Si Nona Muda

  • Whatsapp

Oleh: Fripamaya Muniah*

Di formulir pemeriksaan papsmear itu, aku membaca identitasnya. Nona Anna, usia 26 tahun, beranak satu—umur enam tahun. Kolom nama suami dikosongkan. Jelas saja kosong, dia seorang nona, bukan nyonya.

Permintaan pemeriksaan ditulis oleh bidan yang berpraktik di pelosok desa. Dari tanggal yang tertera, sampel papsmear itu dikirimkan dua hari lalu, dititipkan melalui bis antar kota. Biasanya kondektur bis akan mengantarkan ke alamat rumah salah satu stafku yang berada tak jauh dari terminal tepi kota. Lalu keesokan harinya, staf itu akan membawa barang tersebut bersamaan saat dia bekerja, kemudian diproses untuk bisa kuanalisis.

Seraya membenarkan kacamata bulatku yang sering merosot dari pangkal hidung, kuletakkan dengan saksama tiap slide pada mikroskop. Ada empat slide. Lazimnya bidan hanya menyertakan dua slide papsmear untuk diperiksakan. Kuamati perlahan dari balik lensa okular, segala hal yang terdapat di sana. Tidak kudapatkan apa-apa selain sel darah merah.

Kuhela napas panjang, frustrasi. Setengah jam lebih mengitari seluruh lapangan pandang mikroskopis, tidak ada yang bisa kutuliskan pada laporan.

Sebenarnya ini bukan masalah buatku. Aku tinggal menjawab bahwa kondisi sampel tidak memadai untuk dievaluasi. Kemudian stafku akan mengirimkan jawaban itu, sambil menyertakan tagihan pembayaran. Kasus ditutup.

Identitas sampel ini menarik. Hatiku tergelitik untuk mencari tahu lebih jauh.
Kuhubungi nomor telepon bidan pengirim dan mengkonfirmasikan kondisi kiriman tersebut.

“Bu, slide yang dikirim tidak bisa dievaluasi. Isinya hanya darah.”

“Iya, maaf, Bu Dokter. Saya memang kesulitan ketika mengambil sampelnya. Banyak darah keluar.”

“Apa bisa diulang lagi, Bu?” balasku.

Sunyi sesaat, tidak ada jawaban.

“Jangan khawatir biaya,” sambungku,” tidak akan saya klaim dua kali.”

Aku sempat mendengar suara tarikan napas kelegaan dari jauh sana.

“Bu, apakah Ibu kenal dengan pasiennya?” tanyaku hati-hati.

“Tidak terlalu kenal,” jawabnya, “dia tinggal di ujung desa. Saya bisa menghubunginya untuk diperiksa ulang.”

“Dia itu nona, yah, Bu?” tanyaku memastikan.”Dan punya anak satu?”

Suara yang terdengar di teleponku sedikit terkekeh menjawab pertanyaanku.

“Iya, begitulah, Bu. Memang tidak ada suami. Keluhan perdarahan pasca senggama. Sering gonta-ganti.”

Baiklah, aku mengerti. Sudah kudapatkan gambaran tentang pasien tersebut. Kerongkonganku mendadak kering, kutelan air ludah. Aku terbangun kesiangan pagi tadi, saat azan subuh sudah berkumandang, sehingga tak sempat lagi makan sahur di hari kedua puluh Ramadan ini.

Seminggu kemudian, aku menerima kembali kiriman slide papsmear dari pasien yang sama, hanya dua slide saja. Sedikit tergesa aku memasangkan slide tersebut di bawah lensa mikroskop.

Sebagai seorang patolog, aku melihat gambaran sel yang ada sebagai sesuatu yang indah: sel-sel kecil merah gelap dengan inti besar kehitaman, amat mirip dengan yang terdapat di buku ajar. Sebagai manusia, aku ketakutan dengan yang kulihat, betapa banyak ciptaan Tuhan yang tak dapat dijangkau kekuatan manusia. Sebagai ibu, hatiku mendadak ngilu membayangkan seorang anak usia enam tahun yang tidak memiliki ayah, dan mungkin sebentar lagi akan kehilangan ibu. Sebagai perempuan, aku tidak sanggup memikirkan ini sendiri.

Mendadak kepalaku berat. Sambil memijat-mijat dahi yang berkerut, kutuliskan hasil laporan: karsinoma sel skuamosa berkeratin pada hasil papsmear. Salah satu jenis kanker servik.

Aku telepon kembali bidan tersebut untuk mengabari hasil pemeriksaan.

“Dok, pasiennya barusan pindah rumah kemarin siang,” jelasnya tanpa kutanya.

“Kenapa?” Rasa penasaran memburuku.

“Dia bukan orang asli kampung ini, tinggal di bedeng kontrakan. Ada laki-laki bermobil menjemputnya, dia pamit pergi. Kami sempat bertemu.”

Entah mengapa, pikiranku berkelana tak tentu arah. Semoga dia dan anaknya akan baik-baik saja. Semoga dia mendapatkan pengobatan yang selayaknya. Semoga … Banyak semoga yang kuucapkan untuknya.

Aku segera membereskan meja kerjaku. Memastikan tidak ada yang tertinggal. Dua hari lagi Idul Fitri.

Tamat.

Penulis adalah Dokter Spesialis Patologi Anatomi dan Pengurus Bidang Kesehatan DPP RPI

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *