Bismillah

  • Whatsapp

Oleh: Irawati Salim*

“Ummi lagi ngapain?” Anakku menghampiriku. Dia baru saja mengembalikan diriku, yang sedari tadi terbang ke masa lalu “Tidak sayang, Ummi baru nemu buku ummi yang sudah lama hilang.” kataku sambil meletakan buku yang aku genggam di atas meja rias “Dimana Abii?”

Read More

“Lagi nunggu Ummi di luar, kita mau pamitan tapi Ummi tidak muncul-muncul. Makanya Fitri susul Ummi.” Putriku memperlihatkan wajah cemberut

“Maafin Ummi ya, yuk!.”

Aku bersama putri sulungku keluar. Di luar suamiku sudah menunggu dengan senyumnya. Senyum yang selalu mengawali hari-hari indahku.

“Fauzan rewel lagi?” Tanya suamiku

“Tidak, Alhamdulillah dia masih tidur.”

“Yaudah kami pamit ya.” kata suamiku sambil mencium dahiku.

Aku segerah meraih punggung tangannya dan menciumnya. Kuhampiri putriku dan mencium kedua pipi putriku “Belajar yang baik ya sayang.”

“Ok, ummi. Fitri tidak akan belajar yang tidak baik kok.” katanya sambil membalas mencium pipiku.

Hehe. Inilah putriku, dia sangat cerewet. Kadang aku kewalahan menghadapi pertanyaan-pertanyaan spontan dari dia. Dia mulai merekam semua apa yang dia lihat, itu sebabnya aku dan suamiku sebisa mungkin belajar memberikan contoh yang baik untuknya, terutama dengan cara kami berkomunikasi dalam keluargaku.

Setelah Suamiku dan putriku pergi aku kembali kedalam kamar. Kulihat sibungsu yang lagi tertidur nyenyak. Sebentar lagi dia akan berusia 3 bulan, dan aku benar-benar harus membagi waktu ekstra karena masa cutiku akan berakhir. Pernah berpikir untuk mengorbankan pekerjaanku saja, namun suamiku malah membuatku bimbang.

“Aku malah sanang jika kamu punya banyak waktu untuk anak-anak kita. Aku kasian juga lihat dirimu yang tampak kecapean. Aku hanya bisa membantu sebagian kecil dari pekerjaan rumah. Tapi apa jiwamu terima jadi ibu Rumah Tangga, sayang? Aku sering melihat dirimu begitu serius dengan pekerjaan kantormu, dan kamu begitu menikmatinya.” kata suamiku, sambil mengelus rambut putri sulungku yang tertidur di pangkuannya. “Pikir-pikirlah lagi, atau sudah saatnya kamu menyetujui untuk menerima baby sitter.”

“Tidak.” Jawabku cepat

“Kenapa? Kamu takut dan cemburu?” goda suamiku membuatku kesal.

Entahlah, mungkin aku memang takut dan cemburu. Tapi bagiku anak-anakku hanya akan berada di bawah didikanku, sebelum dia pantas  menerima pendidikan dari yang lain. Sebab aku yakin Orang Tua adalah Madrasah Pertama untuk anak-anaknya. Sebagaimana Fitri, walau awal-awalnya sulit, namun alhamdulillah kantorku mengizinkanku membawa anak selama tidak menganggu pekerjaanku. Dan ternyata teman-teman kantorku cukup mendukung keputusanku, walau ada sebagian yang masih memandangku dengan sebelah mata. Dan menganggap tingkahku sebagai tingkah yang bodoh.

Saat itu Fitri juga seperti memahami situasiku. Walau awal-awalnya rewel, di hari-hari berikutnya asalkan dia mendapati asi yang cukup dan tidur yang cukup dia tidak rewel lagi. Di samping itu, suamiku juga cukup membantu dalam hal lain. Setiap waktu istirahatnya dia akan hadir dengan wajah khawatirnya dan untungnya kantornya tidak terlalu jauh dari kantorku. 

Ngomong-ngomong soal suamiku. Dia pria tersabar yang pernah aku kenal. Dia selalu sabar hadapi sikap egois dan manjaku. Mungkin karena usianya cukup jauh dariku, usianya berkisar 7 tahun dariku. Menikah dengan dia adalah kejutan Tuhan yang tidak disangka-sangka. Hehe. Dia mengingatkanku pada Novel karya Haekal Siregar yang baru aku temukan tadi, judulnya “Nikah Dini Keren”

Aku ingat sekali waktu zaman kuliah dulu, aku masih akhwat labil. Walau sering ikut kajian, diam-diam aku berpacaran dengan seorang aktivis. Ya, walau pacarannya alasannya karena Allah Swt, lebih trend-nya mencintai karena Allah. Tidak ada sentuhan fisik, namun sering ngingatin shalat, puasa bareng, bangun tahajud atau Qiyamul Lail. Walau kadang aku meragukan yang di seberang sana melakukannya atau tidak, soalnya aku sendiri kadang malas. Apalagi kalau udah Dakwah tengah malam via telpon, Qiyamul Lail mah lewat.

Hingga suatu hari aku dikagetkan dengan sebuah pesan masuk “Assalamu ‘Alaikum Ukhtii”

Membaca pesan tersebut, aku langsung tahu maksudnya. Aku memilih mengabaikan. Sebab aku tidak mau balasan dari aku mengakibatkan pesan bersambung. Dan aku tidak mau menghadirkan dusta untuk orang yang aku sayang. Namun takdir membawaku ke tempat lain. Aku jatuh sakit, dan aku divonis mengidap Miom. Dan solusi yang diberikan dokter adalah harus punya anak? What? Nikah saja belum. Aku memilih menceritakanya pada pacarku dan respon pacarku malah memintaku untuk operasi. Tidak. Untuk disuntik saja takutnya bukan main, bagaimana membayangkan jika perutku dirobek.

Aku memilih untuk mengabaikan dulu penyakitku itu, walau sering kali kambuh. Hingga aku dihadiakan oleh Murabbiku sebuah Novel karangan Haekal Siregar yang berjudul Nikah Dini Keren. Dan Gila, aku termotivasi untuk segerah menikah. Dan lebih Gila lagi, akupun menuntut pacarku untuk segera menikahiku. Namun respon balik darinya membuatku kesal.

“Mau aku kasih makan apa kamu? Cinta?”

Kesal dan sedih. Walau aku mengiyakan apa perkataannya. Dia mahasiswa tidak berpenghasilan. Uang kuliah pun masih bantuan orang tua. Namun penyakit ini juga tidak bakal nunggu dia punya uang dulu.

Kesedihanku ternyata diketahui oleh kakak lelakiku, aku memilih curhat ke dia.

“Dek, sebenarnya ada teman kakak yang naksir dirimu. Dia pernah mengirim kamu pesan. Namun karena tidak ada respon darimu dia memilih mundur.”

“Payah bangat, jadi pria itu harus berjuang.”

“Dek, bagaimana mau berjuang gerbang utama saja tidak kamu buka. Tidak sopanlah dia loncat pagar.” kata kakak membuatku mengingat pesan salam yang tidak aku balas salamnya itu. “Lagi pula dia sering melihatmu senyum-senyum menatap ponselmu.”

“Kan bisa saja dari teman.”

“Teman tidak akan hadirkan rona diwajahmu.”

“Ha? Sedetail itu dia memperhatikanku?, dia pria tidak benar!, seharusnya dia tundukkan pandangannya!”

“Kalau selamanya dia tundukan pandangan, bagaimana bisa dia naksir kamu sedangkan dia tidak melihatmu.”

“Tapi….”

“Dari pada kamu ngeles terus, besok kakak temani dirimu temui dirinya. Kalian bisa saling bertanya dan saling mengenal.”

“Tidak, tidak.” Tolakku cepat

“Kamu tidak harus terima juga kalau kamu tidak merasa cocok.”

“Iya, tapi tidak enak jugakan pembicaraan kita berdua harus didengar kakak.”

“Dari pada didengar syaitan.”

Akhirnya walau semalaman aku ngeles, aku akhirnya menerima tawaran kakak untuk menemui pria itu. Entah apa yang aku pikirkan, mungkin karena aku kecewa dengan keputusan pacarku yang seperti tidak punya solusi itu. Aku kayaknya tambah kecewa saat bertemu dengan pria yang sudah berada di depanku. Aku sedikit tidak percaya dengan pilihan kakak. Bukan tidak mensyukuri nikmat Tuhan, tapi aku tidak tahu dia jauh dari standarku. Kata orang saat kamu mau move on, kamu harus mencari yang lebih baik. Namun dalam perkataanya aku menemukan kenyamanan. Beberapa waktu kedepan, dia sempat membuatku menghilangkan standar yang aku tetapkan. Hingga dengan mudahnya aku mengatakan hal, yang membuatku sendiri kebingungan saat tiba dirumah.

“Jika kakak punya niat baik, silakan mintalah ijin kedua orang tuaku.”

Dan lebih lagi, dia membuat selera makanku menghilang ketika dia benar-benar bertamu kerumahku dan orang tuaku dengan mudahnya menyetujuinya. Membuatku berpikir mungkinkan dalam kata-katanya mengandung pelet hingga membuat kita mudah mengiyakan. Aku mulai panas dingin, entah penyakitku yang kambuh atau ada penyakit lain yang menghampiriku. Aku mulai hilang nafsu makan membuat keluargaku sedikit khawatir, dan mengkhawatirkan penyakitku, sehingga pernikahanku malah semakin dipercepat. Pesan dari pacarku pun aku abaikan yang mana dia menanyakan kondisiku.

Hingga 2 hari menjelang pernikahanku, kakakku mendapati kecemasanku. Akupun menceritakan keraguanku.

“Kamu sudah minta petunjuk-Nya.”

“Sudah tapi belum aku temukan jawabannya.”

Kakakku pun memilih menceritakan apa yang aku alami pada calon suamiku. Sehingga dengan kecewanya calon suamiku memilih membatalkan pernikahan kami yang tinggal sebentar lagi.

Namun saat pembatalan terdengar di telingku entah mengapa rindu mulai masuk dalam kalbuku, rindu yang sangat dalam. Rindu akan kebaikan pria yang begitu sabar menghadapi kelabilanku, rindu akan kenyamanan dalam setiap ucapan yang pernah aku dengar, rindu akan tutur kata lembutnya saat minta ijin ke orang tuanku. Semalaman aku tidak dibuat terlelap, hingga azan subuh menyadarkanku. Aku segera beranjak Shalat subuh. Setelah Shalat rindu itu lebih besar terasa. Aku yakini diriku bahwa dialah pria yang aku pilih. Setelah itu aku segera beranjak mengetuk pintu kamar kakak.

“Ada apa Dek, kakak udah shalat kok.”

Kakak masih dengan baju kokonya.

“Kak aku menerima pinangannya.”

“Pinangan? Pinangan siapa lagi?”

“Kak, aku tahu aku salah. Tapi aku tidak pingin pernikahanku dibatalkan, aku sudah menemukan jawabannya, dialah yang terbaik bagiku. Rinduku lebih besar dari pada apa yang akan lihat.”

“Kamu yakin dek, kamu akan terus melihatnya di sisa hidupmu. Rindumu mungkin akan sesaat, rindu hanya hadir saat kita berjauhan. Tapi matamu? Akan menghadirkan rasa tidak enak dan membuat jarak”

Aku manarik nafas dalam-dalam

“Bismillah.” Kataku kemudian “Bukankah ketampanan itu relatif, ada yang bisa menerima pria pincang, pria buta dan lainnya. Bagaimana aku bisa dengan bodoh mengabaikan pria yang mempunyai indra lengkap seperti dia.” Jelasku

Dan yang kutemukan dari kakakku hanya senyuman tanpa arti.

“Baiklah dek, kembali lah. Istirahat agar kamu kuat untuk pernikahanmu besok.” Kata kakak dan hendak menutup pintu kamarnya.

“Tapi kak, …” kataku menghalanginya

“Pernikahnmu tidak dibatalkan secara resmi, aku hanya memberitahunya. Dan dia memintaku untuk menyampaikan seperti itu padamu. Katanya jika hatimu masih sama sampai pagi ini, maka pagi ini dia akan memilih untuk memberitahukan keluarganya dan melamar wanita lain. Dan kamu datang di waktu yang tepat.”

Syukurlah Tuhan begitu menyayangiku.

“Mungkin semalaman dia berdoa agar kamu bisa menerimanya.” kata kakak lagi.

“Sekuat itukah kekuatan doanya?”

Istighfar.” kata kakak membuatku segera mengucap. “Itu sama saja kamu meragukan kuasa Allah Swt.”

“iya, iya. Maafkan Aku Yaa Allah.” kataku cepat “Kakak menceritakan tentang ketampanannya juga.” Tanyaku dengan wajah khawatir

“Iya, aku bilang padanya, kamu itu jelek jadi adikku masih ragu-ragu untuk menerima.”

“Kakak.”

“Bercanda. Aku bilang kalau kamu masih belum yakin dengannya saja.”

“Terimakasih kak.” Aku bergerak memeluk kakakku.

Seketika kebahagiaan menghampiriku. Akupun berlari kekamarku. Di sanalah aku memilih untuk sujud syukur ‘nikmat Tuhan mana lagi yang aku dustakan’.

Namun malam sebelum pernikahan mantan pacarku datang. Mantan. Ya, walau aku putuskan secara sepihak. Dia ingin menikahiku. Namun entah mengapa rasa sayang yang dulu pernah hadir tidak aku miliki lagi. Mungkin aku cewek paling egois. Istilah yang lebih trend-nya aku mencampakannya, setelah menemukan yang baru. Mungkin yang lain akan menyayangkan diriku, dimana dia adalah orang yang sudah lama aku kenal, yang tampangnya bisa diterima umum dan sekarang dia ada didepanku, meminang diriku. Namun inilah hidup, dimana setiap jalan selalu kita temukan pilihan. Mungkin aku egois, tapi mantan pacarku mungkin punya titipan sendiri dari Tuhan yang terbaik untuknya.

Aku pilih jalanku dengan Bismillah.

“Ngeeek…ngeek…”

Rengekan si bungsu kembali menarikku pada keadaanku yang sekarang. Aku meraih si bungsu dalam pelukanku.

“Udah bangun gantengnya ummi.”

Dialah salah satu titipan Tuhan untukku. Penyakit yang sebelumnya dititipkan Tuhan untukku juga sudah diambil kembali. Aku hanya bisa berharap Tuhan akan menitipkan mereka lebih lama, bahkan lebih lama dari usiaku. Sebab saat kehilangan mereka mungkin akan lebih perih dari pada kekecewaan di tinggal pacar.

*Irawati Salim adalah penulis asal Ternate, aktif di DPP RPI. Menyelesaikan pendidikan di IAIN Ternate, dan menulis beberapa buku.

*Ilustrasi foto: IDN Times.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *