Terputusnya Mata Rantai Pendidikan Akhlak di Sekolah Selama Pandemi Covid-19

  • Whatsapp

Oleh: Indah Prihati*

Pandemi menyisakan pekerjaan rumah bagi pendidikan akhlak. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau online berdampak bagi pendidikan. Pendidikan sejatinya menitikberatkan  pada pembinaan akhlak dalam rangka pembentukan mental agar tidak mengalami penyimpangan, dengan menyempurnakan nilai-nilai kemanusiaan, menjadikan insan yang taat beribadah dan sanggup hidup bermasyarakat yang baik.

Read More

Pendidikan akhlak dapat menjadi sarana bagi terbentuknya insan kamil (manusia yang sehat dan terbina potensi rohaniahnya sehingga dapat berfungsi secara optimal dan dapat berhubungan dengan Allah serta dengan makhluk lainnya secara benar menuju keselamatan hidupnya di dunia dan akhirat).

Pendidikan akhlak berorientasi mewujudkan manusia  bertakwa yang berarti manusia yang berakhlak mulia karena melaksanakan segala perintah agama dan meninggalkan segala larangan agama. Manusia yang bertakwa yang taat beribadah dengan ikhlas akan mengantarkan kesucian dan membawa budi pekerti yang baik dan luhur. Ibadah bagi manusia bertakwa dianggap  sebagai latihan spiritual juga, latihan sikap dan meluruskan akhlak sehingga dapat menguatkan rohaninya.

Orang-orang yang mempunyai pengetahuan dalam pendidikan akhlak lebih utama dari pada orang-orang yang tidak mengetahuinya karena dapat mengantarkan seseorang kepada jenjang kemuliaan akhlak, dapat menyadari mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang jahat, dapat memelihara diri agar senantiasa berada pada garis akhlak yang mulia dan menjauhi segala bentuk tindakan yang tercela yang dimurkai oleh Allah.

Pendidikan akhlak mengantarkan menjadi manusia penuntut kebaikan. Akhlak dapat mempengaruhi dan mendorong manusia supaya membentuk hidup yang lurus dengan melakukan kebaikan yang mendatangkan manfaat bagi sesama manusia. Manusia akan dituntut kepada kebaikan jika memiliki akhlak yang baik pula.

Pendidikan akhlak sebelum pandemi sudah terpola  dan dilakukan dengan mengunakan metode keteladanan (uswah al- hasanah). Melalui keteladanan para orang tua, pendidik atau warga sekolah lainnya  dapat memberi contoh atau teladan bagaimana cara berbicara, bersikap, beribadah dan sebagainya. Maka anak atau peserta didik dapat melihat, menyaksikan dan meyakini cara sebenarnya sehingga dapat melaksanakannya dengan lebih baik dan lebih mudah.

Metode Pendidikan lain adalah melalui pembiasaan. Pembiasaan memberikan manfaat bagi peserta didik. Karena pembiasaan berperan sebagai efek latihan yang terus menerus, peserta didik akan terus terbiasa berperilaku dengan nilai-nilai akhlak. Membiasakan suatu amal atau  perbuatan menjadi perhatian serius  para guru zaman sekarang.

Sejak di bangku pendidikan usia dini  anak-anak dibentuk menuju pola tertentu dengan mempraktikkan amal perbuatan yang mendukung tujuan pendidikan. Dalam pendidikan, metode ini dapat dilakukan dengan cara pendidik membiasakan peserta didik untuk hidup tertib, disiplin, menjaga lingkungan, tolong menolong, berkata dan bersikap sopan, berlatih jujur dengan kantin jujurnya, menghormati orang lain dan lain-lain. Dalam pembentukan akhlak dengan berbagai macam akhlak yang telah diajarkan akan terpatri dalam diri peserta didik, kuat menginheren dalam dirinya serta menjadi bagian yang tak terpisahkan dari seluruh aktivitas kehidupannya.

Saat sekolah dimaknai sebagai miniatur komunitas masyarakat terdidik maka proses pendidikan akhlak juga akan berlaku untuk orang tua. Seluruh warga sekolah dan orang tua saat berinteraksi akan merepresentasikan pribadi-pribadinya yang dapat menjadi contoh satu sama lain. Sekolah memfasilitasi orang tua untuk dapat berinteraksi dan melakukan sharing tentang pendidikan anaknya. Strategi  ini efektif dalam pendidikan akhlak dan sudah terpola. Pandemi covid-19 memaksa sekolah untuk menjalankan proses belajar-mengajar secara daring. Proses transfer pengetahuan dan nilai berlangsung melalui dunia maya.

Kontrol pendidikan akhlak sepenuhnya ada pada keluarga. Selama pandemi komunikasi dan interaksi sekolah dan orang tua  berjalan kurang intens. Berbagai bentuk pendidikan yang dimanfaatkan melalui berbagai wadah itu tidak hanya bentuk pengajaran, tetapi juga tauladan, komunikasi, kelompok atau massa dan sosialisasi pada umumnya selama pandemi  polanya mengalami keterputusan. Dan nanti pada saat sudah semua kembali normal maka pola-pola pendidikan akhlak akan kembali dimulai dari awal lagi.

Keterputusan implementasi pendidikan akhlak di komunitas sekolah akan berdampak buruk bagi output-outcome pendidikan yang berpotensi menyebabkan masalah sosial. Sebelum pandemi kita jumpai masih banyak sekolah yang tidak aktif melakukan pengembangan kurikulum karakternya atau bahkan hanya sebatas rutinitas copy-paste kurikulum tingkat satuan pendidikannya. Di masa pandemi sekolah menerapkan kurikulum darurat atau penyederhanaan kurikulum. Akan tetapi realitas di lapangannya banyak yang tidak memikirkan, mencari model atau strategi pendidikan akhlak di masa pandemi.

Penyederhanaan kurikulum dan kedarutatan ini tetap diorientasikan ke dalam  capaian materi. Banyak yang masih terjebak dalam rutinitas administrasi pembelajaran dan terus mengeksplorasi muatan pembelajaran daring dan belum memikirkan pendidikan akhlak selanjutnya. Setelah sekian lama menjalani proses pembelajaran daring, mari kita mulai bergegas memikirkan lagi pendidikan akhlak. Fenomena korupsi di masa pandemi dan komunikasi dunia media sosial yang kurang sehat sungguh memprihatinkan dan pukulan terberat bagi pendidikan kita.

Penguatan pendidikan keluarga/parenting merupakan upaya untuk mengatasi keterputusan rantai pola Pendidikan akhlak. Berbagai program sekolah dapat di coba seperti webinar parenting, mengoptimalkan buku penghubung dan pantauan amaliyah harian, membuat kesepakatan dan komitment bersama orang tua, mengadakan festival atau apresiasi karya secara virtual, sekolah menggerakkan literasi keluarga berbasis akhlak, membuatkan kurikulum inisiatif pendidikan akhlak masa pandemi berbasis keluarga yang menjadi pedoman orang tua selama mendampingi di rumah.

Sekolah mengoptimalkan peran guru BK membuka konsultasi,  bimbingan dan konseling  serta, kontinyu memantau perilaku, sikap dan motivasi peserta dengan kuisioner, saat ada kelonggaran kebijakan manfaatkan home visit atau tatap muka terbatas orang tua, dan lain-lainnya untuk meminimalisir dampak keterputusan pola pendidikan akhlak. 

Muatan pembelajaran selama pandemi menjadikan lingkungan rumah bagi anak untuk belajar, mencontoh dan mengaktualisasikan nilai-nilai akhlak yang dipelajari atau dilihatnya itu. Model pembelajaran bisa dilaksanakan melalui team teaching  guru dan orang tua  dan lainnya bekerja sama dengan guru Pendidikan Agama dan Budi Pekerti dalam menyusun desain pembelajaran secara konkret dan detail, untuk diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran. Komitmen  antara guru dan orang tua untuk turut serta dan memiliki kewajiban menginternalisasikan pendidikan akhlak kepada peserta didik melalui mata pelajaran yang diampu maupun melalui keteladanan masing-masing.

Membangun kesadaran Bersama bahwa pendidikan akhlak tidak hanya menjadi tugas utama guru saat tidak pandemi atau  menjadi tanggung jawab utama orang tua saat pandemi. Akan tetapi menjadi kewajiban bersama untuk selalu berkolaborasi semua guru di sekolah dan orang tua.

Ibarat sebuah bangunan maka sekolah dan keluarga saling menguatkan. Hal ini menjadi penting agar di tengah proses pendidikan akhlak  di masa pandemi ini tidak terjadi saling lempar tanggung jawab. Selain itu tidak memberatkan satu sama lain karena dampak pandemi melingkupi ssemua aspek kehidupan. Tepatnya kolaborasi berbalut persaudaraan dengan desain demikian, diharapkan pendidikan akhlak akan senantiasa hidup dan sinergi dalam rongga pendidikan apapun situasi dan kondisinya .

*Penulis adalah Praktisi Pendidikan Formal dan Non Formal  (Dikmas dan Dikdasmen), Sekretaris Bidang Pendidikan DPP RPI.

sumber gambar: bbc.com

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *