Memahami Komponen Pembentuk Keagensian

  • Whatsapp

Oleh: Yanuardi Syukur*

Secara mudahnya, agency (keagensian) dipahami sebagai kemampuan, kekuatan, dan kapasitas untuk menjadi sumber dan pencetus tindakan, atau mudahnya: “kapasitas untuk mengubah dunia sekitar.”

Read More

Agensi bukan sesuatu yang berada dalam dirinya sendiri, akan tetapi selalu menjadi bagian dari proses strukturasi, meminjam kata Giddens. Agensi dipahami sebagai pembuatan dan pembentukan kembali formasi sosial dan budaya yang lebih besar. Agen dan struktur saling berinteraksi dalam membentuk formasi sosial.

Sherry Ortner (2006), dalam Anthropology and Social Theory, menulis bahwa agensi dibentuk oleh tiga hal: intensionalitas, konstruksi kultural dan nilai universal yang beroperasi pada saat yang bersamaan (simultan), dan relasi agen dengan ‘struktur’.

Pertama, intensionalitas. Inti dari agensi adalah intensionalitas yang mencakup berbagai keadaan—kognitif atau emosional—dan berbagai tingkat kesadaran yang diarahkan ke depan menuju sejumlah tujuan.

Cakupannya adalah sebagai berikut: plot dan rencana, serta skema yang sangat sadar; beberapa tujuan, sasaran, dan cita-cita yang lebih samar; hasrat, keinginan dan kebutuhan yang sifatnya dua: terkubur atau cukup sadar. Juga, proyeksi ke depan dengan cara-cara yang lebih termotivasi secara aktif ketimbang praktik-praktik rutin (Ortner, 2006).

Dapat ditambahkan juga soal kreativitas. Kemampuan kreativitas agen ini berpijak dari pemikiran bahwa setiap individu harus dipahami sebagai apa yang disebut Bateson (1972) sebagai ‘sumber energi’. Energi ini yang didorong oleh proses ulang-alik internal-eksternal kemudian “memaksakan dirinya pada dunia, memberi energi pada peristiwa tertentu.” (Rapport & Overing, 2000)

Selain itu, imajinasi juga menjadi kapasitas penting dalam kesadaran manusia. “Imajinasi adalah aktivitas dimana individu manusia selalu terlibat, dan melalui imajinasi individu menciptakan dan menciptakan kembali esensi keberadaan mereka, menjadikan diri mereka apa adanya, sedang menjadi, dan akan menjadi…” (Rapport & Overing, 2000)

Sewell (1992) mengatakan bahwa agensi selalu diproyeksikan ke depan dengan cara-cara yang lebih termotivasi aktif daripada praktik-praktik rutin. Lebih lanjut, Sewell melihat agensi sebagai kapasitas untuk agensi sebagai kapasitas untuk menginginkan, membentuk intensi, dan bertindak kreatif. Agensi memerlukan kemampuan mengoordikasikan tindakan seseorang untuk membentuk proyek kolektif untuk membujuk dan memaksa.

Ortner (2006) mengatakan: Dalam agensi ada kontinum antara praktik rutin dengan sedikit refleksi, perencanaan dan tindakan agen yang mengintervensi dunia dengan sesuatu dalam pikiran.

Kedua, Konstruksi kultural dan nilai universal yang beroperasi pada saat yang bersamaan (simultan). Sewell (1992) menulis: Ada kesepakatan umum bahwa agensi dalam arti tertentu adalah universal, dan merupakan bagian dari kemanusiaan yang mendasar, atau “kapasitas untuk agensi…melekat pada semua manusia.” Duranti (2004) menulis: Semua bahasa memiliki struktur tata bahasa yang tampaknya dirancang untuk mewakili agensi.

Ada kesepakatan umum: Agensi selalu dibangun secara budaya dan historis. Sewell pakai analogi kapasitas untuk bahasa: Semua manusia memiliki kapasitas untuk bahasa, akan tetapi harus belajar berbicara bahasa tertentu. Semua manusia memiliki kapasitas untuk agensi, akan tetapi bentuk-bentuk spesifiknya bervariasi pada waktu dan tempat yang berbeda.

Dalam konteks ‘domain sosial sebagai pembentuk agensi’, simpul Ortner (2006): Charles Taylor membahasnya dengan cara yang sangat umum, Laura Ahaern dan Alessandro Duranti dengan cara yang lebih spesifik dalam relasi bahasa dan agensi, Giddens terkait praktik sosial dan interaksi, dan Sewell menawarkan “skema yang merupakan bagian dari repertoar budaya yang dipaksanakan dan digunakan untuk membentuk keinginan, tindakan, dan sebagainya.” Gagasan skema budaya ini jadi pusat riset Ortner (‘skenario utama’ 1973 dan ‘High Religion’ 1989).

Ketiga, relasi antara agensi dengan ‘kekuasaan’. Ada anggapan umum bahwa agensi adalah kapasitas untuk mempengaruhi berbagai hal. Ahaern (2001) melihat bahwa kemunculan agensi dikaitkan dengan kemunculan gerakan sosial dan politik 1970-an yang kemudian disamakan dengan gagasan resistensi yang menurut Ahaern “agensi oposisi hanyalah satu dari banyak bentuk agensi.” Bukannya dominasi dan resistensi tidak relevan, tapi bahwa emosi manusia dan relasi agensi dengan kekuasaan dan ketidaksetaraan selalu kompleks dan kontradiktif.

Giddens (1979) mendiskusikan agensi dan kekuasaan dalam teori strukturasi yang besar. Bahwa konsep tindakan (atau agensi) secara logis terkait dengan kekuasan—dimana gagasan dipahami sebagai kapasitas transformatif—tapi di sisi lain kapasitas transformatif agen hanya satu dimensi dari bagaimana kekuasaan beroperasi dalam sistem sosial.

Sewell (1992) setuju dengan Giddens bahwa setiap gagasan tentang struktur yang mengabaikan asimetri kekuasaan secara radikal, tidaklah lengkap. Tapi (menggunakan) suatu gagasan sumber daya yang dipaksanakan…berhasil hanya dalam hal-hal yang membingungkan. Kata Sewell, agensi tidak bertentangan dengan, tetapi…konstituen dari struktur. Di sini ada universalitas agensi manusia dan perbedaan kekuasaan dan cara mereka memengaruhi kapasitas orang (untuk dan bentuk) agensi.

Ahaern di satu sisi, Giddens dan Sewell di sisi lain mendekati relasi agensi dan kekuasaan dengan cara yang berbeda. Adapun Ortner (2006), ia setuju dengan Giddens dan Sewell, bahwa teori agensi yang kuat (dan lebih luas adalah teori transformasi praktik) harus terkait erat dengan pertanyaan kekuasaan dan ketidaksetaraan. *

Depok, 13 Juni 2021

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *