Information Literacy Skill: Penting bagi Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris

  • Whatsapp
Mahasiswa Bahasa Inggris
Sumber: Penulis

Pada zaman sekarang ini informasi dapat tersebar begitu cepat. Kita dapat dengan mudah mengakses berbagai macam informasi melalui internet. Begitupun yang tersebar melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan lain sebagainya. Orang-orang dengan mudah mendapatkan dan menyebarkannya, terutama melalui aplikasi pesan lintas platform yaitu WhatsApp Messenger yang telah digunakan oleh sebagian besar penduduk di negeri ini.

Di satu sisi, hal ini merupakan sesuatu yang baik, karena kita dapat lebih mudah dalam meng-update informasi terkini serta memberi kemudahan dan kesempatan lebih luas dalam belajar. Namun di sisi lain, hal ini dapat menjadi sesuatu yang membahayakan, jika kemudian informasi yang disebarkan adalah berita palsu (hoax). Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati dalam memilih informasi yang kita peroleh.

Dalam Islam, kita mengenal istilah tabayyun. Dalam Kamus Kontemporer Arab-Indonesia karya Atabik Ali, kata tabayyun berasal dari akar kata tabayyana yang berarti jelas. Tabayyun dalam hal ini berarti mencari kejelasan agar informasi yang kita peroleh dapat dipercaya kebenarannya. Jadi, bukan hanya sebuah hubungan saja yang memerlukan kejelasan. Dalam menerima dan menyebarkan informasi juga diperlukan sebuah kejelasan atas kebenaran informasi tersebut.

Dalam Al Qur’an, perintah tabayyun ini tertuang dalam surah Al-Hujurat ayat 6: 

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa suatu berita, maka bersungguh-sungguhlah mencari kejelasan agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan yang menyebabkan kamu atas perbuatan kamu menjadi orang-orang yang menyesal.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6). 

Dalam Tafsir Ringkas Kemenag RI dijelaskan bahwa ayat ini memberikan tuntunan kepada kaum muslim agar berhati-hati dalam menerima berita terutama jika bersumber dari orang yang fasik. Perlunya berhati-hati dalam menerima berita adalah untuk menghindarkan penyesalan akibat tindakan yang diakibatkan oleh berita yang belum diteliti kebenarannya.

Beberapa waktu yang lalu, sebelum adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) secara ketat di beberapa wilayah di Indonesia- saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti agenda review Kurikulum Merdeka Belajar Program Studi Tadris Bahasa Inggris yang diselenggarakan secara hybrid. Meskipun sebenarnya ada rasa rindu untuk bisa kembali berkumpul dengan teman-teman kolega, tapi saya memutuskan untuk mengikuti agenda tersebut secara online melalui platform Zoom Cloud Meetings dengan beberapa pertimbangan. Narasumber/Reviewer kali ini terlihat sangat kompeten karena memang sudah memiliki pengalaman yang luar biasa.

Setelah beliau selesai menyampaikan materi, acara dilanjutkan dengan diskusi. Beberapa pertanyaan muncul dari para peserta pagi itu, dan saya pun tertarik untuk menanyakan sesuatu terkait dengan uraian yang beliau sampaikan pada pemaparan materi sebelumnya. Salah satu dari beberapa pertanyaan yang saya ajukan adalah terkait dengan statement beliau yang menyatakan bahwa revolusi industri sebenarnya bukan hanya terkait teknologi saja -di sini saya pahami dengan persoalan terkait penguatan atau pengembangan penguasaan digital skill-tapi revolusi industri juga terkait dengan revolusi nilai-nilai kemanusiaan.

Saya tertarik dengan poin tersebut karena erat kaitannya dengan generasi saat ini yang sudah sangat familiar dengan adanya kecanggihan teknologi. Yaitu generasi yang akan dipersiapkan sebagai penerus di masa depan. Beliau mengatakan bahwa generasi tersebut merupakan generasi dengan DNA digital. Generasi yang terlahir dan tumbuh besar di era media sosial. Twitter, Facebook, Instagram, YouTube, serta Snapchat tak lagi menjadi hal asing dalam kehidupan mereka. Bahkan sejak sebelum bisa berjalan mereka telah mengenal layar sentuh.

Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris termasuk dalam kelompok generasi tersebut. Internet, gadgets, dan media sosial sangat melekat dalam kehidupan mereka. Hal tersebut membuat mereka tidak pernah tahu dunia tanpa internet dan masa-masa sebelum kehadiran media sosial. Generasi ini terbilang sangat nyaman dengan teknologi dan mereka terbiasa berinteraksi melalui media sosial untuk bersosialisasi.

Tentunya dalam hal ini terdapat sisi-sisi positif dan negatifnya. Kenyamanan mereka dalam mengakses teknologi ataupun media sosial bisa jadi dapat melalaikan mereka. Bahkan lebih jauh dari itu, mereka pun dapat saja terjerembab ke dalam aktivitas yang membahayakan.

Fenomena ini selayaknya tak boleh luput dari perhatian para pemangku kebijakan di ranah pendidikan, sebagai garda terdepan dalam mempersiapkan generasi yang tangguh dan berkualitas. Lalu bagaimana konsep kurikulum merdeka belajar berperan dalam menjawab tantangan kondisi generasi saat ini yang tentunya sangat berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya?.

Perlukah adanya mata kuliah yang secara spesifik ditujukan untuk mempersiapkan mahasiswa ataupun lulusan yang mampu beradaptasi dengan cepatnya perubahan zaman? khususnya untuk mempersiapkan mereka agar dapat menjadi sosok profesional yang benar-benar bisa membawa diri dan tidak malah tergulung oleh banyaknya godaan untuk terjerumus ke dalam hal-hal negatif di era digital ini, seperti penyebaran hoax dan sebagainya. Atau mungkinkah hal tersebut cukup diselipkan/diintegrasikan ke dalam proses pengajaran dalam mata kuliah yang sudah ada?

Pertanyaan-pertanyaan di atas setidaknya dapat diatasi dengan melakukan beberapa upaya. Salah satunya adalah dengan memberikan bekal berupa penguasaan information literacy skill bagi mahasiswa Tadris Bahasa Inggris. Agar lebih efisien dan dapat terlaksana secara masif serta menyeluruh, tentu hal ini dapat dilaksanakan dengan cara mengintegrasikannya ke dalam mata kuliah yang sudah ada.

Oleh karena itu, sangat diperlukan kesadaran dari para pemangku kebijakan dan para pendidik untuk dapat memacu para mahasiswa agar dapat memiliki information literacy skill yang baik. Salah satunya dengan cara menyisipkan ke dalam materi maupun tugas-tugas perkuliahan. Dengan demikian para mahasiswa Tadris Bahasa Inggris benar-benar dapat diandalkan sebagai agent of change yang dapat membawa diri serta memberikan dampak positif bagi orang-orang di sekitarnya.

Penyunting: Saleh

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *