Menghubungkan Titik-Titik: Google Maps untuk Belajar

  • Whatsapp

Oleh: Yanuardi Syukur*

Keterampilan menggunakan google maps sangat berguna untuk percepatan pembelajaran. Sebagai tools, google maps berguna untuk mendekatkan kita dengan objek yang ada dalam bacaan. Makin dekat, berarti makin maju, makin mengerti.

Read More

Saya biasa pakai google maps untuk menghubungkan titik-titik, terutama dalam perjalanan. Agar tidak sesat jalan, google maps sangat membantu untuk memahami lingkungan dimana kita berada.

Ketika jalan dari Bulukumba kota ke Suku Kajang (di google tertulis: “Tanah Toa” dan “Indigenous Regions Ammatoa”) satu mobil, saya tetap buka maps. Dari situ, saya lihat kita harus ke atas, dan dari situ ke Bira, harus turun lagi: membentuk kayak jangka. Di Same Resort Bira Beach, saya bisa lihat Pulau Liukang, Pulau Kambing, dan Pulau Selayar yang agak besar. Jika mata kita bisa tembus lebih jauh, kita tiba pada Pulau Komodo di NTB. Dari itu, dengan google maps, kita jadi paham sekarang berada dimana.

Ketika duduk di Pantai Kuta, awalnya saya kira tatapan mataku jika ditarik lurus akan tiba ke utara Australia, tapi rupanya salah. Dari situ kita berhadapan langsung dengan Alas Purwo National Park dan laut selatan Jawa. Adapun Pantai Jerman yang pernah kita singgahi, itu segaris lurus saja dari Pantai Kuta Hard Rock Cafe. Dan, pantai ini jika dilihat bentuknya kayak kaki yang menopang dari Gilimanuk sampai ke Gili Selang.

Tapi, perasaan kenal dekat lewat maps itu kadang melalaikan juga. Waktu jadwal terbang dari Bali ke Makassar, saya sempat berpikir, “ah, bandara dekat dari sini.” Maka, saya agak bersantai-santai dikit. Saya berangkat satu jam kurang dari jadwal terbang. “Ini dekat kok,” kata saya ke istri, “tinggal lompat pagar juga nyampe.” Rupanya, saya salah. Dari jarak itu dekat, tapi macet dikit dan perjalanan ke lokasi check in juga butuh waktu. Saya telat untuk flight ke Makassar, tapi untungnya bisa ganti pesawat walaupun harus mampir dulu ke Jakarta.

Perjalanan dari Jakarta ke Suku Anak Dalam juga saya pakai maps. Setiba di Sultan Thaha Airport, saya jalan ke Kabupaten Batanghari. Dari atas kita lihat sungainya kayak ular. Kita ikuti saja jalan itu, sampai tiba. Dari kota, kita ganti mobil ke lokasi. Tiba di sana, kita masih ada perjalanan motor lagi lewatin kebon sawit sepanjang mata memanjang. Sampai tiba di lokasi, kita jadi sadar bahwa di Indonesia yang sudah 4.0 ini masih ada saudara kita yang belum bisa baca tulis, khususnya di komunitas tersebut. Saya menikmati perjalanan tersebut dari pandangan mata ddan pandangan layar google maps.

Lain waktu, saya ke Tanimbar. Bersama seorang kawan jurnalis, malam hari kami terbang ke Ambon. Tiba pagi belum bisa terbang langsung ke Tanimbar. Jadi, waktu kosong–dari jam 7 am sampai jam 1 pm–harus digunakan untuk jalan-jalan. Saya kontak kawan baik di Ambon untuk keliling kota. Dari Airport Pattimura, terus ke kota ‘city of music’ itu lewati Jembatan Merah Putih, ke Masjid Raya dan ke Kampus Universitas Kristen Indonesia Maluku. Tak lupa kami sempatkan ke gong perdamaian dan kuburan yang tak jauh dari pantai. Kunjungan ini lebih nikmat sambil lihat google maps.

Dari Ambon, kami naik pesawat kecil ke Pulau Tanimbar. Kita turun dari Pattimura ke Mathilda Batlayeri Airport. Perjalanan begitu pelan, saya menikmatinya; rasanya kayak waktu terbang dari Sydney ke Melbourne. Bedanya, kalo yang pertama di bawah hanya laut, yang satu lagi di bawah banyak hanya gunung. Hotel Harapan Indah, tempat saya nginap termasuk paling elite, di atas laut, dan kalau mau jalan ke pelabuhan juga dekat. Dari situ, perjalanan laut ke utara Australia jadi terlihat dekat, setidaknya dari peta. Segitiga Tanimbar, Timor Leste, dan Darwin mungkin dapat dikembangkan karena letaknya geografisnya yang berdekatan.

Waktu terbang dari Jakarta ke Sydney, saya juga menikmati saat di pesawat. Walaupun tidak buka hp, tapi perjalanannya agak tenang. Apalagi pramugara dan pramugarinya begitu melayani dengan baik. Sebelum tiba di Sydney Airport, kita lewatin dulu gunung-gunung di bawah. Bentuk kota yang dikelilingi air ini mengingatkan kita kayak Venesia, atau New York City. Jalan ke Sydney Opera House cukup menyenangkan. Lautnya juga tenang saat naik kapal.

Dari Sydney ke Canberra, kalau dilihat dari peta berarti turun. Sydney kota ramai, sedangkan Canberra kurang ramai. Kata temanku, Canberra itu asal katanya dari bahasa Arab: “Kun barran!” Artinya: “Berbuatlah yang baik!” Jadinya, Can-berra, atau Canberra. Hampir sama artinya dengan Gombara, nama daerah di kota Makassar–dekat tol–yang katanya dari bahasa Arab “Kun Barran!” itu yang jadi Gombara. Jadi, Gombara di Makassar itu sama dengan Canberra di Australia. Benar atau tidak, mungkin kita bisa cari sama-sama. Kata teman saya sih begitu.

Kembali ke google maps. Saya rajin pakai google maps juga saat ke Washington, DC. Awalnya, HP saya hanya bisa konek internet di hotel, dan nggak bisa di luar. Setelah beli kartu, akhirnya bisa juga, tapi kurang maksimal. Nah, pas di hotel saya maksimalkan penggunaan google maps. Dari hotel saya nginap, saya lihat sekelilingnya ada berbagai kantor kedutaan, termasuk KBRI di seberang jalan yang bentuknya kayak mansion elite di masa lalu.

Jika dilihat dari atas, hotel tempatku nginap itu termasuk di tengah antara Islamic Center of Washington, DC (Presiden Bung Karno pernah sholat di sini sebelum ketemu Presiden AS) dan The White House. Dalam kegiatan di kota itu, saya cek google maps agar tidak kesasar, saat ke Capitol, Lincoln Memorial, Pentagon, dan waktu ke IMAAM Center, komunitas Islam Indonesia di Silver Spring, Maryland, sekira 30 menit dari DC. IMAAM itu dulunya gereja, tapi karen ditinggalkan oleh jemaatnya akhirnya dibeli dan jadi masjid. Di sekitar situ juga ada gereja (Grace Episcopal Church) dan sinagog (Woodside Synagogue Ahavas Torah). Yang saya suka dari jalanan di situ adalah teratur dan bersih. Waktu ngopi di dekat situ juga jalannya tenang. Mobil juga nggak banyak.

Di Pittsburgh dan New York saya juga gunakan google maps. Pittsburgh kotanya agak sepi, mungkin kalau dibandingkan dengan New York yang rame. Tiba waktu malam, di rumah yang kami datangi itu jadi sepi banget. Menjelang malam, saya duduk di belakang rumah, dan kadang membayangkan nuansa seram dalam film barat yang pernah saya tonton waktu kecil. Saya pikir, tinggal satu bulan di Pittsburgh itu cukup bagus misalnya untuk nulis buku.

Sedangkan di New York, kotanya rame banget. Mungkin itulah kenapa disebut ‘kota dunia’, karena semua jenis orang ada. Sebelum jalan ke Empire State Building, saya lihat maps dulu. Ada juga sih maps yang saya ambil di bandara, akan tetapi lebih hidup pakai maps did HP. Rupanya nggak jauh. Dari ESB, saya cari waktu agar bisa sampai ke ground zero ex-WTC. Sebenarnya, kita tinggal naik kereta aja udah sampe. Yang penting perhatikan rutenya. Waktu mau pulang ke hotel, saya sempat salah kereta, harusnya terus ke Manhattan itu tapi saya nyasar ke Brooklyn. Sadar kalo salah, saya langsung putar arah.

Brooklyn itu masuk dalam Long Island, alias ‘pulau panjang.’ Sepanjang pulau itu banyak gedung bertingkat. Saya nggak sempat jalan ke situ, tapi setelah nonton sebuah film, saya yang di novel settingnya di sebuah lokasi pertanian antara Oxford dan London, tapi shootingnya di Manhattan dan Long Island, saya jadi cari-cari info tentang pulau panjang itu.

Dari sedikit cerita perjalanan di atas, sesungguhnya kita bisa jadi berwawasan luas jika bisa manfaatkan teknologi, salah satunya google maps. Untuk analisis situasi, pakai google juga cukup baik. Waktu ada teror di Wina, tepatnya di sekitar ‘segitiga bermuda’, saya jadi searching lokasinya. Ada sinagog Stadttempel–dulu jadi ‘persemayaman terakhir Herzl sebelum dipindah ke Israel–juga ada gereja St. Ruprecht serta beberapa bar. Kenapa disebut segitiga bermuda, ternyata karena orang yang ke situ–terutama di malam hari–biasanya sampai lupa diri; diibaratkan kata pesawat yang masuk ke bermuda dan hilang begitu aja.

Nah, sekarang untuk bisa berwawasan luas dapat dilakukan dengan menggunakan google maps. Tapi, sekedar buka google maps tanpa ada challenge tertentu juga membosankan. Maka, kita harus punya aktivitas, kenalan, minat tentang daerah tertentu, kemudian kaitkan dengan lokasi di google maps. Dari iseng-iseng buka google maps, lama-lama kita akan dapat ide juga untuk menghubungkan antara satu titik dan titik lainnya, atau satu kejadian dengan kejadian lainnya. *

Depok, 24 Juni 2021

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *