Pola Pikir Memengaruhi Karya

  • Whatsapp

Oleh: Junaedi*

Menulislah dengan wawasan dan hati, agar bisa mencerdaskan dan sampai ke hati-hati yang lainnya (Helvy Tiana Rosa)

Read More

Apakah Anda pernah berpikir menjadi orang kaya yang memiliki segalanya ? Berpikir menjadi pengusaha ? Menjadi seorang penulis ?. Apa yang pernah Anda pikirkan akan terwujud  jika diusahakan dengan tekad yang kuat. Banyak orang yang sukses karena memiliki pola pikir yang baik. Juga sebaliknya, kenapa banyak yang kita temui orang yang tak berhasil ? Itu karena pola pikir yang salah atau negatif.

Mindset yang tak menghadirkan Allah di setiap langkah dengan keyakinan yang kuat tak akan pernah kita temui kesuksesan yang berberkah. Anda pernah menemui orang yang punya segalanya namun tak merasa bahagia? Jawabannya adalah karena pola pikir yang tak berkarakter. Tak ada komunikasi khusus dengan Tuhan-Nya.

Hal serupa dengan menulis. Menjadi seorang penulis harus dibarengi dengan Mindset yang terpola dengan baik supaya menghasilkan karya yang juga berberkah bisa menjadi motivasi dan inspirasi bagi pembacanya. Seseorang tidak akan menghasilkan karya jika mindset-nya belum terpola dengan baik. Jangankan karya, memulai saja akan menjadi berat.

Ketika Anda putuskan menulis buku, tidak sedikit suara-suara sumbang yang akan kita dengar. Suara sumbang tersebut terkadang menghampiri hati bahkan enggan untuk pergi (makan hati). Suara sumbang yang memerahkan muka, suara sumbang yang mendobrak gendang telinga. Tidak sedikit pula langsung hilang girah karena suara-suara sumbang itu. Jadinya impian menjadi penulis harus di kubur.

Seseorang dengan mindset yang tak terpola dengan baik maka akan legowo menerima suara sumbang tersebut.  Namun, sebaliknya, jika mindset kita bagus maka tantangan apapun itu akan di lewatinya, tak penting suara sumbang, tak penting bisik-bisik yang tak berkualitas yang hanya sekedar membuang-buang waktu semata. Ia akan tetap melangkah, tetap berkarya, sekalipun riak itu kian menggelegar dan menakutkan. Ia menganggapnya angin lalu saja. Apakah Anda pernah merasakannya? Atau Anda lagi mengalaminya?

Tidak perlu berkecil hati. Anda harus tetap semangat. Jika Anda berhenti, maka mereka akan bersuara lantang dan makin menaktukan. Tetapi, jika Anda lanjut, suara itu akan ciut dan menghilang entah ke mana rimbanya. Apalagi, jika Anda sudah membuktikannya. Anda sudah memiliki karya.  

Jangan Jadikan suara-suara orang lain menjadi banteng penghalang untuk berkarya, jadikan semuanya adalah loncatan untuk maju melejitkan karya. Lagian ngapain kita hidup dari pendapat orang lain. Sampai kapanpun, jika kita hidup dari pendapat orang lain. Pastilah tak akan ada yang sempurna. Kita tak dapat memungkiri juga bahwa di luar sana terkadang orang lain ucapkan kebohongan tentang menulis.

 Beberapa anggapan orang  tentang menulis, khususnya bagi penulis pemula. Anggapan ini erat kaitannya dengan mindset yang keliru yang tidak percaya dengan kemampuannya sendiri. 

Pertama, Aku Nggak Bisa, Nggak Kreatif. Terkadang diri kita belum ngapa-ngapain, sudah buat tembok raksasa yang memasung diri kita, memenjarakan kreatifitas kita. Sehingga ide yang seharusnya tertuang dalam kertas menjadi beku hingga hilang bersamaan dengan keyakinannya. Apa jadinya jika demikian? Nggak bakalan bisa, nggak akan kreatif, juga tak akan  ada karya.  

Pertanyaannya adalah apakah  anda sudah mulainya?. Ini adalah penyakit yang banyak orang derita, belum mencoba, belum memulai, belum berperang sudah mengalah duluan. Kasian, bagaimana orang lain akan menjadikan diri anda sebagai inspirasi dalam menulis, sementara anda saja tidak percaya. Mulailah !  Coba tuliskan dirimu sendiri. Nanti juga sadar kalau kamu itu lebih kreatif dari yang kamu pikirkan. 

Kedua, gengsi dan tak percaya disebut sebagai penulis. Buku aja belum terbit, masak disebut penulis. Ini yang menjadi anggapannya. Sudah atau belum terbit buku anda, Anda adalah penulis. Jangan sampai ketakutannmu ketidak percayaan dirimu menghalangimu dan menciutkan nyalimu untuk menulis. 

Ketiga, (hanya) tulis yang kamu tahu.”Tulis yang kamu tahu” itu emang bagus, tapi kalau ada kata “hanya” di depannya, nggak berkembang dong?” Bukan Cuma itu, mindset yang terbangun adalah selalu ada kata–kata  “Cuman, Masalahnya, kira-kira, menurutmu, tapi, dan tidak mungkin”. Hilangkan semuanya, ganti dengan kata “Saya Bisa.”

Beberapa tips untuk mengubah pola pikir yang negatif menjadi pola pikir positif.

Selalu Memandang Sesuatu Dari Segala Sisi

Bila Anda mendapati suatu hal mungkin kurang baik, kurang Anda sukai, Anda tidak boleh langsung membencinya atau mungkin memandang sebelah mata, yang perlu Anda lakukan adalah menganalisa dari berbagai sisi, dimana Anda bisa mendapatkan hal baik dan hal buruk dari sebuah kejadian atau benda. Sehingga Anda tidak langsung memiliki opini bahwa hal itu buruk, melainkan Anda bisa berpikir bahwa hal tersebut baik namun masih memiliki kekurangan. Hal ini pula yang harus Anda jadikan prinsip ketika bertemu dengan orang baru.

Bijak Dalam Mengatasi Sebuah Masalah

Selain itu berusahalah untuk bijak ketika Anda mengatasi sebuah masalah, jangan pernah emosi dan jangan menyalahkan orang lain. Lebih baik cari masalah utama dan temukan jalan keluarnya.

Tenang Dan Memiliki Pola Pikir Positif

Dan yang terakhir adalah tenang dan milikilah pikiran yang positif sehingga akan membawa Anda menjadi orang yang dipenuhi dengan energi positif. Orang yang memiliki sikap dan jalan pikiran seperti ini pastilah orang baik dan membuat orang disekitar merasa tenang. Karena setiap energi dari diri kita pasti akan menular ke orang lain. Itu mengapa sebuah pola pikir positif sangat penting untuk dimiliki oleh setiap orang, selain bisa membuat kehidupan lebih damai, juga bisa membuat Anda lebih berhasil.

  • Penulis adalah pengurus RPI Sulawesi Selatan, anggota di HPBI Gowa dan CO Founder di Leider Institute.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *