I Fatimah Daeng Takontu Karaeng Campagaya: “Garuda Betina dari Timur”

  • Whatsapp

Oleh: Septiawan Ardiputra*

Semangat dan perjuangan “I Fatimah Daeng Takontu Karaeng Campagaya” untuk menjunjung tinggi kaum perempuan patut ditiru, bahkan telah berhasil membuktikan bahwa wanita memiliki kesamaan dengan pria. Lewat kegigihan dan semangat juangnya kita bisa belajar bahwa tidak ada hal yang tidak bisa dilakukan oleh seorang wanita ketika ada keinginan untuk melakukannya dan telah menghapus persepsi yang mengatkan bahwa wanita adalah sosok yang lemah dibandingkan laki-laki.

Read More

Semangat emanisipasi kaum wanita yang dilakukan oleh I Fatimah Daeng Takontu Karaeng Campagaya telah muncul ratusan tahun yang lalu, jauh sebelum zaman R.A. Kartini. Hal ini dapat dilihat dari peranan penting kaum wanita dalam pemerintahan di Kerajaan Gowa. 

I Fatimah Daeng Takontu Karaeng Campagaya lahir pada 10 September 1659, merupakan Putri dari I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape atau yang lebih dikenal dengan nama Sultan Hasanuddin (Raja Kerajaan/Kesultanan Gowa) dan Ibunya yang bernama I Daeng Takele (seorang gadis bangsawan dari Sanrobone). Sejak kecil Fatimah sangat dekat dengan Ayahnya sehingga wajar jika ia mewarisi semangat dan jiwa patriotik ayahnya. Setiap kali ayahnya memberikan latihan pada prajuritnya ia selalu ikut bahkan sejak kecil telah menguasai ilmu beladiri.

Lahir dan tumbuh dewasa dalam suasana yang banyak diwarnai pergolakan atas campur tangan penjajah belanda terhadap kerajaan, sehingga sering terjadi pertempuran yang banyak menelan korban. Sebagai anak dari seorang kesatria “I Fatimah Daeng Takontu” tak ingin menjadi obyek penjajahan bahkan ia tampil sebagai seorang pemberani. Ia diberikan kepercayaan oleh Sultan Hasanuddin (Ayahnya) sebagai pempimpin pasukan balira. Pasukan balira merupakan pasukan wanita yang selain bersenjatakan Badik Pusaka yang terselip di pinggang, juga dilengkapi dengan Balira.

Balira merupakan salah satu alat yang digunakan oleh orang-orang tua dulu untuk bertenun. Bentuknya mirip pedang dengan panjang sekitar 1,5 meter tapi tidak tajam. Menurut kepercayaan dari masyarakat Gowa, senjata Balira ini memiliki kesaktian yang luar biasa. Jika seseorang terkena pukulan balira, mereka tidak akan mendapatkan keselamatan bahkan terus menderita sakit seumur hidupnya. Sehingga musuh yang tahu akan Senjata Balira ini lebih takut berhadapan dibandingkan dengan senjata tajam atau api.

Ditandatanganinya perjanjian Bungaya pada 18 November 1667, ternyata tidak diterima oleh beberapa bangsawan Kerajaan Gowa seperti Karaeng Galesong, Karaeng Bontomarannu dan Karaeng Karunrung. Sehingga mereka bertekad melanjutkan perjuangan melawan penjajahan di tanah jawa.

Kedatangan putra pejuang dari Sulawesi di Banten, mendapat sambutan baik dari Sultan Ageng Tirtayasa (Sultan/Raja Banten) karena sebelumnya, salah seorang Putra Makassar telah lama dijadikan mantu yakni, Syekh Yusuf Al-Makassari yang juga sudah lama berjuang bersama Pasukan Banten melawan penjajah Belanda. Tercatat bahwa rombongan pertama dipimpin oleh Karaeng Bontomarannu bersama 800 orang prajuritnya berangkat ke Banten dan rombongan kedua dipimpin oleh Karaeng Galesong dengan membawa 20.000 prajurit.  

Rombongan berikutnya yang berangkat menuju Banten adalah Pasukan yang dipimpin oleh I Fatimah Daeng Takontu Karaeng Campagaya ketika usianya masih terbilang sangat muda yakni 12 Tahun. Pasukan Balira yang dipimpin oleh I Fatimah dan juga ratusan Pasukan Elit Karajaan Gowa, setibanya di Banten, langsung bergabung bersama semua pasukan yang telah lebih dulu ada di Banten.

Saat itu, Karaeng Galesong dan Karaeng Bontomarannu bertugas ke Jawa Timur membantu perjuangan Trunojoyo sedangkan di Banten Pasukan Syekh Yusuf Al-Makassari dan Pasukan I Fatimah ikut membantu Raja Banten yakni Sultan Ageng Tirtayasa, melawan putranya sendiri yakni Sultan Haji yang berpihak pada Belanda. Tercatat bahwa perlawanan pasukan Syekh Yusuf dan pasukan Bainea yang dipimpin Fatimah, membuat Belanda kewalahan. Di Banten, I Fatimah Daeng Takontu menikah dengan Maulana Hasanuddin (Anak Sultan Banten). I Fatimah dan Suaminya juga ikut bergerilya di hutan-hutan.

Dari Banten, I Fatimah kemudian melanjutkan perjalanannya melawan penjajah Belanda ke Kerjajaan Mempawah (Kalbar). Kerajaan ini dipilih karena disana telah ada Bangsawan dari Sulawesi yang juga merupakan kerabat Kerajaan Gowa yang menjadi Raja Pertama di Kerajaan Mempawah yaitu Opu Daeng Manambun (Bergelar Pangeran Mas Surya Negara). Kedatangan I Fatimah Daeng Takontu bersama para prajuritnya di Mempawah, juga mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat termasuk Panglima Dayak yakni Panglima Damping Lano, Panglima Sun dan Panglima Sanggau.

Ketiga Panglima Dayak ini beserta prajuritnya langsung bergabung dengan Pasukan Makassar dibawah pimpinan I Fatimah Daeng Takontu. Pasukan Makassar sangat disegani karena kehebatannya di segala medan pertempuran baik darat maupun laut. Sehingga Pasukan Makassar dibawah Pimpinan I Fatimah Daeng Takontu Karaeng Campagaya lebih banyak diarahkan ke laut sedangkan Pasukan Dayak yang bersenjatakan mandau, parang dan juga tombak ditempatkan di pedalaman untuk menghadang setiap tentara Belanda yang hendak memasuki perkampungan.

Di Kerajaan Mempawah, Opu Daeng Manambun memperlakukan I Fatimah Daeng Takontu dengan baik, bahkan mengangkatnya sebagai anaknya. I Fatimah Daeng Takontu juga mendirikan perguruan beladiri di Mempawah yang diberi nama “Perguruan I Fatimah Daeng Takontu” dan berharap ilmu beladiri yang diajarkan kepada masyarakat Mempawah mampu menjadikan masyarakat Mempawah tangguh dalam menghadapi kemungkinan adanya serangan dari Belanda. Selain itu, I Fatimah juga mengajarkan syiar Islam di negeri itu.

I Fatimah Daeng Takontu diangkat menjadi Panglima Perang Kerajaan Mempawah dan tugas ini dijalankannya dengan baik dan penuh tanggungjawab sampai beliau meninggal dunia dan dimakamkan di Pulau Temajo Kecamatan Sungai Kunyit Kabupaten Mempawah Provinsi Kalimantan Barat. Jika sang ayah (Sultan Hasanuddin) mendapat gelar “Ayam jantan dari timur” maka I Fatimah Daeng Takontu Karaeng Campagaya karena keperkasaannya memimpin pasukannya dalam setiap peperangan, oleh seorang penyair Belanda diberikan julukan “Garuda betina dari timur”.

Demikianlah kisah dari I Fatimah Daeng Takontu Karaeng Campagaya yang bersedia mengorbankan jiwa dan raganya dalam membela kedaulatan negerinya dari cengkeraman penjajahan Belanda dan wafat sebagai seorang pahlawan. Jasanya patut dikenang sebagai simbol kaum wanita sekaligus gambaran perjuangan emanisipasi wanita di masa lalu.

* Pengajar di Universitas Sulawesi Barat

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *