Uang Panaik

  • Whatsapp

Oleh: Arma Zaida

Kemana Aku Pulang

Read More

Ujung sungai ini telah senja

Tumbuh batu bertulang sepi

Menyesap mata air air mata  kehidupan

Ladang-ladang berpesta

Menyisakan luka yang ramai

Jejak kaki kanak tak ketemu lagi

Tepi bukit itu kini adalah keping-keping kesedihan

Kita rupanya telah di kepung

Beton yang tamak

Berjejak di tiap tikungan masa

“Kau lihat sawah itu, kawan? “

Itu kuburmu kelak

Siapa kita?

Ada yang lucu

Tapi seru

Di televisi

Sore tadi

Kamu bilang, “ayo kritik!”

Biar kita kuat

Lalu makin maju

Moderen

Sampai lupa

sejarah kampung sendiri

Dia balas “kalau mengkritik, tak dilapor polisi?”

Sederhana tanya itu

Tapi rumit sungguh sulit

Jawaban yang terlempar

Sahut menyahut

Makin buat pusing

Nelangsa hati dibuatnya

Mereka berkata “tolong kami”

Tapi kita masih

Sibuk berdebat

Tentang pelita

Yang ditiup angin

Ah aku tak tahu,

Aku hanya penonton

Di sudut kamar

Tak berjendela

Uang Panaik

melukis senyummu dalam diam

tak mampu memadamkan bara telah ranum

pun hasrat yang kepalang tanggung

hendak memetik kelopak

menggantung ragu di sudut kamarmu yang kerontang

Lalu aku melangkah ke anak tangga pertama

di saorajamu,

agung dengan atap bertingkat tujuh

seolah tabir membungkus dupa dupa

mengaburkan rupa rupa

Kaki tersandung di langkah ketiga

atau penghabisan kiranya

uang panaik tak mampu turun hingga halaman depan

menguburkan cinta

lalu melahirkan dendam

Aku bisa apa…

Musim

musim tanam telah lewat

tugasku masih panjang perjalanan

menanam kebaikan diantara ilalang

menyuburkan fitrah belajar

kalian yang seolah tak beradab

termakan zaman

bulir padi mulai mengintip malu

Tapi aku tertunduk pilu

kabarmu yang lalu

mengoyak kalbu

rupanya kau menggores tabu

hingga ujung kampung bertalu talu

jadi guru sungguh payah

beban telah melewati batas

tak lagi ‘semakin berisi semakin merunduk’

perjuangan masih sambung menyambung

hingga musim panen akan datang.

Dari Sudut Laguna

dari sudut laguna

ada langit bercengkrama

pada senja yang terpasung matahari

menebar jingga

hingga bias ombak samudera

bertepuk di tepian pasir

tak berbutir

dari sudut laguna

kutantang angin

melayangkan auraku pada pulau terjauh

agar ranting di sampingku, tunduk malu

dan cahaya luruh

di ujung senyumku

dari sudut laguna

kutikam rembulan yang malu

bagai sabit kabur

dengan segenggam doa sayu

agar laguna ini tak pernah ada.

Arma Zaida. Seorang guru yang menyukai dunia parenting dan tulis menulis. Pernah aktif di FLP (Forum Lingkar Pena). Kini mengemban amanah sebagai wakil direktur bidang parenting RPI.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *