Takluknya Kerajaan Gowa di Tangan Belanda dan Arung Palakka

  • Whatsapp

Oleh: Ridwan Jasmawi*

Perang Galesong pada tahun 1667 adalah perang yang sangat monumental bagi perubahan alur sejarah di Sulawesi Selatan, termasuk sejarah Kolonial. Pasukan Gowa yang di nahkodai Sultan Hasanuddin dan Sultan Alauddin yang terkenal sangat kuat akhirnya takluk. Termasuk salah satu pasukan dari tanah jazirah Mandar, kerajaan Balanipa tewas terbunuh oleh kekejaman zionis Compani Belanda.

Read More

Perang berakhir dengan di tanda tanganinya perjanjian Bungaya. Perang ini juga bisa di katakan sangat monumental bagi tanah Mandar. Di sini, pertama kali pasukan dari tanah Mandar ikut ambil bagian melawan Belanda yang mendukung kerajaan Bone. Kerajaan dari tanah Mandar mengirim pasukannya yang diberi nama pitu babana binanga yang tergabung dalam seluruh komponen kerajaan yang ada di Mandar termasuk Kerajaan Balanipa, Kerajaan Sendana, Kerajaan Pamboang, Kerajaan Mamuju, dan Kerajaan Tappalang.

Keterlibatan kerajaan Mandar membantu dalam perang galesong melawan Belanda, itu bagian dari hubungan diplomatik dan emosional antara kerajaan Gowa dan Balanipa. Sebagaimana yang populer dalam sejarah Mandar, pimpinan kerajaan Balanipa pertama adalah keturunan bangsawan Mandar dan dia di besarkan di Gowa. Dia menjadi salah satu pimpinan perang dalam ekspedisi kerajaan Gowa. Dan pernah memimpin delegasi Kerajaan Gowa ke Padang Pariaman (sekitar tahun 1550 M) dan ikut berperang di Pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat (NTB). Inilah kemudian menjadi relasi politik antara Gowa dan Mandar sehingga memunculkan ikrar persaudaraan dalam lontara Mandar berbunyi:

Mua’ tittiroko’ I manu’ Gowa, mai le’ba pellinge’ mandar, mua’ ingganado’o Ma’assar. Iyanna diang namasussai Mandar inganna gassinna Gowa nametturundoi.

Artinya: Jika ayam jantan berkokok di Gowa, engkau Mandar, harus menjenguknya, meski hanya sampai Makassar saja. Jika ada yang menyusahkan Mandar, seluruh kekuatan tanah Gowa akan turut membelanya.

Perang Galesong terjadi pasca ikrar persaudaraan ini, Raja Balanipa kala itu adalah Tomatindo di Buttu dan Raja Mamuju Tomatindo di Puasanna. Ketika Belanda mengatur amunisi bekerja sama dengan Arung Palakka (Bone) untuk menghancurkan Sultan Hasanuddin dan kawan-kawan, berita ini sampai dan terdengar oleh Raja Balanipa (Mandar).

Alhasil, Raja Balanipa mengadakan rapat dan mengundang seluruh unsur  kerajaan di tanah mandar, sampai memutuskan untuk memberangkatkan pasukannya yang diberi nama pasukan pitu babana binanga untuk membantu Sultan Hasanuddin yang dikeroyok oleh Belanda bersama Arung Palakka.

Pasukan yang berjumlah 240 orang yang tergabung dalam lima kerajaan yaitu Balanipa, Pamboang, Sendana, Mamuju, Tappalang. dan terbagi atas enam perahu yang masing-masing kerajaan menyiapkan satu perahu yang berjumlah 40 orang pasukan kecuali Balanipa menyiapkan dua perahu.

Rencana semula, pemberangkatan dilakukan bersama-sama. Tetapi, kondisi cuaca di laut Makassar sangat buruk, hingga di putuskan yang berangkat terlebih dahulu adalah dua perahu pasukan kerajaan Balanipa yang memuat 80 orang pasukan dibawa pimpinan Tomatindo di Buttu Raja Balanipa.

Karena cuaca buruk dan angin terlalu kencang, kedua perahu ini terpisah. Dan ternyata yang terlebih dahulu tiba di Pulau Salemo (Pangkep) adalah perahu yang ditumpangi oleh Raja Balanipa. Sementara berlabuh di pelabuhan Pulau Salemo, tiba-tiba Arung Palakka dan pasukannya  bersenjata lengkap datang menemui Raja Balanipa untuk menghasut agar bersama-sama menghancurkan Sultan Hasanuddin.

Tidak berselang lama, setelah percakapan mereka berdua usai dan Arung Palakka kembali ke perahunya, pasukan yang terpisah akibat angin kencang tiba dengan selamat di Pulau Salemo yang di dalamnya tergabung dewan Hadat Balanipa.

Mengenai hasil dialog antara Raja Balanipa dengan Arung Palakka untuk bersama-sama memukul Gowa. Hadat Balanipa sangat keberatan dan menolak keras bahkan Raja Balanipa di ancam akan di pecat menjadi Raja jika melanjutkan kesepakatan tersebut. Hingga pada akhirnya lahir kesepakatan baru yaitu membatalkan hasil pembicaraan dengan Arung Palakka  dan kembali pada kesepakatan semula sebelum meninggalkan Mandar yaitu bersama-sama laskar Gowa-Makassar melawan Belanda bersama Arung Palakka.

Perang Galesong adalah perang yang sangat dahsyat. Kekuatan Raja Bone plus dukungan dari Belanda membuat kerajaan Gowa tersungkur dan kalah. Bahkan seluruh pasukan Balanipa yang di kirim dua perahu termasuk Raja Tomatindo di Buttu tewas terbunuh. Pasukan pitu babana binanga dari empat kerajaan lain tidak sempat ikut berperang karena terlambat, mereka tiba ketika Gowa telah takluk dan seluruh pasukan Balanipa telah gugur.

Sumber: Buku Sejarah Benteng Kajumangibang

Penulis adalah pengurus DPP Humas RPI yang saat ini melanjutkan Study di salah satu Perguruan Tinggi di Makassar.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *