Habit, dan Menciptakan Masa Depan Generasi Baru

  • Whatsapp

Oleh: Abdullah Sartono*

Kebiasaan, sikap, perilaku dan karakter anak adalah cerminan dari apa yang ia alami dan saksikan dalam kehidupan kesehariannya. Bagaimana kawan main atau anggota keluarganya berperilaku, demikian anak biasanya di transfer hingga kedalam file atau memori otak dan memprakteknya pada kehidupan sosial masyarakat juga dalam lingkungan mainnya. Anak kita ibarat spons yang siap menerima dan menyerap kebanyakan yang ditampilkan.

Read More

Padahal setiap anak yang hadir dalam kehidupan dunia sesungguhnya dalam keadaan fitrah. Ia bersih, anak kita suci dari segala bentuk noda apalagi dosa. Hanya kedua orang tua yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani dan Majusi. Sebagaimana perkataan Rasullullah yang sangat mashur bahwa “Kullu maulidin yuladun alal fitrah…”

Sebuah ungkapan bahwa “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Bahwa sikap anak terbentuk dari kultur dalam kehidupannya, yaitu keluarga juga tempat mainnya. Anak melakoni apa yang ia saksikan, misal kebiasaan baik maupun buruk, tutur kata, gaya, dan lain sebagainya.

Ketika seorang tokoh atau pahlawan, misalnya dalam film dokumenter atau pada serial peperangan, ia membunuh para pahlawan juga membela yang tertindas, yang di tangkap oleh anak bukanlah pesan moralnya, tapi gerakan memukul menendang dan menusuk dengan senjata tajam dari sang tokoh itu. Begitu juga ketika yang ditonton itu berupa pertengkaran maka yang ditangkap adalah kata-kata kasar dan sadis, kotor dan jorok, umpatan dan makian dan lain sebagainya.

Oleh karena itu jangan heran anak-anak kita memiliki perbendaharaan yang buruk dan sangat mengejutkan. Kok bisa? Ya, karena berbagai tayangan yang ditonton tersebut sesungguhnya membentuk sejenis kesadaran imajinal pada anak yang mendorongnya untuk berkata-kata, berperilaku dan bertindak seperti tokoh yang disaksikan tersebut.

Parenting yang kita bangun dengan keteladanan yang tulus dengan visi menyelamatkan masa depan generasi negeri ini, adalah parenting yang terbaik. Sedangkan parenting yang hanya mengandalkan pencitraan tanpa keteladanan yang tulus akan menuai penyesalan sepanjang sejarah peradaban generasi ini. Barangkali kita harus menciptakan bi’ah (lingkungan) yang kondusif dan baik yang sangat memungkinkan untuk tumbuh dan lahirnya generasi yang membanggakan di masa mendatang.

Psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi mengatakan bahwa “Lingkungan turut membentuk perilaku anak juga faktor media, seperti anak sering menonton apa di televisi atau internet,”. Bahwa tindakan dan adegan yang dilihat di internet atau televisi juga bisa membuat anak menirunya. Misal, jika anak sering menonton tayangan aksi-aksi heroik di televisi, bisa jadi mereka menirunya dalam keseharian.

Kami berpendapat bahwa menyelamatkan satu generasi sama halnya menyelamatkan semua manusia, persis membunuh satu generasi itu sama saja merobohkkan peradaban bumi itu sendiri. Oleh karenanya, inisiasi dan ikhtiar menyelamatkan generasi merupakan tema penting pendidikan semua kita yang senantiasa diupayakan, baik oleh orang tua, lembaga-lembaga pendidikan maupun organisasi sosial masyarakat lainnya dalam mendukung dengan berbagai mitra dan model kolaborasinya.

Bagi orang tua jangan dulu berkecil hati dan jangan bosan-bosannya mendidik setiap anak keterunannya, so Tuhan, Allah SWT pasti memberikan balasan bagi orang tua yang bersabar menahan penderitaan dan bersusah payah mendidik putra-putrinya. Sebagaimana sebuah spirit yang disampaikan oleh Rasullullah Saw. bahwa: “Barang siapa yang mendapat ujian atau menderita karena mengurus anak-anaknya, kemudian ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anaknya akan menjadi penghalang baginya dari siksa neraka.”(HR Bukhari-Muslim)

Tidak marah kesumat jika ada perilaku anak walau sangat menjengkelkan. Jika Anak bertanya tentang hal yang kita anggap aneh atau belum pas sesuai dengan level umurnya, misal tentang Seks, tidak perlu marah apalagi menghindar, tetap bangun komunikasi dan menjelaskan sesuai kemampuannya untuk mencerna, terbuka dengannya juga bersikap welcome and open-minded. Tidak memukul dengan tujuan menyakiti dan menakutkan, ini sama halnya membunuh karakter anak sejak dini. Fatal dan sangat disayangkan.

Bahwa anak kita memiliki peluang untuk meniru orangtua dan keluarga dekatnya, karena mungkin ia telah menjadikan mereka role model atau barangkali pribadi yang mengagumkan. Kita butuh sebuah sample peradaban kecil yang menjadi rujukan generasi kita. Rumah-rumah dan tempat tinggal kita harus produktif menciptakan habit atau kebiasaan baru yang dapat melahirkan kesuksesan, gemilangan dan masa depan generasi yang mencerahkan peradaban bumi.

Generasi baru terbaik, adalah generasi yang diperkenalkan juga dilekatkan hatinya semangat dari inspirasi-inspirasi Al-Qur’an dengan berbagai macam keutamaan baik membaca dan menghafal, tadabur dan memahami, aplikasi dan berdakwah juga menegakkannya. Dan semua peran, upaya dan ikhtiar baik kita untuk menyelamatkan generasi baru yang senantiasa tersambung dengan Al- Qur’an, itulah perniagaan atau bisnis yang terbaik dengan Allah SWT.

Masa depan generasi baru harus dibangun sejak dini oleh keluarga, lingkungan dan keteladanan yang menginspirasi. Keberhasilan masa depan generasi Indonesia ada di tangan kita dan dalam berbagai bentuk peran, fungsi dan kontribusi nyata juga kolaborasi untuk citra Indonesia menjadi negeri yang dibanggakan dunia dan dalam keberkahan dan curahan rahmat-Nya. Semoga.

* Penulis Merupakan Pengurus Pusat Rumah Produktif Indonesia dan Alumni Fakultas Sastra Universitas Muslim Indonesia Makassar

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *