Nissa Sabyan dan Raksasa Tidur

  • Whatsapp

1993. Motivator Amerika, Anthony Robbins menulis buku bagus. Judulnya, Re-Awaken The Giant Within. PT. Ufuk Publishing House, Jakarta, menerjemahkannya berjudul “Bangkitkan Kembali Raksasa dalam Diri Anda.” Inti buku ini terlihat di bagian kaver yang tertulis: “7 cara luar biasa untuk menghadirkan kesehatan, kekayaan, hubungan, dan mencapai tujuan Anda.”

Scara singkat, buku karya penasihat Princess Diana, Nelson Mandela, dan Margaret Thatcher ini menjelaskan kepada pembaca, bagaimana cara membangkitkan ‘raksasa tidur’ dalam diri kita. Tujuh hal yang dia sarankan kepada kita dimulai dari, naikkanlah standar Anda. Kemudian, ubahlah keyakinan Anda yang membatasi, dialnjutkan dengan ubahlah strategi Anda.

Dalam mengubah strategi, dia meminta kita agar menjadi penguasa. Ya, penguasa atas perasaan, fisik, hubungan, keuangan dan waktu. Menguasai fisik, sebagai contoh, adalah dengan memiliki tubuh yang sehat. “Apakah Anda bangun setiap pagi dengan perasaan penuh semangat, sangat kuat, dan siap untuk menjalani hari baru?” tanya Robbins. Soal relasi dengan orang lain, dia berkata: “Kualitas hidup kamu adalah kualitas hubungan kamu.” Dan, relasi itu sangat berkait dengan lingkaran pergaulan kita: “Kamu akan menjadi setipe dengan orang-orang sepergaulanmu.

Buku Robbins ini sudah lama saya beli di Gramedia Matraman, salah satu tempat nongkrong saya pada tahun-tahun yang lalu. Disebabkan ingin berfokus kuliah, saya coba masukkan buku tersebut bersama 9 kotak buku lainnya. Suatu ketika, ada tikus masuk ke kamar berisi banyak buku itu. Tikus itu–entah, mungkin dia atau temannya–pernah melubangi mesin cuci, tapi kemudian dia melangkah lebih sistematis terstruktur masuk ke kamar. Sebelumnya, dia hanya berani sebatas dapur dan pembatasnya.

Perburuan tikus itu kendati melelahkan, untungnya berhasil. Sudah lama sekali saya tidak berburu tikus, karena: kasihan, dia makhluk hidup. Waktu kecil, saya termasuk “pemburu tikus nomor 1”, di rumahku. Orang tua yang berjualan sembako pastinya jadi incaran kompolotan tikus. Hampir tiap hari saya kejar tikus, bahkan hingga loteng rumah. Saya kejar sampai ujung.

Ketika anakku nomor tiga lahir dan mulai jalan, saya ajarkan dia untuk membuang bangkai tikus. Bukan lagi jadi pemburu tikus. Ketika ada tikus mati di jalanan–dimana orang males untuk buang–saya ajak anakku untuk angkat pakai plastik dan buang di pantai. Setidaknya, dia cepat hilang ketika dimakan oleh makhluk di laut.

Kini, perburuan tikus membawa saya untuk menemukan kembali buku Robbins. Di pagi hari, saya lihat buku itu yang bersusun dengan Bulughul Marom, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Atsqolani, yang diterjemahkan Ulama Persatuan Islam, A. Hassan dari Bandung. Mataku terpaku pada kata “raksasa.” Apanya yang raksasa dalam diri kita? Coba saya renungkan.

Beberapa hari lalu, anakku yang nomor tiga bercerita soal black hole, lubang hitam di alam semesta yang menyerap benda-benda langit. Dia juga menceritakan bagaimana besarnya alam ini, bahwa di balik satu galaksi ada galaksi lainnya. Dan seterusnya. Di situ, kita, manusia di bumi ini jadi terlihat sangat kecil. Kayak partikel yang tak berharga. Tapi, karena kita manusia yang diciptakan sempurna, maka di situlah modal kita untuk tirakat jadi sempurna.

Saya jadi teringat dengan Nissa Sabyan, soal membangkitkan raksasa dalam diri. Perempuan 21 tahun itu dikenal sebagai penyanyi gambus dan vokalis Sabyan. Karya-karyanya tersebar dimana-mana. Orang-orang suka, bahkan tak jarang ada video di Youtube yang menjadikan lagunya sebagai pendukung video tersebut.

Grup tersebut mulai dikenal publik ketika membawakan lagi islami dan sholawat Nabi. Setidaknya, itu mulai 2017. Ada info, bahwa band mereka awalnya dibuat untuk acara-acara kawinan. Memang pas banget sih, tapi kemudian digemari banyak orang. Jiran Malaysia juga menyukainya saya kira.

Personelnya terdiri dari Khoirunnisa alias Nissa (vokalis), Anisa Rahman (vokalis dua), Ayus (kibor), Kamal (pemain gendang), Tebe (pemain biola) dan Sofwan (MC). Kumpulan lagu sholawat yang paling populer dibawakan mereka, di antaranya Ya Maulana, Deen Assalam, Ya Jamalu, Law Kana Bainanal Habib, Ya Habibal Qolbi, Rahman ya Rahman, Ya Asyiqol Musthofa, Ahmad Ya Habibi, Ya Taiba, Qomarun, Assalamualaika ya Rasulullah dan lainnya.

Info lainnya, Grup Sabyan Gambus itu viral banget setiap mengeluarkan video. Selalu jadi trending. Penontonnya yang mencapai puluhan juta bukan hanya dari Indonesia saja melainkan juga dari luar negeri. Tampil berbeda, grup asal Jakarta ini mengusung tema musik gambus dari Timur Tengah yang dipadukan dengan syair yang ramah dan ‘sopan di telinga’. Kemasan dan aransemen yang lebih kekinian dan khas itu, menghadirkan musik gambus yang berbeda, unik, dan bikin nyaman.

Beberapa kali bawa materi soal ‘milenial muslim’ atau bedah buku, saya kerap menjuluki Nissa Sabyan sebagai ‘Queen of Religious Music’, atau ‘Ratu Musik Religius’, karena dampaknya yang massif–setidaknya beberapa tahun terakhir. Dia gabungkan tiga hal: Arab, milenial, dan Indonesia. Satu hal yang kerap menghantui saya adalah soal popularitas di usia dini. Jika tidak dikelola secara baik, popularitas yang dini kadang menggerogoti hal-hal personal lainnya. Usia yang seharusnya lebih santai, menjadi terbatasi karena harus menjaga imej, misalnya.

Di usia tersebut, anak-anak umumnya ingin share apa saja yang mereka ingin share. Tapi, di tengah popularitas yang meninggi, mereka jadi terbatasi. Semua demi citra dan promo–bisnis. Akhirnya, terbatasi. Tapi, itu juga bagus untuk kepentingan bisnis.

Produktivitas Nissa Sabyan sesungguhnya dapat kita pelajari dari bagaimana dia mengembangkan minatnya pada musik. Awalnya dia bukan siapa-siapa, kemudian jadi sesuatu. Ketika jadi sesuatu, semua orang ingin tahu, ingin dapat info, bahkan ingin menceritakannya.

Di tangan Nissa Sabyan, musik bernuansa padang pasir kini menjadi penawar hati orang modern. Kecintaan terhadap Nabi jadi meningkat lewat syairnya. Orang jadi banyak makin cinta kepada agama setelah mendengarkan lagunya tersebut. Apa yang disenandungkan dari hati, jatuh juga ke hati. Gerak hati memang tidak bisa dipaksa, dia hanya bisa dikontrol.

Lagu ‘Deen Assalam’ terkait toleransi dalam Islam, karya Sulaiman Al-Mughni, yang sebelumnya populer di Saudi Arabia, menjadi sangat indah ketika dibawakan suara Nissa yang lembut. Terjemahan syair tersebut adalah:

Seluruh bumi ini akan terasa sempit
Jika kita hidup tanpa toleransi
Namun jika hidup dengan perasaan cinta
Meski bumi sempit kita kan bahagia
Melalui perilaku mulia dan damai

Sebarkanlah ucapan yang manis
Hiasilah dunia dengan sikap yang hormat
dengan cinta dan senyuman
Sebarkanlah di antara insan
Inilah Islam agama perdamaian

Di Youtube Official Sabyan Gambus, 6,89 juta subscribers, beberapa netijen berkomentar terkait sisi positif lagu ini bagi mereka. “Lagu ini bikin gue merinding,” kata Fauzi Omi. Terkait gosip yang lagi ramai, Runi Kurniawati menulis, “Saya juga gak pernah peduli gosip, yg penting karya-nya asik. Kita dengar lagu barat juga gak pernah ngerti pribadi mereka, yg penting lagunya bagus dan enak didengar.”

Lagu Sabyan lainnya, ‘Ya Maulana’, mengandung nasihat yang sangat baik. Berikut adalah petikan syairnya:

Dengan kasih-Mu Ya Rabbi, berkahi hidup ini
Dengan cinta-Mu Ya Rabbi, damaikan mati ini
Saat salah ‘ku melangkah, gelap hati penuh dosa
Beri ‘ku jalan berarah, temui-Mu di Surga

Terima sembah sujudku, terimalah doaku
Terima sembah sujudku, izinkan ‘ku bertaubat

مَولاَنَا يَامَولاَنَا يَاسَامِع دُعَانَا
مَولاَنَا يَامَولاَنَا يَاسَامِع دُعَانَا
مَولاَنَا يَامَولاَنَا يَاسَامِع دُعَانَا
مَولاَنَا يَامَولاَنَا يَاسَامِع دُعَانَا

Saat salah ‘ku melangkah, gelap hati penuh dosa
Beri ‘ku jalan berarah, temui-Mu di Surga
Terima sembah sujudku, terimalah doaku
Terima sembah sujudku, izinkan ‘ku bertaubat

Syair-syair itu indah dan mengajak pendengarnya untuk makin dekat kepada-Nya. Tak ada yang bisa mengklaim bebas dari dosa, akan tetapi semangat untuk terus berusaha melangkah ke jalan yang benar harus terus diperjuangkan–oleh siapa saja, personil gambus tersebut, dan untuk kita semua.

Dalam lagu ‘Allahul Kafi’ yang cukup populer di TikTok punya makna yang bagus. Lagunya mirip lagu ‘Indung-Indung kepala lindung.’ Lirik lagu ini dibuat Ayus Sabyan, dipopulerkan Nissa Sabyan feat Fitriani dengan syair berbahasa Arab-Indonesia. Syairnya sebagai berikut: “Kita hidup di zaman sekarang. Banyaknya orang lupa Tuhan. Facebook dan Youtube jadi tuntunan. Lupa mengaji lupa Al-Qur’an. Jangan salahkan orang tua bila kita masuk neraka. Kita yang jauh dari agama. Amal ibadah pun tak ada…Harta tak akan dibawa mati. Bersedekah perbanyak rizqi. Lapangnya hati bila berbagi. Insya Allah berkah menanti.”

Lagu-lagu tersebut punya makna yang baik, dan kita bisa lebih produktif mengambil i’tibar dari syair tersebut.

Di sini, Nissa Sabyan yang sebelumnya bukanlah siapa-siapa, kemudian terkenal, dapatlah menjelaskan soal perjalanan hidup manusia. Dalam konteks keberhasilan perempuan kelahiran Lumajang, 23 Mei 1993 tersebut dalam optimalisasi ‘raksasa tidur’ alias potensi dirinya patut untuk dipelajari, bahkan diapresiasi. Jika pun ada salah, jemaah netijen bisa berpatokan pada prinsip ini: “Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan.”

Dan, jika ada khilaf, yang sangat mungkin terjadi ke semua orang, syair ini bisa jadi pengingat untuk semuanya:

Terima sembah sujudku, terimalah doaku
Terima sembah sujudku, izinkan ‘ku bertaubat
[]

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *