Puisi Abdullah Sartono; Untuk Nurani dan Pertiwi

  • Whatsapp

Oleh: Abdullah Sartono*

Wahai Nurani, dimanakah kau bersemi. Cemas diri saat kau pergi. Masihkah kau kan kembali?

Read More

Hari yang kami lalui, adalah hari yang sulit dan diliputi perih. Andai kau tau wahai Nurani aku rindu setengah mati.

Bahwa tanpamu, diri ini tak punya arti sama sekali. Bahkan jasad tanpa nurani itu seperti boneka barbie.

Nurani, darimu kami dapatkan amunisi juga inspirasi untuk hidupkan hati yang layu hampir mati.

Dengannya kami termotivasi dan bermimpi untuk gapai visi, bersama kekasih juga generasi.

Juga punya inisiasi, yang memungkinkan sinergi dan kolaborasi bersama putera-puteri negeri.

Sehingga kelak negeri ini punya sejarah tentang peradaban yang mandiri dan berdikari.

Wahai Pertiwi, negeri yang kami kagumi, masihkah ada harapan buat kami anak negeri?

Kami tak punya kontribusi untuk bangun negeri, tapi masih punya Nurani untuk cintai negeri ini.

Lalu, informasi dari nenek kami bahwa negeri ini merdeka bukan dengan mimpi.

Tapi dengan keringat dan air mata anak negeri, juga tangisan yang tak pernah berhenti. Itu bukti.

Kolaborasi anak negeri hingga kini. Tanpa upeti tak melemahkan visi, dan bagi mereka merdeka atau mati!.

Anak cucu menikmati demokrasi juga reformasi. Namun kini seolah dikebiri atas nama hak asasi.

Demokrasi, katanya dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat kembali, kini dari elit oleh elit untuk elit lagi.

Rakyat perih. Pemilik modal seakan iri atas kemolekan Pertiwi, tatapannya penuh birahi. Ngeri!

Bos pemegang saham juga korporasi, membuat aksi simpati hingga rakyat terbuai.

Namun dibelakang kami, mereka bermain mata dan mamata-matai.

Rakyat melarat dan bisa jadi gantung diri. Mati!.

Mungkin karena pertiwi ini mempesona bak bidadari dalam balutan kelambu pengantin baru.

Tanpa kompromi, syahwat politisi makin menjadi.

Padahal dulu bersumpah hidup mati bersama kami.

Setelah tampuk kekuasaan ada dalam genggamannya, kini ia berbalik arah ludahi sambil berlari.

Menteri, deputi, direksi ramai berinvestasi, bersama elit bosnya korporasi, rakyat kecil tau apaan sih.

Dengan bos korporasi berdasi ia berbudi bakti, dengan rakyat miskin tak menaruh simpati sama sekali.

Sudahlah menangis, kan gak dikasihani, mending munajat pada ilahi agar diberkahi.

Summary keputusan yang lahir dari semangat teori konspirasi seolah dipaksakan untuk aplikasi.

Kelak nyesakkan dada dari nurani yang dilockdown, diinjak dan akal sehat yang di bungkam juga disterilisasi.

Percayalah! Dikemudian hari akan digores oleh generasi dan sejarah sebagai atsar putusan yang antipati.

Raja! Hargailah Nurani sebagai anugerah Ilahi. Sehingga tak dituduh sebagai pecundang bagi pertiwi.

Cukup kau campakkan hati rakyat wahai politisi. Kamu tentu punya akal sehat dan hati nurani.

Kini keterbukaan informasi, semua rakyat terkonfirmasi.

Cukuplah diksi ambigu sejati bagi kami!.

Ingatkah tentang sejarah reformasi?

Saat rakyat menduduki parlemen tinggi. Ah semua dah terlewati.

Sebelum terlambat dan penyesalan yang abadi, juga rakyat berpikir untuk revolusi, bisa jadi gulingkan tirani!.

Narasi tak berisi dan mungkin katamu halusinasi, tapi ini naluri qalbi yang tak terbendung lagi.

Semoga memberikan kesaksian pada rabbul izzati.

Tuhan pasti menjadi saksi sejati. Kesaksian yang tak perlu interpretasi.

Kalaulah puisi ini tak berarti sama sekali.

Minimal menjadi penawar lara untuk hati yang tersakiti.

Pasangkayu, 15 Februari 2021

*Penulis adalah Pengurus Pusat Rumah Produktif Indonesia

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *