RPI Sudan Bahas Rahasia Produktivitas Pemikir Andalusia Abad ke-12 Ibnu Rusyd

  • Whatsapp

Sejak terbentuk pada 2020 lalu, RPI Sudan terus melakukan berbagai kegiatan produktif dengan melibatkan kolaborasi berbagai pihak baik di Sudan maupun di luar Sudan. Sejak ketua pertama, Ustadz Erwin Febriadi hingga penggantinya, Ustadz April Setiawan, RPI Sudan terus bergiat sampai sekarang.

Salah satunya adalah menggelar “Ngobrol Perkara Islam” dengan tema “Mengenal Lebih Dekat Sang Pemikir Ibnu Rusd” via IG live @rpi_sudan x @denojuanda, Sabtu (20/2) Pukul : 16:00 – 17:00 CAT (Sudan) / 21:00 – 22: 00 WIB. Pembicaranya adalah Ustadz Deno Juanda Kurnia, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PCIM Sudan dengan host Ustadz Khairu Ribath dari Divisi Dakwah RPI Sudan.

Dalam paparannya, Ustadz Deno Juanda Kurnia menjelaskan rahasia produktivitas Ibnu Rusyd yang dikenal sebagai Averroes. “Pertama, beliau produktif karena ada keinginan kuat dalam dirinya untuk memperbaiki kondisi umat Islam ketika itu. Kedua, beliau juga produktif dengan tekad dan semangat tinggi dalam menuntut ilmu,” kata Ustadz Deno.

Ibnu Rusyd dibesarkan dari keluarga ulama, dan dididik dalam pendidikan ulama. Dia tidak hanya menguasai ilmu fikih perbandingan tapi juga filsafat dan kedokteran. “Beliau seorang yang polymath, yang menguasai banyak ilmu,” lanjut ustadz asal Riau tersebut.

Hari-harinya juga diisi dengan ilmu. Menurut riwayat, Ibnu Rusyd hanya memiliki 2 hari yang santai, yaitu ketika malam pesta pernikahannya, dan ketika malam ayahnya meninggal. Selebihnya, hari-harinya diisi dengan menuntut ilmu. Itulah yang membuat kenapa namanya harum di timur dan barat, sampai hari ini.

Ibnu Rusyd lahir di Kordoba dari keluarga yang melahirkan hakim-hakim terkenal; kakeknya adalah qadhi al-qudhat (hakim kepala) dan ahli hukum terkenal di kota itu. Pada tahun 1169 ia bertemu dengan khalifah Abu Yaqub Yusuf, yang terkesan dengan pengetahuan Ibnu Rusyd.

Sang khalifah kemudian mendukung Ibnu Rusyd. Banyak karya Ibnu Rusyd lahir dari proyek yang ditugaskannya. Ibnu Rusyd juga beberapa kali menjabat sebagai hakim di Sevilla dan Kordoba. Pada 1182, ia ditunjuk sebagai dokter istana dan hakim kepala di Kordoba (Qurthub), Spanyol.

Setelah wafatnya Abu Yusuf pada tahun 1184, Ibnu Rusdy masih berhubungan baik dengan istana, hingga 1195 saat dia dikenai berbagai tuduhan politik. Pengadilan memutuskan bahwa ajarannya sesat, yang berdampak pada pengasingan di Lucena. Setelah beberapa tahun diasingkan, istana memanggilnya bertugas kembali. Tidak lama, kemudian beliau wafat.

Ibnu Rusyd adalah pendukung ajaran filsafat Aristoteles (Aristotelianisme) yang berusaha mengembalikan filsafat dunia Islam ke ajaran Aristoteles yang asli. Ia mengkritik corak Neoplatonisme yang terdapat pada filsafat pemikir-pemikir Islam sebelumnya seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina, yang dianggap menyimpang dari filsafat Aristoteles.

Rusyd membela kegiatan berfilsafat dari kritik yang dilancarkan para ulama Asy’ariyah seperti Al-Ghazali. Dia berpendapat bahwa dalam agama Islam berfilsafat hukumnya boleh, bahkan bisa jadi wajib untuk kalangan tertentu. Dan juga berargumen bahwa teks Al-Qur’an dan Hadis dapat diinterpretasikan secara tersirat atau kiasan jika teks tersebut terlihat bertentangan dengan kesimpulan yang ditemukan melalui akal dan filsafat.

Dalam bidang fikih, Averroes menulis Bidayatul Mujtahid, membahas perbedaan mazhab dalam hukum Islam. Dalam kedokteran, ia menghasilkan gagagan baru mengenai fungsi retina dalam penglihatan, penyebab strok, dan gejala-gejala penyakit Parkinson, serta menulis buku yang kelak diterjemahkan menjadi sebuah buku teks standar di Eropa.

Ibnu Rusyd juga mengajarkan sikap ilmiah lewat perdebatan “buku lawan buku”. Ketika Imam Al-Ghazali menulis Tahafut Al-Falasifah, atau “kerancuan filsafat”, Ibnu Rusyd membantahnya dengan Tafahut At-Tahafut, “kerancuan kitab tahafut.” Dalam buku itu, Ibnu Rusyd mempertahankan pemikiran Aristoteles dalam pemikiran Islam.

Buku tersebut ditulis Ibnu Rusyd dengan gaya dialog antara sang penulis dengan klaim-klaim dari Imam Al-Ghazali yang termuat dalam kitab Tahafut al-Falasifah yang ditulis satu abad sebelumnya. Al-Ghazali mengkritik pemikiran Neoplatonis yang digunakan oleh filsuf muslim seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi.

Buku Ibnu Rusyd tersebut awalnya ditulis dalam Bahasa Arab, lalu kemudian diterjemahkan ke berbagai bahasa. Buku ini dianggap sebagai tulisan penting dari Ibnu Rusyd yang di dalamnya ia mencoba menyinergikan antara iman dan filsafat.

Sikap ilmiah seperti ini menurut Ustadz Deno sangat perlu dihadirkan dewasa ini. “Saat ini ada kecenderungan orang yang berbeda untuk saling lapor, padahal perbedaan itu bisa diselesaikan dengan dialog, atau perdebatan intelektual lewat buku,” lanjutnya lagi.

Pengaruh Ibnu Rusyd ke dunia Barat jauh lebih besar dibanding dunia Islam. Ibnu Rusyd menulis banyak tafsir terhadap karya-karya Aristoteles, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani dan bahasa Latin dan beredar di Eropa. Terjemahan karya-karya Ibnu Rusyd memicu para pemikir Eropa Barat untuk kembali mengkaji karya-karya Aristoteles dan pemikir Yunani lainnya, setelah lama diabaikan sejak jatuhnya kekaisaran Romawi. []

Ilustrasi: Patung Ibnu Rusyd di Cordoba, Spanyol.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *