Filosofi Cinderella

  • Whatsapp
Not DMA Photography

Oleh: Maulina Ismaya Dewi*

Sebuah wabah menyerang sebuah desa, dan istri seorang pria kaya terbaring di ranjang kematiannya. Dia memanggil putri satu-satunya, dan mengatakan padanya untuk tetap baik dan baik, karena Tuhan akan melindunginya. Dia kemudian mati dan dikuburkan.

Anak itu mengunjungi makam ibunya setiap hari untuk berduka dan setahun pun berlalu. Pria itu rupanya menikahi wanita lain dengan dua anak perempuan yang lebih tua dari pernikahan sebelumnya. Mereka memiliki wajah cantik dan kulit putih, tetapi hati mereka kejam dan jahat.

Saudara tirinya mencuri pakaian dan perhiasan gadis itu dan memaksanya memakai kain compang-camping. Mereka sering membuang saudaranya ke dapur. Dia dipaksa untuk melakukan segala macam kerja keras dari fajar hingga senja untuk para saudara-saudaranya.

Saudaranya yang kejam itu tidak melakukan apa pun selain mengejeknya dan membuat tugasnya lebih sulit dengan membuat kekacauan. Namun, terlepas dari semua itu, gadis itu tetap baik dan baik, dan secara teratur mengunjungi makam ibunya untuk menangis dan berdoa kepada Tuhan agar dia melihat keadaannya membaik.

Cinderella–dalam berbagai versinya–adalah cerita tentnag penindasan dan hadiah kemenangan. Protagonisnya adalah seorang wanita muda yang hidup dalam keadaan terbengkalai yang tiba-tiba berubah menjadi kekayaan luar biasa, dengan kenaikan takhta melalui pernikahan.

Lantas, apa filosofi di balik cerita itu? Filosofinya sederhana: bagaimana membuat anak bungsu berkarakter dewasa, mandiri dan gak cengeng.

Kita tahu bahwa cinderella yang selalu mengalah, rajin dan menerima penderitaan hidupnya. Dibuatnya cerita Cinderella KARENA BANYAK anak bungsu yang manja. Untuk itu dibuatlah cerita untuk mendidik agar anak bungsu yang manja memiliki karakter baik seperti cinderella (dalam hal ini saya katakan BANYAK ya, bukan berarti seluruhnya. Note ya guys).

Nah dari yang notabene BANYAK ini memberi tolak ukur agar adanya perubahan menjadi baik. Seperti sebuah penelitian juga kalau sample BANYAK tolok ukur 75 persen ke atas ya harus dilakukan tindakan, kan?

Ok. Mungkin 25 persennya yang TIDAK bisa dipengaruhi beragam hal, semisal tingginya religi, lingkungan yang kondusif positif dalam keluarga hingga terlahir karakter baik dan lainnya yang mempengaruhinya.

Kisah Cinderella ini pun menyiratkan bahwa kebaikan akan mendapat ganjaran kebaikan, sebuah pembelajaran hidup yang diharapkan menjadi acuan hidup anak anak muda. Diharapkan pada akhirnya Cinderella menikah dengan pangeran baik hati. Ada pesan moral di dalamnya.

Begitu pula jika seorang penulis ataupun seniman perfilman membuat cerita bahwa yang kaya itu jahat, sombong dan yang miskin selalu tertindas namun baik hati, nyatanya real dilapangan BANYAK yang kaya justru baik hati dan ditindas namun namun maaf kok justru yang miskin jahat dan egois, iri, sirik dan dengki bahkan sombong dan menindas karena ketidakmenerimaannya dalam hidup.

Sekali lagi saya katakan BANYAK ya, bukan berarti seluruhnya, note. Untuk penulis dan pembuat film layaknya memuat pesan moral serta maksud baik sehingga dibuatlah di kebanyakan film si kaya yang menindas si miskin. Maksudnya agar mendidik si miskin tidak jahat, dan (mungkin) agar lebih mendidik si miskin untuk menjadi baik, karena akan ada ganjaran dari kebaikannya.

Apapun maksud dibalik kepenulisan dan industri perfilman diharapkan agar manfaat dunia akhirat sehingga benar benar bermakna bagi sbuah kehidupan di dunia yang fana ini.

Sukabumi, Jum’at 16 juli 2021 pukul 10.00. Berbagi aspirasi dan inspirasi💥

* Penulis adalah guru tsanawiyah di Sukabumi.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment