RPI sukses mengadakan Webinar bertema “Pilpres Iran dan Kaitannya dengan Indonesia”

  • Whatsapp

RPI [05/06] – Pada Sabtu, 5 Juni 2021, Rumah Produktif Indonesia (RPI) sukses mengadakan Webinar dengan tema “Pilpres Iran dan Kaitannya dengan Indonesia”. Webinar ini merupakan Webinar RPI pertama yang mengangkat tema Timur Tengah dan diharapkan akan dilakukan berseri setiap minggunya. Webinar ini sukses dilaksanakan berkat kerjasama kolaborasi dengan Defense Heritage Intellectual Community (DHIC) dan The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES). Panitia dari RPI terdiri dari Presiden RPI Kandidat Doktor Yanuardi Syukur, Maghdalena, dan Kurniadi Sudrajat.

Webinar memiliki Narasumber pertama Ismail Amin, Lc., M.A., Ph.D (cand) mahasiswa S2 Universitas Internasional Almustafa Republik Islam Iran, narasumber kedua Dr. Asep Kamaluddin Dosen Hubungan Internasional UPN Vetaran Jakarta, dan narasumber ketiga Fahmi Salsabila, M.Si selaku Dosen Komunikasi Internasional Universitas Muhammadiyah Riau. Acara dipandu oleh Moderator Marwan selaku mahasiswa S2 Hubungan Internasional Fakultas Imu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP

Read More

Acara dibuka oleh Ketua DPP RPI Bidang Bahasa, Dr. Jeanne Francoise, S.Hum., M.Si Han., CIQnR, CIQaR mewakili Rumah Produktif Indonesia (RPI) selaku Host acara webinar ini. Dr. Jeanne Francoise mengatakan bahwa Pilpres Iran telah menjadi isu perdebatan yang hangat dan RPI sebagai wadah intelektualitas anak muda perlu membahas hal ini, terutama apabila dikaitkan dengan lessons learned yang bisa dipelajari oleh anak-anak muda di Indonesia.

Dr. Jeanne Francoise membagikan pengalamannya pernah ke Iran sebagai pembicara Konferensi Internasional di Al Mustafa Open University di Qom, Iran pada Oktober 2017 mewakili Universitas Pertahanan RI dalam membawakan jurnal ilmiah berjudul “Promoting Islam in Cyberspace based on the Thoughts of Syeikh Mohammad Abduh: Indonesian Perspective”. Adapun artikel lengkap jurnalnya dapat dibaca pada laman: http://p-l.journals.miu.ac.ir/article_2135.html

Dalam kunjungan akademiknya tersebut, Dr. Jeanne Francoise menyempatkan jalan-jalan di kota-kota budaya di Iran seperti Qom, Teheran, Hamedan, dan mengunjungi Perspepolis yang terkenal sebagai salah satu Warisan Budaya UNESCO di Timur Tengah. Selaku anggota tim penelitian warisan pertahanan (defense heritage) Badan Penelitian Kementrian Pertahanan (Balitbang Kemhan RI), Dr. Jeanne Francoise juga mengatakan bahwa “Persepolis juga dapat diteliti sebagai salah satu warisan pertahanan bagi bangsa Persia (defense heritage for Persian people)”.

Narasumber pertama webinar RPI bertema “Pilpres Iran dan Kaitannya dengan Indonesia”, Ismail Amin, Lc., M.A., Ph.D, memberikan paparan langsung dari Qom, Iran tentang bagaimana situasi dan kondisi Pemilu Presiden (Pilpres) di Iran dan memutar video singkat yang memberikan gambaran tentang masyarakat Iran yang menyenangi diskusi politik dan rela berada pada antrian panjang untuk menyalurkan aspirasinya di bilik suara. Menurut narasumber pertama, Iran adalah negara teokratis demokratis yang menyelenggarakan Pemilihan umum Presiden dan legislatif secara demokratis, kondusif, dan transparan, walaupun memang tidak dipungkiri tetap ada pengaruh politik yang kuat dari Supreme Leader Iran, Ayatollah Khomeini.

Narasumber kedua, Dr. Asep Kamaluddin kemudian memberikan paparannya tentang Pilpres Iran perspektif ilmu hubungan internasional dengan fokus sistem politik dan kebijakan luar negeri Iran dalam tatanan politik internasional. Dr. Asep Kamaluddin mengatakan bahwa sosok presiden dalam pemerintahan Iran, dalam kebijakan domestik dan implementasinya,  memiliki keterbatasan terutama ketika menyangkut persoalan ekonomi dan keamanan, mengingat banyak otoritas negara berada di bawah kendalinya pemimpin tertinggi (supreme leader) Iran. Sementara itu dalam kebijakan luar negerinya, Negara Islam Iran memiliki ideologi Wilayat al Faqih dalam kebijakan luar negerinya.

Di dalam sejarahnya, Iran mengalami perubahan filosofi kebijakan luar negerinya. Syah Mohamad Reza Pahlavi tidak disukai rakyatnya dan cenderung dianggap boneka Amerika. Sejak saat itu, filosofi kebijakan luar negeri Iran berubah dan dalam beberapa tahun ke belakang lebih terlihat perjuangan Iran yang mencoba muncul sebagai perwakilan Imperialisme Islam melawan imperialisme Barat.

Dr. Asep Kamaludin mengatakan bahwa dalam level internasional, sangat perlu dipahami bahwa Iran terlibat dalam isu-isu strategis yang menyangkut beberapa negara besar yang juga menjadi negara kunci dalam pemetaan keamanan dan ekonomi internasional, seperti Rusia, Cina, Amerika Serikat (AS), Israel, dan Arab Saudi.

Dari karakter demokrasi Iran, karakter individu calon atau kandidat presiden, serta keterlibatan Iran dalam isu-isu internasional, maka dapat dipahami bahwa tidak akan ada perubahan haluan yang signifikan dalam Pilpres Iran. Bahkan, keterlibatan Iran dalam menghadapi AS, Israel, dan Arab saudi cenderung menguat, sejalan dengan semakin menguatnya warna Cina dan Rusia dalam kebijakan luar negeri Iran.

Iran dan China menandatangani perjanjian yang menyatakan keinginan untuk meningkatkan kerja sama dan hubungan perdagangan selama 25 tahun ke depan. Perjanjian Kerjasama Strategis ini baik sebagai mitra potensial baru atau “Kartu China” untuk pengaruh di Iran-AS dan negosiasi politik. Aliansi strategis China-Iran ini termasuk sektor energi, perbankan, infrastruktur, dan industri, juga termasuk kerja sama intelijen, kontraterorisme. Oleh sebab itu, Iran memegang posisi kunci dalam Belt Road Initiave (BRI) China.

Dalam kaitannya dengan Pilpres Iran, Dewan Wali Iran telah mendiskualifikasi semua kecuali tujuh dari 592 calon presiden yang telah mendaftar untuk pemilihan 2021. Dari mayoritas kandidat presiden, hampir semua calon presiden adalah orang-orang yang memiliki hubungan dekat secara politik dengan Cina, dan bahkan individu-individu yang melihat posisi Barat sebagai pihak yang perlu diwaspadai. Terutama dalam persoalan-persoalan kebijakan luar negeri yang menentang negosiasi nuklir Iran dengan negara-negara Barat, yaitu P5+1. Dan hampir semua memiliki latar belakang sebagai pakar-pakar Dewan Keamanan Nasional Iran.

Konflik proksi Iran-Arab Saudi, tidak banyak membantu meringankan tantangan ekonomi dan geopolitik Iran. Bagi Iran, menjaga hubungan yang stabil dengan Indonesia tetap menjadi hal yang penting. “Siapapun yang akan jadi Presiden Iran nantinya, tidak akan berpengaruh langsung ke Indonesia dan Indonesia tetap bisa menjaga hubungan diplomatik dengan Iran”, simpul Dr. Asep Kamaluddin.

Sementara itu Narasumber ketiga, Fahmi Salsabila, M.Si., memaparkan tentang kaitan antara Pilpres Iran dengan sejarah hubungan diplomatik Iran dan Indonesia. Sejarah hubungan diplomatik Iran-Indonesia telah dimulai sejak tahun 1950. Indonesia memiliki kedutaan di Teheran, dan Iran memiliki kedutaan besar di Jakarta. Kedua negara adalah anggota penuh dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Gerakan Non-Blok, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dan Kelompok D-8 Negara Berkembang. Di tingkat bilateral, selama 70 tahun hubungan diplomatik, kedua negara di berbagai bidang politik, ekonomi, perdagangan, budaya, ilmu pengetahuan, dan lain-lain, telah menjalankan kerja sama yang luas dan saling menguntungkan serta mempergunakan kemampuan satu sama lain untuk mencapai kepentingan bersama.

Hubungan Iran-Indonesia telah melalui tiga periode sejarah. Periode pertama adalah hingga pertengahan abad ke-20 M, mencakup interaksi historis dan peradaban. Periode kedua dimulai setelah kemerdekaan Indonesia pada dekade 50-an yaitu pada saat dinasti Pahlevi, dimana hubungan diplomatik resmi antara kedua pihak diadakan dengan pendirian kedutaan besar kedua negara di ibu kota satu sama lain pada tahun 1950.Pada tahun 1958 “Perjanjian Persahabatan” ditandatangani antara kedua negara, dan hubungan yang luas antara kedua pihak dimulai pada tahun 1960-an dan kemudian pada tahun 1971, kesepakatan kerjasama di bidang budaya ditandatangani antara kedua negara. Periode ketiga adalah sejak berdirinya Republik Islam Iran pada 1979 dan berlanjut hingga hari ini.

Iran sendiri berbentuk Negara Islam berbentuk republik yang memiliki presiden, parleman atau majelis, dan sistem yudisial. Politik pemerintahannya merupakan gabungan teokrasi dan demokrai presidensial. Prinsip teokrasi membuat Iran dipimpin oleh imam besar atau pemimpin tertinggi yang berlaku sebagai kepala negara. Imam besar inilah yang mengontrol pasukan bersenjata, sistem yudisial, televisi, hingga pemerintahan lainnya. Kepala pemerintahannya dipegang oleh presiden. Kandidat pemimpin tertinggi berada di presiden yang dipilih dan diawasi oleh Kumpulan Ahli.

Adapun terdapat 7 (tujuh) bakal calon presiden Iran yang lolos seleksi untuk Pilpres Iran tahun 2021 ini. Mereka adalah Hakim Agung Ebrahim Raisi, Wakil Ketua Parlemen Amirhossein Ghazizadeh-Hachemi, mantan Sekjen Majelis Tinggi Pertahanan Nasional Saeed Jalili, mantan komandan Korps Garda Revolusi Jenderal Mohsen Rezaei, anggota parlemen Alireza Zakani, Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati, dan mantan Wakil Presiden Iran Mohsen Mehralizadeh.

Kemungkinan besar permasalahan yang diangkat dalam pemilihan presiden tahun ini adalah soal penanganan terhadap pandemi virus corona, solusi bagi krisis ekonomi, dan politik luar negeri Iran terkait program nuklir dan sanksi dari Amerika Serikat. Narasumber ketiga, Fahmi Salsabila, M.Si kemudian menyimpulkan bahwa, “Bagi Indonesia, siapapun yang menjadi Presiden Iran nantinya, tidak berpengaruh besar terhadap hubungan diplomatik Indonesia dan Iran, baik dari kalangan konservatif maupun moderat. Karena hubungan diplomatik Iran-Indonesia telah lama terjalin selama 70 tahun”.

Webinar ditutup dengan closing statement oleh Ketua DPP RPI Bidang Bahasa Dr. Jeanne Francoise bahwa perdebatan tentang Pilpres Iran yang tengah terjadi di media massa dapat memberikan insight bagi anak-anak muda Indonesia agar jadi pemilih cerdas yang menggunakan haknya di dalam Pemilu secara rasional. “Apapun yang terjadi di Timur Tengah dapat kita petik hikmahnya”, ungkapnya. Webinar yang sukses dihadiri 71 peserta dari berbagai latar belakang ini kemudian ditutup dengan Foto Bersama. Sampai jumpa di Webinar RPI bertema Timur Tengah berikutnya.[]

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *