Tulislah Puisi

  • Whatsapp

“Jika kau jatuh hati, tulislah puisi,” katamu. Binar matamu berkilau. Membuatku terpukau. Seperti biasa.

Dengan berat hati, aku berpaling, mengalihkan pandangan dari mata sayu dan tajam yang sering membuatku mabuk itu. Aku tak ingin terjebak lebih lama. Dalam pusaran harap yang membuatku terjerembab. Tenggelam dalam lautan pesona. Sehingga duniaku kemudian hanya berputar di situ-situ saja. Semua tentang kamu. Kamu. Dan hanya kamu.

Kau benar-benar berbahaya. Kau benar-benar racun. Racun yang candu. Racun yang membuatku sekarat, namun juga mengikatku dengan erat.

“Aku tak pandai berpuisi, bukan ahliku menuliskan kalimat yang cengeng itu” jawabku sinis. Berusaha menutupi debar jantung yang lagi-lagi meraja.

Engkau tertawa. Tawa dengan suara berat dan dalam. Seketika aku seperti melihat ribuan bunga musim semi bermekaran di sekitarmu. Ah… aku memang sudah gila.

“Kalau begitu, tulis satu bait puisi saja untukku,” katamu lagi. Kau hadapkan tubuhmu dengan penuh padaku. Aku dapat melihat bayangan wajahku sendiri pada mata yang coklat kehitaman itu. Aku tergagap. Tapi dengan cepat menguasai diri.

“Memangnya kamu siapa, sehingga aku harus membuatkan puisi untukmu?” tanyaku. Lagi-lagi dengan ketus. Berusaha menyamarkan grogi dan debaran jantung yang kali ini seakan-akan ingin salto.

Andai kau tahu, di laptopku, ada satu folder khusus yang kugembok dengan rapat. Yang isinya adalah puisi-puisi untukmu. Bukan hanya satu. Tapi ratusan. Tapi tentu saja kau tak boleh tahu. Jangan pernah tahu.

Kamu menatapku. Tanpa kata-kata. Tapi aku seakan mendengar matamu tengah berbicara. Mengatakan sebuah kalimat yang selama ini kutunggu. Namun entah apa.

“Sayang, ayo pergi.” Sebuah suara merdu memecah kebekuan di antara kita.

Sonya. Sahabatku. Kekasihmu. Yang beberapa hari lagi akan menjadi istrimu. Aku berpaling dengan gegas. Mematahkan harap yang tadi sempat buncah. Mengutuki kebodohanku yang menabur benih harap pada sesuatu yang mustahil. Meremas hati yang perih.

“Laila, ikut dengan kami?” Sonya menatapku dengan ceria. Dia memang gadis berhati peri. Aku telah berjanji tidak akan membuat hati gadis itu terluka. Tidak apa jika aku yang patah, asal jangan dia. Dia sahabatku. Penolongku di saat-saat tersulit hidupku.Aku tersenyum padanya.

“Kalian duluan saja, aku masih menunggu Remi.”Remi adalah sosok fiktif yang kuciptakan untuk menyembunyikan kesepianku, juga nasib malangku yang terjebak dalam cinta sendirian. Tanpa balasan.

Kucuri pandang padamu sekilas. Namun matamu telah terkunci pada Sonya dengan tatapan memuja. Aku memang telah kalah sejak dahulu. Bahkan sejak sebelum rasa ini membelenggu.

“Jangan lupa, tulislah puisi,” ujarmu lagi sebelum berlalu. Aku hanya diam. Namun hatiku mengiyakan. Sudah saatnya aku bangkit. Dari segala harap semu ini.

Aku akan menuliskan puisi. Bukan tentangmu lagi. Namun tentang diriku, yang akan berjuang dengan semangat baru. Jiwa yang baru. Hati yang baru. Untuk sosok yang baru.
Entah siapa.

____________

Lomba cipta puisi dalam rangka ulang tahun Rumah Produktif Indonesia ke-1 akan ditutup malam ini jam 20.00 WIB.Bagi yang belum mendaftar, ayo buruan. Ditunggu ya.. 😊

#Puisi
#LombaCiptaPuisi
#LombaPuisiRPI
#HUT1TAHUNRPI
#MemajukanManusiaMerawatPeradaban

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *