Semangat dari Kupang

  • Whatsapp

Kekayaan yang digunakan terus-menerus suatu saat akan habis. Kepintaran yang digunakan terus-menerus akan meningkat,” demikian peribahasa dari masyarakat Swahili di sub-sahara Afrika.

Malam ini saya mengikuti rapat perdana yang diadakan oleh RPI NTT. Dipimpin oleh Zulkhaedir Abdussomad, RPI NTT terus konsolidasi membentuk struktur dan program kerja ke depan. Saya melihat semangat yang menyala dalam diri anggota yang bergabung dalam WAG RPI NTT, sekaligus semangat itu terlihat dari sekretaris RPI NTT, Satrio Gery Saba.

Saya pernah ke Kupang. Baru sekali sih. Waktu itu diundang untuk jadi pembicara di Larantuka. Dari Kupang saya terbang ke Larantuka. Pemandangannya hanya laut. Pesawat kelihatannya tidak terbang tinggi-tinggi banget. Di bawah 30ribu kaki kayaknya. Di Kupang saya kenal dengan Zulkhaedir, atau kita sapa dengan Bang Zul, dosen di salah satu kampus di sana.

Pada rapat ini saya menyampaikan bahwa RPI dibentuk pada minggu ke-2 pandemi Covid-19. RPI memiliki tujuan agar masyarakat lebih produktif di era pandemi, baik produktif secara pikiran, produktif dalam membangun jaringan dan produktif secara finansial. Jadi, tidak hanya orang produktif dalam knowledge dan networking tapi diharapkan juga pada financial. Soal financial ini masih kita usahakan sambil jalan dan butuh banyak masukan dari semua teman.

Saya ingat kalimat bijak yang bilang begini: “Hasilkanlah uang, tapi jangan biarkan uang membentuk pribadimu.” Ada benarnya juga. Di masa pandemi ini tidak mudah untuk dapat uang, tapi kita bisa usahakan lewat silaturahmi dan gerak. Memang, RPI belum memberikan keuntungan uang bagi anggota tapi lewat jejaring saya yakin dan percaya uang itu akan datang. Prinsip uang selalu melekat pada kedekatan. Memperbanyak teman adalah bagian dari membuka pintu-pintu rezeki untuk kita.

Adapun pembentukan RPI NTT tujuannya sebagai wadah kolaborasi untuk menciptakan program-program kreatif dan produktif. Program produktif dimaksud adalah kegiatan yang dapat memberikan hal bermanfaat bagi banyak orang, terutama di era era pandemi. Dalam pertemuan disepakati pembentukan bidang-bidang untuk mewujudkan tujuan RPI NTT diantaranya–yang disampaikan oleh Bang Zul adalah sebagai berikut:

  1. Bidang Humas,
  2. Bidang pengembangan seni, budaya dan literasi,
  3. Riset dan teknologi dan
  4. Pariwisata, lingkungan dan Ekonomi Kreatif.

Dari rapat RPI NTT malam ini saya melihat semangat menyala dalam diri mereka. Selain Bang Zul dan Geri, ada juga Matilda Jelin, Siti Hajar, Vey Sumby, Rahma Pramudya, Irjan Rachman, dan Farida M. Arif.

Saya merasa sangat sangat terhormat bisa hadir dalam rapat ini. Kenapa? Karena ini pertemuan orang-orang muda bersemangat untuk Indonesia. Dalam sambutan, saya juga menyampaikan bahwa hidup kita ini hanya satu kali, maka marilah kita hidup yang berarti dengan cara terus belajar dan terus memberikan makna bagi orang lain.

Di grup WA, saya lihat teman-teman RPI NTT bahkan telah bersepakat untuk menerbitkan buku. Ibu Lilis, seorang guru penulis di Kupang, memimpin program tersebut. Luar biasa. Struktur belum terbentuk tapi semangatnya sudah sangat menyala. Ini sangat baik dan penting untuk dipadukan dalam kerja-kerja sinergi dengan teman-teman lainnya se-Indonesia.

Selain bergabung menjadi satu tim di RPI kita semua pada dasarnya adalah teman. Kita menjadi teman yang sama-sama berjuang untuk tetap sehat, dan produktif di bidang masing-masing. Maka, di RPI semua keunggulan semaksimal mungkin disinergikan agar bisa bermakna untuk banyak orang. Kita tidak hanya cukup belajar dan menjadi pintar, tapi juga harus bersinergi dan berkolaborasi untuk kepentingan bersama.

Saya melihat ada ketulusan dari peserta yang hadir. Ketulusan ini sangat penting sebagai basis dalam perkawanan dan kerjasama. Ada ungkapan bilang begini: “Status, gelar, kata-kata, dan penampilan tidak punya arti apa-apa jika tidak didasari oleh cinta dan ketulusan.” Saya merasakan bahwa yang hadir dan yang tidak sempat hadir–tapi aktif dalam WAG–memiliki ketulusan dan cinta belajar dan kolaborasi.

Rapat ini adalah pertemuan yang sangat penting. Ini adalah step untuk langkah-langkah besar selanjutnya. Bisa dikatakan, ini adalah pekerjaan untuk “belajar berjalan sebelum berlari.” Agar bisa lari, pasti harus mulai belajar jalan. Agar bisa maksimal, pasti kita harus saling kenal dulu, saling sapa menyapa dahulu. Setelah itu baru kita berlari.

Di RPI ini kita adalah keluarga, keluarga besar dalam rumah Indonesia. Keluarga itu ibaratnya kayak hutan, tampak rimbun tapi di dalamnya setiap pohon berdiri lapang di tempatnya masing-masing. Di RPI, semua potensi orang dihargai dan diberi kesempatan untuk mengekspresikan potensinya dengan cara bersinergi antara satu dan lainnya. *

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 comments

  1. Alhamdulillah…, sayangnya saya terpental dari ZOOM ketika awal kegiatan, dan mau masuk lagi sulit, sampai lebih dari 30 menit. Akhirnya saya tutup semua perangkat dan istirahat. Tetap semangat teman-teman semuanya…