Jeanne Francoise Raih Doktor Ilmu Pertahanan

  • Whatsapp

Tanggal 11 Februari 2021 adalah momen bahagia bagi Jeanne Francoise, Ketua DPP RPI Bidang Bahasa, yang berhasil mempertahankan disertasi di dari Aula Merah Putih Universitas Pertahanan, Sentul, Bogor.

Sidang dipimpin oleh Rektor Universitas Pertahanan RI Laksmana Madya TNI Dr. Amarulla Octavian, ST, M.Sc, SESD, CIQnR CIQaR, IPU secara daring dan luring. Tak ketinggalan, kolega di Perkumpulan RPI juga turut hadir secara daring.

Read More

Jeanne menulis disertasi berjudul “Usulan Pengelolaan Cagar Budaya Pertahanan sebagai sarana Pedoman Bela Negara.” Disertasi ini merupakan karya pertama di Indonesia dalam kajian defense heritage atau cagar budaya bernilai pertahanan. Dalam perjalanan kariernya, Jeanne fokus mengembangkan topik tersebut dan menjadi pioneer dalam ranah tersebut.

“Jeanne Francoise, pembawa konsep Defense Heritage,” demikian tulis Krina Sembiring di Sindonews, 26 September 2020.

“Sejak Januari 2020, Jeanne menjadi peneliti Non-PNS Balitbang Kemhan RI tahun anggaran 2020-2021 untuk penelitian Revitalisasi benda cagar budaya bernilai pertahanan (Defense Heritage) di Jakarta, Ambon, Palembang, dan Manado. Ketua Tim Penelitian adalah PNS Peneliti Ahli Muda Gerald Theodorus Lumban Toruan, S.H., M.H. 

“Ide awal Defense Heritage datangnya dari saya dan saya beruntung bisa sekelas S3 Unhan dengan pak Gerald Theodorus, PNS Peneliti Balitbang Kemhan RI. Beliau tertarik dengan Disertasi saya tersebut dan menjadikan Defense Heritage sebagai penelitian Balitbang Kemhan RI, kemudian mengajak saya sebagai anggota tim penelitian”, ujar Jeanne kepada wartawan, Sabtu (26/9/2020).

Sebelumnya Jeanne adalah sosok akademisi yang multitalenta dan juga polyglot. Dengan kemampuan Bahasa Prancisnya yang baik, pengalamannya tinggal di Polandia, jaringan pertemanannya yang luas, dan sudah keliling dunia menjadi pemapar paper-paper akademik di International Conference, Jeanne mengaku menemukan ide Defense Heritage di Malta, Italia.

“Di Malta saya merenung, apa gunanya saya diberikan keberuntungan oleh Tuhan sudah keliling dunia sebelum umur 30 tahun. Tidak banyak anak muda Indonesia seperti saya. Kalau hanya pamer di Instagram itu kan tidak ada gunanya. Kebetulan pada waktu itu di Kota Valetta, Malta sedang ditetapkan oleh UNESCO menjadi ibu kota warisan budaya Uni Eropa.”

“Di situlah saya kemudian berpikir bahwa sebagai negara yang pernah dijajah, Indonesia kan punya banyak peninggalan-peninggalan bersejarah dalam bentuk benteng pertahanan, tempat bersejarah, museum, ataupun monumen. Pada momen itulah saya berpikir perlu ada konsep Indonesian Defense Heritage,” tuturnya perempuan yang dikenal sebagai Woman of Conference (WoC) tersebut.

Krina Sembiring menulis, untuk memperdalam analisisnya tersebut, Jeanne kemudian mencari literatur akademik dan jurnal-jurnal ilmiah tentang konsep Defense Heritage, serta melakukan diskusi ilmiah dengan para akademisi dan praktisi heritage antara lain Puspita Ayu Permatasari, Ph.D (candidate) sebagai inisiator aplikasi software Batik iWareBatik yang juga seorang peneliti USI UNESCO Chair dan sedang menyelesaikan disertasi intangible cultural heritage di Lugano, Swiss, Ary Sulistiyo selaku tim ahli cagar budaya kota Depok, dan Arifanti Murniawati selaku licensed guide Museum Nasional Jakarta.

Defense Heritage merupakan konsep pengembangan dari Teori Cultural Heritage. UNESCO sendiri menggunakan penamaan military heritage atau war heritage untuk peninggalan bersejarah zaman perang. Namun terminologi Defense Heritage sudah umum dipakai oleh Australia yang sudah membentuk Defense Heritage Tool Kit tahun 2010. “Di Inggris, Defense Heritage bahkan tidak hanya konsep akademik, tetapi sudah ada divisi kerja khusus,” tulis Krina Sembiring.

Di RPI, Jeanne pernah mengajar Bahasa Prancis beberapa kali. Bahkan, ketika ia sedang di New York, perhatiannya pada kursus Bahasa Prancis tersebut tetap tinggi. Selain aktif di Bidang Kebudayaan–sebelumnya Divisi Warisan Budaya–Jeanne kini dipercaya di RPI sebagai Ketua Bidang Bahasa untuk membantu generasi Indonesia agar memiliki kemampuan berbahasa asing sebagai bagian untuk memperjuangkan Indonesia.

Periode 2018 hingga 2021, di tengah kesibukannya, Jeanne terus menerbitkan artikel jurnal dan menjadi presenter pada berbagai konferensi internasional. Topik yang pernah ditulisnya adalah “Defense heritage protection in Indonesia”, “Pemikiran Politik Islam Modern: Peran Majelis Ulama Indonesia”, “Pesantren as the source of peace education”, “Arabic language in the relation of Indonesian national defense system”, dan lain sebagainya. Selamat untuk Dr. Jeanne Francoise. *



Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *