Silaturahmi, Karakter Manusia Produktif

Oleh: Yanuardi Syukur | Tanggal : December 24, 2020



Satu bulan terakhir saya merasa sangat beruntung dapat bersilaturahmi ke banyak kolega lama maupun baru. Bertemu mereka, saya dapat insights dan “butir-butir” hikmah yang terlontar dari cerita ringan dan bersahabat.

Di Medan, saya bertemu kawan lama. Dia bercerita tentang bisnisnya yang sedang membaik menjelang pilkada. “Tim sukses datang ke sini untuk cetak seragam”. Walau kecil, tapi alhamdulillah berjalan, lanjut kawan saya yang belasan tahun tidak bertemu itu. Di kota tua multikultur itu, saya juga berkeliling kota, menikmati pesona gedung-gedung tua peninggalan Belanda, hingga komplek orang India yang terletak di tengah kota.

Ketika berkunjung ke Demak, saya kembali terkenang di masa santri dulu. Ketika kami rihlah dari Jakarta ke Cirebon, ke Jateng, dan Jatim. Semua kali jalani untuk “mengenal Jawa” lebih baik, tempat di mana kita tinggal–Jakarta bagian dari pulau Jawa. Kini, ke Demak saya duduk kembali di tempat yang belasan tahun lalu saya duduk bersama kawan-kawan, mengenakan jas seperti yang lalu.

Teringat pula, saat duduk di depan Masjid Agung Demak, seorang kawanku yang telah tiada, yang dulu sering sekali bersenandung Michael Learns to Rock.

Oh, my sleeping child
The world’s so wild
But you built your own paradise
That’s one reason why I’ll cover you, sleeping child

Itu salah satunya. Cerita tentang “anak kecil yang sedang tertidur” yang harus dilindungi dari dunia yang so wild, ganas! Ketika menjalani hari-hari sebagai ayah, saya terinspirasi betul dengan lagu itu. Bahwa seorang ayah harus melindungi anak-anaknya, dari semua hal. Dunia yang ganas ini harus dapat ditahan agar tidak mengganggu anak yang sedang tertidur.

Kawanku itu di zaman tersebut sudah mahir bahasa Inggris. Hari itu saya masih alergi, dan seringnya saya nggak nyambung dengan pelajaran itu. Ketika tamat pascasarjana, saya baru mulai sadar bahwa bisa bahasa Inggris itu baik, bahkan perlu di zaman yang di mana-mana orang mempraktikkannya.

Berkunjung juga saya Balikpapan. Di sana bertemu dengan orang baru. Bercerita tentang semangatnya untuk belajar yang belum selesai. Adiknya saat ini sedang buka usaha, bisnis makanan kecil-kecilan. Sudah ada akun IG-nya juga kan usaha itu? tanya saya. Sudah ada, bahkan saya cek, ia telah posting beberapa produknya. Zaman sekarang bisnis tanpa memiliki akun medsos itu rasanya kayak ada yang kurang.

Di situ, berkunjung pula saya ke pesantren yang tidak tua-tua amat tapi berkembang pesat. Hidayatullah. Pusatnya di Gunung Tembak, sekira 30 menit dari kota. Di situ saya berziarah ke makam pendiri, KH. Abdullah Said, seorang ulama-pergerakan dari tanah Makassar. Satu hal yang membuat saya bermakna adalah ketika diberi kesempatan untuk sharing kepada mahasiswa. Setelah itu, saya juga mengisi podcast tentang bagaimana menjadi pemuda muslim produktif di zaman sekarang.

Di Penajam Paser Utara, saya naik motor bersama kawan. Membelah lautan dengan kapal kecil, klotok, motor kami juga ikutan. Setiba di Penajam, kami lanjut ke desa pesisir untuk ngobrol dengan para nelayan tentang kesiapan mereka menjelang kehadiran ibu kota negara baru yang letaknya sekitar 3 jam dari kota mereka, yakni di perbatasan Penajam Paser Utara dan Kutai Kertanegara.

Saya juga membelah hutan menuju ke lokasi IKN tersebut. Beberapa monyet turun seakan mengucapkan “selamat datang”. Mungkin lapar kali ya, atau mungkin juga karena dia tahu ini yang datang pasti mau foto-foto, jadi dia hadir. Sepaku yang sekarang masih desa, kelak akan menjadi kota besar, pusatnya Indonesia. Luar biasa. Kapan? Pada saatnya yang tepat di hari-hari mendatang ketika mungkin kita sudah sedikit menua.

Ini pekerjaan masa depan, persiapan untuk generasi masa datang.

Saya berkunjung juga ke Bulukumba. Menembus hutan-hutan, saya tiba di Suku Kajang. Di situ, beruntunglah saya dapat kesempatan untuk memberikan ijazah paket A (setara SD) kepada saudara-saudara kita yang sudah lulus. Saya melihat antusiasme dari mereka. Mereka mau lanjut lagi ke paket B, dan seterusnya.

Indonesia yang besar ini harus kita perhatikan bersama. Harus kita perjuangkan, terutama mereka yang sulit di desa-desa, pinggir laut, kepulauan dan pedalaman. Indonesia milik kita, dan kita harus berjuang untuk meningkatkan marwah sesama anak bangsa di mana pun mereka berada. Bertemu juga saya dengan Ibu Fatmawati, aktivis literasi yang luar biasa dengan berbagai programnya di Bulukumba. Harus ada banyak aktivis seperti beliau di berbagai tempat lain.

Sekembali ke Jakarta, saya kembali lanjut ke Bandung. Hadir di hotel yang terletak di pinggir jalan menuju ke Ciwidey, tempat mandi-mandi air panas. Saya bertemu juga dengan kawan lain, Nurjanni Astiyanti dan kawannya, Tika, pengusaha kopi. Bercerita tentang usaha, dan juga makna hidup. Saya merasa beruntung bisa bertemu banyak orang.

Bertemu juga dengan kawan-kawan di RPI Jabar. Tak jauh dari Kampus UPI, kami makan siang sekaligus ngobrol dengan ketua RPI Jabar Yakin Mashuri Akas dan kawan-kawan lain. Hal-hal baik kita ceritakan, dan kita programkan ke depan agar membangun Indonesia. Usaha untuk itu harus dimulai dari sekarang, lewat silaturahmi; sejak kita masih muda, masih umur seperti sekarang. Jangan menunggu tua untuk berbuat. Inilah saatnya berbuat untuk Indonesia lewat silaturahmi.

Yanuardi Syukur, Presiden DPP Rumah Produktif Indonesia.




Yanuardi Syukur

Bio:

President of Rumah Produktif Indonesia

Related Posts


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *