Menyikapi Fenomena “Ghosting” Dalam Pembelajaran Online

  • Whatsapp

Oleh: Kurniadi Sudrajat*

Beberapa waktu ini kata Ghosting ramai dibicarakan khususnya di media sosial. Hal tersebut terjadi setelah terkuaknya hubungan antara putra petinggi negri ini dengan seorang wanita di negri sebrang. Hubungan yang awalnya berjalan baik namun belakangan sang pria menghilang tanpa jejak kabar dan berita. Namun saya tidak mau membahas hal itu, khawatir menyaingi lambe turah nantinya.

Read More

Definisi Ghosting
Kata ghosting sendiri sempat marak sekitar tahun 2017 bersamaan dengan maraknya fenomena kencan online pada saat itu. Secara umum kata ghosting dipakai dalam hal hubungan asmara antar seseorang. Sebagian kalangan mendefinisikan bahwa ghosting merujuk pada perilaku atau tindakan memutus komunikasi secara tiba-tiba dengan seseorang tanpa pemberitahuan atau penjelasan apapun pada orang tersebut. Sementara itu menurut Oxford dictionary ghosting ialah praktik mengakhiri hubungan pribadi dengan seseorang secara tiba-tiba menghentikan komunikasi tanpa penjelasan. Atau dalam kalimat populernya ghosting dapat diartikan sebagai “ditinggal saat Anda sedang sayang-sayangnya”. Ghosting dalam pembelajaran, mungkinkah?

Nah menurut saya fenomena Ghosting tidak hanya terjadi dalam dunia percintaan saja. Dalam dunia pendidikan online dewasa ini fenomena Ghosting juga terjadi. Berapa banyak guru yg ditinggalkan murid tanpa keterangan di tengah-tengah pembelajaran yang dilakukan secara online. Gurunya sudah berbusa-busa menjelaskan materi pembelajaran sementara diseberang sana siswanya tengah asik bermain gadget.

Pandemi covid19 merubah hampir seluruh lini kehidupan termasuk cara guru mengajar. Banyak guru yang awalnya tidak siap menghadapi hal ini, sehingga di 3 bulan awal setelah pemerintah memutuskan PJJ hampir 60% orangtua merasa pendidikan anaknya tidak berjalan atau stagnan. Menurut survey KPAI bahkan dibanyak daerah banyak anak-anak usia sekolah yang justru mengabaikan sekolahnya karena keterbatasan perangkat. Baik perangkat gadget dan jaringan. Selain keterbatasan perangkat lemahnya penguasaan guru akan teknologi juga menyebabkan siswa enggan untuk sekolah. Tidak sedikit guru yang hanya memfoto materi dan tugasnya melalui grup WA, tidak ada interaksi dua arah disana.

Hampir setahun PJJ lambat laun kompetensi guru dalam penguasaan teknologi semakin baik khususnya di kota-kota besar. Berbagai workshop, seminar dan pelatihan-pelatihan tentang teknologi pembelajaran digelar baik yang berskala daerah maupun nasional. Kini sudah banyak guru yang melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan platform virtual meeting seperti Zoom dan GoogleMeet. Siswa tidak lagi dijejali tugas-tugas tanpa penjelasan materi secara langsung dari guru. Meskipun secara online pembelajaran tatap muka melalui layar setidaknya membantu siswa memahami materi ajar yang disampaikan.

Penyakit Virtual Meeting Feetige
Namun permasalahan lain pun muncul, siswa dengan tipe belajar kinestetik cukup kesulitan beradaptasi dengan model belajar online yang mengharuskan mereka duduk lama di depan komputer. Kini setelah hampir setahun PJJ permasalahan tersebut menghinggapi hampir semua siswa. Ada kejenuhan mendalam yang mereka rasakan hingga semakin hari semangat belajar mereka semakin turun. Dan pada akhirnya membuat merek terpaksa melakukan Ghosting. Hilang dari pembelajaran tanpa respon dan penjelasan sementara namanya masih tertera di ruang Zoom atau Google Meet namun microphone dan kameranya tertutup. Dengan kata lain, meninggalkan guru saat sedang asik-asiknya mengajar. Mereka mengalami apa yang disebut dengan Virtual Meeting Feetige. Karna ternyata manusia punya batas ketahanan dalam melakukan pertemuan online.

Menurut Dr Lim Boon Leng, psikiater di Rumah Sakit Gleneagles, Singapura, tubuh dan otak manusia selalu berupaya menjaga keseimbangan atau homeostasis pada situasi ini. Hal itu terjadi karena adanya perubahan yang terjadi di otak. Perubahan aktivitas listrik di otak yang berhubungan dengan neocortex, dopamin, dan neurotransmitter menyebabkan munculnya rasa tidak nyaman sesudah meeting virtual. Ketika terlalu lama meeting dan merasa bosan, tingkat dopamin akan menurun sehingga fokus perlahan menghilang.

Sedangkan sebagai neurotransmitter, dopamin bertugas menyampaikan pesan antar sel saraf. Bersama serotonin, endorfin, dan oksitosin, dopamin dijuluki sebagai happy hormones atau hormon kebahagiaan, karena akan memengaruhi kesenangan yang dirasakan. Sementara neocortex adalah bagian otak yang dianggap paling berpengaruh pada kecerdasan sosial manusia. Lapisan setebal 2-4 milimeter itu dinilai sebagai keunggulan terbesar manusia, karena perannya dalam perkembangan fungsi persepsi, nalar, dan bahasa.

“Ketika virtual meeting menjadi membosankan, tingkat dopamin cenderung turun dan penguatan positif untuk tetap fokus pun perlahan menghilang. Dengan demikian, ada dorongan alami untuk mempertahankan tingkat dopamin dengan mencari pengalaman yang merangsang dari lingkungan sekitar,” kata Dr Lim dalam sebuah wawancaranya dengan media pada suatu ketika. Lalu, berapa lama sebenarnya siswa atau manusia pada umumnya bisa mempertahankan konsentrasi saat kelas virtual? Jawabannya ialah selama 10 menit pertama. Setelah itu, fokus mulai berkurang dan perhatian akan teralihkan ke pikiran lain. Setelah 10 menit berlalu, fokus bisa kembali hanya dalam hitungan detik saja. Namun, setelah 30 menit, siswa akan kehilangan fokus setelah 3 atau 4 menit, karena tubuh mulai merasa lelah atau lapar.

Setelah 30 menit, siswa akan mulai gelisah, memainkan alat-alat tulis, membuka chat di ponsel, atau berpindah ke layar komputer yang berbeda untuk menonton YouTube. Kemudian di menit 40 hingga 50, siswa sudah tidak bisa lagi mendengarkan kelas dengan seksama. Di sinilah siswa akan merasa ingin untuk meninggalkan meeting seperti mengambil air minum, pergi ke toilet, atau sekadar ingin meregangkan otot. Siswa sudah tidak tertarik lagi dengan kelas dan seketika menghilang seperti hantu (baca;ghost).

Lalu bagaimana solusinya?
Membuat kelas online menjadi menarik bukan lah hal yang mudah namun bukan juga tidak bisa diusahakan. Di awal PJJ saya sendiri pun merasa kalau cara mengajar saya begitu membosankan, hanya membuka kelas di depan layar, meminta siswa membuka materi yang ada di buku lalu menginstruksikanmereka untuk mengerjakan soal yang ada. Namun seiring berjalannya waktu saya mulai belajar, mencari cara untuk membuat kelas online saya sangat dirindukan oleh siswa. Diantaranya adalah dengan cara merubah format bahan ajar saya menjadi permainan-permainan virtual. Banyak ragam platform yang menyediakan hal itu, seperti kahoot, quizziz, worldwall dan lain-lain.

Selain itu, penyesuaian durasi belajar juga patut dicoba. Sebagian ahli kesehatan menyarankan agar durasi virtual meeting tidak lebih dari 45 menit. Sementara itu rata-rata 1 jam pelajaran di Indonesia sekitar 30-35 menit. Jadi guru membutuhkan waktu sekurang kurangnya 60 menit untuk menyampaikan materi ajarnya. Untuk mensiasati terjadinya Ghosting pada siswa, guru bisa memakai strategi 2-1-2-1. Maksud strategi tersebut yaitu guru membagi durasi pembelajarannya menjadi 4 bagian.

  • 20 menit pertama untuk pembukaan dan apersepsi serta mengupas tujuan belajar
  • 10 menit dilanjutkan dengan permainan yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan plus
    pembahasannya (bisa memakai quizziz agar bisa dibahas kunci jawabannya)
  • 20 menit kedua materi inti sekaligus point atau rumus-rumus penting yang harus diketahui
  • 10 menit selanjutnya free time namun terukur seperti meminta siswa untuk beranjak dari tempat
    duduknya lalu melakukan peregangan dan lainnya.
    Selain strategi pada agenda pembelajaran di atas sekolah juga bisa membuat kebijakan swiching seperti yang sekolah saya lakukan. Yaitu membagi model pembelajaran menjadi 2 jenis yaitu pembelajaran online dan mandiri. Dimana pada saat pembelajaran mandiri tidak ada pertemuan online diganti dengan siswa belajar melalui materi yang disampaikan di Google Classroom baik berupa video maupun ebook. Pada akhirnya sebagaimana tulisan saya sebelumnya, jika semua usaha telah dilakukan sebagai guru namun masih saja terjadi ghosting dalam kelas Anda maka bisa jadi Hi-Touch kita yang masih lemah terhadap murid-murid kita. Wallahu’alam.[]

Kurniadi Sudrajat (Sekjend Rumah Produktif Indonesia dan Seorang Guru SD)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *