Dakwah Global Ala Mufti Menk

  • Whatsapp
Dakwah Global Ala Mufti Menk
Sumber: Hidayatullah.com

Mufti Ismail Menk adalah cendekiawan Islam global terkemuka yang lahir dan besar di ‘negara tanpa lautan’ di Afrika Selatan, Zimbabwe. Dia aktif berdakwah secara global. Bawaannya tenang, ramah, bahasanya teratur, kontennya mudah dipahami.

Mufti Menk Populer di Medsos

Mufti Menk memiliki jutaan pengikut di seluruh platform media sosialnya. Gaya kepribadiannya dan pendekatannya yang membumi telah menjadikannya salah satu sarjana Muslim yang paling dicari di zaman kita. Dia telah membuat dirinya dicintai oleh orang-orang dalam berbagai serial ceramahnya.

Read More

Mufti Menk berkeliling dunia menyebarkan pesan sederhana namun mendalam: “Do good, help others while preparing for the Hereafter”; “Berbuat baik, membantu orang lain sambil mempersiapkan akhirat”. Dia aktif di arena internasional dan merupakan pendukung kuat perdamaian dan keadilan, berbicara menentang segala bentuk terorisme. Sejak 2010, di dinobatkan sebagai salah satu dari “500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia”. Universitas Aldersgate memberikannya gelar Doktor Kehormatan dalam Bimbingan Sosial.

Keluarga Dakwah Mufti Menk

Mufti Menk dibesarkan dari keluarga ulama. Ayahnya seorang imam masjid. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya itu terlihat dari situ. Ketika dewasa muda, Mufti Ismail Menk lanjut studi di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia, dan mendalami fiqh Hanbali, salah satu imam mazhab dalam Islam.

Setamat dari Saudi, ia banyak terlibat dalam dakwah. Dakwahnya tidak hanya di media offline, tapi juga online. Di Facebook misalnya, dia rutin menulis kutipan inspirasional yang dalam. Belakangan ia menulis buku “Motivational Moments” yang sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa. Bersama Na’ima B. Robert, dia juga menulis buku anak “Let it go: Learning the Lesson of Forgiveness.”

Dia juga penghafal Al-Qur’an. Jadi ketika mengutip Al-Qur’an, mengalir begitu saja. Keuntungannya pendakwah yang hafal Al-Qur’an itu berbeda dengan yang tidak. Yang hafal 30 juz, pasti berbeda dengan yang hanya juz 30. Apalagi, jika hafalan 30 juz itu dibarengi dengan pendidikan keagamaan yang baik, ditambah dengan keluhuran sifat yang baik juga. Orang senang dengan kombinasi kepintaran dan keluhuran sifat.

***

Di Indonesia, Mufti Menk pernah berceramah di Masjid Cut Meutia, Jakarta Pusat. Ringan bahasanya, dan tidak diterjemahkan. Orang-orang mengikutinya dengan saksama. Dia bilang, bahwa “Orang-orang datang ke masjid ini bukan karena saya, tapi karena Allah. Mereka datang karena mereka tahu bahwa saya menyampaikan risalah dari Allah, yang risalah itu dibawa oleh para Nabi dan Rasul.” Kurang lebih itu katanya.

Bahwa, dia–sebagai person–bukanlah siapa-siapa. Yang lebih utama adalah apa risalah atau mesej yang dibawa dalam pertemuan tersebut. “Di antara manusia yang dipilih sebagai Nabi dan Rasul tidak banyak, dan kita tidak boleh iri. Tugas kita akan mengikuti risalah tersebut.” Rasulullah saw, sebagai Nabi dan Rasul terakhir, mendapatkan tugas risalah bagi seluruh manusia, dan pengikutnya kemudian melanjutkan penyebaran risalah tersebut ke seluruh dunia dengan cara yang hikmah.

Mufti Menk adalah tipikal ulama global yang tidak hanya pintar dan dalam ilmu agamanya, tapi juga bahasa Inggris dan bawaannya juga tenang. Orang tidak merasa dikejar-kejar untuk harus beribadah. Sebaliknya, orang disentuh kesadarannya sebagai makhluk yang harus dekat kepada agama.

Fokus pada ‘Common Heritage’

Mufti Menk memuji inisiatif UEA untuk mempromosikan toleransi dan saling pengertian. Dia mengatakan bahwa umat manusia memiliki lebih banyak kesamaan daripada perbedaan dan ada kebutuhan untuk lebih fokus pada warisan bersama. Kami membutuhkan orang-orang dari agama dan sekte yang berbeda untuk mencapai pemahaman. Kami tidak membutuhkan sekte yang berbeda untuk bersatu dalam hal melepaskan ideologi mereka. Kita harus sampai pada pemahaman bahwa apa yang saya yakini benar dan saya akan tetap dengannya dan orang lain memiliki hak untuk tetap dengan apa yang mereka yakini benar.

Kami membutuhkan orang-orang dari agama dan sekte yang berbeda untuk mencapai pemahaman. Kami tidak membutuhkan sekte yang berbeda untuk bersatu dalam hal melepaskan ideologi mereka. Kita harus sampai pada pemahaman bahwa apa yang saya yakini benar dan saya akan tetap dengannya dan orang lain berhak untuk tetap dengan apa yang mereka yakini benar,” kata Mufti Menk.

Dia mengatakan bahwa orang dapat dengan hormat tidak setuju satu sama lain dan terus menyebarkan apa yang mereka yakini benar, tetapi mereka juga harus mengizinkan orang lain untuk mengikuti apa pun yang mereka yakini benar.

Sebagai muslim, Mufti Menk menyadari konflik internal Islam dan eksternal luar Islam. Maka, ia tidak banyak mengangkat konflik. Sebaliknya ia fokus pada “masalah bersama” yang dihadapi umat manusia–terlepas apapun agamanya–sebagai anak cucu Adam as. “Saya memastikan untuk menghindari konflik dan kontroversi,” kata Menk, yang terdaftar di antara 500 Muslim paling berpengaruh, saat meluncurkan bukunya di Dubai. Buku itu temanya universal, seperti cinta, kebahagiaan, kebaikan, harga diri, kesabaran, dan pengampunan.

“Ide di balik buku ini adalah untuk memberikan motivasi kepada orang-orang dari semua agama, ras, dan kebangsaan. Motivasi yang menembus penghalang yang ditempatkan orang di antara mereka sendiri,” kata Mufti, berbicara kepada Gulf News setelah peluncuran buku, seperti dikutip aboutislam.net, 4 Maret 2019. Terlihat di sini bagaimana ia memilih ‘bahasa universal’ untuk penyebaran dakwahnya.

***

Sebagai seorang pendakwah dan konselor selama lebih dari 20 tahun, Mufti Agung Zimbabwe tersebut mengatakan bahwa dia telah melihat bahwa semua manusia, terlepas dari latar belakang mereka, menghadapi masalah yang sama. “Kami datang bersama sebagai manusia dan kami semua membutuhkan motivasi yang sama. Terlepas dari agama atau kepercayaan kita, kita semua membutuhkan kebahagiaan, kepuasan, ”katanya.

Dakwahnya tidak berjalan lancar. Dia juga pernah dilarang di beberapa tempat, seperti di Inggris, Singapura (31 Oktober 2017), dan Denmark. Khusus di Inggris, dia dilaranag karena dianggap homophobia–phobia terhadap orang yang homo, penyuka sesama jenis. The Huffington Post menggambarkan Menk sebagai “pengkhotbah Islam yang homofobik secara terbuka” (openly homophobic Islamic preacher) yang mencela tindakan homoseksualitas sebagai “kotor”.

Pada tahun 2013, Mufti Menk rencana mengunjungi 6 universitas Inggris–Oxford, Leeds, Leicester, Liverpool, Cardiff dan Glasgow–tetapi tur berbicara dibatalkan setelah student union dan pejabat universitas menyatakan keprihatinan tentang pandangannya. Di antara pernyatannya yang kontroversi bagi mahasiswa dan pejabat kampus setempat adalah: “Bagaimana Anda bisa melakukan tindakan amoral dengan sesama jenis?….Al-Qur’an dengan jelas mengatakan itu salah apa yang Anda lakukan … Allah berbicara tentang betapa kotornya ini … Dengan segala hormat kepada binatang, [homoseksual] lebih buruk dari binatang.”

Mufti Menk Anti-Kekerasan

Mufti Menk anti-kekerasan, apalagi terorisme. Dia mendesak umat Islam untuk mengatasi Islamofobia yang berkembang dengan sikap yang positif. “Tidak ada perbaikan cepat untuk Islamofobia. Kita perlu terus dan konsisten mempromosikan kebaikan, toleransi, kerukunan dan pesan-pesan positif Islam untuk membuktikan bahwa minoritas yang melakukan kejahatan atas nama Islam sebenarnya tidak mengikuti ajaran Islam yang sebenarnya, ”katanya. Secara singkat, phobia terhadap Islam itu harus diatasi dengan promosi nilai-nilai Islam. Adapun kekerasan yang dilakukan sebagian kecil kelompok Islam tidaklah mewakili dari dakwah dan umat Islam secara umum.

Mufti Menk menentang terorisme dan telah menjanjikan bantuannya dalam mengekang ekstremisme agama di Maladewa, sebuah republik kecil dengan 1.200 pulau di Samudra Hindia. Secara tradisional, Maladewa merupakan tempat yang damai, dengan sebagian besar penduduk tidak begitu peduli dengan keamanan. Anehnya, foreign fighters ISIS dari Maladewa yang mengangkat senjata dan berperang di Suriah termasuk tinggi.

Secara jarak, memang cukup jauh dari Zimbabwe ke Maladewa, akan tetapi negara di Samudra Hindia itu dianggap masih dekat dengan Afrika ketimbang negara lain. Selain bahwa Mufti Menk juga diterima di Maladewa. Ada sekitar 17ribu pengikutnya pada page Mufti Ismail Menk – Maldivian Fans Page. Waktu berdakwah di Maladewa, Menk berkhotbah di ibukota Maladewa, Male; dan kota Addu dan Kulhudhuffushi. Kedatangannya di Bandara Internasional Velana disambut langsung oleh menteri Maladewa Dr. Ahmed Zahir. Demikian tulis Aishath Shaany di raajje.mv, 14 Januari 2020.

***

Pada tanggal 31 Maret 2018, Mufti Menk mendesak Muslim Liberia untuk menghindari kekerasan Muslim-Kristen, dengan alasan bahwa Muslim dan Kristen adalah saudara dan saudari dari satu ayah, Nabi Adam. Dia menyalahkan media barat karena menyesatkan dunia bahwa Muslim pada umumnya adalah teroris. Gulf News menulis bahwa Menk mengatakan, “Setiap orang di bumi ini adalah bagian dari keluarga dan memiliki satu pembuat, oleh karena itu, tidak ada yang berhak memaksakan kepercayaan atau keyakinan apa pun kepada orang lain.”

Di situ, Mufti Menk mengingatkan bahwa co-existence sangat penting di zaman sekarang. Dalam video “A Lesson from Liberia” (31 Mar 2018), dia mengingatkan agar tidak kita menyebarkan permusuhan, akan tetapi menyebarkan cinta dan perdamaian. Pesan agar kata dia adalah perdamaian. Liberia haru kembali pada kejayaan dengan perdamaian. Jika kita damai, maka kita akan sejahtera.

“Stay away from conflict. Choose peace. It’s a better way to go. Choose silence or choose to walk away from those who are always looking for a battle about someone or something. Don’t bother getting drawn into situations that will drain you both mentally and physically!” kata Mufti Menk di Twitter. Pesan ini sifatnya universal: “jauhi konflik, pilih perdamaian.”

Secara online, media sosial mufti kelahiran 27 Juni 1975 tersebut diikuti oleh jutaan Muslim dan non-Muslim. Mufti Menk dianggap sebagai salah satu cendekiawan Muslim paling populer di media sosial. Banyak yang mengagumi kecerdasan, kebijaksanaan, dan pesan rekonsiliasi globalnya.

Penyunting: Saleh

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *