Jangan Parno

  • Whatsapp

Oleh: Andi Tenri Dala*

Putri melihat ponsel dengan senewen. Di whatsApp group keluarga besarnya itu Esih, sepupunya mengumumkan akan melangsungkan perkawinan tiga minggu lagi di Bandung. Bertubi-tubi balasan dari anggota keluarga membalas dengan mengucapkan selamat kabar bahagia itu.

Bukan ucapan selamat bertubi-tubi yang membuat Putri senewen. Bukan juga kenyataan sepupunya yang empat tahun lebih muda dari dia tapi akan lebih duluan kawin.

Insya Allah akan ada resepsi dengan seratus ratus undangan. Semoga semua bisa datang, pesan dari Esih di grup.

Seratus orang bukan jumlah sedikit. Apalagi saat pandemi begini tidak dianjurkan berkumpul. Seperti perkawinan yang Putri tahu selama beberapa bulan terakhir ini, hanya mengundang keluarga inti dan beberapa kerabat.

Dering telefon rumah membuyarkan lamunan Putri.

“Siapa yang telefon?” tanya Ibu dari dapur. “Tolong dijawab dulu nak. Kalau cari Ibu bilang masih masak untuk katering klinik.”

Putri menjawab setelah deringan ketiga. “Assalamu’alaikum.”

Terdengar suara Esih dari seberang,”Wa’alaikumsalam. Kak Putri, Ibu ada?”

“Esih, selamat ya. Semoga acaranya lancar. Ibu masih selesain masak nih untuk katering.”

“Terima kasih kak. Aku mau izin sama tante untuk bersedia hadir di akad dan resepsi.”

Lalu Esih asyik bercerita tentang rencana perkawinannya. Juga tentang baju seragam, souvenir, sewa tempat ruangan dan lain-lain.

Putri sulit konsentrasi menangkap semua pembicaraannya. Putri tinggal di Jakarta dan Esih beserta keluarga besarnya di Bandung. Jika Putri tinggal di Bandung saja pasti ia masih segan ke acara perkawinan mengundang banyak tamu di saat pandemi begini. Apalagi beda kota. Tidak terbayang harus naik kereta yang berarti berada di tempat keramaian.

Malamnya Putri dan Ibu makan malam sambil nonton berita di TV.

“Heran, hari ini kok orang-orang masik suka ngumpul. Seperti gak sadar saja masih covid,”kata Ibu mengomentari sebuah berita. “Bagaimana mau selesai pandemi.”

Tampak liputan tentang seorang pengusaha muda di Pekanbaru merayakan ulang tahun di rumahnya yang luas sampai bisa menampung hampir lima puluh tamu. Di tengah-tengah acara dibubarkan oleh polsek setempat.

            Putri jadi teringat dengan pembicaraan di telefon tadi pagi dengan Esih. Pelan-pelan Putri menginformasikan kemungkinan ia dan Ibu tidak datang tapi mereka akan dengan senang hati membantu mengirim makanan untuk akad nikah.

            Tidak disangka nada bicara sepupunya langsung berubah.

            “Ya ampun kak, masa gara-gara covid gak datang? Jangan parno deh. Kalo parnoan malah beneran sakit. Di sini kehidupan normal-normal aja kok. Gak kayak di sana.”

            “Bukan begitu. Kamu kan tahu Ibu ada darah tinggi. Harus dijaga.”

            Putri selalu ingat, penderita Covid dengan penyakit penyerta bisa menderita lebih parah.

            “Biasa aja deh sama pandemi. Gak usah lebay,”kata Esih sebelum mengakhiri percakapan.

            Untung Ibu sepakat dengan Putri untuk tidak pergi.

            “Nanti kita bisa kirim bunga dan kue untuk acara akad,”kata Ibu. “Tidak usah memaksakan ke sana. Ibu akan bicara baik-baik dengan kakak dan Tini.”

            Putri merasa berat juga sebenarnya. Ibu bertiga saudara. Bapak Esih paling tua, Ibu anak kedua, lalu tante Tini si bungsu yang sangat dekat dengan Putri.

            Tantenya itu sudah janda seperti Ibu. Sebelum pandemi Putri sering berkunjung ke rumahnya. Putri kasihan tante Tini lebih sering berdua di rumah dengan pembantunya yang selalu dipanggil Bibik. Krisna, anak tante Tini, bekerja sebagai polisi dengan jam tugas sangat padat sehari-hari.

            Rasanya kangen sekali dengan tante Tini yang selalu membelikan jajanan enak sejak Putri masih kecil. Mungkin mereka bisa bertemu di acara perkawinan Esih tapi rasanya nasihat Ibu sudah paling tepat.

            “Tidak usah pikirkan omongan orang lain kalau bertentangan dengan hati kamu. Pasti mereka kecewa tapi bisa melakukan apa kalau ada apa-apa dengan kita.”

            Ibu menekankan kata apa-apa. Putri bergidik membayangkan jika ia terkena covid dan dirawat di RS. Tidak ada keluarga datang berkunjung.

            Putri tidak menceritakan semua pembicaraannya dengan Esih. Jangan sampai Ibu ikut emosi. Tapi kata-kata Esih tajam sekali.

            “Dulu keluarga aku sudah bantu dengan maksimal waktu om sakit. Masa kamu gak mau datang hanya karena alasan sepele, covid?”

            Nah lho, kenapa sekarang bantuan keluarga sepupunya itu ke Bapak harus disebut-sebut ya? Batin Putri.

            Putri tidak akan melupakan betapa baik hati Bapak Esih kepada adik iparnya saat sakit kanker dan di-PHK dulu. Seperti tanpa pamrih memberi bantuan secara materi dan moril sampai Bapak dipanggil Yang MahaKuasa.

Di hari perkawinan Esih, Putri dan Ibu berusaha menyibukkan diri untuk menghilangkan rasa tidak enak karena tidak hadir. Ibu sudah menelefon kakaknya. Putri tidak tahu apa tanggapan pamannya itu. Tapi dari raut wajah Ibu saat menutup telefon Putri bisa menebak apa tanggapan pamannya.

            Malam hari Debi sahabat Putri menelefon. Pas sekali. Di saat sedang murung paling tepat mendengar ocehan Debi yang susah diberhentikan. Tepatnya ia bermonolog sedangkan Putri sebagai pendengar.

            “Tahu nggak sih Put? Tadi pagi aku ke kawinan teman. Ampun deh, gak lagi aku ke acara-acara gitu. Tamunya banyak. Ngga ada tuh namanya protokol kesehatan. Pada nggak pakai masker meski sedang tidak makan. Semua pada deket-deketan waktu ngobrol dan foto-foto.”

            Putri bergidik membayangkan. Iya kalau sirkulasi udara di sana bagus, bagaimana kalau tidak?

            Cerita Debi tadi membesarkan hati Putri di hari-hari berikutnya meskipun di grup keluarga Esih masih terang-terangan menyindirnya karena tidak hadir di acara kawinan karena alasan takut tertular covid.

***

            Putri sudah berada dalam kereta. Sulit dipercaya begitu cepat semua terjadi. Diingat tadi pagi saat ia sedang berusaha menyelesaikan terjemahan yang dikerjakan sejak subuh, Ibu memanggil.

            “Putri. Putri,” Ibu terdengar panik. “Dek Tini sedang sakit. Ia lemas dan tidak mau makan. Aduh ada apa ya dengan dia? Ibu khawatir sekali. Mana Krisna sedang keluar kota. Tadi Bibik mengabari.”

            Dalam waktu beberapa jam saja ia sudah di kereta dalam perjalanan ke Bandung. Semua rasa takut berada di kerumuman dan tes antigen bisa dikalahkan semua. Tetap saja ia khawatir. Bagaimana kalau ia malah membawa penyakit untuk Tante Tini?

            Sampai rumah Tante Tini Putri menaruh tasnya di teras. Ia akan bersih-bersih dulu sebelum ketemu Tante.

            Tidak disangka dilihat Tantenya sedang bangun dan nonton TV. Sementara sejak di Jakarta ia sudah membayangkan Tantenya itu terkapar tidak kuat bangun meninggalkan tempat tidur.

            “Tante tidak istirahat di kamar saja?” tanya Putri setelah mengucapkan salam.

            “Ibu langsung bangun dan mau makan waktu tahu Putri akan datang,”kata Bibik terus berbisik. “Sepertinya dia kangen sama nak Putri.”

            Benar kata Bibik, Tante Tini seperti tidak terlihat sakit. Putri disuruh makan siang sementara jam sudah menunjukkan jam dua siang. Tante Tini ikut menemani makan. Senang rasanya bisa bertukar banyak cerita secara langsung setelah sepuluh bulan tidak bertemu. Selesai makan Tante Tini istirahat di kamar.

            Putri ingin menggunakan sisa waktu sore itu silaturahim ke rumah pamannya. Apalagi tadi Tante cerita kalau setelah menikah Esih dan suaminya masih tinggal di rumah orang tuanya karena rumah baru mereka masih direnovasi.

            Aku akan minta maaf baik-baik ke Esih dan keluarga, Putri membatin terus selama perjalanan ke rumah Esih. Insya Allah mereka mengerti dan memaafkan aku dan Ibu karena tidak hadir di kawinan Esih.

            Sampai di rumah Esih tidak terlihat pintu atau jendela dibuka seperti biasa dilakukan keluarga itu sebelum magrib.

            “Assalamu’alaikum,”seru Putri. “Paman, Bibi, punten. Esih.”

            Tidak ada jawaban.

Mungkin mereka sedang jalan-jalan, duga Putri. Apa besok saja kembali lagi ke sini? Khawatir Tante Tini bangun dan mencari aku.

Baru Putri hendak memesan ojol tampak seorang perempuan lewat.

“Cari siapa?” tanya dia dengan tatapan curiga.

“Saya keponakan Pak Cahya. Mau silaturahim tapi dari tadi tidak ada yang jawab.”

“Lho, bener kamu keluarganya?” tanya perempuan itu masih dengan tatapan curiga. “Memang tidak tahu kalau mereka lagi sakit?”

“Astaghfirullah, siapa bu yang sakit? Pak Cahya, paman saya?” tanya Putri. “Di mana dia? Ibu tahu? Apa dirawat di rumah sakit? Aduh, saya telefon Esih sekarang.”

Perempuan tadi sudah tidak menatap Putri dengan kecurigaan. Mungkin karena dia lihat Putri terlihat panik dan bukan orang jahat yang mau berbuat kriminal di rumah itu.

“Pak Cahya, istri, anak dan menantunya sudah seminggu kena covid. Mereka dirawat. Repot banget ya kalau satu keluarga pada sakit. Jangan-jangan mereka sebenarnya sudah lebih dari satu minggu sakit. Bisa-bisa nularin banyak orang. Duh, takut saya jadi o te ge gara-gara mereka. Habis kawinin anak langsung sakit gitu. Bagaimana ya mereka sekarang…”

Putri sudah tidak mendengar lanjutan kata-kata perempuan yang ternyata tetangga pamannya.

Sudah seminggu mereka sakit. Berarti dua minggu setelah acara perkawinan Esih.

Kenapa keluarganya itu tidak menceritakan ke ia dan Ibu?

***
Penulis adalah Pengurus DPP RPI Bidang Hukum

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment