai.

Bagi saya, kota New York untuk dikunjungi sesekali tidak masalah, namun kalau untuk menetap dan tinggal, saya akan berpikir dua kali, sebab kemarin saya sudah cukup mengunjungi situs-situs bersejarah yang menarik seperti Central Park, Grand Central Terminal, Wall Street, Liberty Statue, United Nations Headquarters, John F. Kennedy Statue, Kantor NYPD di Times Square, Rockefeller Center di 5th Avenue, 9/11 Memorial&Museum, dan Museum Kota New York di Harlem.

Selebihnya, saya jalan kaki santai untuk mencari makanan Asia dan mencari oleh-oleh yang murah. Kemudian setiap malam harinya, saya berjalan antara Manhattan Bridge atau di Brooklyn Bridge yang sering menjadi latar belakang film-film Hollywood. Sayangnya Pandemi Covid-19 menghalangi saya melihat Parade Columbus Day yang selalu dilaksanakan setiap 12 Oktober. Pada tahun 2020 ini, Columbus Day diperingati secara virtual saja.

Kota New York memiliki beberapa zona yang terkadang bisa kita lihat langsung dari aksen-aksen penduduknya. Zona pertama adalah di 5th Avenue selaku wilayah bisnis dimana disitu terdapat Rockefeller Center dan juga Trump Tower. Sementara zona penting lainnya adalah 2nd Avenue yang menjadi jalan diplomatik karena disitu ada Gedung PBB, kantor-kantor kedutaan besar, Chrysler Building, dan juga Trump World International Hotel&Tower.

Kemudian zona ketiga adalah daerah Manhattan yang amat kultural dan pusat kuliner. Banyak imigran Latin disitu, seperti di zona Chinatown dan Koreatown. Kalau di zona Bronx dan Harlem lebih banyak kulit hitamnya. Apabila teman-teman ingat lagu “Jenny in the block”-nya Jennifer Lopez, nah begitulah daerah Bronx dan Harlem yang memang banyak blok-blok dengan graffiti bertuliskan Black Lives Matter. Khas kebebasan berpendapatnya orang Amerika.

Di dalam sejarah, seperti yang sudah saya jelaskan dalam Vlog “Morning Walk in Manhattan”, kota New York memiliki 2 (dua) fase yang menjadikan kota nomor satu di dunia, yakni fase pertama adalah ketika New York berhasil membangun sisi ekonomi, terlebih keberhasilan para kaum imigran dan kaum brain drain dari negara-negara Eropa pada awal PD I, untuk bisa menetap dan berbisnis. Di era inilah kita mengenal era Mafia. Bahkan selama di Manhattan, saya menyempatkan diri untuk mencari lokasi syuting film Godfather.

Fase kedua adalah pasca PD II ketika negara-negara sekutu setuju untuk membentuk organisasi internasional PBB. Disinilah tokoh bernama Rockefeller Jr selaku Mayor kota New York pada waktu itu membuat keputusan bersejarah. Rockefeller-lah yang membuka kota New York bagi dunia, dengan cara memperbolehkan PBB berkantor di New York. Bayangkan saja efek sebuah kota yang sudah kaya secara ekonomi kemudian terdapat organisasi internasional yang utama.

Di dalam sejarah, senator yang kemudian menjadi Presiden katolik pertama Amerika Serikat, John Fitzgerald Kennedy, mengadakan kampanye besar di kota New York. Juga pada waktu masih jadi pengusaha, Donald Trump pernah menjadi komandan Parade Columbus Day dengan berjalan kaki di sekitar 5th Avenue. Mereka memahami betul status kota New York yang punya posisi tawar yang tinggi untuk menjadikan diri mereka sebagai “Captain America”.

Amerika Serikat disebut sebagai polisi dunia di dalam banyak literatur ilmu hubungan internasional, sebab memiliki kekuasaan seolah-olah tak terbatas dalam percaturan konstelasi politik hubungan antar negara-negara. Di dalam konflik internasional, Amerika juga kerap tampil sebagai aktor pelaku yang memicu konflik.

Terlebih kekuatan budaya pop culture Amerika dalam bentuk media film, televisi, radio, dan industri-industri besar yang merambah keseharian pemuda-pemudi pada umumnya seperti Netflix, Google, Silicon Valley, Apple, semuanya itu terpusat di negara Paman Sam. Oleh sebab itu Amerika adalah sebuah negara yang tidak bisa kita nafikan dalam pembicaraan isu-isu aktual, termasuk Terorisme global.

Pragmatisme dan Nasionalisme rakyat Amerika semakin menguat pasca Peristiwa 11 September 2001. Sungguh hati saya terharu ketika menyaksikan 9/11 Memorial&Museum yang mengenang 2.977 korban terorisme. Disitu juga saya memuji kepemimpinan Presiden George W. Bush Jr. yang berani turun langsung ke Ground Zero untuk memberikan dukungan spirit dan moral bagi bangsa Amerika yang sedang berduka. Hal ini mirip yang dilakukan oleh Presiden Macron yang memimpin langsung pemakaman Samuel Patty, korban terorisme yang dipenggal oleh muridnya, di Paris, Prancis.

Standar ganda dan tebang pilih pada akhirnya menjadi warna politik Amerika. Walaupun Presiden Abraham Lincoln sudah menghapuskan rasialisme dan Barack Obama si “anak kulit hitam” sudah menjadi Presiden, Amerika tetap memiliki masalah yang mengakar pada kehidupan sosialnya, yakni rasialisme terhadap kaum kulit berwarna. Mungkin hal ini mirip dengan budaya korupsi orang Indonesia yang sudah dihilangkan.

Agak berbeda dengan pengalaman saya waktu tahun lalu ke Amerika, tahun ini adalah tahun Corona, plus tahun kampanye Pilpres. Jadi kota New York memang sepi. Waktu saya jalan kaki melewati tempat konser Radio City dan studio Jimmy Fallon, jalanan amat sepi, padahal biasanya menurut teman-teman diaspora, wilayah itu tetap ramai walaupun sudah larut. Di Times Square pun menurut saya juga agak sepi, tidak seramai pada umumnya yang terlihat pada berita-berita.

Karena saya seorang fans Donald Trump, saya menyempatkan diri untuk makan malam di restoran di Trump World. Harga spaghetti bolognaise nya 68 USD, dengan pajak 5% dan tips 5 USD. Lalu saya pun foto di depan bangunan megah itu, sambil membayangkan kapan saya akan kembali kesitu bukan hanya sebagai akademisi yang hadir untuk menjadi pembicara di forum konferensi internasional, tetapi lebih dari itu, misalnya sebagai orang yang memang ditunggu untuk hadir. Semoga.


Tags: , ,

Bio:

Related Posts


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *