Anakku, Izinkan Aku Pamit

  • Whatsapp

Oleh: Ridwan Jasmawi*

Canda dan tawa mewarnai keheningan malam itu. Sebuah percakapan yang panjang. Sampai kami lupa menikmati secangkir teh manis yang tersaji di meja. Sampai akhirnya telepon genggamku, berbunyi. Tepat pukul sebelas malam dari kakakku yang berada di kampung. Kabar yang membuatku tak tau aku menempatkan luka ini.

Read More

“Iya, halo kak ada apa?”

Pulangki nak nanti tidak mudapat ayahmu.”

Di awal aku mengira, itu adalah suara kakakku. Ternyata bukan, itu suara ibuku yang menyuruhku segera pulang di kampung, entah apa maksud beliau menyuruhku pulang, yang jelas aku tak menanyakan tentang kejadian di sana. Aku kembali menutup telepon dan kembali ngobrol dengan teman sejagatku.

Tak lama kemudian, aku berusaha menenangkan diriku, pikiranku bergejolak. Hati tak karuan. Aku selalu membayangkan ucapan yang disampaikan ibuku. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk menelepon balik kakak ku, untuk memperjelas perihal apa yang terjadi sebenarnya di kampung halamanku.

“Tuttttt,” suara handphone memanggil.

“Iyee, halo dek? Pulangki cepat, berangkat memangki ini malam, sakit parah ayah.”

Belum aku sempat menjawab dan menanyakan perihal kejadian di sana, ia langsung memotong dan menyampaikan kabar yang tak sedap kepadaku, tiba-tiba aku merasa lesuh, diam membatu, dan tak tahu apa yang harus kulakukan. hanya ada satu jalan, aku harus berangkat pulang ke kampung halaman malam ini juga.

Setelah memanjatkan doa-doa untuk keselamatan ayahku, aku menitip pesan kepada temanku, agar mendoakan diriku semoga selamat sampai tujuan ke kampung.

Aku bukan seorang pegawai negeri sipil, bukan pekerja kantoran, bukan pula lelaki berkarir. Aku hanya seorang lelaki dari kampung, hendak ke kota untuk menuntut ilmu. Yah, aku seorang mahasiswa tingkat menengah, yang keseharian ku membaca dan menulis. tak lupa kusisipkan waktu untuk beribadah kepada Allah SWT, hanya untuk mengharapkan ridho dan ilahinya.

Allah memberikan aku kesempatan untuk belajar di kota, itu tidak lain dari kerja keras ku, dan berjuang untuk sekolah. Dan juga tidak lepas dari dorongan dan motivasi seorang Ayah yang amat kusayangi. Ayahku adalah seorang petani di kampung, apapun pekerjaan yang diberikan, pasti ia kerjakan demi sesuap nasi untuk keluarganya. Di samping ia membiayai kuliah dan kebutuhan ku di tanah kota. Itulah membuat diriku termotivasi kenapa aku harus sekolah? Karena berkat dorongannya dan kerja kerasnya. Aku tidak ingin menyia-nyiakan itu.

“Aku izin pamit nah, doakan semoga baik-baik saja dan selamat sampai tujuan” kataku sambil bersalaman dengan teman ku. Aku memutuskan berangkat pada malam itu, meninggalkan kota Makassar, menuju Mamuju desa Lumu, kampung halamanku.

Jam menunjukkan pukul 01:25 subuh. Suara angin gemuruh menyelimuti tubuhku. Motorku mulai membela jalanan yang biasanya ramai dilintasi masyarakat, tapi malam itu sunyi dan gelap. Aku berusaha merefleksikan diri di jalan, agar pikiran tidak bergejolak dan tetap fokus mengendarai motor. Setiap kali aku berusaha untuk fokus, tetap saja pikiran ini melayang-layang dan mengingat perkataan ibu ibu tadi.

“Ya Allah panjangkanlah umur ayahku, berikanlah ia kesembuhan,” gumamku.

Akibat tidak fokus mengendarai motor, hampir saja aku tergeletak di jalan, aku menabrak lubang jalan yang membuat motorku sedikit oleng. Untung saja aku masih bisa memposisikan diriku dan mengendalikan kendaraan ku.

Aku berhenti sejenak menenangkan pikiran ku, dan memutar ayat-ayat Allah di handphone-ku. Langsung saja aku kembali melanjutkan perjalananku. Memasuki waktu Subuh aku menyempatkan diri untuk singgah beristirahat sekalian melaksanakan salat. Belum aku memasuki Masjid, tiba-tiba aku teringat bahwa masjid tersebut beberapa hari yang lalu ayahku sempat salat di sini, ia datang dengan niat ingin bermunajat kepada Allah dan memohon untuk disembuhkan penyakitnya, bahkan aku sama sekali tidak mengetahui kalau ayahku sakit.

Baru aku mengangkat kedua tangan ku, dan bertakbir kepada Allah, entah kenapa hati terasa perih, mata mulai berkaca-kaca dan benar saja, hendak imam membaca surah Al-Fatihah di rakaat pertama, Air mata mengalir membasahi pipi kanan dan kiriku mengingat ayahku yang katanya sakit parah. Aku tak mampu membendung rasa perih ini, setelah berdoa aku kembali melanjutkan perjalananku.

Matahari mulai terbit, aku memasuki Kota Mamuju yang katanya kota bersih. Badan yang sedikit lelah kuputuskan untuk kembali beristirahat dan mengisi sedikit perut yang keroncongan. Sejak berangkat dari Makassar sampai ke kota mamuju perut pun merasakan kepedihan.

Sampai akhirnya aku memasuki daerah dan desa yang sangat aku cintai, aku meninggalkan desa ini tidak lain untuk menuntut ilmu dan kembali ke desa ini untuk mengabdi dan memakmurkan.

Di sepanjang jalan Desa Lumu, aku memperhatikan gerak-gerik penghuni rumah di desa ini ada yang aneh, desa ini sangat ramai penduduknya kenapa tiba-tiba sunyi? Tak satupun orang yang aku temui di teras rumah duduk menikmati kopi ataupun tehnya.

“Kemana semua orang di sini?” Kembali gumamku berkata sambil mengendarai motor.

Jarak pintu masuk ke Desa Lumu dengan rumahku, itu perkisaran dua kilometer. aku tetap menyusuri dan berusaha berpikir positif. belum aku juga sampai di rumah, di kejauhan aku melihat dengan nampak nan jelas orang-orang berkumpul di depan rumahku, terpal hijau tertancap kokoh di samping rumah, kendaraan bersusun rapi di jalan dan warga semua memakai pakaian yang rapi.

Aku tambah bingung apa yang sebenarnya terjadi? Satu persatu pertanyaan mulai muncul di pikiranku, dan pikiran-pikiran negatif pun muncul.

“Ya Allah apa yang sebenarnya terjadi?” Gumamku.

Akhirnya aku sampai dan menyandarkan motor ku, hati ini terasa di hantam batu, aku berusaha kuat, untuk menjaga suasana kehancuran batin. Aku memasuki rumah terlihat jelas begitu antusias warga di sekeliling ku, dan mata fokus terarah ke kain putih yang menutupi tubuh seseorang. Aku mendekat dan membukanya pecah sudah batin ini. “Ayah………” Aku memanggil namanya sambil memeluknya.

Orang-Orang disekitar ku semua pecah berteriak terlebih lagi ibu dan adik-adik ku. Mereka sangat merasakan kepedihan bagaimana ditinggal seorang ayah yang telah menghidupi keluarga dan Pemimpin dalam rumah tangga. Belum lama aku memeluk dan melampiaskan air mata ke tubuh ayah ku, tiba-tiba ada seseorang yang membisikkan ke telinga ku dan berkata..

Sabarki nak bapakta orang baik, sebelum ia dipanggil oleh Allah ia telah mengajarkan kami semua untuk membekali diri sebelum menghadap sang ilahi. Di sore hari ia mengunjungi rumah kami untuk bersilaturahmi seakan-akan ia pamit dan tidak kembali lagi. Ternyata inilah alasannya,” katanya.

Air mata kembali mengalir di sekujur tubuhku dan aku memeluk orang itu yang tidak lain adalah pamanku.

Selamat jalan ayahku, Jasmawi. Semoga Allah memberikan engkau ampunan dan memasukkan engkau ke surga-Nya. []

*Penulis adalah Pengurus Bidang Humas DPP RPI

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *