Presiden RPI Jadi Pembicara di Partai Solidaritas Indonesia

  • Whatsapp

Terorisme sudah merusak negara Indonesia. Mulai dari ledakan bom di Surabaya sampai ledakan di Makassar semua peristiwa ini menimbulkan kontroversi di masyarakat. Hashtag #TerrorismeBeragama mulai beredar dimana-mana, dalam pembalasan itu pemerintah merespon dengan #TerrorismeTidakBeragama. Pasti adanya alasan mengapa kedua topik ini muncul di masyarakat.

Menyikapi hal itu, DPD PSI Jakarta Selatan berinisiatif untuk membuat topik diskusi pemuda, agama dan terorisme untuk membahas fenomena ini. Melihat peristiwa terorisme tidak tiba-tiba muncul dan sebagai lapisan yang sangat terdampak, kami berharap melihat peristiwa terorisme dari kacamata pemuda akan menambahkan pengetahuan kita tentang kejadian yang ada.

DPD PSI Jaksel mengundang Presiden DPP RPI Yanuardi Syukur untuk menyampaikan pemikirannya dalam diskusi “Selasa Berjumpa” dengan tema “Pemuda, Agama, dan Terorisme”, bersama Sekretaris DPW PSI Jakarta Elva Farhi Qalbina, Selasa 20 April 2021.

Dalam paparannya di sela-sela aktivitasnya di Bogor, Yanuardi Syukur menjelaskan empat bagian, yakni wacana perang akhir zaman yang dipahami sebagai “kiamat sudah dekat” dan pentingnya bergabung dengan “pasukan berpakaian hitam” yang kemudian ditafsirkan sebagai ISIS, padahal belum tentu demikian. Selain itu, Yanuardi juga membahas soal aktivisme Islam, keterlibatan pemuda dalam terorisme, dan solusinya dalam perspektif wasathiyatul Islam.

“Ada shifting dari pemikiran bahwa agama memberimu hidup pada agama memberimu kematian,” lanjut Antropolog Universitas Khairun dan Peneliti CSPS UI. Hal ini kemudian membuat agama terkesan menyeramkan bagi dunia global yang sepatutnya terintegrasi dan bersinergi.

Keterlibatan anak muda dalam terorisme terlihat mulai dari Bom Bali, Bom Thamrin, Bom Kathedral, hingga serangan terhadap Mabes POLRI. “Mereka teradikalisasi sebab berbagai faktor seperti perasaan terancam, informasi dan pengajar agama yang cenderung keras, pencarian makna hidup, lingkungan pergaulan, mengikuti contoh dari tokoh idola, dan keinginan untuk balas dendam,” kata Yanuardi.

Solusi bagi terorisme anak muda, Yanuardi menyampaikan pentingnya kita mempersempit celah-celah perbedaan, menjadi jembatan bagi berbagai perbedaan, membangun kembali trust, dan bersatu sebagai jalan kesuksesan bersama-sama.

“Dalam konteks Islam, konsep ini sesungguhnya tidak terlepas dari wasathiyatul Islam, yakni pemikiran keagamaan Islam yang pertengahan,” tutup Yanuardi Syukur yang kerap menjadi narasumber terkait terorisme di media massa dan berbagai instansi.

Hadir dalam acara ini Ketua DPD PSI Jaksel Patriot Muslim, aktivis RPI dan pengurus PSI. Acara dipandu oleh Nicole dari pengurus DPD PSI Jaksel.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *