RPI Bahas Terorisme Makassar dalam Perspektif Global

  • Whatsapp

Perkumpulan Rumah Produktif Indonesia (RPI) kembali mengadakan seminar nasional tentang terorisme di Indonesia. Kegiatan yang bertema “Bom Makassar dalam Perspektif Global” ini diselenggarakan melalui aplikasi Zoom pada Jumat, 2 April 2021.

Kegiatan ini juga menghadirkan empat narasumber yakni Ali Abdullah Wibosono, S Sos MA PhD, pengajar di departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia; Agussalim Burhanuddin, S.IP., MIRAP, pengajar departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Unhas; Dr. Dafri Agussalim, M.A, pengajar departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIPOL UGM; dan Beni Sukadis M.Sos, Konsultan UNDP dan Peneliti Senior di Marapi Consulting and Advisory, Jakarta.

Ali Wibosono Abdullah dalam memaparkan materinya mengatakan penanganan terorisme di Indonesia belum cukup maksimal karena belum secara komprehensif dilakukan.

“Infrastruktur terorisme di Indonesia khususnya dalam hal fundrising masih hampir tidak tersentuh,” ungkapnya

Dia mengakui masalah terorisme di Indonesia tidak berdiri sendiri dan memiliki hubungan dengan gerakan terorisme di beberapa tempat di kawasan Asia Tenggara, misalnya di Filipina. Dalam hal penanganan juga, di tingkat negara-negara anggota Asean ini selain belum maksimal, juga masih menemui kendala.

“Indonesia dan Malaysia sama-sama punya kepentingan memperbaiki kontra-terorisme Filipina tapi seringkali tidak ada trust (kepercayaan) di antara bertiga. Selama ini kerjasama Indonesia, Filipina dan Malaysia di bidang kontra-teror banyak dibina oleh Kementerian Pertahanan. Itu dengan Asean Our Eyes dan kemudian Trilateral Security Cooperation,” jelasnya.

Agussalim Burhanuddin sebagai nara sumber kedua mencoba melihat persoalan terorisme ini lebih pada pendekatan sosial dan keagamaan. Dia mengatakan, organisasi-organisasi keagamaan harusnya menjadi wadah untuk pembinaan, tapi justru lebih berorientasi kekuasaan ketika bersentuhan dengan politik.

“Organisasi-organisasi agama yang ada itu, menurut masyarakat, mereka menjadi resisten. Mereka sudah berorientasi kekuasaan ketika masuk dalam dunia politik. Sehingga pembinaan masyarakat itu terlupakan dan masyarakat ini mencari alternatif-alternatif,” ujarnya.

Pembicara ketiga Beni sukandi mempertanyakan kinerja lembaga-lembaga yang menangani terorisme selama ini.

“Dilihat dari satu sisi, mereka sudah berhasil menangkap ratusan terduga teroris dan juga mengadili. Tapi di satu sisi masih ada kelompok-kelompok yang menyerang baik orang sipil ataupun objek-objek vital ataupun markas polisi di berbagai daerah”

Pembicara terakhir adalah Dafri Agussalim. Pengajar di departemen Ilmu Hubungan Internasional UGM ini mengatakan, masalah terorisme lebih disebabkan oleh pabrikasi sosial.

“Kalau boleh dispesifikasi, ketidakadilan misalnya. Ketidakadilan itu bukan hanya di tingkat nasional tetapi juga di tingkat global.”

Lebih lanjut, dia mencontohkan bagaimana kemunculan gerakan terorisme di Timur Tengah akibat kebijakan negara-negara barat.

“Kalau kita lihat misalnya, kenapa ISIS muncul? Kenapa Al-Qaeda muncul? Itukan protes, mungkin karena kebijakan Amerika terhadap Palestina dan seterusnya,” paparnya.

Diakhir diskusi, Presiden RPI, Yanuardi Syukur, mengatakan kegiatan ini sebagai bentuk tanggung jawab intelektual dalam merespon situasi yang berkembang di Indonesia seperti peristiwa terorisme yang belum terlalu lama ini terjadi.

“Ini bagian dari tanggung jawab intelektual. Kita ingin mengedukasi masyarakat bahkan diskusi-diskusi dengan ragam perspektif ini bisa menjadi rekomendasi kebijakan bagi para pemangku kepentingan (stakeholder) yang terkait”, ungkap Yanuardi.

Selain itu, RPI juga sebelumnya menggelar Taushiyah Malam Jum’at “Membentengi Diri dari Pemikiran dan Aksi Terorisme dengan sambutan dari Edi Sugianto, S.Pd.I, M.Pd (Dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta, Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Al-Ghurabaa, Jakarta & Pengurus DPP RPI Bidang Pendidikan).

Pematerinya Mhd. Alfahjri Sukri, M.I.P. Dosen Jurusan Pemikiran Politik Islam IAIN Batusangkar, Sumbar & Sekretaris DPP RPI Bidang Penerbitan Jurnal Akademik dan moderator Zainal Fadri, S. Fil. M.A, Dosen Pengembangan Masyarakat Islam IAIN Batusangkar, Sumbar/Pengurus DPP RPI Bidang Penerbitan Jurnal Akademik, pada Kamis, 1 April 2021.

Sebelumnya, RPI juga menggelar Diskusi “Bom Makassar: Analisis Multiperspektif” dengan pengantar dari Yanuardi Syukur (Presiden Perkumpulan Rumah Produktif Indonesia) dan pembicara: Hamka Mahmud, S.Pd, M.Pd (Da’i Kamtibmas Mitra POLRI Wilayah Polda Sulsel/Pendakwah di berbagai Lapas di Sulsel), Dr. Tasrifin Tahara (Antropolog Universitas Hasanuddin/Peneliti sosial-politik dan konflik), Taufik Andrie (Executive Director Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP), Dr. Sawedi Muhammad, MA (Dosen Sosiologi Universitas Hasanuddin) dan Alto Labetubun (Analis Konflik dan Keamanan).

Acara dimoderatori oleh Hidayat Doe (Ketua DPP RPI Bidang Pengembangan Kawasan Timur Indonesia) pada Selasa, 30 Maret 2020 Pukul 12.00-14.00WIB/13.00-15.00 WITA.

Sebelumnya, RPI juga menggelar Diskusi Kontemporer “Terorisme di Indonesia: Analisis dan Strategi Melawan Ekstremisme Berbasis Kekerasan” dengan pembicara: Al Chaidar (Pengamat Terorisme/Pengajar Antropologi Universitas Malikussaleh, Aceh), Muhamad Syauqillah (Peneliti/Kaprodi Kajian Terorisme SKSG UI), Qusthan A. H. Firdaus (Peneliti/Asosiasi Sarjana Filsafat Indonesia) dan Yanuardi Syukur (Analis Terorisme/Pengajar Antropologi Universitas Khairun, Ternate). Moderatornya Syafinuddin Al-Mandari (Ketua Umum PB HMI MPO 2001-2003), Minggu, 28 Maret 2021 Pukul: 20.00-22.00 WIB.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *