KH. Abdullah Said Baharmus: Pejuang Diplomasi Pendidikan di Madinah

  • Whatsapp

Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda: ”Apabila anak Adam itu meninggal, maka terputuslah amalnya, kecuali (amal) dari tiga ini: sedekah jariyah, pengetahuan yang dimanfaatkan, dan anak sholeh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Apa yang membuat sebuah acara zoom dipenuhi hingga 1000 peserta? Acara yang hanya dibuat dalam waktu sehari, tapi mendatangkan 1000 orang. Apapun jawabannya, satu hal yang pasti, figur yang jadi inti pembahasan adalah orang penting dan berpengaruh. Dialah KH. Abdullah Said Baharmus, Lc, pribadi yang tidak banyak cerita, tapi banyak membantu sesama.

Salam di Majelis Ulama

Pada 4 Januari 2021, setelah bergabung di grup, KH. Abdullah Said Baharmus menulis ‘assalamu alaikum’ dalam bahasa Arab lengkap di WAG Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI. Pada 6 Januari, Komisi HLNKI MUI ada rapat ta’aruf dan brainstorming kegiatan, tapi beliau berhalangan hadir. “Syukran undangannya, jam yang sama saya insya Allah dalam perjalanan ke luar kota,” tulisnya 6 bulan sebelum berpulang ke haribaan-Nya menghadap Sang Pencipta di bulan Dzulhijjah.

Di struktur pengurus MUI Pusat periode 2020-2025, beliau sebagai Wakil Sekretaris Bidang Perdamaian dan Kemanusiaan. Pada masa kepemimpinan Ketua Umum MUI KH. Miftahul Achyar, komisi ini dipimpin oleh Ketua Komisi Dubes Bunyan Saptomo di bawah Bidang Hubungan Luar Negeri yang diketuai Prof. Sudarnoto Abdul Hakim. Sub komisi lainnya adalah Bidang kelembagaan dan kemitraan, Bidang Peningkatan SDM, Bidang Pengkajian dan Responsi Isu Kontemporer dunia Islam, Bidang Pengarusutamaan moderasi, Bidang Promosi Islam Indonesia, dan Bidang Perdamaian dan Kemanusiaan.

Khusus Bidang Perdamaian dan Kemanusiaan, misinya adalah “Memberikan kontribusi dalam upaya menciptakan kedamaian, kesejahteraan dan kehidupan berkeadaban di dunia.” Tugas pokoknya: memediasi antara pihak-pihak yang berkonflik untuk menemukan solusi damai yang terbaik; membangun opini tentang dunia Islam yang damai dan berperadaban; memberikan bantuan kemanusiaan; dan mengembangkan jejaring kerjasama kemitraan untuk meningkatkan taraf hidup umat Islam. Di antar bentuk sub-komisi Bidang Perdamaian dan Kemanusiaan adalah Konferensi internasional Islam dan Perdamaian, mediasi konflik Yaman, Syiria, Afganistan, Libya, bantuan Kemanusiaan untuk korban konflik, dan program filantropi pengentasan kemiskinan dan pembangunan daerah tertinggal.

Memberangkatkan 1000 Pelajar ke Madinah

Di mata pelajar Muslim Indonesia, KH. Abdullah Said Baharmus adalah orang yang banyak berjasa dalam pengiriman mahasiswa Indonesia ke Madinah selama bertahun-tahun. Iskandar Alukhal menulis di laman FB PPMI Madinah (31/1/2016) bahwa Ustadz Abdullah Said Baharmus adalahseorang sosok yang memiliki singgasana khusus di hati para mahasiswa Universitas Islam Madinah. Selama berpuluh-puluh tahun, beliaulah yang selalu membantu para mahasiswa menjelang keberangkatan mereka ke Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Mulai dari pengurusan visa, medical check up, tiket pesawat, lobi masuk ke kantor-kantor keimigrasian Jakarta, sampai berurusan dengan pihak Universitas Madinah sendiri.

“Tidak tahu berapa jumlah mahasiswa yang berhasil kita (Jam’iyyatur Rahmah) berangkatkan, banyak sekali,” katanya Kiai Abdullah Said Baharmus. KH. Muhammad Nasir Zein, dalam Ta’ziah dan Doa yang diadakan oleh PAJIM dan IKPM Gontor khusus untuk KH. Abdullah Said Baharmus di zoom (17/7/2021), mengatakan, “..lebih dari seribu orang.” Pimpinan Arrahman Qur’anic Learning (AQL) Islamic Center dan Sekretaris Jenderal Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Ustadz Bachtiar Nasir (UBN)–yang menjadi inisiator ta’ziah dan doa online–tersebut juga termasuk yang diurus olehnya untuk kuliah di Madinah. Sepulang dari Saudi, UBN bahkan menjadi Ketua Alumni Saudi Arabia se-Indonesia dan Ketua Alumni Madinah Islamic University se-Indonesia

“Saya rasakan sendiri, betapa sulitnya dulu mengurusi berkas-berkas itu agar bisa terbang ke Madinah jika diurus sendiri (sebelum ada Jam’iyatur Rahmah), mondar-mandir di Jakarta, keluar masuk kantor, lempar sana lempar sini, ya begitu kan kantor-kantor biasanya,” ujarnya pada pertemuan hari Kamis kemarin, 28 Januari 2016 M/18 Rabiuts Tsani 1437 H di Sholah Tsaqafiyyah Universitas Islam Madinah. Apa yang dilakukannya itu bukan atas permintaan Universitas Islam Madinah, atau karena dibayar oleh instansi-instansi terkait, akan tetapi murni, ikhlas karena ingin membantu mahasiswa Indonesia yang diberi taufiq oleh Allah SWT bisa melanjutkan studinya di kota Madinah.

Dalam hal ini, beliau mempraktikkan apa yang disebut peribahasa (yang konon) dari Tanzania yang berkata, “Jangan lupakan rasanya menjadi awak kapal saat kau telah menjadi kapten.” Tamat dari Madinah–yang tidak mudah, karena masuknya juga sulit–telah mengubah dari sekedar ‘awak kapal’ (mahasiswa) menjadi ‘kapten’ (alumni) dengan kapasitas dan jaringan yang dimiliknya. Maka, hal itu dimanfaatkannya untuk banyak membantu mahasiswa yang mau ke sana. Biasanya, beliau berpesan dua hal kepada mahasiswa yang mau berangkat ke Madinah, yakni nikmat dan amanah. Karena dua perkara itulah yang mendasari keberadaan para mahasiswa di sana, di kota di mana Rasulullah dikuburkan. “Dengan segala nikmat besar yang ada, begitu pula amanahlmu yang wajib diemban dan disampaikan oleh setiap penuntutnya,” tulis Iskandar Alukhal di laman PPMI Madinah.

Vitalitas Sang Sekretaris Badan Wakaf Gontor

Selain itu, KH. Abdullah Said Baharmus juga dikenal sebagai Sekretaris Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Waktu Pimpinan PMDG KH. Abdullah Syukri Zarkasyi meninggal dunia, KH. Abdullah Said Baharmus, selaku perwakilan Badan Wakaf PMDG membacakan hasil keputusan sidang luar biasa Badan Wakaf di depan seluruh jama’ah shalat Jum’at Masjid Jami’. “Pimpinan boleh meninggal tapi pondok harus tetap hidup,” kata Kiai Said Baharmus. Setiap yang bernyawa pasti akan tiba ajalnya (QS. Ali-Imran [3]:185), demikian dalil Al-Qur’an. Hasil keputusan tersebut dihadiri 12 anggota Badan Wakaf PMDG, 8 orang hadir secara fisik dan 4 orang hadir secara virtual. “Patah Tumbuh Hilang Berganti. Keputusan ini berdasarkan tentang pentingnya estafet perjuangan para Trimurti pendiri PMDG,” tutur Kiai Said dilansir dari www.gontor.ac.id Jumat (23/10/2020).

Menurut kiai Said Baharmus, perjuangan para mujahid pondok yang telah terlebih dulu dipanggil oleh Allah SWT tidak boleh berhenti bahkan harus diteruskan. “Hasil keputusan sidang menyatakan bahwa pimpinan PMDG yang baru KH. Hasan Abdullah Sahal, KH. Akrim Mariyat, Prof. KH. Amal Fathullah Zarkasyi untuk periode 2020-2025,” terang Kiai Said yang dibacakan di depan ribuan santri usai melaksanakan salat Jumat (gonews.id, 24/10/2020)

Sementara, KH. Hasan Abdullah Sahal mengaku meski Ponpes Gontor dalam keadaan berkabung, tapi tidak boleh berkepanjangan dalam kesedihan. “Setiap kita ditinggalkan oleh seseorang kerabat kita, kita boleh menangis. Tapi tidak boleh menangis apalagi menangiskan,” ujar kiai Sahal. “Pondok seperti kereta api, bahwa kereta harus tetap berjalan siapapun masinisnya dengan tetap berpegang teguh pada nilai panca jiwa dan panca jangka PMDG,” pungkas Kiai Sahal, sebagaimana ditulis gonews.id.

Al-Muhsin Ad-Dalil Yang Dimiliki oleh Semua Orang

Banyak orang yang merasa memiliki KH. Abdullah Said Baharmus. Baik itu lembaga di dalam maupun luar negeri. Mereka merasa ketulusan dan perjuangan beliau yang sangat luar biasa sangatlah inspiratif. Dia dikenal sebagai ahli ibadah, tulus berteman dan tidak basa-basi, serta senang membantu sesama. Masjid-masjid didirikan, pesantren dibangun, dan orang-orang dibantu untuk lanjut studi di Kota Nabi, Madinah Al-Munawwarah. KH. Muhammad Nasir Zein, menyebut beliau sebagai pribadi Al-Muhsin Ad-Dalil, yakni pribadi muhsin (yang senang berbuat ihsan/baik) dan menjadi dalil (yang senang menunjukkan pada yang kebaikan dan kebenaran).

KH. Nasir Zein bercerita bahwa setelah tamat sarjana dari Madinah, beliau sempat berpikir apakah kembali ke Indonesia atau lanjut master. Setelah istikharah, ia bermimpi sedang sholat di dalam ka’bah menghadap ke timur. Ada dua hal yang tidak diserupai oleh setan, yakni Rasulullah dan ka’bah. Mimpi itu menjadi isyarah, petunjuk padanya untuk pulang ke Indonesia dan berkiprah untuk umat. Maka, sejak 1986 hingga 2018, KH. Abdullah Said Baharmus mengurus calon mahasiswa yang mau kuliah di Madinah hingga lebih dari 1000 orang.

Dalam Ta’ziah dan Doa yang digelar Perkumpulan Alumni Jamiah Islamiyah Madinah (PAJIM) dan Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor, hadir beberapa tokoh yang memberikan testimoni tentang beliau. Diantaranya Pimpinan Gontor KH. Hasan Abdullah Sahal, KH. Bahtiar Nasir, Dr. Hidayat Nur Wahid, Dr. Salim Segaf Al Jufri, KH. Muhammad Nasir Zein, dan Prof. Din Syamsuddin. Acara yang dimoderatori Ustadz Khudori Syarwani tersebut juga dihadiri oleh KH. Abdul Latif Mukhtar, Dr. KH. Sofwan Manaf, Prof. Husnan Bey Fananie, dan lain sebagainya. Tak terkecuali juga hadir anak almarhum, Nauval Baharmus. Semuanya memberikan cerita positif terkait beliau.

Bersih Sebelum Pergi

Nauval Baharmus, bercerita bahwa sebelum ayahnya wafat, pada pukul 13.30 WIB, ayahnya bilang ingin sholat. Nauval minta agar sholatnya di-jamak ta’khir saja, yakni Zuhur dan Ashar dikerjakan di waktu Ashar. Tapi, ayahnya tidak mau tunda sholat. Maka, ayahnya sholat jamak taqdim, yakni Zuhur dan Ashar dikerjakan di waktu Zuhur. Setelah itu, ayahnya ingin ke kamar mandi untuk menunaikan hajatnya. Lancar. Setelah badannya bersih, ia kemudian meluruskan badannya. Matanya melihat ke atas. Nauval dan ibunya membantu menuntun untuk mengucapkan kalimat “Allah, Allah, Allah…”. Di dahinya basah keluar keringat. Pada pukul 14.40 WIB, ayahnya telah tiada.

Pada hari-hari terakhirnya di alam fana ini, cerita Dr. Salim Segar Al Jufri, KH. Abdullah Said Baharmus berkali-kali diberi ventilator. Tapi ia tidak mau. Ia yakin itulah yang pas untuknya, yakni di hari-hari akhirnya dapat melihat keluarga dan dapat ber-thaharah, membersihkan diri zhohiron wa bathinan, lahir dan batin.

Politisi dan ulama lulusan Gontor, Dr. Hidayat Nur Wahid menyampaikan bahwa orang yang wafat di hari Jumat itu mendapatkan karunia Allah. Tanda ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Umar RA. Dia mendengar bahwa Nabi SAW bersabda, “Tidaklah seorang Muslim meninggal dunia pada hari Jumat atau malamnya, melainkan Allah akan melindunginya dari fitnah siksa kubur.” (HR Tirmizi). Alam kubur adalah awal dari akhirat. Maka, man naja, naja fil akhirah.

Beliau menunjukkan sikap yang luar biasa dalam perjuangan. Minggu-minggu sebelum wafat ia sempat hadir dalam sidang Badan Wakaf Gontor sepenuh hati. “Ia hadir sepenuh vitalitas,” kata Pak Hidayat. Setelah itu, di Jakarta ia juga hadir hingga acara selesai pada sidang majelis syuro sampai selesai. Ketika itu diminta berobat, tapi alumni Bahasa Arab Universitas Islam Madinah itu ingin hadir acara sampai selesai. “Dari Gontor ke Madinah, beliau berkontribusi untuk bangsa tidak sebagaimana anggapan bahwa alumni Madinah itu ekslusif, asosial, dan tidak kontributif secara luas. Ia beri keteladanan, diterima oleh siapa saja,” kata ulama kelahiran Klaten, 8 April 1960 tersebut.

Ulama dan cucu dari ulama besar Palu, ‘guru tua’ Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri, Habib Dr. Salim Segaf Al Jufri mengatakan bahwa almarhum adalah milik semua orang; Gontor, Kuwait, Alumni Madinah, PKS, dan lain sebagainya. Ia bangun masjid se-Indonesia. Kepergiannya menjadi tanda bahwa “Allah mencintai orang yang kita cintai.” Ketika Kiai Said sakit, Dr Salim sering bertanya kabar kepada Nauval, anak Kiai Said. Pernah saturasi oksigennya turun, tapi setelah teleponan dengan Dr Salim, jadi naik lagi. Tanda bahwa silaturahmi itu berguna bagi orang sakit.

Pesan dan Nasihat

Dalam Acara Wisuda Santri Ponpes Darunnajah 2 Cipining Bogor, Minggu, 14 Mei 2017, KH. Abdullah Said Baharmus menyampaikan pesan dan nasihatnya yang luar biasa. Saya kutipkan secara utuh dari laman darunnajah.com (17/5/2017).

“Selamat kepada Darunnajah 2 Cipining atas prestasi yang telah dicapai. Pesantren Darunnajah lahir dari Pondok Modern Gontor. PM Darussalam Gontor didirikan oleh 3 orang bersaudara, KH. Ahmad Sahal, KH. Imam Zarkasyi dan KH. Zainudin Fanani. Ketiganya bertekad mendidik anak-anak kaum muslimin. Mereka mewakafkan seluruh harta dan diri mereka fii sabilillah, kecuali rumah yang mereka tempati. Berkat keikhlasan dan perjuangan yang sungguh-sungguh Gontor bisa berkembang. Bersama Gontor, lahir anak-anaknya Gontor. Yaitu pesantren-pesantren alumni. Salah satunya Darunnajah. Di antara pesantren alumni yang pertama lahir, ada pesantren Wali Songo Ngabar, ada Pesantren Pabelan, ada Pesantren Darunnajah, dan juga Pesantren Darul Qolam.

Darunnajah didirikan oleh almarhum Bapak KH Abdul Manaf. Ikhlas hanya untuk Allah SWT. Semua ini bisa berkembang karena bermodalkan tekad dan ikhlas hanya untuk Allah SWT. Banyak orang berfikir keberhasilan pesantren adalah karena fasilitasnya. Lalu supaya pesantrennya dianggap maju dan modern fasilitasnya dibuat serba wah. Didirikanlah gedung-gedung mewah. Asramanya super, pakai AC, bukan sekedar tempat tidur, pakai karpet, satu kamar isinya hanya dua orang, pakai meja belajar yang mewah, tiap kamar ada komputer dan lain sebagainya.

Berhasilkah pendidikan pesantren yang seperti itu? Banyak juga wali murid yang kadang-kadang berfikirnya materialistis, mereka mengutamakan fasilitas yang semacam itu. Tapi kalau kita memperhatikan kenyataan di lapangan, orang-orang yang menjadi pemimpin di negeri ini justru adalah anak-anak hasil didikan pesantren, yang fasilitasnya sangat sederhana. Kenapa? Karena memang disinilah mental spiritual dididik. Pesantren kita Gontor dan seluruh jaringannya mendidik mempersiapkan kader yang siap berjuang di masyarakat. Kader yang siap terjun di masyarakat, bukan kader manja yang ingin dimanja oleh masyarakat.

Karena itulah jika Bapak-bapak atau Ibu-ibu bertanya berapa jumlah gaji guru di pesantren Darunnajah, pasti tidak akan mendapatkan jawaban. Karena gajinya mahal.. Sangat tinggi gajinya, gajinya surga. Bukan surga dunia tapi surga di akhirat nanti yang dijanjikan Allah SWT. Mereka semua tidak mengenal istilah gaji, mereka semua beramal dan berdedikasi. Kami beramal karena Allah untuk keberhasilan umat dan kader-kader umat. Memang realistis manusia butuh hidup. Kesejahteraan guru itu pondok yang memikirkan. Makan, pendidikan, keluarga, kebutuhan guru, pondok selalu memikirkan. Tapi guru kami tidak kami didik untuk materialistis. Inilah prinsip pondok-pondok alumni Gontor.

Santri-santri, jangan remehkan arti piring yang kalian dibawa dari kamar ke dapur. Kami bisa saja menyediakan dapur mewah dengan makanan siap saji prasmanan yang setelah selesai piring ditinggal lalu dicucikan. Pondok sangat bisa menyediakan itu, pondok bukan tidak mampu. Tapi kami ingin kalian belajar dari semua proses itu. Membawa piring ke dapur, kemudian dicuci sendiri, lalu dibawa kembali ke kamar. Itu nilai pendidikannya sangat tinggi. Kalian di asrama berkumpul bersama teman-teman. Ada Ketua Rayon, ada Qismul Amn, ada Sekretaris, ada Bagian Kebersihan dll, itu semua pendidikan. Kami mempersiapkan kalian menjadi manajer yang mempunyai kemampuan manajemen yang tinggi semenjak kalian masuk ke pesantren ini. Jadi bersama-sama di kamar itu jangan diartikan negatif. Memang kalau orang sembrono bisa jadi sumber penyakit kalau dia tidak bersih, karena itulah kami didik santri-santri di kamar bersama-sama agar dapat menjaga kebersihan. An-Nazhofatu Minal Iman.

Oleh karena itu Bapak-bapak/Ibu-ibu saudara-saudara sekalian jangan remehkan arti pesantren. Kesederhanaan nilainya sangat mahal. Di atas itu semua, keberhasilan pesantren adanya di Kiyai yang sangat ikhlas. Kyai yang ditunjang oleh keluarga sepenuh hati untuk ikhlas mengabdi bagi kader-kader umat ini. Jadi bukan karena gedungnya sebuah pesantren akan maju, bukan karena fasilitasnya yang super mewah sebuah pesantren akan dicari oleh orang, tapi karena kiyainya.

Banyak orang yang berfikir ingin mendirikan pesantren yang super mewah dan bagus, tapi mereka tidak mengerti bahwa keberhasilan pesantren bukan karena gedungnya, tapi karena nilai-nilai perjuangannya, dan karena pengabdian yang ada di pesantren itu sendiri. Inilah prinsip-prinsip yang harus dipertahankan oleh pesantren. Karena itu di pesantren kita ada yang namya Panca Jangka, Panca Jiwa. Nilai-nilai itu sangat besar artinya untuk masa depan kalian di masyarakat. Berkat kesungguhan, kalian semua sekarang berhasil. Jangan bangga dengan keberhasilan yang kalian capai saat ini, kalian sudah belajar “Ala Qodrima ta’tani tanaalu ma tatamannaa,” sebesar perhatianmu sebesar itu pula hasil yang akan kalian capai.

Maka ketika kalian keluar dari pesantren ini nanti, anak-anakku sekalian, terus gantungkan cita-cita yang tinggi sambil berusaha dan berdoa kepada Allah SWT. Berusahalah maksimal untuk mencapai cita-citamu itu, kelak Allah akan kabulkan cita-cita kalian semua. Saya yakin diantara kalian akan ada yang menjadi pemimpin di negeri ini. Amin. Amin saja tidak cukup, harus diusahakan dengan perjuangan. Maka beraminlah sambil berusaha sejak sekarang. Jika kalian sudah berusaha dan hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapakan, yakinlah pilihan Allah adalah terbaik. Jangan sekali-kali punya rasa putus asa ketika sebuah harapan belum tercapai, teruslah berusaha pasti Allah akan kabulkan apa yang jadi cita-cita kalian.

Tidak terasa anak-anakku di Darunnajah ada yang sudah 4 tahun, 6 tahun, 12 tahun. Awal masuk Darunnajah masih imut-imut, keci-kecil, sekarang sudah ganteng-ganteng dan cantik-cantik. Ini berkat didikan Bapak KH Jamhari beserta Ibu dan segenap guru-guru, maka berterima kasihlah. Khairunnasi anfa’uhum linnasi, sebaik-baik manusia adalah yang paling bemanfaat bagi manusia lain. Maka jadilah orang yang selalu mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, dalam segala hal. Jika kalian melaksanakan ini semua, insya Allah di masa depan kalian akan menjadi orang-orang yang sukses. Aamiiin.”

Husnul Khotimah, Insya Allah

Keringat di dahinya menjadi tanda husnul khotimah. Sebuah riwayat dari Buraidah bin Hashib RA, bahwa ketika berada di Khurasan, ada saudaranya yang kembali kepadanya dalam keadaan sakit. Saat wafat Buraidah sempat menyaksikan kematiannya. Saat saudaranya meninggal dunia, ia melihat keringat keluar dari dahinya, dan berkata, “Allahu Akbar”. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Meninggalnya seorang Mukmin ditandai dengan keringat di dahinya.” (HR Tirmizi, Nasa’i, dan Ibn Majah).

Satu riwayat mengatakan bahwa orang yang dahinya berkeringat sebelum meninggal itu karena melihat yang indah, kata Habib Salim. Dia malu kepada Allah karena diperlihatkan berbagai keindahan sementara ia merasa amalnya masih sedikit. Ia melihat balasan Allah yang besar saat itu. Mengutip sebuah syair karya Abu Ali al-Hassan ibn Masud al-Yusi (1631–1691), seorang penulis sufi Maroko dan cendekiawan Maroko terbesar abad ke-17, kata Dr Salim, ada 8 hal yang pasti semua orang merasakannya: kegembiraan, kesedihan, berkumpul, berpisah, kemudahan, kesulitan, sakit, dan sehat.

“Waktu saya masuk Gontor, almarhum adalah ketua konsulat,” kata Prof Din Syamsuddin. Ia punya kepedulian yang sangat besar kepada dakwah. Saat ini kata Pak Din, tugas kita adalah mencetak orang-orang seperti beliau. Saat ini di pandemi cukup banyak ulama yang dipanggil Allah, seperti KH. Ahmad Lutfi Fathullah, dan lain sebagainya. “Kita ambil hikmah dari kepergian ulama di era pandemi dengan melahirkan pelanjut,” kata Pak Din lagi.

Wakil Sekretaris Jenderal MUI, Abdul Ghaffar Rozin mencatat sebanyak 584 kiai telah meninggal dunia selama pandemi virus corona (Covid-19) menerpa Indonesia. Data itu didapatkan berdasarkan catatan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU. “Dalam catatan RMI, hingga 4 Juli 2021, sebanyak 584 kiai wafat selama pandemi virus corona,” kata Rozin dalam keterangannya dikutip dari laman MUI, Rabu (7/7/2021).

Akhirnya, kehilangan atas seseorang adalah ujian. Kata KH. Hasan Abdullah Sahal, ujian harus dihadapi dengan tidak berlarut-larut dalam kesedihan, atau keputusasaan. Atas jasa KH. Abdullah Said Baharmus dalam pengiriman pelajar Indonesia ke Madinah secara kontinyu bertahun-tahun, dapatlah disebut bahwa beliau adalah pejuang diplomasi pendidikan Islam bagi pelajar Indonesia, khususnya ke Madinah. Banyak alumni Madinah yang kembali ke tanah air dan berkontribusi dalam dakwah tanah air tidak terlepas dari kiprah Allahuyarham KH. Abdullah Said Baharmus.

Banyak doa teriring semoga anak-anaknya menjadi penerus perjuangan, menjadi apa yang disebut KH. M. Nasir Zein sebagai khairu khalafin min khairu salafin, yakni “sebaik-baik generasi penerus dari sebaik-baik generasi terdahulu.” Kepribadian KH. Abdullah Said Baharmus yang senang membantu, senang menunjukkan jalan, senang memberikan masukan dan nasihat, serta konsisten dan penuh semangat dalam perjuangan patutlah untuk diteladani dan dilanjutkan oleh generasi penerus. Semangat sebagai pelanjut itu hanya bisa bermakna jika dilakukan bersama-sama, seperti kata peribahasa, “Dibutuhkan tenaga dari seluruh desa untuk membesarkan seorang anak.”

Kerinduan akan orang-orang terbaik seperti almarhum–agar terpatri juga dalam diri kita dan generasi kita–tak akan terhapus oleh sejarah. Orang-orang akan terus mengenang kebaikannya, dan berusaha untuk menjadi pribadi muhsin sepertinya. Maka, kita berharap di tengah wafatnya para ulama di masa yang tidak biasa, semogalah lahir ulama-ulama baru yang juga luar biasa. Kepada para pejuang yang telah tiada, mendahului kita, kita rindu akan kemuliaan sifat dan ketulusan akhlak mereka. Dan, sebaik-baik rindu adalah disampaikan lewat doa…Al Fatihah.

Depok, 16 & 18 Juli 2021

Yanuardi Syukur, Pengurus MUI Pusat Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional dan Alumni Ponpes Darunnajah, Jakarta.

NB: Terima kasih kepada Jurnalis Anadolu, Pizaro yang share info wafat almarhum di grup Center for Islamic and Global Studies (CIGS) dan KH. Anizar Masyhadi di grup HLNKI MUI, Dosen UNIDA Ahmad Saifulloh, PhD (cand.) di Sydney, dan Mantan Ketua PPMI Arab Saudi Imam Khairul Annas yang mengirimkan undangan ta’ziah dan doa. Foto: www.darunnajah.com

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *