GUGUR SATU, RIBUAN BERTUMBUH

Oleh: Maghdalena | Tanggal : December 24, 2020



Betapa hatiku takkan pilu
Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku takkan sedih
Hamba ditinggal sendiri


Alunan lirik lagu Gugur Bunga itu membuatku hanyut ketika membaca sebuah kisah heroik pagi ini.
Kisah seorang anak, yang melepas kepergian sang ayah untuk pergi berperang. Mempertahankan kedaulatan bangsa di garda terdepan, berpuluh tahun lalu.

Saban hari anak itu duduk di depan pintu bercat hijau yang pinggir-pinggirnya lapuk dimakan rayap, sembari menatap daun-daun rambutan berayun ke kiri dan kanan dihempas oleh angin musim kemarau yang panas.

Memandang kejauhan, berharap sang ayah akan datang dengan menggenggam sebuah senapan Bolt action rifle buatan Jepang type 44 itu sembari meneriakkan dengan lantang sebuah kata yang selalu memercikkan energi ke seluruh penjuru nadi: ‘Merdeka!’.

Hingga hari ke-14, anak itu masih setia menunggu. Berdoa harap-harap cemas menanti kepulangan ayahnya dengan hati yang penuh debar.

Dan kabar itu pun datanglah. Bersama segerombolan tentara yang datang ke rumah tepat pada hari ke-15. Dengan sangat hati-hati dan  suara yang amat pelan mengirimkan kabar duka yang takkan pernah mampu ia lupa.

Sang ayah telah gugur di medan perang. Senjata penjajah telah mengoyak betis, dada dan bahu sang ayah hingga terburai. Hingga darah melimpah ruah membasahi bumi pertiwi. Meninggalkan jasad yang tak bisa lagi dibilang utuh.

Kaki anak itu lunglai seketika. Bahkan badannya yang ringan karena kurang gizi akibat hanya mengkonsumsi nasi yang ditanak dari beras berkutu saban haripun tak mampu lagi ditopang oleh kedua kaki lemah itu. 

Persendiannya terasa kebas. Seluruh nyawanya serasa terbang. Melayang bersama angin utara yang masih menderu di musim panas yang beringas. Air matanya menganak sungai meratapi kepergian sang ayah, lelaki terbaik dalam hidupnya.

Pahlawannya telah pergi. Dengan gagah perkasa dan perwira.

Anak itu memandang awan yang tetiba kelabu. Langit seakan ikut berduka mendengar kabar itu.
Namun di kejauhan, di balik bukit yang hijau, sebuah senyum melengkung, menyiratkan wajah keras namun teduh sang ayah yang selalu sarat semangat. Seakan ia berkata, “jangan patah, lanjutkan perjuangan. Merdeka atau mati!”
___
Aku tergugu membaca kisah itu. Sebuah tetes hangat merebak di balik mata, terjun bebas membasahi hati.
Ada begitu banyak kisah heroik dan penuh haru tentang perjuangan para pahlawan dalam membela bangsa ini, bertebaran di seluruh persada nusantara.

Tentang anak yang kehilangan ayah, istri yang ditinggal suami, bapak yang tak pernah bisa bertemu dengan anak yang ditinggalkannya ketika masih di dalam kandungan sang istri karena panggilan perang yang tetiba menyalak.
Kisah-kisah nyata yang mungkin kita takkan pernah tahu, karena telah hanyut dibawa oleh arus zaman yang menggeliat sedemikian buas.

Maka sebentar saja, sempatkan membaca. Menelusuri kembali jejak-jejak perjuangan para pahlawan bangsa masa silam. 
Untuk kemudian menjadi cambuk bagi kemalasan kita hari ini, yang membelenggu diri dan hati ini dari sebuah upaya untuk berkontribusi.

Zaman kita berbeda dengan zaman perjuangan dulu. Itu benar. Namun, keadaan tersebut tidak bisa menjadi alasan bagi kita untuk tidak memiliki semangat juang yang sama.

Para pahlawan telah berkorban untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, maka, mari kita berjuang untuk mengisinya dengan kontribusi yang berguna. Agar kelak, nama kita tercatat sebagai seorang pahlawan. Kalaupun bukan pahlawan yang ditulis dengan pena dalam sejarah bangsa, setidaknya pahlawan bagi orang-orang sekitar kita.

Alunan lagu Gugur Bunga masih setia menemani.

Telah gugur pahlawanku
Tunai sudah janji bakti
Gugur satu tumbuh seribu
Tanah air jaya sakti


Lihatlah, duhai pertiwi. Satu pahlawan telah gugur ke bumi. Namun di sini, akan lahir beribu pahlawan-pahlawan baru, yang akan menebarkan sejuta kontribusi dan prestasi bagi negeri. Kami berjanji.

Padang, 10 November 2020.
Sembari memandang langit yang berawan, di hari pahlawan.

*Penulis adalah Ketua DPW RPI Sumatera Barat


Tags: , ,

Maghdalena

Bio:

- Belajar, dan Terus Belajar - Ketua DPW RPI Sumatera Barat.

Related Posts


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *