Ismail Suardi Wekke: Jangan Jadi Dosen dan Mahasiswa Batu Nisan

  • Whatsapp

Dosen dan mahasiswa saat ini diwajibkan memiliki publikasi. Pakar Jurnal Internasional dari IAIN Sorong, Ismail Suardi Wekke mengatakan, “Jangan sampai kita hanya jadi dosen dan mahasiswa yang seperti batu nisan, hanya dikenal tanggal lahir dan tanggal wafat.”

Demikian kata Ismail Suardi Wekke pada Seminar ‘Strategi Menembus Jurnal Internasional’ dengan pembicara bersama Anita Raharjeng dan moderator Feri Firmansyah di zoom meeting, Selasa (16/2). Acara dibuka oleh Presiden DPP RPI Yanuardi Syukur.

Read More

Dalam presentasinya yang menarik dan ringan dan dibalut humor, Ismail mengutip Professor Ali Syaukah, bahwa menulis jurnal adalah bagian dari kesyukuran setelah menyelesaikan penelitian. Ketika menulis, kita juga jangan langsung berharap naskah segera di-review, karena semuanya butuh proses. “Jangan baru kirim hari senin kemudian di selasa sudah bertanya,” katanya.

Sebuah artikel lahir dari proposal, penelitian, dan publikasi. Menulis artikel yang baik perlu memperhatikan target pembaca, kebaruan atau novelty, dan referensi. “Kita juga harus bisa mengidentifikasi jurnal mana yang tepat dengan tulisan kita,” kata Ismail.

Untuk itu, seorang penulis harus mempelajari aturan penulis yang dibuat oleh pengelola jurnal. Di situ ada kaidah struktur jurnal seperti judul, abstrak, introduction, study site, methods, results, discussion, conclusion, acknowledgement, dan referensi. Struktur itu dijelaskan dalam panduan yang disediakan oleh jurnal.

Seorang penulis juga harus memiliki state of the art. “Menggunakan tools seperti openknowledgemaps.com untuk dapat frontier of science, cukup bagus untuk melihat peta riset sebelumnya, yang dari situ kita bisa menentukan posisi kita dimana,” kata Ismail yang pada Musim Panas 2002 mendapatkan kesempatan Internship International Program di Western Carolina University, Amerika.

Ismail Suardi Wekke juga menjelskan berbagai hal seperti data, wawasan artikel, manajemen referensi, dan etika publikasi. Dia berharap agar peserta terus berlatih, dan jangan berharap dapat hasil maksimal karena menulis jurnal tidak lepas dari perjuangan. “Bagi pemula, ada baiknya mencoba menulis di jurnal kampus, setelah itu naik terus sampai jurnal internasional,” jelas Ismail yang juga ketua Forum Dosen Indonesia Papua Barat.

Ismail Suardi aktif dalam berbagai event seminar internasional. Beberapa diantaranya adalah International Postgraduate Research Conference (Manado, 2016), International Conference on Islam and Local Wisdom (April, 2017), International Symposium on Frontiers of Southeast Asia Studies (Oktober, 2017). Begitu pula menerima amanah sebagai peneliti senior di Malindo Research Center. Ia juga pernah sebagai ketua panitia International Conference on Ethics in Governance (ICONEG) Universitas Muhammadiyah Makassar (2016).

Sementara dalam beberapa konferensi lainnya, ia pernah sebagai Scientific Committeee, antara lain pada International Student Conference on Islamic Studies (ISCIS) Manado 2016, International Conference on Civic Education, Universitas Negeri Padang (2016), dan International Conference On Islamic Bussiness Law: Sharia Compliance, Universitas Airlangga, Surabaya (2016).

Ismail Suardi Wekke juga pernah mendapatkan kesempatan untuk menjadi dosen tamu di beberapa perguruan tinggi antara lain Far Eastern Federal University, Rusia (2012), Hong Kong University, China (2013), Universida de Macau, China (2014), Linkoping University, Swedia (2015), Universiti Sultan Zainal Abidin, Malaysia (Sejak 2015), Kolej Yayasan Pahang, Malaysia (sejak 2015), Fakulti Tamadun Islam Universiti Teknologi Malaysia (2016), dan Dalat University, Vietnam (2017).

Menutup materinya, Ketua DPP RPI Bidang Penerbitan Jurnal Akademik tersebut berpesan, “tidak ada jalan di muka bumi ini yang dipenuhi mawar, maka kita harus tetap berjuang.”[]

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *