Aliran Rezeki Saat Kita Membantu Sesama

  • Whatsapp

Saya meyakini bahwa ketika kita membantu sesama maka cepat atau lambat urusan kita juga akan dibantu. Itu semacam hukum alam, sunnatullah, yang berlaku dimana-mana. Jika kita tidak terbantu, sangat mungkin orang terdekat kitalah yang nanti akan dibantu. Itu hukum umum yang sering terjadi.

Ketika melihat ada orang kesusahan dan kita tersentuh untuk membantu, itu tanda bahwa bantuan juga akan tiba ke kita sendiri. Ini logika agama sebenarnya, tapi dalam praktiknya ini juga jadi logika manusia. Ketika seorang membantu kawannya, maka suatu saat dia juga akan dibantu, entah oleh kawannya itu atau oleh kawan yang lain, atau mungkin bukan oleh kawan.

Dunia ini penuh misteri. Kita tidak tahu seutuhnya bagaimana dunia ini bekerja. Tapi kita dapat clue, sedikit, dari apa yang ditampakkan dari bagaimana dunia bekerja. Saya sangat menganjurkan bagi kita semua untuk terus membiasakan membantu sesama, sekecil apapun itu. Jangan pernah merasa bantuan kecil itu tidak berguna. Tidak. Sekecil apapun itu bantuan tetaplah bantuan, dan itu akan bernilai besar. Apatah lagi dengan bantuan yang lebih besar.

Mari kita terus membudayakan saling membantu. Bantu mereka yang kesulitan. Jika tidak bisa materi, bisa immateri. Jika tidak bisa juga, paling minimal adalah menyebarkan informasi bantuan kepada orang lain dengan harapan orang lain juga bisa turut berkontribusi.

Saya punya contoh. Hari ini buku Widya Rizky Pratiwi, seorang peserta dalam program “1 naskah 1 bulan” yang saya buat tahun lalu. Widya baru saja meluncurkan bukunya “Jejak Sang Pemimpi: Cerita dari Kampung Inggris Pare.” Saya meluncurkannya atas nama Perkumpulan Rumah Produktif Indonesia yang kegiatannya bermitra dengan RPI Sumbar dan Bulukumba English Meeting Club (BEMC). Sebelumnya saya tidak kenal, tapi kemudian ia gabung. Ia ikuti apa yang saya arahkan. Saya merasa bisa ‘mengarahkan’, karena sudah puluhan buku saya terbitkan, dan sudah puluhan bahkan ratusan orang saya bantu untuk menulis.

Saya meyakini bahwa ketika kita membantu sesama maka cepat atau lambat urusan kita juga akan dibantu. Itu semacam hukum alam, sunnatullah, yang berlaku dimana-mana. Jika kita tidak terbantu, sangat mungkin orang terdekat kitalah yang nanti akan dibantu. Itu hukum umum yang sering terjadi.

Setelah mengikuti berbagai arahan, naskahnya selesai. Awalnya saya ingin naskah itu diterbitkan di penerbit besar. Sudah kirim. Akan tetapi belum berjodoh, tapi kita bisa punya opsi penerbit kecil. Saya tidak soal dengan besar atau kecil, mayor atau minor, atau indie istilahnya. Focal point saya adalah: terbit. Karena itu akan jadi stepping stone bagi penulis untuk melangkah ke depan. Akhirnya, terbit. Saya terus support untuk diluncurkan. Akhirnya, buku diluncurkan yang dihadiri puluhan orang, bahkan Wakil Bupati Bulukumba H. Tomy Satria juga hadir, bersama dengan kolega Widya, Rafiud Ilmudinulloh dan Herdie Gusti. Luar biasa. Orang-orang pun dapat inspirasi–sekecil apapun itu tetap inspirasi dan harus dihargai.

Nah, inspirasi itu apakah bukan rezeki? Sudah pasti, itu rezeki. Maka, kembali pada soal di awal, ketika kita membantu orang maka lambat laun kita juga akan dibantu. Secara pribadi, saya ingin banyak orang dapat kebaikan dari kehadiran saya. Maka, saya selalu support orang agar bisa maju, dan tidak takut-takut berlebihan. Niat dengan tulus, berusaha, belajar terus, dan berkembang terus. Persis seperti motto saya: “Di manapun kami ditanam, berkembanglah!” Motto ini saya pegang terus. Di mana saya tinggal, di situ saya berbuat.

Saya tinggal di kampung, di situ saya buat komunitas. Orang-orang jadi terhubung, dapat inspirasi, dapat ilmu, dan dapat jejaring. Ketika tinggal di kota, saya juga buat komunitas. Di situ orang jadi terbantu, dapat kebaikan, dapat inspirasi juga. Di manapun saya hidup saya harus beri sesuatu. Begitu prinsip yang mendasari hidup saya. Sampai pada pendirian Rumah Produktif Indonesia yang kita niatkan sebagai kontribusi untuk bangsa Indonesia hari ini dan untuk hari depan.

Semua itu kita lakukan karena kita ingin membangun kultur rezeki. Kita tidak ingin hanya diri ini yang dapat rezeki. Kita teramat ingin orang lain juga mendapatkan rezeki. Tak peduli misalnya nanti orang lain lebih sukses, itu bahkan lebih bagus. Kita hanya bertugas untuk membantu, dan membangun rezeki. Kultur seperti itu kita coba buat di RPI. Pelan-pelan, tapi kita upayakan semoga bisa mewujud. Sebuah kultur sangat memotivasi, saling membantu, dan saling berkontribusi untuk kemaslahatan semua orang.

Saya jadi ingat, waktu test S3 di UI, saya pertama kali itu gagal. Saya bertanya dalam hati, ada masalah apa? Padahal saya sudah mempersiapkan. Rupanya, ada yang harus saya perbaiki dalam diri saya. Maka saya perbanyak sedekah, dan alhamdulillah pada test selanjutnya saya diterima. Ini contoh kecil saja bagaimana ketika kita rajin membantu, memberi, bersedekah, maka Allah pasti akan membalasnya–cepat atau lambat.

Dalam memberi saya juga biasakan diri untuk tidak berharap akan dapat balasan. Misalnya, saya diminta bawa materi di Kota Tua, Jakarta. Tidak dibayar. Tapi, saya merasa bahagia karena bisa dapat kesempatan refreshing jalan-jalan, kemudian belakangan hari saya tergabung dalam yayasan yang baru dibuat dan saya berkontribusi pada terbitnya buku yang diterbitkan oleh dua kementerian. Rezeki, bukan? Bayangkan: awalnya hanya berkontribusi pada sebutlah 20 orang. Kemudian berkembang, dan akhirnya jadi berkontribusi pada negara. Bukankah itu bagian dari rezeki?

Saya juga sering diundang jadi pembicara. Ketika nginep di hotel sering saya bawa anak-anak. Mereka senang bisa ikutan. Artinya, kita dapat acara jalan-jalan gratis dan nginep gratis. Misalnya, setelah nginep di hotel dalam sebuah acara kementerian, saya ajak anak-anak jalan untuk makan seafood, dan ke mal. Di situ mereka dapat pengalaman. Mereka jadi tahu bagaimana kegiatan ayahnya. Di situ ada bahagia. Terlihat bahwa bahagia itu tidak perlu harus berat-berat. Cukup dengan hal-hak sederhana, yang bisa dibarengi dengan keluarga.

Kehadiran RPI adalah kesyukuran yang sangat luar biasa. Di sini orang bisa saling kenal, saling berkawan, dan saling belajar dan terus bergembira. Di sini tidak ada paksaan. Semua datang–atau kalau harus pergi, semua dengan bahagia. Di sini orang-orang hadir untuk saling melihat, saling membesarkan, dan saling menghormati. Saya berdoa semoga komunitas ini bisa terus eksis memberikan manfaat dan rezeki–dalam arti seluas-luasnya–bagi semua anggota dan semua orang.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *