Kembalikan Generasi Yang Hilang

  • Whatsapp

Oleh Maghdalena*

Kita semua merasakan kehilangan. Kehilangan satu momen penting dalam siklus pembentukan generasi bangsa. Kehadiran pandemi memorak-porandakan sistem pendidikan negeri ini. Ia mengacaukan segala tatanan yang telah dibuat dengan sedemikian rapi.

Read More

Lihat saja. Berapa banyak anak usia sekolah yang terpaksa belajar di rumah (SFH) namun tidak mendapatkan sesuai dengan target dan tujuan Pendidikan itu sendiri, selain kewajiban yang membuat kita kehilangan hal penting dalam proses mendidik dan menanamkan nilai-nilai?

Tak sedikit yang kesulitan beradaptasi dengan kondisi metode belajar yang serba virtual. Sebagian besar para pelaku pendidikan di negeri ini gagap. Terperangah. Bingung hendak melakukan apa.

Banyak yang kemudian menyesuaikan diri. Beradaptasi dengan cepat. Mempelajari IT tanpa kendala. Namun, lebih banyak yang tergilas. Tertatih. Kehilangan arah, yang pada akhirnya membuatnya tertinggal jauh di belakang.

Pertama-tama kita resah karena susah untuk belajar. Sulit untuk menuntut ilmu, repot mencari metode yang pas untuk mentransfer ilmu dan nilai-nilai. Lama kelamaan, generasi bangsa ini merasa nyaman tidak sekolah. Merasa baik-baik saja ketika tidak perlu belajar.

Tak sedikit yang kemudian dengan lihai menghindari kewajiban mengikuti sekolah daring. Dengan alasan jaringan internet bermasalah. Paket data habis, alih-alih mereka menggunakan ponsel atau gawainya untuk bermain game online.

Kita kehilangan generasi. Kita tertipu. Dan kita seakan terkurung dalam sebuah sangkar tak kasat mata.

Mata sabak melihat generasi yang bergelimpangan dalam kondisi pendidikan yang membingungkan. Hati gerimis melihat anak-anak yang seharusnya sekolah, namun karena keadaan, terpaksa yang harus menjadi pengemis. Jiwa kita berkecamuk. Menyalahkan keadaan. Tapi saling menyalahkan, tidak akan menyelesaikan masalah, bukan? 

Kita banyak menemukan celetukan-celetukan kekesalan. komentar-komentar miring mencari kambing hitam. Saling menuduh sebagai penyebab segala kekacauan. 

Ah..  sudahlah. Tiada guna  berseteru. 

Salahkan virus?

Itu takdir Tuhan. Ia tidak akan ada, jika Tuhan tidak berkehendak. Ia takkan muncul jika Tuhan tak beri izin. Terlepas segala kericuhan dan perbedaan pendapat tentang asal usulnya, yang pasti dia ada. Dan dalam sekejap memporak porandakan segala tatanan kehidupan kita. Sistem pendidikan kita.

Maka saat ini kita butuh solusi, kita butuh sebuah pemikiran yang jernih dan tajam. Kondisi ini tak boleh dibiarkan lebih lama lagi. Kita perlu berbuat sesuatu. 

Sejenak, kita perlu menarik napas dalam-dalam. Mereguk sebanyak-banyaknya udara segar untuk menyejukkan paru-paru yang terasa sesak. Merenung banyak-banyak. Lalu bersama bergandengan tangan memikirkan jalan keluar terbaik dari keadaan yang pelik ini.

Saat ini, banyak sekolah yang perlahan-lahan telah menerapkan metode pembelajaran tatap muka. Menyesuaikan diri dengan pola pembelajaran new normal. Menerapkan prosedur kesehatan ketat agar generasi bangsa ini senantiasa terjaga. 

Oleh karena itu, kita perlu merancang banyak rencana untuk mengembalikan generasi kita yang hilang. Untuk membuat mereka kembali bisa mereguk sebanyak-banyaknya ilmu dan pelajaran di sekolah. Untuk membuat mereka kembali nyaman belajar di sekolah dalam pertemuan langsung dengan guru dan teman-temannya.

Mengembalikan semangat mereka lagi untuk menikmati proses belajar mengajar di sekolah. Dalam ruangan yang membuat mereka bisa saling berdiskusi, bertukar pikiran, saling memberikan masukan dan berbagi nilai-nilai kebaikan.

Buat mereka rindu dan ketagihan lagi dengan metode mengajar yang seru dan mengasyikkan. Meski pasti berat. Karena nyaris setahun mereka terperangkap dan terbuai dengan gawai yang membuat nyaman. Bersahabat dengan benda pipih kecil itu. Tempat mereka bisa menemukan banyak hal, yang kadang orang dewasa pun mungkin tidak memahaminya.

Berat nian kerja para guru hari ini. Mereka harus berjuang lebih keras untuk dapat merebut perhatian anak didik. Membuat mereka terpesona dengan segala macam metode pengajaran yang akan membuat para siswa tertawan hatinya.

Karena itulah RPI Sumatra Barat hadir dengan program ini. Mencoba untuk memberikan sedikit pencerahan bagi metode pengajaran yang lebih baik.

Training for Teacher ” Super Game” batch 1. Kegiatan yang ditujukan untuk memberikan bekal bagi para guru, agar dapat menciptakan sebuah suasana belajar yang menyenangkan dan mengasyikkan.

Masih terbuka pendaftaran bagi yang ingin mendapatkan ilmu. Jangan sampai ketinggalan. 

Hidup harus terus berjalan. Proses mencetak calon penerus estafet bangsa berkualitas tak boleh berhenti dan mati suri. Mari kembalikan generasi yang hilang.

Padang, 18 Maret 2021.

*Penulis adalah Ketua DPW RPI Sumatra Barat. 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *