Kartini, Tharfah, dan Babikr: Para Perempuan yang Melampaui Zaman

  • Whatsapp

Oleh: Imam Khairul Annas*

Setiap 21 April kita akan terus teringat dengan Raden Adjeng Kartini, yang sejak kecil kita peringati sebagai pelopor kebangkitan perempuan. Kartini melihat bahwa perempuan harus memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum.

Read More

Pemikirannya dapat kita telaah dari surat-surat yang ia tulis kepada teman-temannya di Eropa, kelak setelah ia wafat dikumpulkan oleh Jacques Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda, dan dicetak pada tahun 1911 dengan judul Door Duisternis tot Licht, yang arti harafiahnya Dari Kegelapan Menuju Cahaya. Setelah Kartini menikah, suaminya memberikan kebebasan dan mendukungnya untuk mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang.

Berbeda dengan Nusantara yang pada waktu itu masih berada di bawah kekuasaan pemerintah kolonial Belanda. Najd, yang terletak di tengah Jazirah Arab adalah sebuah wilayah yang tidak dikuasai oleh penjajah. Najd sebuah negeri gersang yang terkadang dilewati oleh para pengembara dari Eropa, yang sebagian masyarakatnya masih hidup nomaden dari satu kemah ke kemah lainnya. Najd yang luas, namun pada waktu itu setiap kota memiliki emir sebagai pemimpin, hingga berdiri Emirat Dir’iyah pada 1744-1818 dan Emirat Najd pada 1818-1891 yang menyatukan Najd ke dalam satu wilayah pemerintahan.

Tharfah binti Muhammad al-Khurayef, Guru Perempuan pertama di Najd, Arab Saudi, terkenal mengajar anak-anak perempuan dan kebaikannya terhadap orang-orang fakir miskin. Lahir di Huraimla tahun 1346 H/1927 M, kedua orang tuanya wafat ketika ia masih berusaha dua tahun hingga ia diasuh oleh neneknya (ibu dari ibunya), ia belajar di Kuttab Mudhi al-Hamd, dan menyelesaikan hafalan al-Qur’an disana. Ia belajar dari suaminya Ibrahim bin Harqan ilmu-ilmu agama dan menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar pada tahun 1381 H/1962 M, dan ia memiliki empat anak.

Ternyata jauh sebelum itu, Tharfah sudah membuka kuttab di rumahnya di Distrik al-‘Uqdah di Huraimla pada tahun 1362 H/1943 M. Ia mengajarkan al-Qur’an tanpa pamrih kepada anak-anak perempuan selama 10 tahun. Kemudian ia pindah ke Riyadh dan kembali membuka Kuttab di rumahnya pada tahun 1377 H/1958 M, selama 3 tahun.

Arab Saudi sendiri baru memulai pendidikan formal kepada perempuan pada tahun 1956. Setelah itu ia mengajar di salah satu Sekolah Negeri selama 20 tahun sebagai apresiasi terhadapnya. Pada waktu itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Perempuan menganggap bahwa Tharfah memiliki keilmuan yang setara dengan kelas 5 SD. Tharfah wafat pada 7 Syawwal 1418 H/1998.

Dari Jazirah Arab, kita menuju ke Negeri Dua Nil, Sudan, yang pada waktu itu bersama Mesir berada di bawah kekuasaan Pemerintah Kolonial Inggris. Babikr Bedri, lahir di Donggola, Sudan tahun 1277 H/1861 M dan wafat pada tahun 1374 H/1954, seorang pelopor pendidikan perempuan dan aktivis sosial di Sudan. Bersama keluarganya ia pindah ke Rufaa di Tengah Sudan, dan menghafal al-Qur’an di Khalwa di Rufaa, kemudian ke Madani untuk mempelajari ilmu-ilmu agama Islam.

Pada tahun 1903, ia mendirikan sekolah swasta perempuan pertama di Sudan, dimana anak-anak perempuannya belajar disana. Pada waktu itu ia mendapatkan perlawanan dari masyarakat setempat yang masih belum menyetujui pendidikan untuk perempuan. Namun ia memahamkan dan menumbuhkan keyakinan masyarakat bahwa ilmu pengetahuan yang diajarkan akan memberikan manfaat. Kelak perempuan-perempuan di Rufaa akan menjadi pelopor pendidikan perempuan di Sudan.

Kemudian Babikr mendapat tugas sebagai Inspektur di Departemen Pendidikan, ia memasukan pelajaran berhitung, membaca dan menulis pada Kuttab-Kuttab al-Qur’an di Sudan, juga menulis buku Muthalaah untuk murid-murid Sekolah Dasar, hingga ia pensiun pada tahun 1927. Setelah pensiun ia membuka Sekolah-sekolah yang disebut Madaris al-Ahfad.

Kini, al-Ahfad bukan hanya memiliki sekolah untuk perempuan, melainkan juga sekolah untuk laki-laki. Ia juga mulai mendirikan pendidikan tinggi, yang pada awalnya hanyalah sebuah College dengan ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh para perempuan Sudan. Kini perguruan tinggi tersebut menjadi Jami’ah al-Ahfad lil Banat (Ahfad University of Women) yang memiliki berbagai program pendidikan untuk sarjana dan pasca sarjana.

Meski terpisah Samudera Hindia dan Laut Merah, baik Kartini, Tharfah dan Babikr sama-sama pernah mendapatkan kesempatan belajar terlebih dahulu, dan memberikan pendidikan dan pengajaran kepada perempuan di masa pendidikan hanya dapat diperoleh oleh laki-laki. Menulis dan mengajar memberikan inspirasi kepada orang-orang setelahnya, sehingga nama mereka akan abadi dan tercatat dalam sejarah.

* Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta dan Jurusan Da’wah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah. Sementara menyelesaikan studi S2 di Kajian Timur Tengah UGM.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *