Habaib di Mata Ulama dan Penjelasan dalam Al-Qur’an

  • Whatsapp

Oleh: Muhammad Alwi Taufik*

Habib adalah gelar kehormatan yang ditujukan kepada para keturunan Nabi Muhammad ﷺ yang tinggal di daerah lembah Hadhramaut, Yaman; Asia Tenggara; dan Pesisir Swahili, Afrika Timur. Di Indonesia, habib semuanya memiliki moyang yang berasal dari Yaman, khususnya Hadramaut.

Read More

Berdasarkan penjelasan dari organisasi pencatatan keturunan Nabi Muhammad SAW, Rabithah Alawiyah, habib berasal dari kata habaib, yang artinya adalah keturunan Rasulullah yang dicintai.

Keturunan Nabi Muhammad itu ada dari Sayyidina Husein disebut Sayyid dan Sayyidina Hasan yang disebut Assyarif. Keduanya keturunan dari Sayyida Fatimah binti, Muhammad dengan Ali bin Abi Thalib.

Belakangan ini banyak diantara kita yg kurang menghargai para Habaib hanya karena beranggapan mereka manusia biasa yang bisa berbuat salah dan dosa. Ucapan mereka yg ini benar adanya. Namun menjadikannya sebagai alasan bahwa para Habaib sama persis dengan orang kebanyakan yg bukan keturunan Baginda Rasulillah Shollallahu Alaihi Wa Sallam adalah bagian dari ketidak pahaman mereka terhadap maqom dan derajat Ahli Baiti Rasulillah Shollallahu Alaihi Wa Sallam.

Berikut ini adalah beberapa dalil dari Al-Qur’an, Hadits, Atsar dan Maqolah para Ulama tentang wajibnya cinta terhadap Ahlul Bait dan keutamaan mereka.

1.Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al-Qur’an

‎قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ

Katakan olehmu Muhammad, aku tidak akan meminta apa apa dari kalian kecuali kecintaan kalian kepada keluargaku. [As-Syuro: 23]

Dalam ayat ini dengan tegas ALLAH سبحانه و تعالى memerintahkan Baginda Rasulillah صلى الله عليه و سلم supaya menyampaikan kepada ummat agar mereka tidak membalas apa apa terhadap apa yg dilakukan Beliau dari risalah yg Beliau sampaikan kecuali mencintai anak cucu Beliau.

2.Sabda Baginda Rasulillah Shollallahu Alaihi Wa Sallam

‎أَدِّبوا أولادَكم عَلَى ثَلاَثِ خِصَالٍ حُبِّ نَبِيِّكُمْ ،َحُبِّ أَهْلِ بَيْتِهِ، وحبّ القرآنِ

Ajarilah anak anak kalian tata krama atas tiga hal : Cinta pada Nabi kalian, cinta pada anak cucunya dan cinta Al-Qur’an. [Ad-Dailami, Musnad Al-Firdaus, juz 1 hal. 24].

Dalam riwayat yg lain Beliau bersabda :

‎لِكُلِّ شَيْئٍ أَسَاسٌ وَأَسَاسُ الإِسْلاَمِ حُبُّ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَأَهْلِ بَيْتِهِ

Setiap sesuatu ada fondasinya dan fondasi Islam adalah cinta kepada Baginda Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam dan keluarganya. [Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyqo, juz 43 hal. 241dan Ibnu An-Najjar pada pinggirnya Tarikh Baghdad].

Setelah membaca Hadits ini, masihkah orang orang yg membenci para Habaib merasa kokoh fondasi agamanya ? disaat salah satu fondasi utamanya yaitu cinta kepada anak cucu Baginda Rasulillah صلى الله عليه و سلم sudah roboh ?

Dalam riwayat Al-Hafidh As-Suyuthi, Baginda صلى الله عليه و سلم banyak memberikan penjelasan tentang bagaimana kita memperlakukan anak cucu Beliau, Ahlul Bait.

‎مَثَلُ أَهْلِ بَيْتِي مَثَلُ سَفِيْنَةِ نُوْحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ ، وَاَنَّ مَنْ تَمَسَّكَ بِهِمْ وَبِالْقُرْآنِ لَمْ يَضِلَّ ، وَأَنَّهُمْ أَمَانٌ لِلْأُمَّةِ مِنَ اْلإِخْتِلاَفِ وَأَنَّهُمْ سَادَةُ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَأَنَّ اللهَ وَعَدَ أَنْ لاَ يُعَذِّبَهُمْ وَأَنْ مَنْ أَبْغَضَهُمْ أَدْخَلَهُ اللهُ النَّارَ وَلاَ يَدْخُلُ قَلْبَ أَحَدٍ الإِيْمَانُ حَتَّى يُحِبَّهُمْ لِهََِْ وَلِقَرَابَتِهِمْ مِنْهُ صلى الله عليه وسلم وَأَنَّ مَنْ قَاتَلَهُمْ كَانَ كَمَنْ قَاتَلَ مَعَ الدَّجَّالِ وَأَنَّ مَنْ صَنَعَ اِلَى اَحَدِهِمْ يَدًا كَافَأَهُ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Perumpamaan anak cucuku bagaikan perahu Nabi Nuh عليه سلام, orang yg menumpanginya akan selamat sementara yg tertinggal akan tenggelam. Dan barang siapa yg berpegang teguh kepada ajaran mereka dan Al-Qur’an maka tidak akan sesat. Merekalah yg mengamankan ummat dari pertikaian dan merekalah pimpinan penduduk surga. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berjanji tidak akan menyiksa mereka dan barang siapa yg membenci mereka akan dimasukkan kedalam Nereka, dan tidaklah keimanan akan masuk kedalam hati salah satu ummat sampai ia mencintai mereka karena Allah dan hubungan kekerabatan mereka dg Baginda Rasulillah Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Barang siapa yg memerangi mereka sama dg perajurit Dajjal dan barang siapa yg berbuat pada mereka maka Baginda Rasulillah yg akan membalasnya kelak dihari kiamat. [As-Suyuthi, Unmudzajul Labib Fi Khosoisil Habib SAW, hal. 80]

Dengan Hadis ini, semakin jelas bagi kita ummat Islam, betapa Baginda Rasulillah Shollallahu Alaihi Wa Sallam menganjurkan kita untuk dekat dengan Ahlul Bait agar kita mendapatkan kucuran barokah mereka. Bukan hanya itu kita dilarang memusuhi dan membenci mereka karena kekerabatan mereka dengan Baginda Rasulillah Shollallahu Alaihi Wa Sallam.

Maka pantas kemudian jika Al-Habib Abdullah Bin Alawi Al-Haddad berkata :

Keluarga (anak cucu) Baginda Rasulillah صلى الله عليه و سلم yg suci adalah yg mendatangkan rasa aman untuk penduduk bumi. Mereka disamakan dengan bintang yang bersinar terang sebagaimana dijelaskan dalam Hadis.

Mereka adalah perahu keselamatan bagi ummat Muhammad tatkala mereka ditimpa badai musibah yg menyakitkan. Mencari selamatlah (kalian) dg masuk kedal perahu itu dg selalu berpegang teguh pada Allah dan meminta ma’unahnya. [Al-Habib Zain Bin Ibrahim Bin Smith, Bahjah At-Tolibin, hal. 29]

3.Maqolah Sayyidina Abu Bakar Rodiyallahu Anhu

‎والذي نَفْسي بيده لَقَرابةُ رسولِ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ إليَّ أَنْ أَصِلَ مِنْ قَرَابَتِي

Demi Dzat yg jiwaku berada digenggaman tangannya, Kerabat Rasulillah lebih aku senangi untuk aku sambungi dibandingkan keluargaku sendiri. [HR. Bukhari no. 7835]. Dalam kesempatan lain Beliau berkata :

‎أُرْقُبُوا مُحمَّدًا فِى أَهْلِ بَيْتِهِ

Perhatikanlah Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم didalam anak cucunya. [HR. Bukhari no. 3509]. Adapun makna lafadh أُرْقُبُوا menurut Habib Zain Bin Ibrahim Bin Smith adalah رَاعُوا وَاحْتَرِمُوا yg artinya jagalah dan Muliakan. [Bahjah At-Tolibin hal. 29].

Jika makhluq terbaik kedua saja sangat mencintai Ahlul bait, bagaimanakah dengan kita ? haruskah kita memposisikan diri kita lebih tinggi dari Beliau dan merasa boleh tidak menghormati Ahlul bait ?

4.Maqolah Imamuna As-Syafi’e

‎يَا أَهْلَ بَيْتِ رَسُوْلِ اللهِ حُبُّكُمْ
‎فَرْضٌ مِنَ اللهِ فِى الْقُرْآنِ أَنْزَلَه
‎كَفَاكُمْ مِنْ عظِيْمِ الْقَدْرِ أَنَّكُمْ
‎مَنْ لَمْ يُصَلِّ عَلَيْكُمْ لاَ صَلاَةَ لَه

Wahai Ahlul Bait Baginda Rasulillah, mencintai kalian adalah kewajiban yg ditetapkan Allah dalam Al-Qur’an. Sangat cukup untuk menjadi bukti akan kemulyaan kalian bahwa orang tidak membaca shalawat pada kalian (pada tiap tasyahhud akhir) tidak sah shalatnya. [Sayyid Bakri Syato, I’anah At-Tolibin, juz 1 hal. 171]

Dari semua paparan diatas sudah jelas bagi kita bahwa mencintai Anak Cucu Baginda Rasulillah صلى الله عليه و سلم adalah wajib secara Ijmak. Dengan begitu apapun bentuk upaya kriminalisasi terhadap salah satu Ahlul bait hanya akan mendatangkan Adzab dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tulisan ini saya kemukakan kehadapan para pembaca sebagai bukti kecintaan saya kepada Ahlu Baiti Rasulillah Shollallahu Alaihi wasallam.

Dibagian akhir tulisan ini saya ingin menyampaikan sebuah cerita yg diriwayatkan banyak Ulama yaitu kisah Sayyidina Abdullah Bin Zubair Rodiyallahu Anhu. Dulu, disaat Baginda Rasulillah Shollallahu Alaihi Wa Sallam sedang berbekam datanglah Sayyidina Abdullah Bin Zubair, setelah itu Beliau diperintah oleh Baginda Rasul untuk membuang darah bekamnya. Namun darah agung tidak dibuang oleh Beliau akan tetapi diminum hingga habis. Kejadian itu diketahui oleh baginda Rasul namun Beliau tidak murka bahkan memberi kabar bahagia pada Sayyidina Abdullah Bin Zubair dg bersabda :

Tubuhmu tidak akan tersentuh api neraka. [As-Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki, Mafahim Yajib An Tusohhah, hal. 222-223]

Nah, kesimpulan dari cerita diatas adalah Jika Sayyidina Abdullah Bin Zubair yg bukan keturunan Baginda Rasul mendapat jaminan diakhirat tidak akan tersentuh api neraka hanya karena meminum darah agung tersebut, maka bagaimana kemudian dg Anak Cucu Baginda Rasul yg didalam tubuh mereka mengalir deras darah agung Baginda Rasulillah Shollallahu Alaihi Wa Sallam ? jawabannya tentu “ Mereka akan mendapatkan yg lebih dari apa yg dijanjikan kepada Sayyidina Abdullah Bin Zubair. Apalagi kepada merekalah turun QS. Al-Ahzab: 33

‎إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dari kalian wahai Ahlul Bait dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.

Jika paparan panjang diatas dianggap belum cukup sebagai hujjah wajibnya mencintai Ahlul bait maka saya tidak bisa berkata apa apa lagi kecuali

‎فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلا الضَّلالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ

Maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan, maka mengapa kamu berpaling. [Surat Yunus: 32].

‎والله أعلمُ بالـصـواب

Penulis adalah mahasiswa fakultas Agama Islam Universitas Muslim Indonesia Makassar, dan aktif di berbagai kegiatan Majelis dakwah.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *