Drs. KH. Mahrus Amin: Orang Besar dari Kalimukti, 1000 Pesantren Akan Berdiri, dan Kolaborasi Pelanjut Risalah Nabi

  • Whatsapp

Drs. KH. Mahrus Amin adalah cerita perjuangan pendidikan Islam Indonesia. Selain tokoh pesantren, beliau juga pendiri Santri Bela Agama dan Negara, atau Sabelana. Pada usianya yang sepuh, 81 tahun, kita patut mengambil teladan darinya.

Kisah hidupnya dari kecil sampai mendirikan ma’had terbaik di Jakarta, Ma’had Darunnajah, bersama KH. Abdul Manaf Mukhayyar (alm) dan Letkol Drs. H. Kamaruzzaman (alm), yang terletak di Jalan Ulujami Raya Nomor 86, Jakarta Selatan.

Read More

Alumni Darunnajah tersebar dimana-mana dengan cerita kontribusi dalam berbagai aspek kehidupan. Mulai dari tokoh Islam masyhur seperti KH. M. Arifin Ilham, Professor Amelia Fauzia, hingga para guru dan dosen, diplomat, dan pemimpin di berbagai level birokrasi, salah satunya Bupati Penajam Paser Utara, H. Abdul Gafur Mas’ud. Tokoh Wasathiyatul Islam, Professor Din Syamsuddin, ketika kuliah di IAIN Jakarta, pernah diajar oleh Kiai Mahrus Amin.

Saat ini, bersama Dr. KH. Sofwan Manaf dan segenap pengurus yayasan dan para guru di lingkungan Darunnajah, Kiai Mahrus Amin masih terus mengembangkan pesantren ini, menjalin kemitraan dengan instansi dalam dan luar negeri, dan menelurkan kader-kader terbaik yang kelak berkontribusi bagi agama dan bangsa Indonesia.

Akhmad Danial, pengajar UIN Jakarta menulis di Republika Online (31/1/2019), bahwa “spektrum alumni” Darunnajah sangat luas, ada yang jadi pengurus PBNU, PP Muhammadiyah dan lain sebagainya.

Filosofi Pohon Pisang

Dari Kiai kelahiran Desa Kalimukti Cirebon  14 Februari 1940, kita belajar tentang filosofi pohon pisang. Pohon pisang itu punya banyak nilai tambah dan filosofis. Pada tahun kedua belas berdirinya Darunnajah, Kiai Mahrus terpikir untuk melebarkan sayapnya. Belajar dari pohon pisang, tumbuhan itu tidak akan maksimal dampaknya jika hanya tumbuh di satu tempat.

“Tunas-tunas pohon pisang yang bermunculan di sekitar induknya, bila dipisahkan dan ditanam kembali di tempat lain akan tumbuh menjadi pohon-pohon pisang baru sehingga bermanfaat bagi lingkungan sekelilingnya,” demikian kata beliau.

Setelah Ma’had Darunnajah berdiri, Kiai Mahrus mendirikan perguruan tinggi Islam. Ini adalah tipikal growth mindset, pemikiran yang terus tumbuh. Hal itu dilakukannya untuk menjawab pertanyaan beberapa pihak soal kapasitas alumni Darunnajah yang hanya tamatan TMI—Tarbiyatul Mu’allimin/Mu’allimat al-Islamiyyah yang setara SMP dan SMA. Rasanya ada yang kurang. Apalagi, di dunia yang serba berjenjang ini, orang-orang acapkali melihat sesuatu tak jauh dari “seberapa tinggi” pendidikan seseorang.

Maka, didirikanlah Institut Agama Islam Darunnajah (IAID), yang selanjutnya bermetamorfosis menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Darunnajah (STISDA), kemudian menjadi STAIDA (Sekolah Tinggi Agama Islam Darunnajah). Ini menjadi kemajuan tersendiri bagi Darunnajah karena telah meningkatkan kapasitas pendidikannya dengan perguruan tinggi. Di berbagai tempat, perjuangan pendidikan di Indonesia tidak lepas dari pendirian TK, SD, juga SMP dan SMA, kemudian pendidikan tinggi.

Filosofi pohon pisang ini tak hanya di ranah pendidikan tinggi, namun juga dengan mendirikan cabang. Kadang kita bertanya, kenapa sesuatu harus dinamakan dengan cabang? Ternyata kalau kita saksikan cabang-cabang pada pepohonan, dapatlah kita mengerti bahwa cabang berguna untuk melebarkan sayap, agar lebih indah, tidak monoton, dan untuk berdampak lebih luas.

Pohon mangga, bisa jadi contoh lain. Kalau pohonnya hanya bercabang sedikit, maka sedikit pula hasilnya nanti. Tapi, dengan cabang yang banyak, maka dia akan terlihat lebih indah, rindang, dan sekali panen hasilnya akan lebih banyak.

Selanjutnya, dibukalah cabang-cabang “pohon” Darunnajah. Muncul Darunnajah di Cipining, Bogor yang dikemudian hari disebut juga dengan “Darunnajah II”, karena ia adalah pesantren cabang pertama yang dibuat oleh Darunnajah. Berikutnya berdiri lagi di Pabuaran, Serang-Banten, juga di Ciomas dan seterusnya. Termasuk dalam konteks ini adalah mendirikan Pesantren Madinatunnajah, filial dari Darunnajah yang didirikan dengan modal sebidang tanah seluas 300 meter persegi, peninggalan dari orang tua beliau, Pak Casim.

Kiprah Kiai Mahrus dalam mengaplikasikan filosofi di atas patut untuk diikuti oleh kita semua. Dalam ranah kehidupan apapun, sepatutnya kita tidak berhenti pada satu titik. Misalnya kita memiliki sebuah lahan usaha atau bisnis. Setelah lahan itu eksis, maka perlulah kita untuk melebarkan jaringan, perluas sayap ke tempat lain. Hal itu juga yang dilakukan oleh Pondok Modern Gontor yang para alumninya menyebar ke seluruh dunia. Kiai Mahrus sendiri adalah lulusan dari Gontor. Kurikulum Gontor juga dipakai di Darunnajah yang dipadukan dengan kurikulum pemerintah.

Sikap untuk tidak merasa puas dengan apa yang ada mesti kita pegang. Seseorang yang puas dengan apa yang ada cenderung untuk merasa aman dan cukup. Padahal dalam konteks dakwah dan kontribusi, kita tidaklah cukup dengan berkutat di satu tempat saja. Bumi Allah yang begitu luas ini, haruslah disinari dengan cahaya kebaikan untuk semua manusia, lil ‘alamin.

Dari filosofi di atas, dapatlah kita mengambil ‘ibrah bahwa kita tidak boleh hanya berpuas dengan satu tempat saja. Kalau kita telah eksis, telah cukup baik, maka bukalah cabang ke tempat lain yang lebih luas. Dengan begitu maka sesungguhnya kita tidak hanya puas dengan diri sendiri. Itu berarti kita bersyukur kepada Allah, dan membuka lahan pekerjaan dan kerjasama dakwah bagi yang lainnya.

Bahkan, semangat untuk merantau–demi kebaikan–juga diajarkan betul di Darunnajah. Syair Imam Syafi’i (727-820) yang diajarkan pada pelajaran Mahfuzhat sangat membekas bagi banyak santri, selain kalimat-kalimat pendek inspiratif seperti Man Jadda Wajada, “Siapa bersungguh-sungguh dapatlah ia.”

Imam Syafi’i bersyair:

Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hidup asing  (di negeri orang). Merantaulah, maka kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan). Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang. Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akan kena sasaran. Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam. Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.

Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya (sebelum ditambang). Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan. Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang tinggi nilainya. Jika bijih memisahkan diri (dari tanah), barulah ia dihargai sebagai emas murni.

“Isra Mi’raj” Kecil

Ada banyak bentuk rezeki, termasuk di antaranya adalah rezeki dalam perjalanan. Ada orang yang memiliki uang, namun geraknya terbatas. Ada juga yang punya uang banyak tapi sakit-sakitan, dan akhirnya tidak bisa menikmati hasil jerih payahnya itu. Selain itu, ada juga yang uangnya tidak banyak, terbatas, tapi anehnya selalu ada saja rezeki baginya.

Mudah tidaknya atau nyaman tidaknya hidup ditentukan sekali oleh diri kita sendiri. Kalau kita merasa bahwa hidup ini susah, maka pasti, susahlah yang kita dapat. Kalau sejak pagi kita menggerutu saja kerjanya, maka di siang, sore atau malam hari, seperti itu jugalah tidak lebih kondisi psikis kita. Menjalani hidup ini, haruslah kita hadapi dengan syukur, karena banyak sekali rahmat-Nya yang diberikan kepada kita.

Salah satu kesyukuran Kiai Mahrus Mahrus adalah dalam perjalanan. Beliau pernah merasakan semacam “Isra Mi’raj” kecil, atau perjalanan ke 7 negara dalam rentang waktu satu setengah bulan. Perjalanan ini memberikan hikmah luar biasa bagi beliau, bahkan semakin menguatkan tekad beliau untuk membina pendidikan lewat pesantren. Hingga di umurnya yang beranjak 81, Kiai Mahrus tak henti mendidik anak bangsa lewat pesantren.

Pada 1985, dengan modal tiket pesawat yang cuma dua juta lima ratus rupiah, beliau memulai perjalanan mengarungi beberapa negara di Asia, Amerika, Eropa, Afrika, dan kembali ke tanah air. Ketika itu, beliau diajak oleh H. Abdul Hafiz Dasuki yang ketika itu sebagai sekretaris pribadi Menteri Agama RI H. Alamsyah Ratu Perwiranegara. Kiai Mahrus hanya diminta untuk membeli tiket pesawat ke Amerika Serikat. Selebihnya bagaimana? Konsumsi dan akomodasi di sana, ditanggung oleh pemerintah AS.

Dari perjalanan ke berbagai tempat itu, beliau dapat banyak inspirasi yang ia katakan sebagai berikut: “Berbagai ragam aktivitas masyarakat dan kehidupan sosial yang saya rekam dalam ingat di beberapa negara itu menginspirasi saya untuk meniru dan menerapkannya di Indonesia.” Salah satu yang diaplikasikan olehnya adalah penataan ruang terbuka dan taman yang ia tiru dari Amerika Serikat. Sebagai lembaga pendidikan, sekolah dan kampus-kampus di negeri Paman Sam itu terasa begitu rindang, reduh, luas dan nyaman untuk belajar.

Begitu juga tentang komputer. Kalau sekarang disebutkan kepada kita bahwa sekolah SD itu butuh komputer, pasti kita sudah tidak asing, karena umumnya sekolah-sekolah sudah memilikinya. Tapi di tahun 80-an itu, yang namanya sekolah memiliki fasilitas komputer, masih jarang. Ini di Jakarta, bagaimana lagi dengan di daerah-daerah.

Waktu berkunjung ke AS, Kiai Mahrus melihat bahwa murid-murid SD sudah belajar komputer. Hingga ketika kembali ke Jakarta, beliau segera meminta pakar komputer nomor satu ketika itu, Jusuf Randy namanya, untuk memberikan pelatihan komputer bagi guru-guru Darunnajah. Masih jarang ketika itu pesantren yang memperkenalkan komputer kepada guru-gurunya.

Apa lagi yang diperoleh dari AS? Juga tentang konsep sekolah terpadu. Saat ini lagi ramai lembaga yang mendirikan sekolah terpadu, seperti Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu (TKIT), Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT), dan Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT). Konsep sekolah terpadu (SD-SMP-SMU) ini dengan masa belajar lima hari dalam seminggu diperkenalkan oleh Kiai Mahrus. Termasuk di dalamnya adalah penambahan kurikulum dengan memasukkan pelajaran sains seperti Biologi, Kimia, Fisika, dalam kurikulum pesantren.

Jadi, yang dulunya imej pesantren itu hanya kitab kuning, “kaum sarungan”, tanpa pengetahuan dasar sains, maka sejak itu, para santri selain memiliki ilmu agama, juga punya dasar dalam pengetahuan umum lainnya. Ini sangat berguna kelak ketika para santri tamat dari Darunnajah, melanjutkan pendidikan di jurusan-jurusan umum.

Perjalanan menyusuri beberapa negara itu menjadi berkah tersendiri bagi Kiai Mahrus. Kita semua juga mungkin pernah memiliki pengalaman perjalanan serupa. Mungkin ada yang menyusuri beberapa kota dalam beberapa bulan, atau ada juga yang mengunjungi beberapa kota dalam hitungan tahun. Yang terpenting dari perjalanan itu adalah bagaimana kita mengambil sikap atau saripati kebaikan dari orang lain.

Amerika dikenal sebagai negara yang menghargai kebebasan berekspresi. Ilmu pengetahuan berkembang pesat di sana. Jika ada yang baik untuk pengembangan pendidikan maka kita bisa menyerapnya, tapi jika tidak baik maka jangan kita serap.

Apa hikmah yang dirasakan oleh beliau?

“Saya semakin yakin tentang kebesaran Allah,” demikian katanya. Keyakinan ini begitu dalam karena dalam perjalanan “Mi’raj” kali ini, beliau tidak punya banyak dana, tapi bisa juga sampai ke beberapa negara. Hal ini bisa saja terjadi kepada kita semua. Kebaikan, kemudahan atau katakanlah semacam “mukjizat” bisa terjadi dalam diri kita. Tapi itu juga tak datang begitu saja. Ketaatan kepada Allah.

Allah Swt mengingatkan kepada kita semua bahwa barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah pasti memberikan solusi-solusi-Nya. Allah Swt berfirman, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar” (QS. Ath-Thalaq: 2). Agar Allah mudahkan segala urusan kita, pertanyaannya sekarang bagi kita semua adalah: sudah bertakwakah kita dengan sebenar-benarnya?

Kalau Bisa Mudah, Kenapa Mempersulit?

Di kalangan santri, Kiai Mahrus dikenal sebagai orang yang suka mempermudah. Waktu masih santri, beberapa teman saya relatif sering mendapatkan izin dari Kiai Mahrus. Suka menjadikan sesuatu mudah ini akhirnya menjadi kecintaan sendiri pada santri-santrinya. Tidak mudah menjadi pribadi seperti itu, karena ada juga memang tipikal individu yang sukanya mempersulit. Mungkin filosofinya seperti ini, “Kalau bisa mempersulit, kenapa harus mempermudah?”

Pada momen buka puasa bersama (ifthor jama’i) yang diadakan oleh Alumni Angkatan 22 (nice rain) Darunnajah di Basement GOR Darunnajah (2009), Kiai Mahrus menyampaikan banyak informasi sekaligus wejangan kepada alumni. Misalnya, beliau mengabarkan bahwa ada informasi lowongan pekerjaan di sebuah penerbitan. Penerbitan itu lagi membutuhkan wartawan, dan diharapkan alumni Darunnajah yang punya minat ke jurnalistik bisa bergabung di situ. Beberapa lembar kertas fax (informasi lowongan itu) pun diberikan kepada saya saat memandu ceramah singkat beliau.

Dari situ terlihat bahwa beliau adalah pribadi yang senang menjadikan sesuatu jadi mudah. Kalau ada alumni yang bisa dipercaya, diberikanlah amanah itu. Ini menjadi kekuatan tersendiri bagi beliau, karena beliau percaya pada alumni-alumninya. Kepercayaan kepada alumni ini juga dirasakan oleh salah seorang kawan saya. Ceritanya, ada sebuah kawasan yang rencana akan dijadikan pesantren dan si kawan ini diminta untuk mengurusnya. Walau belum bisa mengurusnya secara maksimal, si kawan ini merasa bahwa ia seperti mendapat tempat terhormat dengan kepercayaan itu.

Seorang pemimpin memang selayaknya seperti itu. Ia perlu dekat kepada mereka yang dipimpinnya. Kalau perlu, sampai pada kesenangan pribadi, ia perlu mengetahuinya. Rasulullah Saw begitu mengetahui karakter sahabat-sahabatnya. Dari situlah maka Rasul disenangi oleh banyak sahabat, bahkan dari lawan-lawannya.

“Bagi saya beliau ini sosok yang sangat aktif. Terus bergerak dan tidak pernah berhenti. Selain itu beliau sangat peduli, siapa saja dibantu. Membantu pesantren mana saja terimakasih atau tidak, beliau tidak memperhatikan itu. Yang ada di benak beliau adalah melakukan yang terbaik untuk masyarakat,” ungkap Ustadz Musthofa Hadi Chirzin, salah satu menantu KH Mahrus Amin kepada Majalah Gontor, seperti dilansir gontornews.com (4/2/2019)

Pribadi yang mempermudah atau fleksibel itu diperlukan bagi kita sekarang. Dalam segala lini, kita perlu mencetak pribadi-pribadi seperti ini. Kelak ketika para santri telah menjadi lulusan, maka di instansi apapun mereka bekerja, mereka akan menjadi orang yang disenangi karena suka menjadikan sesuatu lebih mudah. Kalaupun ada sebuah masalah besar, maka ia mencoba menghadapinya dengan tenang, dan yakin bahwa pasti ada solusinya. Karena tidak mungkin ada masalah yang tidak ada solusinya. Solusinya jelas sudah ada, tinggal kita memutar otak, bersabar, dan memohon pertolongan Allah.

Teladan dari filosofi Pohon Pisang, kisah “Isra Mi’raj” kecil beliau hingga pribadi mempermudah itu patut menjadi rujukan bagi kita—baik santri, alumni, simpatisan, atau masyarakat umum. Ia, dalam bahasa Motivator Amerika Zig Ziglar, Kiai Mahrus bisa disebut sebagai “pribadi yang teguh pada prinsip, tapi fleksibel dalam metode.” Keteladanan yang fleksibel seperti itu tidaklah lahir begitu saja. Ia sudah pasti lahir dari kedalaman hati. Dari keikhlasan yang senantiasa dijaga, serta dari do’a, shalat malam yang senantiasa dilakukan. Mari, mencontoh teladan terbaik dari beliau, karena keteladanan itu menular.

Perlindungan Allah

Dalam buku Dakwah Melalui Pondok Pesantren (editor: Sri Nanang Setiyono dan H. Abdul Haris Qodir, 2008), KH. Mahrus Amin menceritakan kisahnya saat lolos dari maut. Suatu waktu, Kiai Mahrus sedang mengurus pembangunan pesantren di Jambon Mekar (Parung, Bogor). Tahun 1986 saat itu. Sebelum memulai pembangunan fisik, maka Kiai Mahrus merasa perlu untuk berkonsultasi dengan orang-orang yang diberi kuasa untuk merawat tanah wakaf untuk pesantren itu. Haji Mughni adalah tujuan silaturahmi siang itu.

Dalam buku tersebut, Kiai Mahrus bercerita:

“Kami saat itu tengah berbalik arah di jalan raya Parung karena alamat yang dicari terlewat. Sambil terus melaju, kami terus memperhatikan sisi kanan jalan, berharap agar alamat segera ditemukan dan tidak terlewatkan lagi. Rupanya hal ini membuat kami tidak waspada akan datangnya bus Sabar yang melaju dengan kecepatan tinggi dari arah belakang. Tiba-tiba saja, bagian belakang bus terdorong dengan kuat disertai suara benturan yang amat keras. Mobil kami terpental dan terpelanting masuk ke selokan dengan posisi berbalik arah.Saya yang duduk di jok belakang, sempat tergoncang-goncang seperti air dalam botol yang dikocok-kocok.”

“Setelah mobil berhenti, saya berusaha keluar dengan membuka pintu. Saat itu, saya menyadari pundak kanan saya nyeri dan terasa sakit yang teramat sangat. Sopir saya yang hanya mengalami lecet-lecet, membantu saja keluar dari mobil naas itu. Dari luar, saya lihat bagian belakang mobil ringsek. Kaca-kaca pecah. Bahkan ban serep yang ada di belakang mobil terpental keluar hingga sejauh 100 meter. Sungguh, kalau bukan karena pertolongan Allah, nyawa saya tak akan selamat.”

Gara-gara kejadian ini, akhirnya rencana pertemuan dengan Haji Mughni itu batal, dan akhirnya beralih tempat mencari tabib patah tulang yang kabarnya ada di sekitar lokasi. Ini merupakan pengalaman yang sangat berharga dalam menjalani kesulitan hidup. Dalam proses amal saleh seperti ini (pembangunan pesantren), ada saja kendala yang datang. Acapkali kita tidak berhati-hati, akhirnya musibah terjadi. Atau, acapkali juga memang sudah takdirnya untuk mendapatkan musibah.

Dalam konteks kecelakaan di Parung ini, beliau menyadari bahwa beliau tidak waspada melihat mobil lainnya yang berlaju kencang. Bisa jadi karena saat itu beliau sedang berfokus sekali pada rencana untuk mendapatkan alamat Haji Mughni itu karena semangatnya untuk pembangunan pesantren.

Saat ini, puluhan pesantren yang didirikan olehnya. Bahkan, dalam salah satu pertemuan di rumah beliau (Baitul Arqam) di kompleks Pesantren Darunnajah Jakarta, beliau bercerita keinginannya untuk membangun 1000 pondok pesantren. Sebuah inspirasi akan kekuatan tekad dan perjuangan untuk umat dan bangsa Indonesia yang patut untuk diapresiasi, disupport, bahkan dilanjutkan.

Dari cerita tadi kita dapat inspirasi bahwa kita harus senantiasa waspada. Dalam perjalanan di jalan raya yang begitu sibuk dengan lalu lalang kendaraan, kita tetap harus pasang mata melihat kiri-kanan. Kewaspadaan adalah bagian penting dari keselamatan di jalan raya. Di jalan raya, semua manusia sama dan kecelakaan tidak memandang orang.

Kemudian, selamat dari sesuatu itu semata karena pertolongan Allah. Kiai Mahrus meyakini bahwa ia bisa selamat dalam kecelakaan itu semata karena pertolongan Allah. Ya, karena Allah yang menolong, maka keselamatan pun terjadi. Seorang muslim sepatutnya memang menyerahkan semua hidup dan matinya hanya kepada Allah.

Dalam kesempatan lain, beliau juga menceritakan pengalamannya saat menunaikan ibadah umrah. Saat itu, Kiai Mahrus umrah bersama beberapa pejabat yang di antaranya Wakil Gubernur DKI Jakarta H. Imam Khurmen. Saat umrah itu, banyak jamaah yang ingin mencium hajar aswad. Selain itu juga mendapatkan air guyuran hujan yang jatuh dari pancuran emas di kakbah adalah diharapkan oleh sebagian jamaah haji.

Mereka percaya ada berkah dari Allah bila berhasil melakukan satu atau dua hal tersebut. Saat itu hujan deras mengguyur kota Mekkah. Kiai Mahrus baru saja menunaikan thawaf. Posisinya saat itu berdiri amat dekat dengan Hijir Ismail. Pada sisi atap kakbah yang menghadap Hijir Ismail inilah terdapat pancuran emas (talang emas). Saat hujan makin deras, para jamaah yang berada sangat dekat dengan kakbah berlarian menuju Hijir Ismail. Mereka berharap mendapat guyuran air hujan.

Kiai Mahrus merasakan keberuntungan karena bisa mendapat guyuran itu sebab berdiri tepat di bawah talang emas. Namun tak disangka-sangka, ratusan jamaah juga bermaksud sama. Desak-desakanlah waktu itu dan membuat Kiai Mahrus sulit bernapas. Bayangkanlah, postur tubuh Indonesia didesak oleh jamaah asal Timur Tengah dan Afrika yang tinggi-tinggi dan kuat. Sempat terlintas di benak Kiai Mahrus bahwa ajalnya sudah dekat. Tak ada yang bisa dilakukannya, kecuali satu hal: berdoa.

Maka ia berdoa, “Ya Allah, tak ada yang mudah kecuali Engkau jadikan mudah. Dan kau jadikan susah menjadi mudah apabila Kau kehendaki.” 10 menit kemudian, tiba-tiba angin bertiup kencang yang menyebabkan guyuran air dari talang emas itu berubah arah. Para jamaah pun berlarian ke tempat guyuran yang baru itu. Dan, Kiai Mahrus selamat dalam insiden tersebut.

Dari pengalaman nyata ini kita dapat melihat bahwa ketahanan hidup dan ketegaran seorang Kiai Mahrus itu sangat ditentukan oleh kekuatan jiwanya. Ia rajin berzikir dan berdoa karena yakin bahwa Allah pasti menolong hamba-Nya. Dalam peristiwa ditabrak oleh bus Sabar beliau menyerahkan diri pada Allah atas perjuangannya untuk membangun pondok pesantren. Pun demikian ketika terdesak sehingga sulit bernapas di Mekkah, itu juga tidak lupa ia berdoa. Zikir yang berarti mengingat Allah merupakan bagian dari tanda-tanda seorang muslim yang survive. Ya, kita tidak bisa lepas sama sekali dengan Tuhan. Zikir membantu kita untuk selalu tersambung dengan Tuhan. Begitu juga doa yang menjadikan diri kita semakin kuat, apapun dan seberat apapun cobaan dan kesulitan hidup yang datang

Pada usianya yang ke-81 ini banyak yang mengapresiasi dan mengirimkan doa untuk beliau. Selain keluarga besar Darunnajah, juga ada misalnya dari Ulama Indonesia, Ustadz Abdul Somad dan Wakil Gubernur Jakarta, Ahmad Riza Patria. Di berbagai status Whatsapp hingga media sosial orang mengirimkan doa kepada Kiai Mahrus.

Doktor Honoris Causa; Melanjutkan Perjuangan

Sudah saatnya KH. Mahrus Amin mendapatkan apresiasi seperti Doktor Honoris Causa (Doktor HC) atau Doktor Kehormatan, atas perjuangannya dalam pendidikan Islam di Indonesia. Tentu saja, gelar itu hanya duniawi, tapi bermakna sebagai bentuk penghormatan kepada salah satu tokoh terbaik bangsa kita yang berperan besar dalam pendidikan pesantren.

Mengutip Hukum Online (24 Mei 2016), Doktor HC diberikan kepada warga negara Indonesia atau asing yang (1) luar biasa di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, sosial, budaya, kemanusiaan dan/atau bidang kemasyarakatan, (2) sangat berarti bagi pengembangan pendidikan dan pengajaran dalam satu atau sekelompok bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, sosial budaya, kemanusiaan, dan/atau kemasyarakatan, (3) sangat bermanfaat bagi kemajuan, kemakmuran, dan/atau kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia atau umat manusia; atau (4) luar biasa mengembangkan hubungan baik bangsa dan negara Indonesia dengan bangsa dan negara lain di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, sosial budaya, kemanusiaan, dan/atau kemasyarakatan.

Masih dari Hukum Online, selain syarat di atas, calon penerima gelar Doktor HC adalah (1) bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) memiliki gelar akademik paling rendah sarjana (S1) atau setara dengan level 6 (enam) dalam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), (3) memiliki moral, etika, dan kepribadian yang baik, (4) berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air serta mendukung perdamaian dunia.

Mengutip gontornews.com (4/2/2019), Professor Din Syamsuddin berkata, “Kiai Mahrus adalah sosok yang memiliki tiga dimensi sebagai seorang ulama yang menguasai ilmu-ilmu keislaman; sebagai seorang kiai pendidik dan sosok yang memiliki dimensi enterepreneurship, karena memiliki visi untuk mengembangkan pesantrennya. Dimensi ketiga ini jarang dimiliki kiai-kiai di Indonesia yang kadang hanya berpikir mengembangkan dan membesarkan pesantrennya sendiri saja.”

Perjuangan melahirkan kader umat dan bangsa ini tidak lepas dari istri, kaderisasi, dan doa. “Kalau kemudian disebut sebuah keberhasilan, tentu saja ada rahasianya. Rahasianya adalah dukungan dari istri, Umiyati, kaderisasi dan doa,” kata KH. Mahrus Amin. Luar biasa. Di sini, soliditas keluarga sangat berdampak besar dalam keberhasilan pada aktivitas dakwah dan pelayanan umat.

Pada 2013, Mochammad Zia Ulhaq, menulis skripsi berjudul “Metode Dakwah KH. Mahrus Amin di Pondok Pesantren Darunnajah Ulujami Jakarta” pada Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Jakarta, dan memberikan kesimpulan yang dapat diringkas sebagai berikut: “KH. Mahrus Amin adalah da’i dan ulama yang cukup berpengaruh di Jakarta..Beliau menggunakan dakwah billisan melalui: metode ceramah, halaqoh, dan tanya jawab, dakwah bil hal: dalam bidang keagamaan dan pendidikan, kesejahteraan, perdagangan, dan dakwah bilqalam: menulis buku…Dengan keilmuannya yang tinggi, istiqomah dan contoh amal perbuatan, beliau menerapkan dakwahnya dengan baik. Sebelumnya, pada 2008, Lilis Nurcholisoh di Jurusan yang sama dengan Zia Ulhaq juga menyelesaikan skripsi terkait KH. Mahrus Amin dengan fokus pada “aktivitas pendukung dan aktivitas penghambat” dalam dakwah beliau di Pesantren Darunnajah.

Berbagai artikel ilmiah juga membahas tentang Darunnajah, seperti artikel di Jurnal Al-Ma’rifah UNJ berjudul “Pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta: Studi Etnografi” (M. Siddiq, 2017), artikel di Jurnal Hikmah Al-Hikmah Jakarta berjudul “Pembelajaran Aplikatif Pondok Pesantren dan Dampaknya Terhadap kualitas Outcome Siswa (Studi Kasus di Pondok Pesantren Darunnajah, Jakarta” (Nurbaiti, 2017), artikel di Jurnal Pendidikan Islam UIN Sunan Gunung Djati berjudul “Teaching Arabic by Gender Perspective at Pesantren Darunnajah” (Akmaliyah & Teti Ratnasih, 2017), dan lain sebagainya.

Prinsip Kiai Mahrus dalam perjuangan adalah sama dengan para pendiri Pondok Modern Gontor: “Jadilah orang berjasa, tapi jangan minta jasa.” Saat ini, tak kurang alumni Darunnajah yang telah sukses karena tangan dan doa beliau. Para alumni banyak yang melanjutkan pendidikan tinggi hingga assistant professor, associate professor, dan profesor di Indonesia, sampai menjadi tokoh pada berbagai macam profesi untuk bakti kepada agama dan negara, nusa dan bangsa. Sebagai bentuk penghormatan, sangat baik jika diusahakan gelar Doktor HC untuk Syaikhunal Karim, Al-Ustadz Drs. KH. Mahrus Amin. Namun, jika memang tidak sempat, maka melanjutkan perjuangannya adalah bagian dari amal saleh yang mengalir terus-menerus.

Kepergiannya; Nasihat dan Pesan-Pesannya

Sabtu, 7 Agustus 2021, pukul 16: 20 WIB, adalah hari yang sedih bagi keluarga besar Darunnajah. Seorang pendiri dan kiai teladan yang sangat rendah hati itu berpulang ke rahmatullah di RS Premiere Bintaro, Jakarta. Lima hari sebelumnya, 2 Agustus 2021, pukul 00: 15 WIB, istri beliau, Umi Hj. Suniyati Manaf binti KH. Abdul Manaf Mukhayyar, dipanggil lebih dahulu di RSUD Duren Sawit, Jakarta. Doa dan belasungkawa mengalir dari mana-mana, terutama di media sosial, mulai dari Menteri Agama H. Yaqut Cholil Qoumas sampai pada publik yang mengenalnya dari ceramah dan perjuangannya.

Kata orang, orang baik itu terlihat saat bagaimana dia di akhir hayatnya. Dodi Riyadi, Alumni Darunnajah mengabarkan di Whatsapp ‘Dosen Alumni DN’: “Menurut Ustadz Agus, di akhir hayatnya, beliau, ketika ditanya beberapa kali ingin apa atau mewasiatkan apa, hanya mengulang jawaban: husnul khatimah. Semoga beliau husnul khatimah dan begitu pula kita. Amin.” Akhir yang baik adalah kebaikan untuk di dunia dan di akhirat.

Dalam buku ‘Santri Mengaji Pandemi’ (Mata Kata, 2021; editor: Sonny Zulhuda, Eva Latifah, Yanuardi Syukur) yang ditulis oleh kolaborasi akademisi alumni DN, KH. Mahrus Amin juga memberi kata pengantar yang teks-nya ditulis pada 20 Mei 2021. Isinya sangat dalam, dan menyentuh hati.

“Saya merasa bahagia atas inisiatif anak-anakku para alumni Darunnajah yang kini mengajar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan luar negeri. Dengan ilmu dan kesempatan berharga yang diamanahkan Allah, mereka kini memainkan peranan mulia dalam melanjutkan risalah kenabian, menyampaikan ayat-ayat Allah sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Dengan keahlian yang beragam, para penulis membuktikan kepada kita semua bahwa pendidikan pesantren dapat membawa mereka jauh ke mana saja sesuai dengan minat dan cita-cita mereka. Oleh karena itu, Ustadz Mahrus berharap apa yang ditulis ini menjadi pemicu dan teladan bagi santri lainnya untuk mau dan bisa maju dalam bidang dan keahliannya masing-masing.

Pandemi Covid-19 ini merupakan ketentuan Allah untuk menguji tahap keimanan kita. Selain itu, musibah ini juga mengharuskan para ulul albab untuk berkontribusi dengan keilmuannya masing-masing mencerna serta menerjemahkan kehendak Allah agar dapat membantu meringankan beban umat dan masyarakat. Niscaya dengan menuliskan berbagai pandangan, kajian dan refleksi atas pandemi ini, para santri Darunnajah sedang menunaikan amanah ilmu mereka kepada umat dan masyarakat.

Terakhir, Ustadz Mahrus berharap agar para alumni Darunnajah yang telah tersebar di berbagai daerah serta menekuni berbagai profesi dan sektor agar tetap istiqomah dalam garis ilmu dan dakwah sebagaimana yang telah ditanamkan selama mereka nyantri di Darunnajah.”

Sebelumnya lagi, pada 24 Maret 2021, KH. Mahrus Amin di usianya yang sepuh masih menyempatkan sambutan pada buku “Oh Pondokku, Serunya Nyantri: Life, Love, Laugh and Drama”, sebuah “buku project ala Roro Jongrang…yang mengajak para penulisnya mengumpulkan hikmah terserak dari kehidupan di pondok di usia remaja”–mengutip Trainer ESQ alumni DN 22, Annisa Hasanah. Dalam buku karya alumni putri Darunnajah angkatan 22 yang diinisiasi oleh lajnah Dirosatunnisa22 tersebut, KH. Mahrus Amin menyampaikan apresiasi yang sangat luar biasa kepada santri-santrinya sebagai berikut:

“Alhamdulillah, ustadz bersyukur ke hadirat Allah SWT bahwa di usia senja ini (81 tahun) berkesempatan untuk melihat sebagian dari hasil didikan Pesantren Darunnajah yang bermanfaat di masyarakat dalam berbagai bidang sesuai dengan visi “Tafaqquh fidddin wa mundzirul qaumi untuk izzul Islam wal muslimin dalam ridho Allah SWT.”

Oh Pondokku, serunya nyantri tulisan alumni Darunnajah angkatan 22 merupakan salah satu catatan kesan dan kenangan pribadi para alumni selama dididik dan digembleng di Pesantren dengan romantika kehidupan santri pada dekade 1990an yang merupakan sebagian dari proses pendewasaan dan pencapaian prestasi, dedikasi serta kiprah aktualisasi diri.

Ustadz dengan gembira dan bangga menyambut penerbitan buku ini yang insyaa Allah akan disusul dengan penerbitan karya tulis yang lain baik oleh alumni angkatan 22 maupun alumni yang lain yang saat ini memasuki angkatan 44.

Hal ini sangat penting untuk diambil hikmahnya dan menjadi sangat mungkin karena kemajuan teknologi, dan pada hakikatnya setiap santri adalah pelaku serta penulis sejarah.

Setiap hari disadari atau tidak disadari santri menggoreskan pena untuk menulis pada lembaran buku pribadinya. Apa yang ditulis dan alur mana yang di pakai adalah pilihan bebas masing-masing.

Akhirnya, penulisan buku itu selesai bersama akhirnya kehidupan. Tetapi karya tulis yang bermakna akan mengabadikan nama harumnya. Selamat menikmati dan terus berkarya.”

Kini, guru kita yang mulia Drs. KH. Mahrus Amin bin Casim bin Yanggi, telah terkubur jasadnya di Pesantren Madinatunnajah, Kalimukti, Cirebon. Jasadnya telah selesai, jiwanya telah kembali ke hadirat-Nya. Akan tetapi perjuangan melanjutkan risalah kenabian belumlah selesai, seperti mendirikan 1000 pesantren di Indonesia, tetap harus dilanjutkan oleh generasi sesudahnya, para pelanjut risalah Nabi.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي (30)

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)

* Versi awal tulisan ini dibuat pada 10 Juni 2010, dimuat dalam buku ‘Kyai Entrepreneur’ karya alumni Darunnajah (2010), kemudian direvisi pada 15 Februari 2021 dan 8 Agustus 2021 sebagai khidmah kepada kiai.

* Yanuardi Syukur adalah Alumni Ponpes Darunnajah (1993-1999), Dosen Antropologi Universitas Khairun, Presiden DPP Rumah Produktif Indonesia, dan Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI Pusat.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment