No Insecure, Tetap Produktif

  • Whatsapp

Oleh: Sitti Maryam MY Mahmud*

Insecure, salah satu istilah yang paling sering digunakan di kalangan anak muda ketika bertemu dengan temannya. Bahkan tak jarang ketika memposting sesuatu di sosial media, entah itu foto muka yang mulus (anak muda menyebutnya glowing), foto berpakaian branded, hingga ke sebuah pencapaian. Foto kuliah di luar negeri, kerja di kantoran, menikah, mempunyai anak lucu dan seterusnya.

Read More

Istilah insecurity ini bermakna perasaan minder, tidak percaya diri, malu. Intinya perasaan yang muncul ketika pencapaian orang lain merupakan ancaman baginya.

Sehingga muncullah ungkapan seperti ini,

“Ampun, insecure banget gue lihatnya”

“Bajunya buat gue insecure, sumpah”

Tawwa nah kuliah di luar negeri, insecureku moh

“Jiwa insecureku meronta-ronta”

Yang paling mengenali kemampuan kita adalah diri kita sendiri. Namun, sayangnya kita sering menzalimi diri sendiri karena fokus pada kekurangan diri. Padahal ada potensi di sana yang tertutupi karena merasa minder. Sehingga kita perlu mengetahui apa yang sebenarnya ingin kita capai, mau kemana arahnya.

Hal tersebut membuat manusia lalai terhadap dirinya karena terlalu fokus membanding-bandingkan dirinya, mencari-cari kekurangannya. Mengaggap dirinya tidak mampu, tidak bisa ini dan itu. Celakanya, anggapan seperti itu terjadi sebelum ia mencobanya terlebih dahulu. Padahal manusia dilahirkan sudah dibekali bakat masing-masing.

Selain bakat, mereka juga memiliki minat dan kegemaran masing-masing. Hanya saja, mereka fokus untuk menjadi orang kebanyakan. Tidak tahu apa sebenarnya yang dia inginkan, apa fokusnya ke depan. “Di mana ada kefokusan maka di situ lah energi akan mengalir,” kata Tony Robbins, penulis buku Unlimited Power.

Goals-nya Apa?

Hidup akan terasa begitu-begitu saja jika tak menentukan goals. Goals adalah sesuatu yang ingin kita capai, sederhananya adalah tujuan hidup. Dengan menentukan goals, hidup akan jauh lebih terarah karena memiliki tujuan yang jelas, sehingga memungkinkan kita fokus pada energi, kreativitas, dan waktu.

Pekan lalu, di sebuah café yang terletak di Makassar kami mengadakan reuni kecil-kecilan jurusan Bahasa dan Sastra Inggris angkatan 2014 UINAM. Di sana, kami berbagi cerita tentang kesibukan masing-masing, mimpi dan goals ke depannya apa. Masing-masing memiliki ceritanya, ada yang ingin menjadi dosen, lanjut kuliah di luar negeri, menjadi entrepreneur dan ada juga yang ingin menikah dulu sebelum melangkah lebih jauh.

Namun, tak sedikitpun kami merasa insecure pada pencapaian teman-teman dan perencanaan ke depannya. Kami terbuka mendengar cerita dan saling memberi masukan. Salah seorang teman menuturkan alasan dirinya lanjut kuliah S2: ingin menjadi dosen. Tentu saja, sebab salah satu syarat menjadi dosen adalah minimal lulusan magister.

“Betul, karena passion kamu memang di situ, senang mengajar dan punya skill bahasa Inggris yang wow,” salah seorang menimpali. “Beda dengan saya, saya tipe orang yang suka dunia bisnis, jadi fokus aja ingin jadi entrepreneur, so nda lanjut kuliah S2.”

Saya menarik pelajaran dari kata-katanya bahwa seseorang tidak akan merasa cemas dengan pencapaian orang lain jika ia tahu apa goalsnya. Sehingga, ia tidak perlu buang-buang waktu apalagi merasa minder jika ada teman-teman lain yang melanjutkan kuliah S2 hingga keluar negeri, sementara dirinya tidak.

Okky Madasari dalam unggahannya di Instagram, pernah menuliskan kalimat sederhana. “Kalau kalian bercita-cita jadi foto model, pemain film, penyanyi, MC dst, ikuti mereka yang memang berprofesi di bidang itu, yang terus bekerja untuk mengasah talenta dan berkarya.”

Maka yang perlu dilakukan adalah fokus mencari-cari informasi yang mendukung goals kita ke depan. Dengan begitu, kita tak lagi perlu insecure alias minder pada orang yang passionnya, yang goalsnya, yang cita-citanya berbeda dengan kita.

No Insecure, Tetap Produktif

Menurut Psychology Today, rasa minder atau insecure itu wajar dialami oleh manusia. Meski hal itu manusiawi dialami oleh hampir semua manusia, namun bukan berarti kamu memaklumi perasaan tersebut kemudian berlarut-larut dalam perasaan yang memenjarakanmu.

Perasaan insecure bisa ditaklukan dengan melakukan hal-hal produktif dan bermanfaat sesuai dengan bidang dan potensi kita. Sebagai contoh, di Rumah Produktif Indonesia orang-orang akan ditempatkan sesuai dengan bidangnya masing-masing. Ada yang bergerak di bidang kepenulisan, pengembangan literasi nasional, parenting, kesehatan masyarakat, bahasa dan masih banyak lagi bidang-bidang lainnya.

Yanuardi Syukur, Presiden Rumah Produktif Indonesia (RPI) pernah berkata bahwa tujuan RPI didirikan adalah untuk mewadahi orang-orang yang mempunyai minat dan kemampuan di bidang tertentu dan menciptakan pemimpin. Sehingga mereka bisa menjadi manusia-manusia produktif di Indonesia kelak.

Di RPI, tak sedikit orang-orang yang minder termasuk saya. Namun, akhirnya setelah berproses di RPI mereka bisa menunjukkan kemampuannya berdasarkan bidangnya. Ada yang sudah sukses membuat buku, seperti kak Maghdalena (Ketua DPW RPI Sumbar) dan kak Widya Rizki Pratiwi (Sekretaris DPP bidang bahasa). Padahal dulunya mereka selalu merasa bukan apa-apa.

Sehingga saya membuat kata-kata yang juga untuk diri sendiri, “jika kamu tak mampu menjadi bunga yang mekar di tamanmu sendiri, kelak kamu akan menemukan taman baru yang membuatmu mekar dan cantik.” Dengan begitu, rasa insecure bisa dialihkan dengan hal-hal yang positif. []

*Penulis adalah Anggota Bidang Pengembangan Literasi Nasional DPP RPI

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *