Di Manakah Posisi RPI di Dalam Hati Saya?

Oleh: Maghdalena | Tanggal : December 31, 2020



Kemarin, ketika membaca imbauan dari Presiden RPI untuk menuliskan pengalaman selama bergabung di Rumah Produktif Indonesia, saya kemudian merenung dan menatap ke luar jendela. Memandangi awan kelabu yang membuat langit Kota Padang perlahan buram.

Dari mana saya harus mulai menuliskan segala aksara yang seketika tumpang tindih di kepala? Hati saya tetiba bertanya, di manakah posisi RPI di dalam hati dan kehidupan saya?

Beranjak dari pertanyaan itulah, pagi ini saya menorehkan tulisan ini.

Saya mengenal RPI sejak awal berdiri. Saya ingat betul, waktu itu gerakan RPI bermula dari sebuah grup WA. Diskusi saat itu lebih banyak membahas tentang pandemi yang masih hangat-hangatnya, karena baru saja memasuki negara ini. 

Kegiatan pertamanya kalau saya tidak salah adalah diskusi bertajuk “Public Relations Pada situasi Krisis Pandemi Corona Virus” dengan menghadirkan Ishaq Rahman sebagai pembicara, tanggal 25 atau 26 Maret 2020 kalau tidak salah ingat. Dengan moderatornya adalah Hidayat Doe. Sebuah diskusi cerdas yang seketika membuka mata dan hati saya.

Pada kesempatan itu, saya mengenal banyak orang dalam waktu singkat. Saya memperoleh teman-teman baik dalam sekejap. Dan yang lebih menggembirakan adalah, saya menemukan banyak sekali guru tempat saya bisa mereguk ilmu dengan mudahnya.

Saya bahagia tentu saja. Saya tidak harus kemana-mana untuk bisa menajamkan otak dan hati saya dengan banyak ilmu dan pengetahuan baru. Kehadiran pandemi ini, mau tak mau, suka ataupun tidak, saya akui memberikan banyak hikmah baik untuk saya pribadi.

RPI memfasilitasi jiwa saya yang haus akan banyak ilmu, yang acapkali ricuh oleh pertanyaan dengan banyak jawaban mencerdaskan. 
Kegiatan-kegiatan yang diadakan, serta merta membuat saya kaya. Kaya akan ilmu, kaya akan pengetahuan baru. Bahkan sampai saya mabok dan teler. Sampai otak ini rasanya nyaris meleleh dan berasap saking begitu banyaknya ilmu yang  menjejali kepala saya.

Dalam struktur kepengurusan, saya mengawali kiprah di RPI sebagai Direktur RPI English School (RPIES). Saya ditunjuk sebagai direktur RPIES pada sebuah rapat yang berlangsung di google meet pada tanggal 2 Mei 2020.

Waktu itu saya merasa rendah diri sekali. Mengapa saya yang ditunjuk, padahal saya bukan siapa-siapa? Saya tak memiliki gelar seperti orang-orang lain yang telah S2, S3.

Namun banyak yang menguatkan saya. membesarkan hati dan mengatakan kalau saya bisa. Akhirnya saya terima amanah itu. Dengan senantiasa meluruskan niat dan meyakinkan diri dan hati saya.

Saya upgrade diri saya segera. Saya baca tulisan-tulisan tentang pengelolaan organisasi dan komunitas Bahasa Inggris di google. Dan seketika pikiran saya terbuka karenanya. Tekad saya membulat. Saatnya bekerja. 

Esok harinya, saya mulai mengadakan rapat berdua dengan Widya, dan kami mulai merancang kerja dan langkah-langkah ke depan. Pelan tapi pasti, program pun berjalan, anggota RPIES semakin ramai dan grup WA itu semakin heboh. Penuh warna. Ilmu bertebaran setiap saat. Dan itu membuat saya semakin kaya akan wawasan dan ilmu-ilmu baru.

RPIES adalah rumah pertama bagi saya. Tempat saya menuangkan segala ide, gagasan, dan kreativitas akan program-program. Di sini, lebih banyak lagi saya menemukan teman dan sahabat seperjuangan.

Mereka yang memiliki semangat yang sama untuk belajar dan meng-upgrade diri dalam mempelajari bahasa Inggris, saya temukan di sini.

Di sini juga saya pertama kali membentuk tim kepengurusan yang terasa bagai saudara. Merancang program bersama, berbagi keseruan bersama. Saling memotivasi, menyemangati bahkan sesekali saling bully tipis-tipis. Hehehe. 

Walau belum pernah langsung bertemu muka, namun seperti telah kenal lama. Hingga kini, walaupun saya tidak lagi diamanahkan sebagai direktur RPIES, kehangatan itu masih selalu terasa. Tetap saling kontak via telpon atau japri, atau juga di media sosial.

Tanggal 19 Juli, terjadi reshuffle kepengurusan. Saya kemudian dipindah untuk menjadi ketua DPW RPI Sumatra Barat. Apakah saya tidak sedih meninggalkan RPIES? Tentu saja saya sedih. Tapi hidup memang begitu, kan ya?

Sesuatu yang baik menurut saya, belum tentu baik menurut Allah, begitu juga sebaliknya. Saya mencoba berprasangka baik saja. Ini skenario Allah yang harus saya jalani. Untuk membentuk diri dan mental saya menjadi tangguh dan menjadi lebih baik lagi. Ada rencana Allah yang tentu saja lebih indah di balik semua ini. Saya yakin itu.

Selepas saya dipindah, saya segera melakukan handover dan menyerahkan segala arsip RPIES kepada direktur yang baru. Berharap RPIES ke depan lebih jaya dan semakin berkilau.

Pindah ke DPW ternyata saya rasakan jauh lebih menantang. Kalau dulu di RPIES saya terfokus pada satu bidang saja, yaitu bahasa Inggris, nah di DPW, otak saya dituntut untuk menguasai dan memahami segala bidang. Pendidikan, ekonomi, budaya, pariwisata, kebencanaan. Semuanya.

Begitu surat mandat dari sekjen turun, saya segera memutar otak. Merancang kira-kira bidang apa saja yang dibutuhkan di Sumatra Barat, disesuaikan dengan kearifan lokal daerah ini.

Akhirnya hari itu saya merancang lima divisi, yaitu divisi pendidikan dan pelatihan, divisi kebencanaan, divisi literasi dan kepenulisan, divisi pariwisata dan divisi kebencanaan.

Seharian itu saya bergerilya mencari tim yang dirasa pas untuk menempati bidang-bidang tersebut. Dan tentu saja berkat pertolongan Allah, semuanya berjalan dengan mudah. Memang ada sedikit diskusi alot dan debat-debat kecil dalam pencarian personil ini. Namun alhamdulillah, malamnya saya dapat tidur nyenyak karena telah menemukan putra-putri terbaik Sumbar untuk ditempatkan di posisi yang dibutuhkan.

Hingga kini, lima bulan sudah saya menggawangi DPW RPI Sumbar, sebagaimana hidup, tidak ada yang berjalan lancar saja. Dinamika tentu saja ada. Namun saya menyadari, itulah sarana bagi saya untuk menempa jiwa saya agar tidak lemah, tidak mudah mengeluh dan berusaha untuk semakin dewasa.

Tentang perjalanan secara umum di RPI, apakah segalanya berjalan dengan lancar dan baik-baik saja? Oh, tentu saja tidak.
Ada begitu banyak gesekan sana sini. Cekcok, beda pendapat, bersitegang urat leher. Bahkan pernah saya menitikkan airmata di sini.

Benarkah itu? Benar, kawan. 

Tapi kenapa?Nah, izinkan saya bercerita. 

Jadi begini, waktu itu acara RPI English School perdana. Kalau tidak salah saya jadi moderatornya. Saya grogi sekali waktu itu. Bagaimana tidak? Perdana tampil di depan banyak orang, dengan kosakata yang pas-pasan. Di aplikasi zoom yang masih sangat-sangat baru bagi saya. Saya kadang masih bingung bagaimana cara memunculkan wajah saya di layar. Tombol mana yang harus saya tekan, juga bagaimana cara mengeluarkan suara, dan bagaimana cara mematikannya. Saya berasa mati gaya waktu itu. 

Ditambah lagi kondisi laptop sedang bermasalah. Entah mengapa pas ketika butuh pula dia ngadat. Saya paksakan juga memakainya. Karena ingin memberikan performa terbaik.

Saya ingin menolak saja sebenarnya waktu itu, mencari jalan aman dengan bersembunyi, tapi otak saya seketika menghardik hati saya yang lemah.

“Langkah kedua dan seterusnya akan selalu dimulai dari langkah pertama. Tidak apa-apa kamu gagal di usaha pertama. Tapi setidaknya kamu telah mencoba. Kalaupun akhirnya kamu gagal dan kalah, kamu akan berdiri sebagai seorang ksatria. Bukan sebagai seorang pecundang!”

Itu kecaman otak saya waktu itu. Hati saya hanya bisa menurut. Bagaimana lagi kan ya? Memang tidak ada salahnya mencoba. Kalau gagal atau jelek hasilnya, itu bisa diurus belakangan. 

Nah, kembali ke cerita tentang acara tadi, sungguh malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, ketika saya mencoba mencolokkan chargernya ke stop kontak, tanpa sengaja saya memegang ujung charger yang seharusnya tercolok ke laptop, dan seketika membuat saya tersengat arus listrik pendek. Saya gemetar waktu itu. Untung saja tidak terlalu besar arusnya. Kalau iya, entahlah. Mungkin sekarang saya tinggal nama. Hiks. 

Saya duduk termenung dan meneteskan airmata. Bukan karena sakit kesetrum, karena toh sakitnya tidak seberapa. Saya hanya merasa galau dan mumet dengan kondisi yang tidak bersahabat itu. Saya merasa lelah.
Kalau diingat-ingat sekarang, ingin rasanya waktu itu menyanyikan lagu Rossa,
 “kumenangiiiissss 🎶🎶

Tapi sayang sekali, nggak kepikiran waktu itu. Hahaha. 

Tapi syukurlah setelah itu acara tetap berjalan lancar, setelah saya pindah untuk online zoom ke ponsel.
Saya tidak cerita sama siapa-siapa waktu itu. Karena saya malu. Kalau sekarang saya ceritakan, itu karena malunya sudah hilang. Minimal berkurang lah ya. Karena sudah lama sekali berlalu. Hehehe.

Kembali pagi ini saya termenung. Melakukan refleksi diri. Sembilan bulan di RPI yang singkat ini terasa luar biasa bagi saya, untuk mereguk limpahan ilmu yang penuh berkah dan manfaat, untuk mendapatkan banyak teman dan sahabat, juga untuk merasakan pertemanan dalam kegembiraan yang hangat.

Benarlah kiranya motto RPI:
Belajar, berkawan,  bergembira. 
Melekat dalam keseharian. Memberikan warna yang mencerahkan hari-hari.

Satu hal yang tidak pernah saya lupa. Ketika waktu itu presiden RPI menyampaikan impian dan harapannya, kelak RPI ini akan terus hidup selayaknya Muhammadiyah hari ini, yang didirikan dengan penuh perjuangan oleh KH Ahmad Dahlan lebih dari 100 tahun lalu. Menebarkan manfaat bagi bangsa ini. Menorehkan prestasi bagi ibu pertiwi. Melahirkan insan-insan produktif yang tak henti menghasilkan karya. 

Itu ibarat sebuah lecutan semangat yang membuat hati saya seketika berbinar, dan kemudian saya sampai pada satu kesimpulan: saya harus mengambil andil dalam pencapaian cita-cita besar itu. Sekecil apapun kontribusi saya hari ini, saya ingin malaikat Allah mencatat remah-remah kecil yang saya semaikan hari ini sebagai sebuah timbangan pahala kebaikan di sisi-Nya kelak. 

Lalu, apa jawaban dari judul tulisan ini? Di manakah posisi RPI di dalam hati saya? 

Sesungguhnya RPI berada di satu sudut di ruang hati. Sebuah pojok kecil yang nyaman. Dekat ke jantung yang selalu berdetak, rapat ke paru-paru yang tak henti bergerak.

Sampai kapan? Saya tidak tahu. Tapi setidaknya, sampai hari ini RPI adalah sesuatu yang berarti, yang selalu menjadi bagian dalam hidup saya yang membuat keseharian saya penuh pelangi. Esok bagaimana? Kita lihat saja nanti.


Jayalah selalu RPI. Dalam produktivitas kita. Dalam hati-hati kita.

Padang, 30 Desember 2020
*Penulis adalah ketua DPW RPI Sumatra Barat


Tags: , ,

Maghdalena

Bio:

- Belajar, dan Terus Belajar - Ketua DPW RPI Sumatera Barat.

Related Posts


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *