Toeti Heraty, Yusril dan Akhyar Yusuf Lubis

  • Whatsapp

Oleh: Yanuardi Syukur*

Saat mendengar nama Profesor Toeti Heraty (1933-2021), saya teringat dua nama: Yusril Ihza Mahendra dan Akhyar Yusuf Lubis.

Read More

Nama Yusril, guru besar FH UI, saya ingat karena menjadikan Prof Toeti sebagai co-promotor untuk disertasi kedua Yusril terkait seorang tokoh besar, sastrawan, dan pemikir Melayu abad ke-19, Raja Ali Haji bin Raja Ahmad. Walaupun usianya sudah tidak muda, tapi Yusril masih tetap mau lanjut S3-nya yang kedua, mendalami filsafat di Departemen Filsafat FIB UI.

Semangat Yusril bisa jadi karena ia merasa butuh melakukan pendalaman batin dan kajian terhadap Raja Ali Haji adalah solusinya. Raja Ali Haji adalah tokoh luar biasa, yang karyanya, Gurindam 12 jika dihayati akan mendatangkan keinsyafan diri. Berikut adalah pasal pertama gurindam 12:

“Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang yang ma’rifat
Barang siapa mengenal Allah,
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.
Barang siapa mengenal dunia,
Tahulah ia barang yang teperdaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
Tahulah ia dunia mudarat.”

Semangat Yusril juga luar biasa. “Walau usia saya sekarang tidak muda lagi, namun semangat belajar saya tidak pernah pupus. Mudah-mudahan saya diberi kekuatan lahir dan batin dalam mempersiapkan dan menulis disertasi ini,” pungkas Yusril, seperti dikutip dari salah satu media.

Saya juga teringat nama Akhyar Yusuf Lubis. Waktu S2 di Kajian Timur Tengah dan Islam UI, saya pernah diajar beliau. Materi filsafat yang berat entah kenapa jadi ringan. Saya selalu duduk di depan agar bisa dapat ilmunya yang luas itu, khususnya filsafat.

Dalam buku Pemikiran Kritis Kontemporer: Dari Teori Kritis, Culture Studies, Feminisme, Postkolonial Hingga Multikulturalisme (Rajawali Pers, 2015), Akhyar Yusuf menulis sebuah lembar persembahan buku tersebut sebagai berikut: “Buku ini secara khusus saya persembahkan kepada Prof. Dr. Toeti Heraty, Guru Besar Filsafat FIB UI, yang bagi saya beliau tak sekadar dosen, namun juga sudah seperti Ibu yang mendidik dan membimbing saya.”

Maka, tiap dengar nama Prof Toeti, yang bernama lengkap Toeti Heraty Noerhadi-Roosseno, saya teringat Pak Akhyar. Kata ‘tak sekadar dosen’ menyiratkan pesan bahwa peran beliau begitu dalam bagi mahasiswanya itu. Seperti ‘ibu yang mendidik dan membimbing’ juga bermakna dalam, karena tidak semua orang bisa menjadi dosen sekaligus ibu yang disenangi, bahkan dipahat namanya dalam sebuah lembar persembahan buku.

Pak Akhyar juga pribadi yang rendah hati. Setelah bawa materi di UI Salemba, saya bersama Al Chaidar, janjian untuk jalan bareng ke rumah seorang kawan polisi untuk bakar ikan di roof top rumahnya. Di samping Masjid ARH UI, saya bercerita banyak dengan Pak Akhyar, di mobil, sampai di lokasi. Dari situ saya dapat kesan bahwa bahwa bisa jadi karakter Prof Toeti–yang luar biasa mendidik dan membimbing itu–juga ada terpancar dari diri Pak Akhyar yang luas wawasan tapi rendah hati.

Di grup Alumni UI, saya baca tulisan Pande K. Trimayuni, pengajar HI FISIP UI. Pande menulis: “Prof. Toeti saya kenal terutama karena beliau adalah pengajar di kampus kami, Universitas Indonesia. Pertemuan intens dengan beliau terjadi dalam beberapa peristiwa. Salah satu yang sangat penting adalah ketika pada tahun 2003 saya diminta membandingkan Karya Prof. Toeti Heraty dan Pramoedya Ananta Toer yang kebetulan beliau berdua sama-sama pernah menulis tentang Calon Arang.”

Mengenang Prof Toeti, dalam ‘Prof Toeti Heraty, Saya dan Perjumpaan-Perjumpaan Kami’ (2021), Pande melanjutkan, “Prof. Toeti adalah panutan. Sungguh saya ingin masa tua seperti Prof. Toeti dimana tidak berhenti berkarya dan berkontribusi hingga saat terakhir. Kami juga adalah perempuan yang sama-sama mencintai jalan ilmu pengetahuan dan jalan seni.”

Karakter panutan Prof Toeti juga ada dalam diri Pande K. Trimayuni. Waktu hadir di acara ILUNI, puasa waktu itu, saya bertemu dengannya, dan banyak memberi masukan terkait bagaimana melihat dinamika dalam gerakan Islam Indonesia. Dalam satu sore buka puasa bareng, saya juga diminta Mbak Pande menyampaikan pandangan tentang Islam di Indonesia. Di situ saya lihat, kesantunan dan kepanutan-an Pande juga rada mirip dengan Prof Toety.

Kepergian Prof Toeti untuk selamanya memang sudah takdir. Namun, patut untuk dilahirkan kembali karakter bernas seperti beliau, yang mengutip Denny JA, dalam tulisannya ‘Mewarisi Sinar Toeti Heraty’ (2021), tidak hanya sebagai dosen tapi juga adalah sosok: aktivis, pemikir, penyair, dan pengusaha.

Ada banyak karya Prof Toeti. Di antaranya “Sajak-sajak 33” (1974), Dinamika wanita Indonesia (1990), Calon arang : kisah perempuan korban patriarki : prosa lirik (2000), Hidup matinya sang pengarang (2000), selain karya lainnya berm John H. McGlynn, Yazir Marzuki, A. Teeuw, dan sebagainya.

Beliau juga menulis buku Rainha Boki Raja: ratu Ternate abad keenambelas ( 2010) dalam bahasa Inggris dan Indonesia) yang diterbitkan Komunitas Bambu. Bukunya berjudul Aku dalam Budaya (1982), merupakan karya disertasi pada Departemen Filsafat UI (1979).

Sebagai penyair, menurut Subagio Sastrowardoyo (1989), Toeti Heraty dapat dikelompokkan pada penyair yang berani berdiri di luar mainstream persajakan modern Indonesia sehingga Toeti Heraty tidak akan mudah menjadi popular.

Ensiklopedia Sastra Indonesia (2021), Kemdikbud, menulis: “Sajak-sajaknya tidak memunculkan suasana kelembutan suasana. Sebagai seorang ahli filsafat, sajak-sajak Toeti penuh dengan kategori-kategori pengertian yang di dalamnya akan ditemui perbandingan-perbandingan bagi kesadaran dan pengalaman. Yang menjadi inspirasi sajak-sajak Toeti adalah kesadaran-kesadaran dan pengertian-pengertian, bukan peristiwa-peristiwa sesaat, seperti peristiwa politik atau demonstrasi. Sajak-sajaknya penuh dengan pengendapan pemikiran yang disemangati kearifan hidup.”

Prof Toeti Heraty adalah salah satu sinar dari kecendekiaan UI. Ayahnya seorang ahli dalam bidang konstruksi beton bernama Prof. Dr. Ir. Raden Rooseno Soerjohadikoesoemo, salah seorang pendiri Universitas Gadjah Mada dan Yayasan Perguruan Cikini.

Selama hidupnya beliau juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya sebagai anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dalam bidang budaya, anggota Dewan Riset Nasional (DRN). Selain itu, ia juga pernah menjadi anggota Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan Center for Information and Development Studies (CIDES).

Di Twitter, Prof Jimly Asshiddiqie, menulis: “Keluarga besar UI, dunia ilmuwan dan cendekiawan Indonesia pada umumnya turut berduka. Kita doakan yg terbaik untuk almarhumah. Alfatihah,” ujarnya. Karakter kecendekiaan seperti Prof Toeti patut untuk dilahirkan kembali di Indonesia. *

Depok, 13 Juni 2021

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *