Puisi-puisi Arma Zaida

  • Whatsapp

Metropolitan pada pandangan lantai sembilan

Pada gemerlap warna warni cahaya

Read More

Bersemayam luka dan dendam membara

Dibelai malam dan angin musim kemarau

Berpadu tawa samar pun tangis haru

Pada bising lalu lalang jalanan

Menepi sebentar menengok angkara

Tersemai subur bagai cendawan musim penghujan

Meluap lalu berceceran di sepanjang jalan pusat kota

Pada gelap malam yang membungkus tak sempurna

Ada sedu tergugu di sudut kota

Penuh keluh kesah pada langit

Menganggap penguasa tak lagi merakyat

Wajah metropolitan yang kian renta

Semakin tua, semakin kejam

Kaum cilik semakin mungil hampir tak nampak

Kaum besar makin pongah penuh ambisi

Kaum pelajar kehilangan kata-kata mungkin disumpal

Kaum religius tersisih, terdesak lalu  jadi tersangka

Kaum liberal makin bebas mengepakkan sayap-sayap penuh duri

Dunia..

Penuh tipu muslihat berwujud malaikat

Mungkin kiamat sudah dekat

Mari bergegas

Siapkan bekal menuju akhirat

Musim Ini

Kabut masih menggantung di alun-alun

Membuat beku

Kalbu

Tidak nampak pula terik mentari

Yang kemarin sore masih membakar jalanan

Cuaca tampak mulai ragu

Menetapkan pilihan

Tak beranjak kesedihan itu

Sisa kekalahan musim kemarau

Yang lampau

Lalu remang ramadan hadir

Sedianya membawa sukacita dan gempita puasa

Menguar bersama riang gerimis sore

Mengawali penghujan kali ini

Namun tidak

Tak kutemukan angin pembawa kenangan itu

Meriapkan ujung hijab melambai pilu

Bulan suci kali ini tak seperti dulu

Ah, rindu kampung halaman tiba tiba hadir tanpa permisi

Lalu

Bolehkah kembali?

Mambulilling*

Izinkan aku merengkuhmu dalam anganku sekali saja

Agar getar jiwaku menyatu padu pada rindu

Yang tertinggal petang itu

Ketika dari puncakmu terkirim angin semilir

Menemani pertemuan

Masih terekam jelas letak pohon dan wibawa

Tertancap di persimpangan

Mengajakku menikmati lekukmu meski tersaput awan kelabu

Dan hatiku bercorak warna warni kala itu

Tersembunyi dari celah rompi oranye

Masih deras terasa air rambu saratu memerciki kalbu

Ketika harus bertolak pulang

Meninggalkan angan yang terpotong purnama

Sejak hatiku mencuri warna awanmu diam-diam

Mambulilling: nama sebuah gunung di kab Mamasa

Menuju Kematian

telah ku terima tanpa kata

duri-duri yang Kau bungkus kelopak bunga

menusuk gelak tawa kanak-kanak

yang lahir dari tanah sendiri

“Tolong, jangan mati”

kata mereka dengan mata berkabut

dan hujan datang menurunkan kesedihan

Menyumbat liang-liang kebahagiaan

yang kita ciptakan dari kata-kata bertuah

hendak menyusun batu bata di Surga

namun Neraka sudah terasa panasnya

Arma Zaida, adalah seorang pengajar di kota Makassar. Beberapa puisinya terpilih dalam antologi puisi Mendengar Tangis I La Galigo, Program Fiction Writers dalam Makassar International Eight Festival & Forum 2019.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *